Share

Diusir dari Rumah Sendiri

Auteur: Cancer Girl
last update Dernière mise à jour: 2026-01-16 14:52:55

Sore menjelang petang, cahaya matahari meredup perlahan di balik tirai ruang tamu. Rumah yang biasanya terasa hangat kini diliputi keheningan yang ganjil.

Olla terbangun dengan kepala masih terasa berat, tubuhnya lemas seolah baru melewati perjalanan panjang tanpa ia ingat bagaimana caranya.

Bel rumah berbunyi. Suara itu membuat Olla tersentak. Ia mengerjap, menatap sekeliling. Ruang tamu tampak sama seperti siang tadi, tapi perasaan di dadanya berbeda. Tidak nyaman. Tidak tenang.

Bel berbunyi lagi, kali ini lebih keras. Olla bangkit, langkahnya sedikit sempoyongan saat berjalan menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, dua pria bertubuh besar berdiri tegap di hadapannya. Keduanya mengenakan pakaian hitam, wajah datar tanpa ekspresi, sorot mata mereka dingin dan tajam.

"Maaf, ada perlu apa, Mas?" tanya Olla, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Salah satu dari mereka melirik sekilas ke arah dalam rumah, lalu kembali menatap Olla. "Kami hanya menyampaikan pesan. Anda harus mengosongkan rumah ini."

Olla membeku. "Maksudnya?"

Salah satu bodyguard menunjukkan surat penjualan rumah yang sudah tertera tanda tangan Olla. "Rumah ini sudah dijual."

Olla mengerutkan kening, "dijual? Apa Aloy menjual rumahk? Terus, kenapa ada tanda tanganku, kapan aku tanda tangan?" batinnya.

"Kami beri waktu sampai besok siang," lanjut pria itu tanpa basa-basi. "Setelah itu, rumah ini bukan lagi milik Anda."

Belum sempat Olla menhawab, kedua pria itu berbalik dan pergi begitu saja. Langkah mereka mantap, seolah tak menyisakan ruang untuk bantahan.

Pintu tertutup perlahan. Olla berdiri terpaku beberapa detik sebelum akhirnya tubuhnya melemah. Ia berjalan kembali ke sofa dan duduk, napasnya terasa berat.

"Apa maksudnya ini?" gumamnya.

Kepalanya berdenyut. Potongan-potongan kejadian siang tadi perlahan muncul kembali di benaknya. Aloy yang tiba-tiba bersikap lembut, minuman yang ia teguk dengan penuh harapan, rasa pusing yang datang mendadak, lalu dokumen yang ia tanda tangani tanpa benar-benar sadar.

Tangan Olla mengepal. "Tidak mungkin," bisiknya.

Wanita berkulit Langsat itu bangkit dengan tergesa dan berlari ke kamar. Lemari dibuka, laci ditarik satu per satu.

Tempat Olla biasa menyimpan dokumen penting kini kosong. Sertifikat rumah tak ada. Map kendaraan juga lenyap. Bahkan brankas kecil yang selama ini terkunci rapat sudah terbuka, isinya raib.

Langkah Olla terhenti. Dadanya terasa sesak, bukan oleh tangis, melainkan oleh kemarahan yang perlahan naik ke permukaan.

Ia kembali ke ruang tamu. Pandangannya tertuju pada meja kecil di depan sofa. Di sana masih ada gelas yang tadi siang ia gunakan.

Airnya tinggal setengah, bening, tampak tak berbahaya. Olla memandangi gelas itu lama.

Lalu senyum tipis terbit di bibirnya, senyum yang dingin, getir, dan penuh makna.

"Jadi, ini caramu, Mas," ucapnya lirih. "Kamu buat aku mabuk, lalu mencuri hartaku sendiri." Olla tertawa kecil, tapi tak ada sedikit pun nada bahagia di sana.

Kenangan tentang Aloy berkelebat cepat. Pria yang dulu ia temukan tergeletak di pinggir jalan, lemah dan tak berdaya.

Pria yang ia rawat, ia percaya, ia nikahi. Semua kebaikan yang ia berikan kini terasa seperti lelucon pahit.

