LOGINAku dan suamiku akhirnya dikaruniai anak pertama di tahun ketujuh pernikahan kami. Suamiku curiga bahwa bayi yang ada di dalam perutku bukanlah anaknya. Aku sangat marah sehingga aku melakukan tes DNA. Sebelum hasilnya keluar, suamiku muncul di depan pintu rumah orang tuaku. Dia sedang memegang sebuah foto. Foto itu menunjukkan pakaian dalamku yang entah kenapa bisa muncul di rumah temannya. "Dasar jalang, beraninya kamu mengkhianatiku dan memintaku untuk membesarkan anak orang lain. Mati saja sana!" Dia menggunakan cambuk untuk mencambuk ibuku yang berusaha melindungiku. Ibuku sampai pingsan, tetapi dia tetap memukulku sampai aku mengalami keguguran. Setelah hasil tesnya keluar, dia baru mengetahui kebenarannya. Dia pun berlutut dan memohon agar anak yang sudah dia hilangkan itu bisa kembali.
View MoreCassienne walked out of Dr. Zach’s office, holding the small prescription paper in her hand. She felt tired and a little dizzy, and all she wanted was to get home and crawl into bed. She headed toward the elevator, but just as she was about to step inside, a familiar voice drifted down the hallway.
That voice. She could never mistake it for another. It was her husband. Dreston Tremont. She glanced over her shoulder and saw Dreston’s tall, straight figure standing out among the people in the corridor, his arm wrapped around a slim woman beside him. As they walked, the woman looked up at him, revealing her face. It was Tina Arcley—his ex-girlfriend. “Did you see that guy? He is so handsome. I feel like I'm on fire just looking at him.” “Don’t even think about it. He’s here with his wife.” Two nearby nurses whispered about them. Meanwhile, Dreston and Tina smiled at each other, looking effortlessly perfect together. Cassienne couldn’t remember him ever smiling at her like that—not with that soft, loving look he was giving Tina. And he wasn’t alone. Someone else stood with them—a doctor. “Remember to rest well,” the doctor said gently. “Since you’re still at the early stage of your pregnancy, you shouldn’t do any vigorous work. I hope you understand?” Pregnant? Cassienne’s breath caught. Her hand flew to her mouth. “Your wife’s mood will be affected by pregnancy hormones,” the doctor continued. “As the baby’s father, you should take her out into nature more often. It will help her stay in a good mood.” Cassienne struggled to stifle the gasp building in her throat. Shock rippled through her, blurring her vision. “I’ll see to that, Doctor,” Dreston replied, sounding protective. “I’ll make sure she gets all the rest she needs.” Through her blurred vision, Cassienne saw them as they began to turn in her direction. Panic rushed through her, and she quickly slipped behind a nearby pillar, pressing her back against the cool stone. Her heart hammered so loudly she feared they would hear it. She peeked out just enough to see Deston’s hand resting at the small of Tina’s back, guiding her with a tenderness he had never shown Cassienne. He led Tina toward the elevator, his body angled as if shielding her—like she was the most precious thing in his world. Cassienne pressed herself tighter against the pillar, doing everything she could to make herself invisible. They moved closer—close enough for her to hear their breaths. Close enough for her to see the tenderness in his eyes when he looked at Tina. She tried to steady her breathing. She tried to stay calm. She tried to do what she had been forced to master over the past five years—swallow the pain and pretend she could bear it. This was the price of her own foolish decision, the mistake she made five years ago when Dreston’s parents had approached her in desperation. They needed him married—for the sake of the family’s image. Tina wasn’t an option. His parents never approved of her. So they