Compartilhar

Bab. 6

Autor: Layli Dinata
last update Data de publicação: 2026-05-20 21:02:22

“Tolong ….”

Emma ternganga, nyaris memuntahkan napasnya, dan detik berikutnya ia justru tersenyum pongah. Tetapi tidak pada Iris dan kubu-nya. Mereka diam, dengan wajah memucat.

“Nona Iris, tolong.” Pria bertubuh kekar bersimpuh dengan tangan yang diborgol, di belakang beberapa polisi dan Frans berdiri dengan tenang. “Nona, selamatkan aku.”

“Iris, ada apa?” Lee meraih tangan Iris, penuh kebingungan. Keluarganya justru lebih kelabakan meminta pertanggungjawaban pada Emilia.

“A-aku tidak kenal. A-aku sama sekali tidak kenal dia. Om Frans, dia siapa?” Seperti biasa, Iris bersikap polos, mencari perhatian publik, jika ia adalah pihak yang teraniaya, seperti biasanya. “Lee, sungguh, aku tidak bersalah. Ini fitnah!”

Emma memutar bola mata, cara klise itu membuatnya muak. “Iris, bukankah kamu pernah memakai jasa pria ini untuk melenyapkanku?”

“Jangan asal tuduh! Apa buktinya?” Bukan Iris yang berteriak, melainkan Emilia. Napasnya menderu, ia menunjuk Emma tanpa ragu. “Emma, selama ini, bukankah kamu yang selalu kasar pada Iris? Kamu yang galak, yang selalu menyiksa adikmu dengan berbagai jenis pekerjaan yang tak masuk akal.”

Banyak karyawan di sana mengangguk. Selama ini, mereka juga sering melihat Emma yang galak dan kasar pada Iris. Mereka bingung dengan situasi seperti ini. Namun  sebagian diam, mengamati, ada yang menatap iba pada Emma.

“Ya, bisa saja Nona Emma yang membayar pria itu.” Beberapa orang saling berbisik, Iris tersenyum tipis, seolah memancing emosi Emma.

“Saya ada bukti lain.” Oliver mengeluarkan satu map dari balik jasnya. Emma sampai tak percaya, asisten Raynard ini seolah tahu banyak hal mengenai nasibnya selama ini. “Ini adalah salah satu bukti foto dan hasil dokumen transaksi pembayaran kejahatan Iris pada Beni.” Ia mengeluarkan lembaran hasil screenshot percakapan Iris dan Budi.

Emma ternganga. “Dia … dia bagaimana mungkin bisa mendapatkan semua ini?”

“Silakahkan dicek, Pak,” ujar Oliver pada salah satu polisi.

Kedua aparat itu memberikan anggukan. Frans mendekat. ioa menepuk pelan bahu Oliver. “Terima kasih, Oliver. Berkat kamu, aku bisa membawa bandit ini tepat waktu. Terima kasih sudah menjaga Nona Emma.”

Oliver hanya mengangguk, sementara Emma justru menatap Oliver dan Frans dengan tatapan bingung. Bagaimana mereka saling mengenal? Emma masih tidak habis pikir.

“Iris, jelaskan ada apa?” Lee mengguncang lengan Iris yang gelagapan. Pun dengan Sheli yang syok karena kehadiran Frans.

“Sheli,” panggil Fran dingin.

“P-pak Frans, bukankah kamu memihak Nona I–”

“Aku sengaja memancingmu, Sheli. Dan seperti dugaanku, kamu memang bermuka dua. Kamu juga terlibat dalam masalah ini, kamu yang mengatur semua waktu Emma.” Frans tersenyum mengejek. “Pak, tangkap mereka.”

“Gak, aku tidak bersalah!” raung Iris. Ia berusaha untuk meraih tangan Emma, tetapi langsung dihalau Oliver.

Beberapa polisi kemudian datang, membawa Iris, ibunya dan juga Sheli.

“Nona, aku mohon, jangan hukum aku,” mohon Sheli yang tak digubris sama sekali. “Aku hanya disuruh. Sungguh, aku tidak bersalah.”

“Emma, aku pastikan, kamu tidak akan pernah tenang! Lepas!” Iris berusaha melepaskan diri, tetapi cekalan polisi membuat gadis itu tak bisa berkutik, justru semakin diseret keluar. Sementara ibunya hanya bisa menangis. “Minggir, aku bisa jalan sendiri!”

Suasana riuh, ada yang membicarakan tentang masalah keluarga Azure, ada juga yang mengabadikan momen saat Iris dan ibunya diseret dengan paksa. 

Dengan satu dehaman, suasana kembali tenang. Emma bisa melihat, semua orang memiliki karakter yang hampir sama.  penjilat yang bermuka dua, meski ia juga melihat beberapa orang mendukungnya dengan baik.

