تسجيل الدخولAroma sedap membuat tidur lelap Emma terganggu. Gadis itu langsung bangkit dan mengendus bak anjing. “Wah, wangi apa ini?’’
Emma mengikuti aroma itu, sampai mengantarkannya ke dapur. Di sana, Oliver sedang memanggang ikan di teflon. Emma mendekat seraya memekik senang, “Oliver!” Oliver nyaris menjatuhkan wajan tipis itu,ia mengurut dada perlahan. Tak bisa memarahi Emma, takut diamuk sang tuan muda. “Nona ngagetin aja.” Mata Emma menyisir ke penjuru dapur. Biasanya, sang tuan muda tak akan jauh-jauh dari Oliver. ‘Apa ini ada hubungannya dengan peringatan Raynard kemarin?’ batin Emma mulai penasaran. Semakin dilarang, Emma justru semakin penasaran. Mengapa Raynard tak boleh didekati saat bulan purnama? “Nona, Anda lapar? Saya akan menyi–” “Di mana Raynard?” potong Emma mulai mengambil garpu, ia menusuk daging ikan panggang buatan Oliver, lalu meniupnya pelan dan memasukkannya ke dalam mulut. “Nona, jangan ganggu Tuan Muda. Beliau ada di kamarnya. Saya mau mengantarkan sarapan untuk Tuan Muda.” Baru saja berbalik badan, Emma justru menyeringai. Larangan adalah perintah baginya. Tetapi, ia tak ingin Oliver curiga. “Oliver, setelah ini tolong carikan aku pembalut.” Mata Oliver mengerjab beberapa kali. “Pem-pembalut?” Emma mengangguk tanpa dosa. “Itu benda apa?” “Cari saja di internet apa itu pembalut wanita! Bodoh!” Emma mengerucutkan bibir, ia melanjutkan makannya. Sungguh, Oliver membuatnya malu. “Oke.” Oliver pergi sambil melafalkan kata-kata itu. Emma hanya memutar bola matanya. “Bodoh sekali dia.” Kali ini, Emma akan menyusun rencana. Bagaimana caranya supaya bisa menyelinap ke kamar Raynard. Apa yang sedang pria itu lakukan, sampai tak ingin menemuinya? Saat membayangkan ekspresi kesal Raynard, ponsel yang ada di saku roknya berdenting. Pesan dari Frans. [Nona Emma, besok adalah hari pertunangan Iris. Selain itu, penyerahan harta waris. Kalau bisa, sebelum pukul 12 siang, kita ke sana. Saya akan membawa semua bukti.] Mata Emma mendelik saat membaca pesan itu, sampai garpu yang ada di tangan terjatuh begitu saja. Suara dentingnya sampai memenuhi ruangan. “Gila, apa katanya? Besok? Kurang ajar sekali Iris! Gak … aku harus bilang sama Raynard soal ini.” “Ada apa, Nona?” Suara Oliver mengagetkan Emma, sampai gadis itu berjengit. “Apa yang akan Anda laporkan pada Tuan Muda?” Emma bingung, harus memulai dari mana, sampai iya tampak kelabakan. “Itu … Iris akan mengubah hak waris. Dan aku harus menggagalkan rencananya. Besok, sebelum jam 12 siang.” Oliver menggelengkan kepala. “Itu sangat bahaya, Nona. Anda jangan ke sana. Bisa saja Anda celaka, dan aliansi itu ikut celaka. Tuan Muda sedang ….” Oliver menggaruk kepalanya. Tampak bingung harus menjelaskan apa. “Aku gak peduli. Ini sudah kesepakatan. Raynard harus tahu! Aku harus pergi besok, apapun yang terjadi.” Emma melangkah begitu saja. “Nona, biar saya yang bilang.” Oliver berusaha mencegah,dan Emma bersikeras, gadis itu lari begitu saja. “Aduh, gawat! Nona!” Alih-alih mengejar, Oliver justru menenggelamkan wajahnya di sofa. Emma memang sangat keras kepala. Emma sendiri