Share

Bab. 4

Author: Layli Dinata
last update publish date: 2026-05-20 13:46:19

Aroma sedap membuat tidur lelap Emma terganggu. Gadis itu langsung bangkit dan mengendus bak anjing. “Wah, wangi apa ini?’’

Emma mengikuti aroma itu, sampai mengantarkannya ke dapur. 

Di sana, Oliver sedang memanggang ikan di teflon. Emma mendekat seraya memekik senang, “Oliver!”

Oliver nyaris menjatuhkan wajan tipis itu,ia mengurut dada perlahan. Tak bisa memarahi Emma, takut diamuk sang tuan muda. “Nona ngagetin aja.”

Mata Emma menyisir ke penjuru dapur.  Biasanya, sang tuan muda tak akan jauh-jauh dari Oliver. 

‘Apa ini ada hubungannya dengan peringatan Raynard kemarin?’ batin Emma mulai penasaran.

Semakin dilarang, Emma justru semakin penasaran. Mengapa Raynard tak boleh didekati saat bulan purnama?

“Nona, Anda lapar? Saya akan menyi–”

“Di mana Raynard?” potong Emma mulai mengambil garpu, ia menusuk daging ikan panggang buatan Oliver, lalu meniupnya pelan dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Nona, jangan ganggu Tuan Muda. Beliau ada di kamarnya. Saya mau mengantarkan sarapan untuk Tuan Muda.” 

Baru saja berbalik badan, Emma justru menyeringai. Larangan adalah perintah baginya. Tetapi, ia tak ingin Oliver curiga.

“Oliver, setelah ini tolong carikan aku pembalut.”

Mata Oliver mengerjab beberapa kali. “Pem-pembalut?” Emma mengangguk tanpa dosa. “Itu benda apa?”

“Cari saja di internet apa itu pembalut wanita! Bodoh!” Emma mengerucutkan bibir, ia melanjutkan makannya. Sungguh, Oliver membuatnya malu.

“Oke.” Oliver pergi sambil melafalkan kata-kata itu. Emma hanya memutar bola matanya.

“Bodoh sekali dia.”

Kali ini, Emma akan menyusun rencana. Bagaimana caranya supaya bisa menyelinap ke kamar Raynard. Apa yang sedang pria itu lakukan, sampai tak ingin menemuinya?

Saat membayangkan ekspresi kesal Raynard, ponsel yang ada di saku roknya berdenting. Pesan dari Frans.

[Nona Emma, besok adalah hari pertunangan Iris. Selain itu, penyerahan harta waris. Kalau bisa, sebelum pukul 12 siang, kita ke sana. Saya akan membawa semua bukti.]

Mata Emma mendelik saat membaca pesan itu, sampai garpu yang ada di tangan terjatuh begitu saja. Suara dentingnya sampai memenuhi ruangan.

“Gila, apa katanya? Besok? Kurang ajar sekali Iris! Gak … aku harus bilang sama Raynard soal ini.”

“Ada apa, Nona?” Suara Oliver mengagetkan Emma, sampai gadis itu berjengit. “Apa yang akan Anda laporkan pada Tuan Muda?”

Emma bingung, harus memulai dari mana, sampai iya tampak kelabakan. “Itu … Iris akan mengubah hak waris. Dan aku harus menggagalkan rencananya. Besok, sebelum jam 12 siang.”

Oliver menggelengkan kepala. “Itu sangat bahaya, Nona. Anda jangan ke sana. Bisa saja Anda celaka, dan aliansi itu ikut celaka. Tuan Muda sedang ….” Oliver menggaruk kepalanya. Tampak bingung harus menjelaskan apa.

“Aku gak peduli. Ini sudah kesepakatan. Raynard harus tahu! Aku harus pergi besok, apapun yang terjadi.” Emma melangkah begitu saja. 

“Nona, biar saya yang bilang.” Oliver berusaha mencegah,dan Emma bersikeras, gadis itu lari begitu saja.

“Aduh, gawat! Nona!”