"Pantas saja," gumam Olla. "Kamu bukan berubah. Kamu memang seperti ini dari awal."

Anehnya, air mata tak juga jatuh. Tidak ada isak. Tidak ada jeritan. Olla hanya duduk diam, punggungnya tegak, wajahnya tenang.

Ia sudah terlalu lama belajar bertahan. Sejak kecil, Olla hidup tanpa orang tua.

Ia belajar bahwa menangis tidak akan mengubah nasib. Yang menyelamatkannya hanyalah kekuatan dan kecerdikan.

"Aku tidak sebodoh yang kamu kira, Aloy," katanya pelan, namun penuh ketegasan.

Olla berdiri dan berjalan ke kamar lain, ruang kecil yang selama ini tak pernah Aloy perhatikan. Ia membuka sebuah lemari lama, lalu menarik sebuah koper kecil dari sudut terdalam. Dari dalamnya, ia mengeluarkan beberapa buku tabungan dan ponsel lama.

Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena marah yang terkendali.

Tabungan itu adalah hasil jerih payahnya bertahun-tahun sebelum mengenal Aloy.

Uang yang ia sisihkan diam-diam, uang yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Bahkan suaminya sendiri tak tahu bahwa ia memiliki simpanan yang jauh lebih besar dari yang terlihat.

Jumlahnya bukan lagi jutaan. Melainkan miliaran.

Olla duduk di tepi ranjang, menatap angka-angka di layar ponselnya. Napasnya akhirnya terasa lebih teratur.

"Jadi, kamu pikir aku bangkrut," ucapnya lirih. "Kamu pikir tanpa rumah dan mobil aku bukan siapa-siapa."

Ia tersenyum kecil, kali ini penuh keyakinan.

"Justru sekarang aku bebas dari laki-laki playing victim kayak kamu, Mas."

Tak lama, bel rumah kembali terdengar. Olla membukakan pintu. Seorang kurir berdiri dengan senyum ramah.

"Selamat sore, ini ada surat dari pengadilan." kurir tersebut menyodorkan amplop kepada Olla.

Setelah kurir pergi, Olla membuka amplop tersebut dan membaca suratnya. Matanya membelalak.

"Surat cerai?" Olla terkekeh sambil menggelengkan kepala.

"Oke, Aloy, aku ikutin permainan kamu," lirihnya.

Di luar, langit mulai gelap. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Namun di dalam diri Olla, sesuatu yang lain ikut menyala, tekad yang selama ini terpendam.

Ia mengambil ponsel, menatap daftar kontaknya. Ada banyak nomor lama, produser, pemilik panggung, rekan musisi, orang-orang yang dulu mengenalnya sebagai penyanyi berbakat, bukan sebagai istri siapa pun.

"Kalau kamu mau main kotor, Aloy," bisiknya, "aku akan balas dengan caraku."

Olla berdiri, menatap sekeliling rumah yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Tidak ada penyesalan di matanya. Hanya perhitungan.

**

Pukul tujuh malam, rumah itu akhirnya sunyi sepenuhnya. Olla berdiri di tengah ruang tamu dengan sebuah koper besar di sampingnya.

Semua pakaian dan barang pribadinya telah ia kemas rapi. Tak ada lagi yang tersisa, selain jejak kenangan yang kini terasa hambar.

Ia melangkah perlahan, menatap setiap sudut rumah yang dulu ia bangun dari suara dan keringatnya sendiri.

Dinding-dinding itu pernah menjadi saksi mimpi-mimpinya, juga kepercayaannya pada seorang pria yang kini telah mengkhianatinya.

Olla menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Tanpa menoleh lagi, ia membuka pintu dan melangkah keluar.

Udara malam terasa dingin ketika Olla berdiri di pinggir jalan. Lampu-lampu kendaraan lalu-lalang menyilaukan matanya. Tak lama kemudian, sebuah taksi melintas. Olla mengangkat tangan.

"Bang, anter ke kota, ya," ucapnya singkat saat pintu terbuka.

Sopir mengangguk dan segera melajukan mobil. Di balik jendela, bayangan rumah itu semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di balik gelap malam.

