Masuk“Pak, puter balik.”
Tamara yang baru saja pulang dari salon dan hendak pergi menuju kantor suaminya, tiba-tiba saja ia menyadari jika ponsel miliknya itu tidak ada dan kemungkinan masih tertinggal di rumah, alhasil dirinya pun meminta pada sang supir untuk pulang terlebih dahulu ke rumah.
“Baik, bu.” Jawab si supir yang langsung merubah rute perjalanan mereka.
Tidak berselang lama mobil yang Tamara naiki itu baru saja tiba di pekarangan rumah. Bi Inah yang samar-samar mendengar suara mobil berhenti, seketika kedua matanya langsung melotot.
“Apa jangan-jangan itu nyonya besar?” gumam bi Inah. Dirinya kemudian segera berlari untuk membangunkan Kayla karena khawatir jika nantinya akan keburu diketahui oleh nyonya besar yang bisa dipastikan Kayla bakalan kena marah.
Terlambat, saat bi Inah sudah sampai di ruang tengah disana sudah ada Tamara yang sedang berdiri di dekat sofa sambil menatap Kayla dengan tatapan tajam. Bi Inah sampai meringis lantaran beberapa detik lagi pasti nyonya besar itu akan mengeluarkan kemarahannya.
“Bagus ya, enak banget kamu malah tidur bukannya kerja,” ucap Tamara.
“Nyonya, non Kayla baru saja tidur kok karena dari tadi dia telah membantuku membersihkan rumah.” Ucap bi Indah dengan takut.
Tamara tidak memperdulikan ucapan bi Inah, ia segera mengambil air yang ada di atas meja dan kemudian tanpa rasa kasihan langsung menyiramkan nya pada Kayla yang sedang terlelap.
Jelas saja apa yang Tamara lakukan itu membuat Kayla sontak langsung terbangun dalam keadaan kaget.
“Banjir-banjir…” heboh Kayla yang belum menyadari keberadaan Tamara di hadapannya.
“Banjir, bagus! Enak banget ya malah tidur, berasa ini rumah milikmu begitu? Seharusnya kamu itu bekerja membantu bi Inah mengurus pekerjaan rumah, bukan malah tidur layaknya seorang bos. Dasar wanita miskin tidak berguna.”
Sebelum berdiri Kayla mengusap wajahnya yang sudah basah kuyup. Jelas saja keberadaan mertuanya ini membuat Kayla merasa sangat terkejut.
“Mam, tadi aku sudah membantu bi Inah kok.” Bela Kayla.
“Halah,” Tamara mengibaskan tangannya di udara, “Gak usah berbohong hanya untuk membela diri, saya tahu kalau kamu itu dari tadi hanya tidur.”
“Nyonya, tapi apa yang dikatakan non Kayla benar jika dia memang telah membantu saya di dapur dan ngepel lantai.” Bi Inah memberanikan diri membuka suara.
“Diam kamu saja Inah, kamu gak usah membelanya. Lagian apa untungnya kamu membela wanita miskin tidak berguna ini!” ucap Tamara yang membuat bi Inah seketika langsung menunduk.
Dengan perasaan kesal Tamara bergegas pergi menuju kamarnya untuk mengambil ponsel yang tertinggal, dan tidak berselang lama dia telah kembali.
“Awas saja kalau saya lihat kamu kembali tidur seperti ini, lihat saja apa yang akan saya perbuat kepadamu.” Setelah memberikan gertakan Tamara kembali pergi meninggalkan rumah.
Bi Inah mendekat, “Non, maafkan bibi.”
Kayla tersenyum, “Bi, kenapa minta maaf kan ini bukan salah bibi,”
“Tapi non, andai saja tadi bibi bisa membangunkan non sebelum nyonya Tamara datang, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi,”
“Sudah bi lagian aku juga gak papa kok. Aku mau ganti baju dulu ya bi.” Kayla kemudian melangkah menuju kamarnya.
Walau apa yang dilakukan mertuanya itu sangat membuat hatinya terasa sakit akan tetapi Kayla berusaha untuk tetap tegar. Kayla menguatkan dirinya sendiri supaya bisa menghadapi hal-hal yang akan terjadi kedepannya di rumah ini.
Selesai mengganti pakaiannya yang basah akibat siraman mami Tamara tadi, kini Kayla sedang termenung sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin yang penuh kemalangan. Kayla merasa miris dengan takdir hidupnya yang malah dipertemukan dengan keluarga seperti ini.
“Guru ngajiku dulu pernah bilang jika Allah tidak akan pernah menguji hambanya melampaui kemampuan hambanya sendiri. Apakah aku akan sanggup menghadapi keluarga aneh ini?”
Kayla berbicara sendiri sambil terus memandangi wajahnya tanpa berkedip. Ia juga merasa aneh dengan statusnya sekarang, sudah menikah tapi rasanya seperti belum memiliki suami.