Alih-alih mengejar, Oliver justru menenggelamkan wajahnya di sofa. Emma memang sangat keras kepala. Emma sendiri justru merasa menang, karena tak ada yang menghalanginya lagi.

Tanpa mengetuk pintu, Emma langsung masuk begitu saja. Kamar itu tampak sepi. Matanya mengedar ke penjuru ruangan. Setelah mendengar suara air dari kamar mandi, Emma langsung menuju ke ruangan sempit itu. Matanya mendelik saat melihat sosok yang ia cari.

Hanya saja, penampilan Raynard sangat berbeda. Telinga rubah dengan rambut putih dan sembilan ekornya yang menjulang.

“Wooaaah … kamu manis sekali.” Emma jadi lupa tujuannya. Ia berlari dan memeluk ekor itu. Terasa lembut, membuat pipinya memerah.

“Emma, apa yang sedang kamu lakukan? Bukankah aku sudah bilang, jangan–”

“Kamu manis sekali, Ray. Aah, bulu ini sangat lembut.” Emma menenggelamkan wajahnya pada ekor itu.

Raynard mendesis, matanya kian memerah dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ia menggigit bibirnya sendiri.

“Katakan apa maumu?” tanya Raynard berusaha menahan diri.

Mendengar pertanyaan itu, Emma jadi ingat tujuannya. Ia mengangkat wajah, tanpa melerai pelukannya. “Ray, besok aku harus pergi. Aku tidak rela kalau hartaku diambil alih Iris.”

“Jangan ngelunjak! Posisimu membahayakan. Itu artinya, kalau kamu bahaya, aliansiku ikut bahaya.” Raynard mengepalkan tangannya, masih menahan sesuatu yang panas dalam tubuhnya.

Emma menghentakkan kaki, bibirnya mengerucut. Tujuanku masih minta hidup, ingin merebut hakku kembali. Kalau kamu gak izinin maka ….” Emma menghentikkan kalimatnya, tampak berpikir sesuatu berupa ancaman. 

“Tapi apa?”

Emma menatap wajah Raynard yang semakin merah, bahkan keningnya penuh akan peluh. Ia menyeringai. Emma memeluk ekor rubah itu lagi, bahkan kini lebih berani dengan menggelitiknya.

“Emma,” desis Raynard. “Jangan memaksaku! Kami bisa saja lenyap hati ini juga.”

“Apaan, sih!” Belum selesai Emma protes, Raynard membungkamnya dengan ciuman, panas dan menuntut. 

Emma sempat mendelik, merasa hatinya seperti digelitik, tubuhnya lemas, masih belum bisa mencerna bahasa tubuhnya sendiri.

“Tuan Muda!” Oliver memekik, namun saat melihat kejadian itu, ia menutup matanya sendiri. “Ops! Ma-maaf.”

Raynard melepaskan pagutannya. Kewarasan mulai menguasai. Sementara Emma, gadis itu tampak syok bukan main.

Bukankah Emma berniat menggoda? Tetapi justru kali ini ia yang tergoda.

“Ma-maaf, Tuan. Tadi Nona Emma–”

“Oliver, sepertinya kamu perlu dihukum!” Raynard terengah, ia menjauh. Seolah energinya terkuras habis.

“Tuan, Anda ….” Oliver hendak membantu Raynard uang nyaris tersungkur. Tuan mudanya itu berhasil mencengkeram sudut meja.

“Raynard, apa kamu baik-baik saja?” Emma yang baru menyadarinya pun turut panik.

“Nona, sih. Susah dibilangin. Tuan Muda kehilangan banyak energi karena ini. Aturannya, ini dipakai untuk aliansi ganda, tapi Tuan harus–”

“Jaga bicaramu, Oliver!” Omel Raynard. Wajahnya merah dengan mata yang terlihat sayu, seolah sedang menahan sesuatu.

Emma mengerjab beberapa kali, mencoba mencerna ucapan Oliver barusan. “A-aliansi ganda? Kenapa gak kita lakukan?”

