LOGIN“Kenapa kamu berdiri saja di sana? Cepat ke laboratorium! Aku sudah menulis laporan bahwa kami menemukan tenaga medis yang hilang, jadi kamu bisa langsung bekerja.” Darvin mengerutkan kening melihat Alan dari tadi hanya berdiri di depan pintu kaca seperti sedang menunggu seseorang.Alan berkata gugup, “Ah, aku ... sebenarnya ....”Mata Alan bergerak menatap Rose yang juga memandanginya. Dia ingin melakukan sesuatu pada Rose karena tahu temannya itu akan dibawa ke ruangan isolasi untuk Program Kehamilan Massal. Rose tidak akan pernah keluar lagi. Untuk selamanya, jika dia tidak menyelamatkannya di sini.Akan tetapi, Alan sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tak punya rencana, juga tak punya rekan. Di kota sebesar ini, hanya dia yang mengenal Rose. Tidak ada Cade, Shin, maupun Leon. Dia sendirian, tanpa ada seorang pun yang berdiri gagah di hadapannya.Alan kini mengerti betapa lemahnya dia dibandingkan teman-teman Rose yang lain. Dia merasa tidak banyak berperan dalam
Perjalanan menuju Sanctuary Dome benar-benar memuakkan. Bagi Rose, terutama. Darvin tak henti-hentinya mengoceh, berusaha mengulik informasi dari Rose mengenai hubungannya dengan Cade. Rose terus bungkam, tapi mulut Darvin yang tak berhenti bersuara membuat emosi Rose lama-lama memuncak.Namun, Rose tidak bisa membentak Darvin begitu saja. Darvin punya kuasa, bisa jadi Rose ditembak bius jika membantahnya. Pada akhirnya, yang bisa Rose lakukan hanyalah melipat kedua tangan di dada, memalingkan wajah, dan merapatkan bibir. Pertanyaan-pertanyaan Darvin pun dijawab sekenanya oleh Alan, yang mengakunya ditawan setelah Rose.Berbeda dengan Rose, Alan harus menunjukkan citra pekerja yang loyal di hadapan Darvin, demi mendukung sandiwara yang telah dibangun Cade. Dia berpura-pura menjadi pekerja yang rindu dengan Sanctuary Dome. Menutupi fakta bahwa dia pergi atas kemauannya sendiri.Jika disuruh memilih, tentu Alan tidak ingin kembali ke Sanctuary Dome sebagai pekerja. Dia ingin kembali,
Rose tak bisa menolak saat Darvin membawanya lebih jauh. Dia sempat menengok ke belakang, tapi Cade maupun Leon tidak menatapnya balik. Mereka sedang berhadapan dengan Thomas, entah apa yang mereka bicarakan. Hingga tamparan Thomas mendarat dengan kasar di wajah Cade. Suaranya cukup keras, membuat Rose tersentak melihatnya. Dia lupa bahwa dia sedang digiring oleh Darvin dan sempat hendak berlari menuju Cade.“Whoa, mau ke mana kamu, Nona? Mereka bukan urusanmu lagi.” Dengan cekatan, Darvin langsung menarik Rose agar tetap berjalan di sampingnya. “Lagi pula, bukankah para pria di sana mengaku kamu adalah tawanannya? Kenapa kamu tampak peduli dengan mereka?”Rose tidak menjawab. Dia hanya menunduk dan terus berjalan dalam diam.“Selain itu, mereka adalah buronan Riders. Yang artinya mereka bukan orang biasa. Apa yang telah mereka perbuat sampai bajingan ganas seperti Walsh mencari mereka?” kata Darvin.“Itu bukan urusanmu,” ucap Rose sedikit ketus. Ucapan Darvin benar-benar memant