***
Sore harinya, Kayla kembali membantu bi Inah memasak di dapur untuk jamuan makan malam. Saat sedang memasak Kayla mendengar jika mami Tamara memanggilnya.
“Kayla, Kayla, sini!”
“Non, dipanggil nyonya tuh.” Ujar bi Inah mengingatkan.
Kayla mengangguk dan segera melangkah pergi dari dapur. Kini Kayla berdiri di hadapan kedua mertuanya yang sedang duduk di atas sofa, disana juga ada Alex lelaki yang katanya adalah suaminya.
“Ada apa mam?” tanya Kayla.
“Besok malam kamu ikut kami untuk menghadiri pesta ulang tahun anak Darmawan,” ucap Tamara.
Darmawan adalah adik kandung William yang memiliki dua orang anak, dan yang akan berulang tahun besok adalah anak bungsu Darmawan.
“Berpenampilan yang bagus, jangan bikin keluarga kita nantinya malu oleh mereka disana.” Sambung Tamara.
Kayla jelas saja merasa terkejut dengan ajakan itu, “Mam, aku gak mau ikut.” Tolak Kayla yang takut jika nanti disana dirinya akan mendapat hinaan. Selain itu ia juga tidak begitu percaya diri untuk mengikuti pesta ini.
“Jangan membantah, turuti saja apa kata mami.” Kata Alex tanpa menatap ke arah Kayla.
“Benar, kamu harus ikut karena disana juga kita akan memperkenalkan kamu sebagai istrinya Alex,” timpal William, “Besok kamu belikan istrimu ini pakaian. Jangan dia membuat kita malu.”
“Hm.” Jawab Alex.
Kayla hanya bisa meringis kecil saat mulai membayangkan dirinya yang akan menjadi bahan hinaan dan bulian semua orang. Kayla sangat yakin jika keluarga Darmawan itu tidak ada bedanya dengan keluarga suaminya ini. Menurutnya mereka akan sama-sama menghina dan mempermalukannya nanti.
“Aku harus cari cara agar tidak ikut kesana, hinaan disini juga sudah membuat hatiku sakit, aku gak mau jika harus dihina lagi oleh keluarga besar suamiku. Aku tidak mau.” Batin Kayla.
Semalaman Kayla terus berpikir ide supaya malam besok dirinya tidak jadi ikut, dan dari semua ide yang bermunculan di dalam benaknya, Kayla akan memilih untuk berpura-pura tidak enak badan.
“Semoga saja ini akan berhasil.” Kata Kayla dengan perasaan ragu, sebab ia tidak begitu yakin jika keluarga suaminya akan peduli dan mungkin mereka bisa saja tetap memaksanya untuk ikut.
“Bi, kenapa semua orang seperti sangat membenciku, padahal selama ini aku tidak pernah melakukan perbuatan salah pada mereka. Apa karena aku terlahir dari keluarga miskin hingga mereka bisa berbuat seenaknya?”“Non, tidak semua orang bersikap seperti itu. Mungkin jika mengenai keluarga nyonya bibi masih bisa menjelaskan kenapa mereka seperti itu, tapi jika soal ibu non sendiri bibi tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Tapi walau begitu bibi yakin pasti sebenarnya ibu non itu sangat sayang sama non,”Bi Inah sebenarnya merasa prihatin dengan nasib salah satu majikannya ini. Andai ia bisa menolong pastinya dirinya tidak akan tinggal diam seperti ini melihat nasib yang diderita oleh Kayla.“Tapi aku gak yakin ibu sayang sama aku bi.” Kayla masih ingat jelas bagaimana sikap ibunya itu dari dulu yang selalu berbuat kasar terhadapnya.Bi Inah hanya tersenyum, walau sebenarnya ia merasa jika sikap Astri itu seperti sikap seorang ibu tiri, namun dirinya tidak berani untuk mengutarakan pendapat
“Lain kali saja ya, tan, soalnya aku lagi buru-buru sekali. Aku janji pasti akan mampir ke rumah tante kok!” tolak Olivia secara halus.“Yeah, jadi kamu gak bisa mampir ke rumah? sayang sekali… Tapi gak papa deh, asalkan kamu janji akan main ke rumah, akan tante tunggu loh. Soalnya banyak hal yang ingin tante tanyakan sama kamu,” Tamara tampak kecewa dengan penolakan itu namun dia masih tetap tersenyum.“Iya, tan, aku pasti akan mampir kok soalnya aku juga ingin bertemu dengan Alex!” jawab Olivia sambil terkekeh kecil, “Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu ya tan,”Setelah itu Olivia melangkah pergi meninggalkan toko itu. Kayla yang dari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua, sedikit merasa iri dengan sikap ibu mertuanya yang sangat berbeda jauh. Jika kepadanya mertuanya ini pasti akan bersikap kasar dan seolah tidak punya belas kasih, tapi berbeda pada wanita tadi yang sikapnya terlihat lemah lembut.Hal itu terbukti saat raut wajahnya kini langsung berubah masam setelah melihat k
