Mag-log inMelihat Shin bersuara keras seperti orang cari perhatian membuat Rose merasa tidak nyaman. Kondisi mabok rupanya bisa mengubah kepribadian orang secara drastis. Shin yang Rose tahu orangnya ketus, malas bicara, suka menyindir dan menyulut emosi. Tidak pernah sekalipun dia melihat Shin berseru dengan bangga dan percaya diri seperti ini. Jujur saja, kalau Shin yang normal melihat dirinya sendiri saat ini, Rose bisa menjamin pria itu akan meludah sebanyak-banyaknya. Karena dia tahu, Shin tak suka orang yang bersikap norak.“Apa teler bisa membuat orang menjadi norak seperti itu?” komentar Rose.Leon mendesah berat. “Jangankan norak. Orang yang pemalu saja bisa tiba-tiba banyak bicara kalau sudah mabuk.”“Sial, dia mau memakai senapannya di sini!” Cade mendadak panik begitu melihat Shin tengah memamerkan senapan di tangannya. Dia langsung menarik Leon untuk masuk ke kedai bersamanya.Alan menahan Rose agar tetap memantau dari luar pintu. Di dalam, kerumunan yang mengerubungi Shin ma
Rose dan lainnya tidak bisa mendengar percakapan Alan dan si penjual senapan karena jaraknya cukup jauh. Mereka hanya mengamati, lalu menyaksikan Alan kembali pada mereka dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajahnya dipenuhi keringat, terlihat sangat panik.“Gawat! Ini gawat!” tukas Alan dengan nada yang kacau. Tangannya menggoyang-goyangkan lengan Leon kencang.Rose menyahut, “Apa? Ada apa?”Alan menggigit bibir. Dia mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke arah yang sesuai dengan keterangan si penjual senapan. “Shin ... katanya pergi ke sana. Entah ke mana, tapi dia sudah memborong banyak senapan. Dia beli satu set yang isinya enam buah senapan!”Cade melotot mendengarnya. “Enam? Dia beli enam senapan rakitan nan murah itu?!”Memang Shin membelinya dengan uang sendiri. Namun, sebagai orang yang pandai berhemat, Cade merasa kesal karena ada yang yang terbuang sia-sia sebab kebodohan Shin. Jumlahnya tidak sedikit pula. Senapan rakitan memang murah, tapi kalau beli enam, sama saj
“Rose.” Leon berbisik selagi menyenggol lengan Rose pelan, menyadarkannya yang sedang melamunkan soal Danshire.Rose mengerjap, menatap Leon yang mulutnya bergerak membentuk ucapan, “Uangnya!”.“Ah, maaf! Sebentar.” Dia gelagapan menghitung uang agar sesuai dengan jumlah yang disebutkan ulang oleh pemilik toko. Terpaksa dia menahan berbagai emosi yang bertumpuk dalam dadanya setelah mendengar fakta bahwa kondisi penduduk Danshire tidak diketahui oleh wilayah-wilayah lain. Dia menahan kekesalannya pada Sanctuary Dome, berusaha keras agar pemilik toko tidak curiga.Harga totalnya hanya beda sedikit dari jumlah yang yang diberikan Cade. Karena tak ada uang koin Goldyn umtuk kembalian—hanya tersisa dua puluh Goldyn—Rose mendapatkan sebuah syal sebagai bentuk barter.Syal berwarna merah marun, yang sangat cocok untuknya.“Maaf, kami tak punya syal dengan warna yang lebih gelap. Warna ini lebih mirip milik wanita,” ucap pemilik toko, mengira Rose tidak suka karena ditatapnya syal itu
Entah bagaimana, perjalanan ini makin terasa aneh bagi Rose. Bukan aneh yang negatif, hanya saja ... Rose merasa perjalanan ini bukan lagi tentang ibunya. Awal mula dia pergi bersama Cade, yang ada di kepalanya memang soal menyelamatkan ibunya.Akan tetapi, akhir-akhir ini, setelah perjalanannya dimasuki oleh orang-orang baru, pikirannya terpecah. Banyak hal yang berkecamuk di benaknya, terutama mengenai empat pria yang menemaninya. Sementara sepanjang hidupnya, dia tak pernah memikirkan lelaki barang seorang pun. Rose belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Sekadar kagum sering, saat dirinya bersekolah dahulu. Namun, perasaannya tidak sampai yang membuatnya ingin bersama lelaki itu.Lalu kini, dia dihadapkan oleh para pria yang mungkin saja jatuh cinta padanya. Mulai dari Cade yang sudah terang-terangan menyatakan perasaannya, Shin yang rasanya terus mendekat padanya, Alan yang begitu perhatian, sampai Leon yang jelas mengatakan bahwa dia tak menganggap Rose sekadar adik, tapi lebih
“Kamu mau yang mana, Rose?” tanya Leon, berbisik di telinga Rose agar si penjual tidak mendengar namanya.“Uhhh ... aku bingung.” Bola mata Rose terus bergerak, menyusuri satu per satu pakaian yang menggantung.Model pakaian di sini semuanya model pria, sehingga Rose sulit menentukan yang cocok untuknya. Dia kemudian berbalik, diam-diam membuka kain jubahnya untuk mengintip model baju yang sedang dikenakannya. “Kaos dan jaket ... juga celana slim,” ucap Rose lirih, “tapi mana yang harus kubeli?”Leon menengok pada Rose, berbisik lagi, “Apa kamu butuh bantuan? Aku bisa mencarikannya untukmu.”“Eh? Benarkah? Kalau begitu, bisa kamu bantu cari kaos, jaket, dan celana slim?” Rose mendongak, membalas dengan suara yang lirih pula.“Tentu,” jawab Leon, senyumnya tersungging manis.Dia beralih pada pemilik toko yang masih menanti “Pak, di mana aku bisa mencari pakaian dengan ukuran yang paling kecil?”Pemilik toko mengerutkan dahi, matanya tampak memindai tubuh Leon. “Tapi kamu tingg
“Leon? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Rose, tak berkedip melihat Leon yang mendekatinya.“Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Kamu seharusnya bersama Shin, kan? Di mana dia?” Leon balik bertanya. “Kamu sudah berada jauh dari kios bahan bakar.”“Eh? Bagaimana kamu tahu? Sungguh, aku bingung di mana lokasiku sekarang,” keluh Rose.Leon mengangkat dagu, menampakkan kebanggaan pada dirinya sendiri. “Yah, aku kan, cepat hafal suatu tempat. Cukup dengan memutari pasar ini sekali, aku sudah hafal letak kios-kiosnya. Belum lama aku melewati toko bahan bakar. Kalau kamu sedang kembali ke jalur keluar, seharusnya tidak berada di sini.”“Begitulah, aku tersesat. Shin terpisah denganku, terakhir kali dia berada di kios senjata sebelah toko bahan bakar. Dia melihat-lihat terlalu lama, jadi aku tarik dia untuk pergi. Tapi ternyata ... aku salah menarik orang.” Rose bercerita dengan wajah memerah kepalang malu, kepalanya menunduk dalam-dalam.“Maksudmu kios yang khusus menjual senapan?” D
“Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel
Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku.
“Rupanya dia wanita, ya. Hebat kamu, Leon! Dengan begini, kita bisa dapat 500 juga Goldyn!” Ketua Perampok berjenggot tebal yang bernama Milan, merangkul dan mengusap-usap rambut pirang LeonBeberapa jam lalu. Rose tidak bisa berkutik ketika Leon mengangkutnya ke mobil jeep pada perampok. Kakinya
Saat melihat mobil-mobil jeep itu ditunggangi oleh para perampok, Rose meyakini satu hal. Bahwa nasib dirinya akan selalu sial sejak dia pergi dari tempat tinggalnya. Baru saja berhasil kabur dari Cade, dia harus bertemu dengan kelompok perampok. Bagaikan keluar lubang buaya masuk kandang harimau.