Olla menatap lurus ke depan, wajahnya tenang, tapi dadanya dipenuhi perasaan campur aduk, kehilangan, kemarahan, sekaligus kebebasan.

Sesampainya di kota, suasana lebih ramai. Lampu toko, suara klakson, dan orang-orang yang berlalu-lalang menyambutnya tanpa peduli pada luka yang ia bawa.

Olla meminta sopir berhenti di sebuah gang kecil yang terlihat cukup hidup.

Ia menurunkan koper, lalu mulai berjalan menyusuri deretan rumah petak. Setelah bertanya ke sana-sini, akhirnya ia menemukan sebuah kos sederhana.

Bangunannya tua, catnya mulai pudar, tapi tempat itu bersih dan cukup aman.

"Mau sewa kamar, Mbak?" tanya ibu pemilik kos.

"Iya, Bu. Untuk sementara saja," jawab Olla.

Saat kunci kamar berpindah ke tangannya, Olla melangkah masuk dan menutup pintu pelan.

Ruangan itu kecil, sederhana, jauh dari kemewahan yang pernah ia miliki. Namun anehnya, ia justru tersenyum tipis.

Di tempat sesederhana inilah, hidup barunya akan dimulai ....

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 28

    Charol tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya santai, ada kilat licik tipis di matanya. "Mbak dandan yang cantik. Pakai baju yang aku belikan kemarin. Terus mbak pergi ke apartemen. Nanti aku kirim alamatnya. Itu apartemen Niar, temenku, sekaligus selingkuhan Aloy."Suli menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya berkerut, bukan karena bingung, tapi karena cemas. "Aku ngapain di sana, Mbak?""Mbak duduk aja di taman depan apartemen itu. Pura-pura foto-foto selfie," lanjut Charol dengan nada tenang, seolah menjelaskan rencana piknik. "Tenang, Mbak nggak usah takut. Nanti Aloy pasti datang ke apartemen itu. Nah, otomatis dia bakal nyapa Mbak. Mbak pura-pura kaget ya. Terus ajak dia ke mana gitu buat ngobrol-ngobrol. Aku bakal kasih arahan lewat chat."Suli mengangguk pelan. "Kalau aku salah ngomong gimana, Mbak?"Charol menyesap susunya, lalu meletakkan gelas perlahan. "Makanya aku bilang, santai aja. Mbak jadi diri Mbak sendiri. Nanti aku yang atur alurnya."Suli menghela napas pa

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 27

    Rumah kontrakan itu masih terasa asing, meski sejak sore tadi Charol dan Suli sudah bolak-balik mengatur barang.Dindingnya polos, lantainya dingin, dan hanya ada beberapa perabot sederhana, sofa dua dudukan, meja kayu, serta kipas angin yang berputar pelan di sudut ruangan.Senja telah berganti malam. Lampu kuning temaram menciptakan bayangan lembut di wajah kedua wanita itu saat mereka duduk berhadapan.Suli memeluk bantal kecil di dadanya. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil sejak kejadian di rumah sakit. Sesekali matanya menatap lantai, seolah takut kenangan siang tadi kembali menyeruak.Charol menuangkan air hangat ke dua cangkir. Ia menyodorkan satu pada Suli. "Minum dulu. Biar tenang.""Terima kasih, mbak," jawab Suli lirih. Jemarinya gemetar saat menerima cangkir itu.Mereka terdiam sejenak. Hanya suara kipas angin dan jam dinding yang terdengar.Charol mengamati Suli dari sudut matanya, wanita itu masih muda, wajahnya lembut, tetapi garis kelelahan tampak jelas. Bukan kele

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 26

    Langkah Charol dan Suli terhenti tepat di samping mobil. Matahari pagi belum terlalu tinggi, namun panasnya sudah terasa menekan kulit. Suli hendak membuka pintu ketika suara serak dan bau alkohol menyergap dari arah belakang."Wah, wah, wah … Suli."Suara itu membuat tubuh Suli menegang. Wajahnya seketika pucat, napasnya tercekat di tenggorokan. Seorang pria dengan pakaian kusut dan mata merah berjalan sempoyongan ke arah mereka. Langkahnya tidak stabil, namun senyum liciknya jelas terlihat."Kamu sekarang hidup enak, ya," lanjut pria itu sambil tertawa kecil. "Punya bos cantik, tajir pula. Pantesan lupa sama suami sendiri."Suli refleks mundur, bersembunyi di balik tubuh Charol. Tangannya gemetar, kukunya mencengkeram lengan Charol seolah mencari perlindungan terakhir."Herman." Suara Suli nyaris tak terdengar.Charol berbalik, menatap pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Nalurinya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres, bau alkohol menyengat, tatapan kosong bercampur agresi