turned to Cassienne—the girl who had loved him since childhood, the foolish girl who loved him quietly and secretly, even as a friend. She had signed the contract without hesitation, agreeing to pretend to be his wife for five years. In her naïve heart, she believed that living with him, sharing his days and nights, might awaken something in him. That he might learn to love her the way she loved him. They had been close once, back in their innocent days. He had liked her—really liked her—before life pulled them apart. They reconnected in high school, and for a brief moment, it felt like fate. He didn’t remember her fully then, but she remembered him. She could never mistake him for anyone else. Yet things were still fine between them… until Tina came into the picture. Tina was her friend. Cassienne had introduced her to Dreston, but that turned out to become her greatest mistake. As soon as Tina stepped into Dreston’s life, everything changed. The boys who admired Cassienne drifted away. His friends, who once liked her, forgot her. Everyone’s attention moved to Tina. Tina didn’t choose any of those boys. She chose Dreston—Cassienne’s secret first love. Tina was beautiful, and Cassienne was no less, but Tina had a charm that commanded attention anywhere she went. And just like all the other boys, Dreston fell under her charm too. For Cassienne, he was the only boy. Now he was the only man for her. And even after five years of living with him as his wife in name only, her feelings never changed. Neither did his feelings for Tina. He still loved her. And now… Tina was pregnant with his child. Cassienne’s hands trembled as tears burned behind her eyes. A sob rose in her chest, sharp and heavy, but she forced it down. She had learned to swallow pain so deeply it no longer made a sound. Tina’s voice echoed in her mind—the cruel reminder she used to throw at her. “You married him even after knowing he belongs to me.” And Tina was right. Cassienne knew. But she still said yes, because he had been hers first—before Tina took him away. The elevator dinged. The doors slid open. Cassienne watched silently as Dreston and Tina stepped inside. They stood close together, framed by the narrowing elevator doors. Only when the elevator shut did Cassienne finally exhale. Even then, their scent lingered in the hallway. A reminder of everything she could never become.Pembawa acara memang profesional.Dalam situasi ini, informasi dari ibu mertua jelas lebih menarik.Dia segera bertanya padaku apa yang terjadi.Aku tidak punya pilihan selain mengikuti kata-katanya dan menceritakan keseluruhan cerita.Termasuk fakta bahwa ibu mertuaku yang mencari seorang pria, tetapi membiarkan aku yang disalahkan. Kemudian, aku juga mengatakan tentang putranya yang memukulku sampai keguguran.Ruang siaran langsung heboh."Memukul istri sendiri sampai keguguran? Memangnya ini sesuatu yang bisa dilakukan oleh manusia?""Saat aku melihat bibi ini, aku sudah merasa kalau dia bukan orang baik. Dia kelihatan galak.""Ini sangat menarik, selingkuh dengan memakai pakaian dalam menantu sendiri. Benar-benar di luar nalar."Ibu mertuaku sangat cemas sehingga dia menutupi kamera dengan tangannya.Dia tidak bisa mengalahkan juru kamera.Dia pun mengalihkan fokusnya padaku."Clara, kamu sudah keterlaluan. Sudahlah kalau ayahmu memanfaatkan kekuasaannya untuk memenjarakan anakku,