justru merasa menang, karena tak ada yang menghalanginya lagi. Tanpa mengetuk pintu, Emma langsung masuk begitu saja. Kamar itu tampak sepi. Matanya mengedar ke penjuru ruangan. Setelah mendengar suara air dari kamar mandi, Emma langsung menuju ke ruangan sempit itu. Matanya mendelik saat melihat sosok yang ia cari. Hanya saja, penampilan Raynard sangat berbeda. Telinga rubah dengan rambut putih dan sembilan ekornya yang menjulang. “Wooaaah … kamu manis sekali.” Emma jadi lupa tujuannya. Ia berlari dan memeluk ekor itu. Terasa lembut, membuat pipinya memerah. “Emma, apa yang sedang kamu lakukan? Bukankah aku sudah bilang, jangan–” “Kamu manis sekali, Ray. Aah, bulu ini sangat lembut.” Emma menenggelamkan wajahnya pada ekor itu. Raynard mendesis, matanya kian memerah dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ia menggigit bibirnya sendiri. “Katakan apa maumu?” tanya Raynard berusaha menahan diri. Mendengar pertanyaan itu, Emma jadi ingat tujuannya. Ia mengangkat wajah, tanpa melerai pelukannya. “Ray, besok aku harus pergi. Aku tidak rela kalau hartaku diambil alih Iris.” “Jangan ngelunjak! Posisimu membahayakan. Itu artinya, kalau kamu bahaya, aliansiku ikut bahaya.” Raynard mengepalkan tangannya, masih menahan sesuatu yang panas dalam tubuhnya. Emma menghentakkan kaki, bibirnya mengerucut. Tujuanku masih minta hidup, ingin merebut hakku kembali. Kalau kamu gak izinin maka ….” Emma menghentikkan kalimatnya, tampak berpikir sesuatu berupa ancaman. “Tapi apa?” Emma menatap wajah Raynard yang semakin merah, bahkan keningnya penuh akan peluh. Ia menyeringai. Emma memeluk ekor rubah itu lagi, bahkan kini lebih berani dengan menggelitiknya. “Emma,” desis Raynard. “Jangan memaksaku! Kami bisa saja lenyap hati ini juga.” “Apaan, sih!” Belum selesai Emma protes, Raynard membungkamnya dengan ciuman, panas dan menuntut. Emma sempat mendelik, merasa hatinya seperti digelitik, tubuhnya lemas, masih belum bisa mencerna bahasa tubuhnya sendiri. “Tuan Muda!” Oliver memekik, namun saat melihat kejadian itu, ia menutup matanya sendiri. “Ops! Ma-maaf.” Raynard melepaskan pagutannya. Kewarasan mulai menguasai. Sementara Emma, gadis itu tampak syok bukan main. Bukankah Emma berniat menggoda? Tetapi justru kali ini ia yang tergoda. “Ma-maaf, Tuan. Tadi Nona Emma–” “Oliver, sepertinya kamu perlu dihukum!” Raynard terengah, ia menjauh. Seolah energinya terkuras habis. “Tuan, Anda ….” Oliver hendak membantu Raynard uang nyaris tersungkur. Tuan mudanya itu berhasil mencengkeram sudut meja. “Raynard, apa kamu baik-baik saja?” Emma yang baru menyadarinya pun turut panik. “Nona, sih. Susah dibilangin. Tuan Muda kehilangan banyak energi karena ini. Aturannya, ini dipakai untuk aliansi ganda, tapi Tuan harus–” “Jaga bicaramu, Oliver!” Omel Raynard. Wajahnya merah dengan mata yang terlihat sayu, seolah sedang menahan sesuatu. Emma mengerjab beberapa kali, mencoba mencerna ucapan Oliver barusan. “A-aliansi ganda? Kenapa gak kita lakukan?” Raynard sampai mengusap wajahnya sendiri, frustasi. “Pergilah ke kamarmu, Emma. Jangan memaksaku. Kau ingin