LOGINMasih di sekitar wilayah dekat Sanctuary Dome, sekelompok Riders sedang berkumpul. Mereka membentuk lingkaran dan menyalakan api unggun di tengah malam. Di tengah lingkaran, sang pemimpin yang mereka segini, Thomas, berkali-kali mengajak mereka bersorak ria.Thomas mengangkat satu botol minuman keras tinggi-tinggi. “Malam ini kita akan habiskan nyawa buronan kita! Bersulang!”“Bersulang!” Seruan seluruh anggota kelompok Thomas mengiringi, diikuti suara tegukan yang beruntun dari tenggorokan masing-masing.Thomas sendiri langsung menghabiskan satu botol yang dipegangnya dalam beberapa teguk saja. Sejak dulu, dia memang terkenal suka mabuk. Tapi tidak mudah hilang kendali seperti Shin. Sebanyak apa pun minuman beralkohol yang diminum Thomas, kesadarannya akan tetap penuh. Dia bukan orang yang lemah terhadap alkohol.Setelah membuang botol kosong sembarangan sampai pecah, Thomas berbalik. Dia berjalan dengan dagu terangkat, penuh keangkuhan. Mendekati tiga pria yang telah terborgol d
“Apa semuanya yakin untuk memulai penelitian itu lagi?” tanya Alan, khawatir ada perbedaan pendapat antara tenaga medis. Jika mereka tidak satu suara, kemungkinan dilaporkan akan lebih besar. Sirius mengangguk mantap. “Kami semua sudah berdiskusi. Semua tenaga medis setuju dengan adanya penelitian baru. Tapi, belum sempat kami melakukannya, Mariana sudah disingkirkan lebih dulu. Akhirnya kami pun kehilangan harapan.” “Akan tetapi,” dia melanjutkan, “kalau mereka tahu anak Mariana ada di sini, mereka pasti bersemangat kembali. Karenanya, kita harus memberi tahu mereka semua.” Alan berpikir sejenak, sebelum bertanya lagi, “Kalau begitu, kapan mereka—” “Perawat Collins! Ada perawat Collins di sini?” tanya seorang penjaga keamanan yang mendadak masuk ke laboratorium. Suara Alan tercekat seketika. Dia berbalik, melotot melihat tiga penjaga keamanan ada di hadapannya. Begitu pun dengan Sirius. “Aku Collins,” ucap Alan, “ada apa?” “Kamu yang tadi datang bersama Rosalia Gringer,
Alan membelalak lebar mendengar jawaban Sirius. Dia benar-benar terkejut dengan fakta itu. “Eksekusi? Kenapa? Karena ketahuan darahnya yang dijadikan objek penelitian ilegal itu?”“Bukan. Mariana dihukum mati karena dia tak kunjung hamil dengan para pria yang dipasangkan dengannya. Kegagalannya sudah melebihi aturan, jadi dia disingkirkan,” tutur Sirius.Alan tak bisa berkata-kata. Benaknya langsung membayangkan ekspresi Rose jika dia memberitahunya soal kabar ibunya. Padahal Rose jauh-jauh ke Sanctuary Dome untuk membebaskan ibunya. Tapi jika ibunya telah tiada, apa arti semua perjalanan ini?Dahi Alan berkerut, memikirkan cara yang tepat untuk memberitahu Rose nanti. Dia memang berniat mengunjungi Rose sekali kalau sudah menemukan posisi Mariana. Pasalnya, Mariana Gringer tidak lagi ada di ruangannya. Makamnya saja tidak ada karena semua yang dieksekusi dimakamkan secara massal, tanpa ada nisan atau apa pun.Sirius tampaknya tidak mengerti apa yang membuat Alan tampak frustrasi.
Alan berjalan cepat di sepanjang lorong, dengan pikiran yang berkecamuk. Suara hatinya saling membantah, tumpang tindih hingga Alan tak bisa memutuskan apa yang harus dia lakukan lebih dulu. ‘Temukan ibu Rose. Ya! Aku harus menemukan Mariana Gringer terlebih dahulu,’ batin Alan, diikuti suara langkah kaki yang dipercepat.Lorong yang dia lewati begitu sepi. Alan baru saja mampir di ruang administrasi khusus tenaga medis. ID Card-nya yang sudah lama dan kotor diganti dengan yang baru, sehingga dia bisa memasuki ruangan-ruangan di gedung ini. Jas laboratoriumnya pun sudah diganti, juga kemejanya yang sudah lusuh.Alan kini berpenampilan rapi dan segar seperti para tenaga medis di sini. Berbanding jauh dengan kondisinya di Wilayah Luar beberapa hari sebelumnya. Meski begitu, Alan tetap mendambakan hidup di luar sana. Dia kembali ke sini sebagai pekerja, hanya demi menjaga Rose yang berpisah dengan kawan-kawannya.Tangan Alan merogoh alat komunikasi dari Shin di kantong jasnya. Kata
“Kenapa kamu berdiri saja di sana? Cepat ke laboratorium! Aku sudah menulis laporan bahwa kami menemukan tenaga medis yang hilang, jadi kamu bisa langsung bekerja.” Darvin mengerutkan kening melihat Alan dari tadi hanya berdiri di depan pintu kaca seperti sedang menunggu seseorang.Alan berkata gugup, “Ah, aku ... sebenarnya ....”Mata Alan bergerak menatap Rose yang juga memandanginya. Dia ingin melakukan sesuatu pada Rose karena tahu temannya itu akan dibawa ke ruangan isolasi untuk Program Kehamilan Massal. Rose tidak akan pernah keluar lagi. Untuk selamanya, jika dia tidak menyelamatkannya di sini.Akan tetapi, Alan sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tak punya rencana, juga tak punya rekan. Di kota sebesar ini, hanya dia yang mengenal Rose. Tidak ada Cade, Shin, maupun Leon. Dia sendirian, tanpa ada seorang pun yang berdiri gagah di hadapannya.Alan kini mengerti betapa lemahnya dia dibandingkan teman-teman Rose yang lain. Dia merasa tidak banyak berperan dalam
Perjalanan menuju Sanctuary Dome benar-benar memuakkan. Bagi Rose, terutama. Darvin tak henti-hentinya mengoceh, berusaha mengulik informasi dari Rose mengenai hubungannya dengan Cade. Rose terus bungkam, tapi mulut Darvin yang tak berhenti bersuara membuat emosi Rose lama-lama memuncak.Namun, Rose tidak bisa membentak Darvin begitu saja. Darvin punya kuasa, bisa jadi Rose ditembak bius jika membantahnya. Pada akhirnya, yang bisa Rose lakukan hanyalah melipat kedua tangan di dada, memalingkan wajah, dan merapatkan bibir. Pertanyaan-pertanyaan Darvin pun dijawab sekenanya oleh Alan, yang mengakunya ditawan setelah Rose.Berbeda dengan Rose, Alan harus menunjukkan citra pekerja yang loyal di hadapan Darvin, demi mendukung sandiwara yang telah dibangun Cade. Dia berpura-pura menjadi pekerja yang rindu dengan Sanctuary Dome. Menutupi fakta bahwa dia pergi atas kemauannya sendiri.Jika disuruh memilih, tentu Alan tidak ingin kembali ke Sanctuary Dome sebagai pekerja. Dia ingin kembali,
“Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel
Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku.
“Rupanya dia wanita, ya. Hebat kamu, Leon! Dengan begini, kita bisa dapat 500 juga Goldyn!” Ketua Perampok berjenggot tebal yang bernama Milan, merangkul dan mengusap-usap rambut pirang LeonBeberapa jam lalu. Rose tidak bisa berkutik ketika Leon mengangkutnya ke mobil jeep pada perampok. Kakinya
Saat melihat mobil-mobil jeep itu ditunggangi oleh para perampok, Rose meyakini satu hal. Bahwa nasib dirinya akan selalu sial sejak dia pergi dari tempat tinggalnya. Baru saja berhasil kabur dari Cade, dia harus bertemu dengan kelompok perampok. Bagaikan keluar lubang buaya masuk kandang harimau.