Sampai Ravel dibawa pergi, dia tetap mengatakan bahwa dia mencintaiku.Saat memikirkan tujuh tahun yang kuhabiskan bersamanya ....Kemudian, pukulannya yang menghantamku ....Aku tidak tahu apakah cinta ini benar atau salah.Ketika mengetahui bahwa Ravel akan dipenjara, ibu mertuaku yang sudah lama tidak terlihat, tiba-tiba datang.Begitu bertemu, dia mulai memohon padaku."Clara, aku tahu ada kesalahpahaman antara kamu dan Ravel. Kesalahpahaman ini dimulai karena aku. Ibu minta maaf padamu, seharusnya aku nggak memakai pakaian dalammu."Dia berkata sambil menampar wajahnya sendiri.Sikapnya tampak sangat tulus."Kamu dan Ravel sudah bersama selama bertahun-tahun. Jangan merusak pernikahan kalian hanya karena masalah sepele ini."Aku menjadi marah ketika mendengarnya, "Apa ini masalah sepele? Ravel memukul punggung ibuku dan menggugurkan anakku. Kalau kamu bilang ini masalah sepele, kalau begitu aku akan mencambuk punggungmu juga."Ibu mertuaku mundur.Dia mulai menghindari hal yang se
Setelah melampiaskan emosinya, Ravel mengangkat kepalanya lagi."Walaupun dia nggak selingkuh dengan Edo, Clara masih berhubungan dengan orang lain. Kalau nggak begitu, dari mana asal anak dalam perutnya itu?"Aku menyahut dengan dingin, "Percaya atau nggak, itu anakmu.""Nggak mungkin, sama sekali nggak mungkin," bantah Ravel. Dia masih membela dirinya, "Dokter bilang aktivitas spermaku rendah, jadi aku nggak mungkin bisa punya anak.""Aktivitas sperma rendah bukan berarti nggak memiliki sperma, cuma berarti sulit hamil, tapi masih ada kemungkinan hamil." Mendengar hal tersebut, seorang petugas polisi di dekatnya langsung mengeluh, "Kamu menemui di dokter mana? Kenapa nggak kompeten sekali."Ravel tidak memercayai hal ini, lalu menjawab, "Aku memeriksanya di rumah sakit khusus pria, Rumah Sakit Bahagia di Jalan Bahagia. Para dokter di sana jauh lebih hebat darimu.""Rumah Sakit Bahagia?" Petugas polisi itu tertawa setelah mendengarnya, lalu menyahut, "Kalau begitu, kamu pergi ke tempa
Atas isyarat dari dokter, perawat mengambil janin itu lagi.Janinnya berumur dua bulan dan sudah berbentuk mirip seperti manusia.Ia meringkuk di sana dengan tenang.Anakku.Inilah anak yang kutunggu-tunggu selama tujuh tahun.Aku menangis tersedu-sedu sejenak.Dokter menghiburku dengan berkata bahwa aku akan memilikinya lagi suatu hari nanti.Aku ingin menyimpan janin itu, tetapi dokter mengatakan bahwa itu adalah limbah medis dan tidak bisa dibawa pulang.Sampai pada akhirnya aku keluar dari ruang operasi dan melihat ayahku.Setelah memberitahunya tentang hal itu ....Ayahku memberi tahu dokter bahwa itu adalah barang bukti, dokter pun memberikannya kepada kami.Aku bertanya kepada ayahku, "Di mana Ibu? Bagaimana keadaannya?""Ibumu baik-baik saja, cuma sedikit terluka di bagian luar. Dia pingsan karena tekanan darah tinggi," jawab ayahku. Ayahku tampak menua beberapa tahun. Dia tersenyum padaku dan menyuruhku untuk menjaga diriku sendiri, "Tunggu kamu agak membaik, aku akan menganta
Pengeras suara ponsel Ravel dinyalakan, jadi aku juga mendengar kalimat ini.Aku melihat Ravel berdiri di sana, memegang ponselnya sambil tercengang.Wajahnya dipenuhi dengan ketidakpercayaan."Bagaimana mungkin?"Darah yang mengalir di bawah tubuhku makin deras.Aku merasa bahwa anak yang susah payah ak
Cambuk itu menimpa ibuku, tapi ibuku tidak kelihatan kesakitan.Dia berbalik, lalu menatap langsung ke arah Ravel."Ravel, kamu benar-benar salah paham kepada Clara. Jangan pukul dia. Sekarang duduk dan bicarakan dengan baik-baik. Kalau kamu terus seperti ini, kamu pasti akan menyesalinya.""Menyesa
Aku mengangkat ponsel Ravel, lalu segera melihatnya.Layarnya menunjukkan riwayat obrolan antara Ravel dan istrinya Edo.Edo Tanjaya adalah teman kuliah Ravel.Aku sudah pernah bertemu dengan istri Edo beberapa kali. Kami juga bisa dianggap sebagai teman.Dalam riwayat obrolan tersebut, istri Edo me
Pada tahun ketujuh pernikahan kami, Ravel Yanuar, suamiku dan aku akhirnya dikaruniai anak pertama kami.Ketika aku memberi tahu tes kehamilan dengan senang hati padanya, dia mengerutkan kening sambil bertanya kepadaku ...."Anak siapa ini?"Aku menjawab sambil tertegun, "Tentu saja anakmu.""Kita s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews