LOGIN"Barusan kamu panggil aku apa?" Jose mengucapkannya kata demi kata sambil menggertakkan gigi dengan geram.Dengan ekspresi dingin, Aura mengulanginya, "Pak Jose, silakan lihat perjanjian ini. Kalau nggak ada masalah, tolong ditandatangani."Dia mengulanginya tanpa lelah, tetapi semakin Jose mendengarnya, sorot matanya justru semakin kelam.Jose mengangkat pandangan menatapnya. Beberapa hari tidak bertemu, Aura terlihat sama sekali tidak berubah. Seolah-olah keputusan untuk bercerai baginya hanyalah keputusan yang sepele.Jari Jose perlahan mengepal. Dengan tatapan yang dalam dan berat, dia menatap Aura. "Kamu benar-benar sudah memikirkannya matang-matang?"Hati Aura terasa pahit. Entah sudah dipikirkan secara matang atau belum, semuanya sudah sampai titik ini. Apa pun yang dikatakan sudah tidak berarti lagi.Bahkan sebelum meninggal, Sherly masih meninggalkan duri di antara dirinya dan Jose. Aura tidak bisa membela diri lagi.Entah siapa yang pernah mengatakan sebuah kalimat, orang hid
Ekspresi Marsel membeku sejenak. Dengan agak canggung, dia menggaruk kepalanya. "Ayo, aku antar."Menghadapi sikap Aura yang dingin, Marsel hanya bisa menutup mulutnya dengan canggung dan menuntun di depan.Tempat ini adalah sebuah klub yang dibeli Jose di Kota Morimas. Aura pernah datang ke sini sebelumnya.Saat Marsel membawa Aura ke depan sebuah ruang privat, Aura langsung melihat pengacaranya berdiri di depan pintu menunggunya.Begitu melihat Aura, pengacara itu mengangkat tangan untuk menyeka keringat di dahinya. "Bu Aura.""Kenapa nggak masuk?" tanya Aura.Pengacara itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum canggung. "Menunggumu."Sebenarnya, dia tidak berani masuk. Tadi begitu tiba, dia langsung masuk ke ruang privat. Namun, baru saja masuk, dia melihat Jose duduk di sofa dengan wajah dingin. Ekspresinya benar-benar mengerikan.Dia memang tidak terlalu akrab dengan Jose, tetapi di kalangan pengacara, cukup banyak cerita tentang Jose. Konon katanya, dia kejam dan tidak segan memak
"Apa?" Marsel tidak percaya dengan apa yang didengarnya.Dia berbalik, lalu melangkah mendekat dan menatap Jose. "Tuan Jose, mohon dipikirkan baik-baik. Konflik antara Tuan dan Nyonya hanya kesalahpahaman, belum sampai pada tahap harus cerai."Bagaimana Aura dan Jose bisa berjalan sampai sejauh ini, Marsel yang selalu berada di sisi Jose lebih paham daripada siapa pun. Dia benar-benar tidak tega melihat Jose dan Aura berakhir di titik ini."Lakukan saja sesuai yang kukatakan." Tatapan Jose menyapu Marsel dengan dingin dan tajam. Ekspresinya tegas, tidak memberi ruang untuk membantah.Bibir Marsel bergerak sedikit, tetapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan berbalik pergi. Setelah keluar, dia menutup pintu ruang kerja Jose, lalu menggeleng pelan sambil menghela napas.....Saat Aura menerima telepon dari pengacara, dia baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.Ponsel berdering, Aura mengangkatnya. Dari seberang terdengar suara pengacara. "Bu Aura, dari pihak P
Pria ini terus saja mengincarnya.Aura merasa, Renald ini tidak lebih dari sekadar didorong oleh hasrat menang dan kalah semata. Mendengar ucapannya, Renald tidak marah, malah mengangguk."Kalau begitu, kalau setelah diperiksa otakku nggak bermasalah, apa itu berarti Bu Aura bisa menyetujuinya?"Setuju kepalamu! Aura menahan diri agar kata kasar itu tidak terucap. Dia maju selangkah lebih dekat ke ranjang Renald, lalu membungkuk dan mendekat ke arahnya.Begitu Aura mendekat, Renald langsung mencium aroma manis yang lembut. Mirip buah yang matang. Wangi yang cukup membuat orang tergoda, tetapi sulit dijelaskan persis seperti apa. Sungguh harum.Renald mengangkat alisnya dan menatapnya. Kemudian, dia mendengar Aura mengucapkan kata demi kata, "Pak Renald, aku bukan alat untukmu membuktikan kalau kamu lebih unggul daripada Jose.""Dulu aku anggap ucapanmu hanya bercanda, tapi kalau ke depannya masih dibahas, itu sudah nggak lucu lagi." Wajah mungil Aura terlihat datar dan serius.Renald m
Saat Aura menerima telepon dari Renald, dia baru saja mengakhiri panggilan dengan Roy. Mengetahui Renald datang ke Kota Morimas, Aura sebenarnya tidak merasa heran.Saat dia sedang menatap ponsel sambil melamun, telepon dari Renald pun masuk. Dia tanpa sadar mengernyit, terdiam sejenak, lalu memilih menolak panggilan itu.Namun tak lama kemudian, Aura kembali menerima sebuah gambar yang dikirim Renald. Di foto itu, Renald terlihat terbaring di ranjang rumah sakit.[ Bu Aura, kalau kamu nggak mau bertanggung jawab, aku hanya bisa datang ke rumah Keluarga Kusuma dan meminta Pak Parviz yang bertanggung jawab lho. ]Melihat pesan dari Renald, Aura merasa tak berdaya. Dia hanya membalas dengan mengirimkan satu tanda tanya.Di rumah sakit, Renald melihat balasan dari Aura. Sudut bibirnya terangkat tipis.[ Karena aku ditabrak oleh Jose. Tapi aku nggak bisa menemukannya, jadi hanya bisa mencari Bu Aura. ]Aura mengernyit, merasa orang ini sepertinya memang ada masalah dengan otaknya. Dia lant
"Maaf, Pak Jose. Mobilmu tertabrak. Nanti perusahaanku akan mengirim orang untuk menanganinya. Aku pamit dulu."Setelah berkata demikian, Renald pun bersiap pergi. Jose tidak mengatakan apa pun.Baru setelah Renald berjalan cukup jauh, Jose membuka pintu mobil dan turun. Tadi Renald menabrak bagian belakang mobil Jose, tetapi kerusakannya tidak terlalu parah. Mobilnya masih bisa dikendarai.Jose berjalan ke sisi kursi pengemudi, membuka pintu, lalu berkata kepada Marsel, "Turun."Marsel tertegun. "Tapi mobilnya ...."Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, dia sudah melihat tatapan Jose yang mendingin. Dia langsung paham, cepat-cepat melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil, menyerahkan kursi pengemudi kepada Jose.Jose naik ke mobil, menginjak pedal gas, lalu melesat pergi, mengejar ke arah Renald pergi.Renald yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu mobil, merasakan ada kendaraan mendekat dari belakang. Dia menoleh sekilas. Yang terlihat adalah Jose mengemudikan mobil tan