“Maaf atas kekacauan ini. Aku Emma Azure, yang dikabarkan mati, tetapi aku selamat dalam kecelakaan itu, Oliver yang menolongku. Seluruh aset atas namaku, tidak berpindah ke Iris atau mana pun.”

Semua orang menyimak, ada yang bertepuk tangan, beberapa ada yang meminta maaf karena telah salah sangka.

“Baiklah, mumpung semuanya berkumpul, aku akan mengumumkan, sebentar lagi cabang di desa akan segera diresmikan.”

Semua bertepuk tangan. Proyek yang dianggap mustahil karena lokasi, justru nyaris selesai.

Lee George terlihat pucat, ia mengira, Emma benar-benar wanita berhati iblis yang kasar, ternyata ia hanya korban rayuan Iris. Dengan langkah ragu, ia mendekati perempuan yang seharusnya ia nikahi itu. “Emma.”

Emma menoleh, senyumnya langsung redup, wajahnya tampak datar, seolah malas meladeni.

“Aku … aku minta maaf. Aku telah salah sangka sama kamu, aku pikir, kamu benar–”

“Sudahlah, Lee, tidak usah dibahas. Iris memang manipulatif. Wajahnya aja yang sok polos, tetapi otaknya penuh dengan strategi busuk.” Emma berusaha untuk tetap tenang, meski ia juga sudah muak dengan Lee dan tak ingin menatap lagi pria plin-plan itu.

“Emma, apa kita bisa lanjutkan pertunangan kita. Karena kamu tidak meninggal, sesuai dengan permintaan mendiang ayahmu dan kakekku. Kalau kita–”

“Emma tidak bisa melanjutkan pertunangan itu!” 

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 13

    Raynard menjentikkan jari. Beberapa patung manekin di sebelah Calvin, jatuh menimpa Iris dan Calvin. Suasana semakin chaos, beberapa pengunjung yang datang saling menjerit karena refleks.Pun dengan Emma, yang tak tahan melihat kejadian konyol itu.“Ray, kamu bisa saja deh!”Raynard hanya diam. Tatapannya justru fokus pada Emma yang terlihat girang.“Itu belum seberapa. Aku bahkan bisa melakukan hal yang jauh lebih gila lagi.”Emma berdeham. Ia salah tingkah ditatap seperti itu. “A-ayo, Ray! Kita pergi aja!”Mereka memilih masuk ke sebuah food court. Suasana di dalam tidak begitu ramai. Emma memilih tempat duduk yang paling pojok. Ia sedang ingin makan hotspot, sudah cukup lama ia tak memakannya.“Ray, mau minum apa?” tanya Emma yang kini fokus pada ponselnya. Tak mendengar respon Raynard, Emma mengangkat wajahnya, fokus Raynard ada pada seseorang, Emma mengikuti arah pandangnya.Seorang pria berjanggut dengan memakai kalung Japamala, kepalanya botak dengan pakaian serba hitam.“Ray,

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 12

    Berkeliaran di pusat perbelanjaan seperti inilah yang Emma inginkan setelah lama terkurung di dunia yang entah tak pernah ia tahu pastinya. Emma memasuki sebuah toko baju dengan nama brand ternama. Sementara Raynard mengekor di belakang layaknya bodyguard. “Nyonya, kami memiliki desain terbaru. Barangkali Nyonya tertarik,” ucap seorang pramuniaga. Mendengar itu, Emma langsung terlihat senang. Ia mengangguk cepat. “Boleh.” Ia mengikuti pramuniaga, menuju ke salah satu etalase di toko itu.Tetapi, saat ia sampai di sana Iris sudah terlebih dulu di sana bersama Calvin. “Iris?” gumam Emma tak percaya. Ia merasa sial karena bertemu dengan adik tirinya itu.“Oh? Emma? Kamu pasti mau ambil gaun ini? Sayangnya, aku duluan yang sampai.” Iris menyeringai. “Nona Emma, apa kabar?” sahut Calvin menyapa dengan gaya angkuhnya.Seperti biasa, Emma tak menggubris ketika sang rival menyapa. “Nyonya. Desain ini hanya ada satu di dunia,” ucap sang pramuniaga dengan hati-hati. Ia menatap gaun canti

