MasukReis sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan beberapa saat lalu. Langkahnya yang cepat dan dingin masih meninggalkan suasana tegang di dalam istana ratu, bahkan setelah sosoknya benar-benar menghilang dari pandangan.Para pelayan mulai bergerak pelan membereskan meja makan, namun tidak ada satu pun yang berani berbicara terlalu keras.Lorrene sendiri masih duduk diam di kursinya.Tatapannya tertuju ke arah jendela besar di samping ruangan, memandangi halaman istana yang tampak tenang di bawah cahaya pagi. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan taman dengan lembut, menciptakan suasana damai yang bertolak belakang dengan pikirannya saat ini.Ia tahu Reis pasti sudah mulai bergerak.Jika sang kaisar sendiri turun tangan, maka seluruh ibu kota tidak akan bisa tenang hari ini. Penjaga akan diperiksa, gerbang akan diawasi lebih ketat, dan siapa pun yang terlihat mencurigakan pasti akan langsung ditangkap.Namun entah mengapa Lorrene merasa ada sesuatu yang tidak beres.Suara langkah
Keheningan memenuhi ruang makan itu setelah Reed selesai berbicara. Lorrene perlahan meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Tatapannya mengarah pada Reed yang masih berdiri dengan kepala sedikit tertunduk di depan mereka.“Bukankah dia sudah pergi dari istana?” tanyanya pelan. “Aku sendiri yang menyuruhnya keluar.”Reed langsung mengangguk hormat. “Benar, Yang Mulia Ratu. Duchess Luther memang meninggalkan sejak semalam.”Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih hati-hati.“Namun setelah itu… keberadaannya tidak diketahui.”Tatapan Reis langsung berubah tajam.“Tidak diketahui?” ulangnya rendah.Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat suasana di dalam ruangan semakin menegang. Reed menarik napas perlahan sebelum menjelaskan lebih lanjut.“Kereta yang digunakan duchess ditemukan kosong di jalan timur dekat gerbang kedua, Yang Mulia. Kusir dan pengawalnya juga tidak ditemukan.”Lorrene sedikit mengernyit mendengar itu. Jemarinya perlahan bertaut di atas pangku
Keheningan langsung memenuhi ruangan begitu kata-kata Reed selesai terdengar. Suasana yang beberapa saat lalu masih tenang berubah menekan dalam sekejap, bahkan suara angin dari luar jendela terdengar jauh lebih jelas di tengah sunyi yang mendadak tercipta itu.Lorrene membeku sesaat. Tangannya yang semula hendak meraih cangkir teh perlahan berhenti di udara, sementara tatapannya berpindah dari Reed menuju Reis yang masih duduk diam di tempatnya.Namun justru ketenangan itulah yang terasa paling menakutkan. Reis tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya tetap tenang, terlalu tenang, hingga perlahan sorot matanya berubah dingin dan membuat udara di sekitar terasa semakin berat.“Hilang?” ulangnya pelan.Satu kata itu terdengar rendah, namun cukup untuk membuat Reed tanpa sadar menundukkan kepala lebih dalam. Lelaki itu jelas tahu bahwa situasi ini jauh lebih buruk daripada sekadar kehilangan seseorang dari dalam istana.“Penjaga mengatakan Duchess Luther sudah keluar dari istana setelah mak
Pagi baru saja menyentuh langit ketika Reis perlahan membuka matanya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai jatuh samar ke dalam kamar, menciptakan suasana hangat yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk istana di luar sana. Untuk beberapa saat ia tidak bergerak, hanya berbaring diam sambil menatap langit-langit ruangan.Lalu pandangannya bergeser ke samping.Lorrene masih tertidur di sisinya.Tubuh wanita itu sedikit menyandar padanya, rambut panjangnya berantakan lembut di atas bantal, sementara wajahnya terlihat jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir. Tidak ada ekspresi tegang, tidak ada tatapan penuh perhitungan seperti biasanya. Dalam keadaan seperti ini, Lorrene terlihat jauh lebih muda dan rapuh.Reis memperhatikannya tanpa sadar lebih lama dari yang seharusnya.Tangannya perlahan bergerak, menarik tubuh Lorrene lebih dekat ke dalam pelukannya. Gerakan itu membuat Lorrene sedikit terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan sebelum akhirnya ia mengangkat wajah m
Kali ini tidak ada yang berani menunda.Reed langsung menundukkan kepala lebih dalam. “Baik, Yang Mulia.”Tanpa berkata apa pun lagi, ia berbalik dan melangkah cepat meninggalkan aula, diikuti oleh beberapa penjaga yang segera memahami apa yang harus mereka lakukan.Suara langkah mereka menghilang di balik lorong panjang, membawa serta perintah yang tidak boleh gagal.Sementara itu, Reis tetap berdiri di tempatnya.Diam.Tak bergerak.Namun keheningan di sekitarnya tidak lagi sama seperti sebelumnya.Ada sesuatu yang berubah sesuatu yang membuat setiap orang yang masih berada di dalam aula itu memilih untuk tidak bersuara, bahkan tidak berani mengangkat kepala. Mereka tahu bahwa ini bukan sekadar perintah biasa.Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.Reis baru saja menggeser langkahnya ketika suara langkah lain menyusul dari arah lorong dalam. Ia berhenti.Lorrene mendekat.Langkahnya tidak tergesa, namun setiap gerakan yang ia ambil terasa pasti.Gaun panjangnya menyapu lanta
Duke Kurtcher mengangkat pandangannya sedikit, mulai memahami arah pemikiran itu.“Jika dia berada di dalam istana,” lanjut Reis, “maka dia merasa aman sekarang.”Tatapannya mengeras, meskipun ekspresinya tetap tenang.“Dan aku ingin dia tetap merasa seperti itu.”Duke Fenrath terdiam. Ia tidak menyela lagi, namun jelas bahwa ia masih mempertimbangkan risiko dari keputusan itu.“Jadi Anda akan membiarkannya bergerak?” tanyanya akhirnya.Reis menggeleng pelan. “Bukan membiarkan,” jawabnya.Ia berbalik, jubahnya bergerak ringan mengikuti langkahnya yang mulai menjauh dari tempat itu.“Aku akan mengawasinya,” lanjutnya tanpa menoleh, “sampai dia membuat kesalahan.”Tidak ada yang menjawab.Duke Kurtcher segera memberi perintah pada pasukannya, sementara Duke Fenrath tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Reis yang semakin menjauh.Kereta kekaisaran berhenti dengan suara pelan di halaman utama istana, namun keheningan yang menyambut justru terasa jauh lebih berat dari biasanya.Para
Lorrene meneguk ludah sebelum akhirnya menerima gelas anggur itu. Cairan merah di dalamnya bergetar pelan saat jemarinya menyentuh kristal dingin, seolah ikut merasakan kegugupan yang berusaha ia sembunyikan. Ia tidak langsung meminumnya. Hanya memegangnya, membiarkan aroma anggur bercampur dengan
Kata-kata itu bergema di benaknya, membawa atmosfer kamar menjadi semakin tebal dengan nuansa kepemilikan dan penyerahan total. Lorrene hanya bisa terdiam, tubuhnya masih bergetar dalam pelukan sang kaisar, hatinya berdebar dengan perasaan baru yang sulit ia tolak.Lahirkan anak untukku.Kalimat it
Lorrene menatapnya lurus. Tidak menunduk. Tidak gentar.“Apakah Yang Mulia Kaisar terbiasa menepati kontrak?” balasnya.Reis tersenyum kecil. “Aku terbiasa menghancurkan mereka.”Lorrene membalas dengan nada setenang mungkin, meski dadanya berdebar. “Maka saya harus memastikan kontrak itu membuat A
Musik iring-iringan masih mengalun di halaman kastil. Nadanya lembut, namun menekan, seolah berusaha menutupi kegelisahan yang diam-diam merayap di antara para tamu. Biola dan lonceng kecil berpadu, mengisi udara pagi yang terasa terlalu sunyi untuk sebuah pernikahan agung.Semua mata tertuju pada d