“Kayla, nanti setelah ini kamu ikut saya!” ujar Tamara saat Kayla sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua.“Iya mam.” Jawab Kayla tanpa berani bertanya lagi karena takut jika nanti dirinya malah akan dimarahi.Setelah suami dan mertuanya laki-lakinya berangkat ke kantor, mami Tamara segera menyuruh dirinya untuk bersiap-siap. Kayla segera menuruti keinginan mertuanya itu, sambil mengganti pakaian di dalam benaknya ia bertanya-tanya kemana mami nya itu akan mengajaknya pergi.Kayla yang memang tidak terbiasa berdandan berlebih, ia hanya memakai make up seadanya seperti bedak dan lipstik saja. Namun walau begitu Kayla tampak terlihat cantik dan itu dipuji oleh bi Inah yang kebetulan berpapasan di anak tangga.“Ah bibi terlalu berlebihan, aku gak cantik kok.” Balas Kayla yang sebenarnya ia merasa senang dengan pujian itu.“Bibi heran sama tuan Alex kok dia gak melihat kamu ya, padahal kamu itu cantik loh. Tapi bibi yakin lama kelamaan juga pasti tuan Alex akan terbuka juga matanya d
“Bagus! Darimana saja kamu keluyuran sampai lupa pulang, sudah berasa jadi nyonya sekarang?”Baru juga Kayla tiba di rumah ia langsung disambut omelan dari mami mertuanya.“Aku tidak berasa jadi nyonya mam, aku juga keluar hanya sebentar ketemu temanku aja kok.” Jawab Kayla, mencoba menjelaskan.Tamara memutar matanya dengan malas, “Alasan, bilang aja kamu itu ingin jalan-jalan sambil memamerkan jika kamu adalah menantu saya pada semua orang diluar sana biar mereka pada tahu dan menganggap jika kamu itu orang hebat, iya kan?”“Aku tidak begitu mam. Jangankan memamerkan pada semua orang, temanku sendiri saja tidak aku beritahu.”“Baguslah, memang kamu itu tidak cocok menjadi menantu saya. Kamu hanya beruntung saja karena ibumu memiliki hutang hingga kamu bisa menikah dan tinggal di rumah saya ini. Orang miskin sepertimu itu tidak akan pernah bisa menjadi menantu saya untuk selamanya, ingat itu.”Kayla hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sambil melangkah pergi menuju kamarnya Kayla me
“Kayla bagaimana kabar kamu? Sudah lama sekali kita gak pernah ketemu,” tanya wanita bernama Serlin sambil memeluk Kayla dengan begitu erat.“Kabar aku baik, kabar kamu sendiri gimana? Iya yah, terakhir kita ketemu itu saat lulus sekolah aja.” Balas Kayla.Wanita bernama Serlin itu tersenyum dan langsung mengajak Kayla untuk duduk. Kini mereka berdua sedang berada di sebuah taman, duduk di kursi besi yang ukurannya pas saja untuk mereka berdua tempati.“Kayla, aku kangen banget tau selama ini sama kamu. Di seberang aku selalu mencoba mencari cara untuk mendapatkan nomor kamu tapi susah karena semua teman-teman sekolah kita katanya gak ada satupun yang mempunyai nomor kamu.”Kayla terkekeh mendengar pengakuan Serlin. Memang sudah setahun ke belakang dirinya mengganti ponsel beserta nomornya sehingga wajar saja teman-teman sekolahnya tidak ada satupun yang memiliki nomornya.“Tapi kemarin kamu bisa menghubungiku itu dapat nomornya dari mana?” tanya Kayla yang teringat jika kemarin ada n
Pagi ini Kayla seperti biasa membantu bi Inah menyiapkan sarapan, dan setelah itu dirinya pergi menuju kamar Alex untuk membangunkannya.Tok! Tok! Tok!Beberapa kali Kayla mengetuk pintu kamar itu, “Mas, bangun. Sarapan dulu.”Tidak berselang lama pintu kamar pun terbuka. Alex menatap Kayla tajam lantaran merasa kesal tidurnya harus terganggu. Sedangkan Kayla yang ditatap seperti itu langsung menundukan kepala.“Mas, sarapan dulu. Mami dan ayah juga sudah menunggu di meja makan!”Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alex langsung menutup pintu kamarnya dengan lumayan kencang.Brak!Kayla sampai dibuat tercekat dan langsung mengelus-elus dadanya yang kini sudah berdebar beberapa kali lipat, “Apa aku salah?” ucapnya pada dirinya sendiri.Baru saja berbalik badan untuk melangkah pergi, kedua telinganya samar-samar Kayla mendengar suara rincik air. Kayla langsung menebak jika suaminya pasti kini sedang mandi.“Seharusnya sebagai istri aku harus menyiapkan semua keperluan suamiku. Apa sekaran