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 11

    Oliver tak langsung menjawab, tangannya justru menggaruk kepala, matanya bergerak resah.Melihat keanehan itu, Raynard menoleh pada Emma, yang jelas terlihat kepo sekali mengenai hal ini. “Emma, habiskan makanannya. Aku ada perlu dengan Oliver.” Emma hanya mengedipkan mata beberapa kali, lalu fokusnya kembali pada Oliver. “Pergilah ke kamarku!”“Siap, Tuan Muda!” Oliver langsung lari, pergi. Emma mendengkus. Mengaduk ramennya asal dan sedikit kesal.“Emma, aku ke kamar dulu.”“Ray, yakin kalau kamu enggak butuh bantuan?” ucap Emma dengan bibir mengerucut.Sebelah alis Raynard terangkat satu. “Bantuan? Kamu?”“Ah, ya sudah! Sana pergi!”Raynard tidak mengatakan apapun. Pria itu justru memilih pergi, tidak ada drama menenangkan Emma yang merajuk.Rasa penasaran berkecamuk di hati Emma, ia langsung menghabiskan makanannya. Cepat. Lalu membawa nampan itu ke dapur.Setelahnya, tujuan utamanya adalah kamar Raynard. Apa lagi kalau bukan untuk menguping.Namun, belum sempat ia melangkah menu

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 10

    Tatapan Raynard terlihat jauh. Emma seakan merasakan luka pada pria di depannya ini. “Ibuku meninggal karena ketamakan seorang tabib. Ayahku datang di saat yang tepat, tapi saat melahirkanku, ibu telah meninggal.”Emma melongo. Matanya basah oleh air mata. Ia menyekanya dengan punggung tangan. “Lalu, kenapa kamu tidak bersama ayahmu?”Raynard menatap lama Emma. Matanya berkaca-kaca, seperti banyak hal yang ingin dia sampaikan, tetapi tertahan di kerongkongan.“Ray?”Buru-buru Raynard memalingkan pandangannya. Jauh entah ke mana. Emma bergeser tepat di hadapan Raynard, tangannya terulur menyentuh pundak pria itu. Gerakan refleks.“Ray, jangan khawatir. Kamu tidak sendiri. Ada aku kan?”Raynard tersentak, alisnya terangkat dan Emma justru tersenyum lembut. Gadis itu meraih tangannya, menggenggam dengan penuh pengertian.“Setidaknya, aku masih punya waktu sebulan. Sebelum aku mati, aku akan ….” Ucapan Emma terhenti, karena tiba-tiba Raynard membungkam mulutnya dengan bibir. Hal ini memb

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 9

    “Oliver, yang sebenarnya terjadi apa?”Wajah Oliver berubah pasi, ia menggigit bibir bawahnya, tetapi Emma justru menatapnya skiptis.“Oliver?”Oliver menggeleng pelan, ia menurunkan nampan dalam pelukan dan berkata, “Nona, jangan paksa aku. Intinya, ada masalah antara Tuan Muda dan keluarganya. Masalahnya apa, hanya Tuan Muda yang bisa bicara ini. Saranku, jika kamu iingin selamat, jangan banyak tanya. Tuan Muda tak sejahat yang Nona pikirkan. Aku pergi dulu.” Oliver pergi begitu saja.Emma mengembuskan napas kasar. Demi apapun, ia justru semakin penasaran. “Pokoknya, aku harus cari tahu. Siapa Raynard dan apa motifnya.”Saat menikmati makanannya, ponsel di dalam tas tangan berdering. Sambil m ngunyah, Emma mengeluarkan benda pipih itu. Nama Frans tertera di layar, ia buru-buru mengangkat.“Ya, Om?”“Emma, Tuan Lee dan keluarganya marah. Mereka kecewa dengan Iris. Dan sepertinya telah menyesal karena telah terhasut oleh Iris.”Senyum Emma merekah. ‘Ternyata, yang dikatakan oleh Rayna

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 8

    Emma sama sekali tidak menyangka, mereka kini sudah berada di rumah Raynard. Tak ada kebisingan lagi. Ia buru-buru mengusap wajah. Ia merasa seperti berada di dalam mimpi.“Tuhan … takdir macam apa ini? Bagaimana bisa aku berada di situasi seperti ini?”Raynard sudah lari ke kamarnya. Sejak berubah wujud, pria itu meninggalkan Emma sendirian di depan kamar. Ralat, Emma bersama Oliver. Pria itu hanya menghela napas melihat Emma yang pucat pasi meratapi nasib.“Oliver, jelaskan kalau ini mimpi! Mereka semua nanti gimana? Terus, bagaimana dengan Om Frans?” Emma menarik kerah baju Oliver, mengguncangnya cukup keras.“Tahan, Nona! Tahan! Semua orang akan melupakan perdebatan tadi. Intinya, mereka semua hanya mengingat, Anda belum mati dan Nona Iris beserta kubu-nya sudah diseret ke kantor polisi.”Tubuh Emma seperti kehilangan semua tulangnya. Ia bersimpuh di lantai. Cukup lega. Setidaknya, Iris sudah mendapatkan pelajaran, ia juga sudah terhindar dari Lee George.Namun, masalah lain justr

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status