Raynard sampai mengusap wajahnya sendiri, frustasi. “Pergilah ke kamarmu, Emma. Jangan memaksaku. Kau ingin pergi, kan? Kalau gak pergi, sampai kiamat pun kamu gak akan bisa keluar!”

Mendengar itu, wajah Emma langsung terlihat semringah. “Sungguh?” Raynard menjawab dengan anggukan.

“Tapi, Tuan. Dengan kondisi Anda yang seperti ini, dan Nona Emma yang ceroboh, Anda–’

“Besok kamu yang temani, Oliver! Jangan ngebantah!”

Oliver mengerucutkan bibir, Emma justru menjulurkan lidah kepadanya.

“Oliver, besok kamu temani aku, ya.” Emma menepuk pundak Oliver, lalu pergi begitu saja, seperti tak melakukan apapun. Ia hanya sempat mendengar dengkusan Oliver yang begitu berat.

“Eh, tadi lupa kasih tahu Oliver jam berapa.” Emma berbalik badan, ingin kembali. Namun terhenti saat mendengat obrolan Oliver dan Raynard.

“Tuan, dengan kondisi Anda yang seperti ini, Anda bisa saja tewas. Aturannya, bunuh saja Emma. Dia afalah cobaan terberat Anda.”

Emma yang mendengar langsung membungkam mulut. Dafanya berdebar kencang.

“Jaga bicaramu! Jangan sembarangan!” omel Raynard yang terlihat tersiksa.

“Tapi, Tuan. Kondisi Anda–”

“Kerjakan saja tugasmu, jangan banyak bicara. Belum saatnya itu!”

Emma berbalik badan, wajahnya tegang dan memegangi dadanya sendiri yang berdebar. “Ja-jadi … aku beneran mau dibunuh?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 44 Panggilan Hati

    Seraaaaaang!”Teriakan itu memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Prajurit Raiver bergerak lebih dulu. Derap kaki memenuhi halaman batu, pedang dan tombak terangkat bersamaan. Sorak perang menggema, membuat beberapa pelayan yang masih berada di sekitar balai menjerit ketakutan dan berlari menjauh.“Lindungi tetua!” teriak salah satu pengawal Onyx.Raynard tidak mundur. Begitu prajurit pertama menerjang, ia menyambar tombak yang mengarah ke dadanya, memutarnya, lalu menghantamkan gagang tombak itu ke rahang lawan. Tubuh pria itu terpelanting dan menabrak dua prajurit di belakangnya.Diego langsung maju dengan pedang panjang berlapis cahaya merah. Tebasannya cepat dan berat. Raynard menahan dengan pedangnya sendiri, benturan keduanya memercikkan cahaya biru dan merah yang membuat udara berdesis.“Masih sempat melindungi manusia itu?” sindir Diego sambil menekan pedangnya.Raynard mendorong balik hingga Diego mundur setengah langkah. “Aku selalu sempat.”Di sisi lain ha

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 43 Serangan

    Langkah Raynard mantap menuju ke balai. Terdengar keributan. Beberapa orang berkumpul di sana. Termasuk ayahnya dan juga para tetua.“Tuan Muda, Diego River datang dengan para prajurit mereka!” Salah satu pengawal tergopoh menghampiri Raynard, wajahnya penuh dengan ketakutan.“Sial! Dia justru datang terlebih dahulu.” Raynard menghentikan langkah, kepalannya semakin kuat. Mengingat Emma sedang mengandung, jiwa protektifnya kembali muncul.“Tambah lagi keamanan di ruangan itu. Jangan ada satu pun yang boleh masuk. Siapa pun itu, termasuk pelayan, sebelum aku kembali.”Pengawal itu memberikan anggukan. “Semuanya, bersiap!” teriak Raynard. Para prajuritnya mengikuti di belakang.Sorak sorai terdengar keras dari kejauhan. Para prajurit klan Raiver mulai meneriaki slogan mereka.Saat Raynard keluar, suasana jadi hening. Edrick sudah nyaris putus asa.“Tenang!” Diego maju selangkah, senyum smirknya membuat Raynard muak. Pria itu menatap sinis Raynard.“Ada apa? Bukankah duel itu akan dilak

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 42 Apa Sungguhan?