pergi, kan? Kalau gak pergi, sampai kiamat pun kamu gak akan bisa keluar!” Mendengar itu, wajah Emma langsung terlihat semringah. “Sungguh?” Raynard menjawab dengan anggukan. “Tapi, Tuan. Dengan kondisi Anda yang seperti ini, dan Nona Emma yang ceroboh, Anda–’ “Besok kamu yang temani, Oliver! Jangan ngebantah!” Oliver mengerucutkan bibir, Emma justru menjulurkan lidah kepadanya. “Oliver, besok kamu temani aku, ya.” Emma menepuk pundak Oliver, lalu pergi begitu saja, seperti tak melakukan apapun. Ia hanya sempat mendengar dengkusan Oliver yang begitu berat. “Eh, tadi lupa kasih tahu Oliver jam berapa.” Emma berbalik badan, ingin kembali. Namun terhenti saat mendengat obrolan Oliver dan Raynard. “Tuan, dengan kondisi Anda yang seperti ini, Anda bisa saja tewas. Aturannya, bunuh saja Emma. Dia afalah cobaan terberat Anda.” Emma yang mendengar langsung membungkam mulut. Dafanya berdebar kencang. “Jaga bicaramu! Jangan sembarangan!” omel Raynard yang terlihat tersiksa. “Tapi, Tuan. Kondisi Anda–” “Kerjakan saja tugasmu, jangan banyak bicara. Belum saatnya itu!” Emma berbalik badan, wajahnya tegang dan memegangi dadanya sendiri yang berdebar. “Ja-jadi … aku beneran mau dibunuh?”Emma dan Oliver baru saja turun dari mobil. Suasana rumah keluarga Azzure sudah tampak ramai. Mobil berderet di car port. Emma berjalan dengan anggun menuju gerbang, seorang satpam yang berjaga mendelik sempurna.“No-nona Muda? An-anda masih hidup?” tanya satpam itu dengan tergagap.Emma mengulas senyuman. Ia memberikan anggukan kecil dan berkata, “buka pintunya, Pak.”“Ta-tapi, Nona. Di dalam … di dalam sedang ada acara besar. Nona Iris–”“Pemilik rumah dan seluruh aset masih atas namaku. Kamu m mbantah?” Sembur Emma dengan berkacak pinggang. Matanya mendelik, lebar. Sampai, satpam itu menggigil ketakutan.“Tahan, Nona” bisik Oliver.“Habisnya, sih. Ngeyel!”Pintu gerbang itu buka, tak ada yang protes lagi, semua takut akan ancaman Emma.Baru setelah gerbang itu dibuka, Emma berjalan cepat menuju pintu utama, sambil menghubungi Frans.“Aku di jalan Emma, kamu masuk saja dulu.”“Baik, Om. Jangan lama-lama.” Emma memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan, lalu melanjutkan jalannya. Begi
Aroma sedap membuat tidur lelap Emma terganggu. Gadis itu langsung bangkit dan mengendus bak anjing. “Wah, wangi apa ini?’’Emma mengikuti aroma itu, sampai mengantarkannya ke dapur. Di sana, Oliver sedang memanggang ikan di teflon. Emma mendekat seraya memekik senang, “Oliver!”Oliver nyaris menjatuhkan wajan tipis itu,ia mengurut dada perlahan. Tak bisa memarahi Emma, takut diamuk sang tuan muda. “Nona ngagetin aja.”Mata Emma menyisir ke penjuru dapur. Biasanya, sang tuan muda tak akan jauh-jauh dari Oliver. ‘Apa ini ada hubungannya dengan peringatan Raynard kemarin?’ batin Emma mulai penasaran.Semakin dilarang, Emma justru semakin penasaran. Mengapa Raynard tak boleh didekati saat bulan purnama?“Nona, Anda lapar? Saya akan menyi–”“Di mana Raynard?” potong Emma mulai mengambil garpu, ia menusuk daging ikan panggang buatan Oliver, lalu meniupnya pelan dan memasukkannya ke dalam mulut.“Nona, jangan ganggu Tuan Muda. Beliau ada di kamarnya. Saya mau mengantarkan sarapan untuk T