Jantung Alan nyaris berhenti mendengar ucapan terakhir Darvin. Bukan hanya miliknya, tapi juga Rose. Kalau saja Darvin tidak terus menariknya, Rose sudah mematung di tempat. Dia memang tidak tahu apa pun soal kehidupan di Sanctuary Dome, tapi Alan sudah menceritakan padanya beberapa.Salah satunya soal penelitian yang diam-diam dilakukan para ilmuwan saat Alan masih bekerja di sana. Rose masih ingat cerita yang Alan sampaikan waktu dia jatuh sakit karena virus mutasi itu. Bahwa para ilmuwan melakukan penelitian secara sembunyi setelah mengetahui sesuatu yang istimewa dari darah Mariana Gringer, ibu Rose.Sebuah penelitian yang akan menghasilkan obat penyembuh virus Dextron jika berhasil. Penelitian yang tak akan didukung petinggi Sanctuary Dome, sebab mereka tak berniat menyelamatkan para rakyat.Darvin memang tidak menyebutkan penelitian apa itu, tapi Rose yakin yang dimaksud berkaitan dengan darah ibunya. Seketika, pikiran Rose tertuju pada nasib ibunya. Kalau penelitian itu teru
Cade meneguk ludah, sadar Darvin butuh diyakinkan. “Dia yang mengaku sendiri dari Sanctuary Dome. Aku serius. Kami menawannya karena sempat terkena virus Dextron dan kami tak bisa mengobatinya,” tambahnya.“Virus Dextron? Apa kalian berkelana sampai jalur Utara?” tanya Darvin.“Ya, demi menghindari dia,” jawab Cade langsung, bola matanya bergerak menunjuk Thomas.Thomas menimpali dengan ketus, “Hei, mana boleh begitu. Hunters hanya akan mengambil teman wanita—”“Kenapa tidak?” potong Cade tak kalah ketus, wajahnya penuh kebencian. “Buronanmu hanya aku dan Shin, kan? Memangnya kamu kenal dengan pria lemah ini? Dia merepotkan, jadi kembalikan saja dia ke tempat asalnya.”Demi meyakinkan Darvin bahwa Cade dan lainnya benar-benar menawan Alan, Cade tak segan-segan menendang pinggang Alan dengan kakinya. Dia tidak berniat terlalu kasar karena hanya akting, tapi sepertinya tenaga kecil Cade pun berdampak besar bagi tubuh ringkih Alan. Dia melotot sendiri saat melihat Alan sampai terjer
Pengepungan ini benar-benar membuat Rose dan teman-temannya tak berkutik. Bukan cuma soal kalah jumlah, tapi dari segi persenjataan pun mereka tertinggal. Riders memiliki senjata yang lebih lengkap dan mematikan, sementara Hunters punya senjata khusus dari Sanctuary Dome.Cade menggigit bibir, keringat dinginnya mulai turun ke pelipis. Tangannya yang sudah bersiap mengambil pistol dan pisau di belakang pinggangnya kini membeku. Dia mendadak ragu, tak bisa memutuskan mana pilihan yang tepat untuk saat ini.Dia tahu Alan dan Leon memikirkan hal yang sama dengannya. Mereka ingin melindungi Rose. Ingin sekuat tenaga menghalau orang-orang asing ini dari menyentuh Rose. Akan tetapi, situasinya tak menguntungkan. Dilihat secara kasat mata pun ketahuan posisi mereka saat ini sangat dirugikan.“Ayo, serahkan wanita itu.” Darvin membuka kepalan tangan kirinya ke depan, sementara tangan kanannya tetap mengangkat pistol bius. “Lima detik. Atau kami tembak kalian semua bersamaan.”Terdengar de
“Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel
Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku.
“Rupanya dia wanita, ya. Hebat kamu, Leon! Dengan begini, kita bisa dapat 500 juga Goldyn!” Ketua Perampok berjenggot tebal yang bernama Milan, merangkul dan mengusap-usap rambut pirang LeonBeberapa jam lalu. Rose tidak bisa berkutik ketika Leon mengangkutnya ke mobil jeep pada perampok. Kakinya
“Lepaskan! Lepaskan aku, dasar lelaki menjijikkan!”Rose meronta-ronta di balik jaring-jaring yang menutupi seluruh tubuhnya. Entah terbuat dari apa, jaring itu menempel pada kulitnya sehingga dia tidak bisa bergerak bebas. Raungan Rose terdengar makin keras, membuat seorang lelaki yang mendekatiny