    Raynard tetap menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan menyusuri lorong batu. Langkahnya sengaja diperlambat, menyesuaikan dengan Emma yang masih terlihat sedikit lemas.“Kita mau ke mana?” tanya Emma penasaran.“Sebentar lagi kamu juga tahu,” jawab Raynard dengan senyum tipis.Mereka melewati beberapa taman kecil, lalu sebuah gerbang kayu berukir terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk, Emma sontak menghentikan langkahnya.“Ray….”Di hadapannya terbentang hamparan bunga berwarna-warni yang seolah tak berujung. Kupu-kupu dengan berbagai warna beterbangan bebas di antara kelopak-kelopak bunga. Sebagian bahkan memancarkan cahaya lembut saat sayapnya mengepak, membuat taman itu tampak seperti lukisan hidup.Angin berembus pelan, membawa aroma bunga yang segar dan menenangkan.“Cantik sekali, aku suka sama wangi bunganya juga,” gumam Emma tanpa mengalihkan pandangannya.Raynard tersenyum melihat kekaguman di wajah istrinya.“Ini Taman Aravelle,” ujarnya. “Tempat ini hanya dibuka untu

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 41 Mencoba Terbiasa

    Emma baru saja benar-benar terjaga ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia menyibak selimut, lalu berjalan membuka pintu dengan rambut masih terurai.Di ambang pintu, dua pelayan perempuan berdiri rapi. Salah satunya membawa nampan berisi gaun berwarna pucat dengan sulaman perak halus, yang lain membawa perhiasan sederhana.Emma refleks tertegun.“Uh… ini untuk apa?”Pelayan yang lebih tua menunduk sopan. “Ini gaun yang harus dikenakan hari ini, Nyonya.”Nada suaranya datar, seolah itu bukan permintaan, melainkan ketetapan.Emma ragu sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Baik.”Ia membiarkan mereka masuk dan mulai membantu melepas pakaian tidurnya, merapikan rambutnya, mengenakan gaun itu dengan cekatan. Kainnya ringan, dingin di kulit, jatuh pas di tubuh Emma tanpa terasa berlebihan.Saat pelayan terakhir mengencangkan ikatannya, Emma bertanya, seolah baru teringat sesuatu, “Raynard di mana?”Kedua pelayan itu saling pandang singkat sebelum

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 40 Incaran

    Ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   34. Menjenguk Dede Bayi di dalam Perut

    Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 7

    “Siapa kamu?” geram Lee dengan muka merah padam, napasnya menderu dengan kedua tangan yang mengepal.Emma menelan ludah. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Ray, kenapa kamu di sini?”Raynard hanya tersenyum tipis. Setiap langkahnya menjadi pusat perhatian. Pria dengan wajah datar itu mendekat, sant

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 6

    “Tolong ….”Emma ternganga, nyaris memuntahkan napasnya, dan detik berikutnya ia justru tersenyum pongah. Tetapi tidak pada Iris dan kubu-nya. Mereka diam, dengan wajah memucat.“Nona Iris, tolong.” Pria bertubuh kekar bersimpuh dengan tangan yang diborgol, di belakang beberapa polisi dan Frans ber

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 5

    Emma dan Oliver baru saja turun dari mobil. Suasana rumah keluarga Azzure sudah tampak ramai. Mobil berderet di car port. Emma berjalan dengan anggun menuju gerbang, seorang satpam yang berjaga mendelik sempurna.“No-nona Muda? An-anda masih hidup?” tanya satpam itu dengan tergagap.Emma mengulas s

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 3

    Tatapan Raynard yang tajam membuat Emma seperti sesak napas, gadis itu beringsut mundur. “Kamu lupa, hidupmu aku yang tentukan? Jangan tawar-menawar. Nasibmu sudah sial sejak dulu.”Emma mengerucutkan bibirnya. Jelas ia akan mencari cara untuk memperpanjang umurnya. Lagian, ia tahu Raynard tak akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status