Tatapan Raynard yang tajam membuat Emma seperti sesak napas, gadis itu beringsut mundur. “Kamu lupa, hidupmu aku yang tentukan? Jangan tawar-menawar. Nasibmu sudah sial sejak dulu.”Emma mengerucutkan bibirnya. Jelas ia akan mencari cara untuk memperpanjang umurnya. Lagian, ia tahu Raynard tak akan membiarkannya celaka, mengingat sesuatu yang berharga milik pria itu ada padanya.“Ya sudah, iya. Aku tahu,” jawab Emma lesu, kepalanya menunduk dengan tangan saling meremas.“Sekarang, hiduplah dengan baik dan sehat, jangan sampai merusak segalanya,” pinta Raynard dengan suara yang lebih lembut. Emma hanya menjawab dengan anggukan.Ingatan tentang penghianatan Iris membuatnya kembali muncul, rasa panas menggerus dadanya. Emma bertekad, akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada sepasang ibu dan anak itu.“Pergilah ke kamarmu, besok, tepat saat bulan purnama, jangan pernah muncul di hadapanku,” ujar Raynard.Mata Emma menyalak lebar. Jiwa keponya meronta. “Kenapa?”“Jangan banyak bica
Raynard melerai ciuman itu dengan paksa. Napasnya terengah, pipinya merah padam.Alih-alih takut, Emma justru menyentuh telinga Raynard. “Apa? Bagaimana bisa? Siapa kamu sebenarnya?’’“Turunkan tanganmu!” Emma menarik tangannya cepat. Ia masih belum bisa menghilangkan rasa takjubnya.“Jangan memaksaku, kalau tidak, akan dilenyapkan kamu.”Emma menggeleng dengan cepat. Ia mundur dua langkah, ekspresi Raynard jauh lebih menyeramkan saat ini. Oliver sendiri justru mematung di belakangnya.“Antar dia ke kamarnya, kunci pintunya dari luar,” perintah Raynard, lalu pergi begitu saja.“Eh, Raynard! Tunggu!” teriak Emma yang tak digubris sama sekali “Ayo, Nona Emma Azure. Kita ke kamar Anda!” Oliver menarik siku Emma yang masih menatap punggung Raynard yang kian menjauh.Namun, saat menyadari nama lengkapnya disebut dengan jelas, ia menoleh skiptis, “bagaimana kamu tahu namaku?”Oliver memutar kedua bola matanya, “gak ada yang gak aku tahu. Ayo! Sebelum Tuan Muda mengamuk.”Emma berkacak pin
Emma melangkah mendekati jembatan kayu, yang sebentar lagi akan dibangun beton. Senyumnya merekah, takjub. “Ayah, lihatlah! Aku bisa membangun mimpi Ayah,” gumamnya pelan. Air matanya nyaris menetes karena terharu. Ia yakin,mendiang ayahnya akan bangga.“Emma.” Iris mendekat, gadis kemayu itu tersenyum sinis. Senyum yang nyaris tak pernah ia tunjukkan pada saudari tirinya itu.Emma yang memang tak begitu menyukai Iris hanya melirik sekilas, lalu fokus pada gedung tinggi itu. “Iris, mending kamu hubungi Pak Alex, tanyakan, kapan proyek pembangunan jembatan ini akan dilakukan.”Iris biasanya akan menurut, tetapi kali ini ia tertawa keras, membuat Emma mengernyit, melirik skiptis padanya.“Kamu gila? Aku menyuruh kamu, Iris!”Iris mengeluarkan pisau dari tasnya. Emma mendelik melihat aksi adik tirinya itu.“Apa yang kamu lakukan?” tanya Emma dengan suara bergetar, ia mundur dua langkah, lalu menoleh ke belakang, riak sungai begitu deras. Ia meremas roknya, telapak tangannya sudah berker