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 25

    Pagi itu udara di sekitar rumah sakit terasa sejuk. Matahari belum terlalu tinggi, cahayanya menembus sela-sela pepohonan yang tumbuh rapi di halaman depan.Charol melangkah pelan di lorong rumah sakit sambil membawa paperbag putih di tangannya. Di sampingnya, Suli berjalan dengan wajah tegang namun penuh harap.Sesampainya di depan ruang perawatan anak, langkah Suli melambat. Tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu.Di atas ranjang, Lala tampak duduk bersandar dengan selang infus di tangan kecilnya. Wajahnya masih pucat, namun matanya berbinar ketika melihat ibunya datang."Ibuk!" serunya lirih tapi penuh semangat.Suli segera menghampiri, duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan putrinya. "Gimana keadaan kamu, Nak?" tanyanya lembut, menahan getar di suaranya."Udah agak mendingan, Buk," jawab Lala polos. "Sakitnya nggak begitu kerasa kayak kemarin."Suli menghela napas lega. Matanya berkaca-kaca, lalu ia mengusap kepala Lala dengan penuh kasih. "Syukurlah, Ibuk takut kamu

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 24

    "Oh, aku nggak kenal kok, Cha. Dia itu tadi njatuhin sendok, aku cuma bantu ngambilin aja," jawab Aloy ringan, nyaris tanpa beban.Charol mengangguk kecil, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Hem, dasar pembohong. Pandai sekali kamu memainkan peran, Aloy," batinnya. Namun wajahnya tetap tenang, nyaris tak menunjukkan apa pun selain ketertarikan yang wajar."Oh gitu," ucapnya singkat.Pelayan datang menghidangkan pesanan. Aloy mulai terlihat lebih santai, bahkan sempat tertawa kecil menceritakan hal-hal remeh, seolah lupa bahwa ia sedang duduk bersama perempuan yang kelak akan menghancurkan hidupnya perlahan.**Sementara itu, di apartemen mewah, Niar mondar-mandir dengan wajah bosan. Televisi menyala, tapi tak satu pun acara menarik perhatiannya."Aduh, kok laper, ya. Cari makan ah. Aku pengin makan di restoran mewah," gumamnya sambil berdiri. "Hasil manggung kemarin juga masih banyak."Ia berganti pakaian dengan cepat, gaun pendek warna hitam yang membalut tubuhnya dengan pas, make u

  • Menjadi Penyanyi Top Setelah Dicerai Suami   Bab 23

    Malam turun perlahan, membawa hawa dingin yang menyelinap lewat celah jendela kontrakan kecil itu.Di dalam kamar sempit yang kini dipenuhi aroma parfum mahal, Suli berdiri kaku di depan cermin. Gaun hitam selutut membalut tubuhnya dengan pas.Rambutnya yang biasanya diikat sederhana kini tergerai rapi, ujungnya dibuat sedikit bergelombang.Tas branded menggantung di lengannya, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan yang masih terasa asing dengan kemewahan.Ia hampir tak mengenali dirinya sendiri.Pintu kamar terbuka pelan.Charol bersandar di kusen, memperhatikan dari ujung kepala sampai kaki. Senyum tipis penuh penilaian menghiasi wajahnya."Cantik," ucapnya pelan tapi tegas. "Bukan cantik pembantu. Cantik perempuan sosialita."Suli menelan ludah. "Saya masih deg-degan, Mbak.""Wajar," sahut Charol sambil melangkah mendekat. Ia merapikan sedikit bagian bahu gaun Suli. "Tapi ingat, mulai malam ini kamu bukan Suli pembantu. Kamu Suli, wanita kaya yang lagi bosan dan ingin ca

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status