LOGINEmma dan Oliver baru saja turun dari mobil. Suasana rumah keluarga Azzure sudah tampak ramai. Mobil berderet di car port. Emma berjalan dengan anggun menuju gerbang, seorang satpam yang berjaga mendelik sempurna.
“No-nona Muda? An-anda masih hidup?” tanya satpam itu dengan tergagap. Emma mengulas senyuman. Ia memberikan anggukan kecil dan berkata, “buka pintunya, Pak.” “Ta-tapi, Nona. Di dalam … di dalam sedang ada acara besar. Nona Iris–” “Pemilik rumah dan seluruh aset masih atas namaku. Kamu m mbantah?” Sembur Emma dengan berkacak pinggang. Matanya mendelik, lebar. Sampai, satpam itu menggigil ketakutan. “Tahan, Nona” bisik Oliver. “Habisnya, sih. Ngeyel!” Pintu gerbang itu buka, tak ada yang protes lagi, semua takut akan ancaman Emma. Baru setelah gerbang itu dibuka, Emma berjalan cepat menuju pintu utama, sambil menghubungi Frans. “Aku di jalan Emma, kamu masuk saja dulu.” “Baik, Om. Jangan lama-lama.” Emma memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan, lalu melanjutkan jalannya. Begitu juga Oliver, bak pengawal setia yang menemani Emma di belakangnya. “Selamat, Iris! Kamu yang paling cantik, Sayang.” Emilia tampak terlihat berseri, ia memeluk putri tunggalnya dari pernikahan terdahulunya, Iris. Emma mencebik melihat pemandangan itu, tangannya bersedekap dada, lalu masuk ke rumah. Suara hentakan sepatunya membuat semua mata tertuju ke arahnya. Semua mendelik melihat Emma Azure. Seseorang yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan. Ya, begitulah beritanya. Tak hanya tamu undangan, atau Lee George pun sampai tak percaya. Iris? Dia jauh lebih parah, napasnya bahkan sampai tersengal. “Apa kabar, adik tiriku yang serakah?” tanya Emma dengan nada mengejek, ia melangkah maju, tubuh Iris masih menegang parah. “Bagaimana mungkin?” gumam Iris ketakutan dan Emma menyeringai. Terdengar kasak-kusuk di belakang, para tamu saling bergunjing. “Kamu … siapa kamu? Kamu kenapa menyerupai Emma, putriku?” tanya Emillia dengan lantang, tetapi masih terdengar getaran. Emma tertawa pongah, lalu mengubah ekspresinya menjadi rasa jijik. “Anak tiri tepatnya.” Ia laik ke podium, Lee George masih diam, sepertinya sedang mencerna kejadiaan ini. Suara para tamu terdengar agak keras. Bagaimana bisa, orang yang dikabarkan tewas, justru terlihat baik-baik saja, tak ada lecet sedikitpun. “Hadirin sekalian! Aku adalah Emma Azure. Pemilik aset keluarga Azure. Aku melihat berita murahan, tentang kecelakaan itu.” Semua menyimak, Iris masih syok bukan main. “Kecelakaan itu gak sepenuhnya salah. Tapi, aku bukannya kecelakaan. Tapi ….” Saat Emma menjeda, suasana jadi hening. Iris meremas gaunnya sendiri, tatapannya penuh dengan kemarahan. “Tapi aku memang sengaja mau dibunuh!” “Wah, kok bisa?” “Bagaimana mungkin?” “Siapa yang mau ngebunuh?’’ Begitulah kalimat para tamu undangan yang mulai terdengar. “Bohong!” sanggah Iris. Matanya menyalak merah. “Dia pembohong! Apa buktinya kalau aku membunuh? Lagian, belum tentu kalau kamu Emma asli, kamu pasti memakai topeng!” Iris menarik rambut Emma, memastikan, kalau sosok di depannya ini palsu. Suasana jadi riuh. Oliver tak tinggal diam, ia menarik Iris, lalu menamparnya. Suara tamparan itu menggema, Iris memegangi pipinya yang memerah. Lee George tak tinggal diam, ia berniat menghajar Oliver, tetapi pria jakung iti hanya bergeser kesamping. Lee George pun terjungkal ke depan. “Kau!” Lee George menunjuk Oliver dengan bengis. “Siapa kau datang di pesta kami dan merusak segalanya!” Lee George hanya tersenyum smirk. Ia berdiri di sebelah Emma yang bersedekap dada. “Dan kamu,” tunjuk Lee pada Emma. “Entah kamu Emma atau bukan, kenapa kamu memfitnah Iris?” Emma tersenyim pongah, semenyara Irismemeluk Lee George ketakutan. “Ternyata kamu ini bodoh ya? Sudah kemakan hasutan ular itu.” Emma maju dua langkah, santai dan seolah masalah ini begitu sepele. “Beruntung sekali aku tidak jadi menikah denganmu, Lee.” Kedua orang tua Lee George maju ke podium. Tatapannya resah, mereka sekarang jadi pusat perhatian. “Tunggu, ada apa ini? Kamu serius Emma Azure?” Emma tersenyum, ia menghela napas sebelum menjawab, “lalu siapa lagi, Paman? Hantunya Emma? Aku masih hidup. Sehat walafiat.” Wajah tenang Emma berubah dingin saat matanya bertemu dengan mata Iris. “Tapi si ular licik ini,dia mendorongku ke jurang. Untung ada Oliver yang menyelamatkanku.” Oliver maju dua langkah, suasana semakin tegang. Ia tersenyum manis, merogoh saku. Lalu, ia memutar rekaman video. Emma tercengang. Entah bagaimana, Oliver punya rekaman itu. Rekaman perdebatan Emma dan Iris, lalu saat kejadian Iris mendorongnya ke jurang. Emma yakin, ini adalah sihir. Atau memang ia tak melihat ada Oliver di sana. “Itu pasti editan!” sanggah Iris. Lee George tampak goyah, gadis itu menggncang lengan Lee dengan manja. “Lee, jangan percaya. Aku difitnah.” Semua tamu saling berbisik. Emma tersenyum penuh dengan kemenangan. “Kamu memfitnah Iris! Gak mungkin Iris lakuin itu! Kamu memang gak suka sama Iris!” Emilia menangis, ia berusaha meyakinkan semua orang. “Sudahlah, Tante. Jangan buang tenaga. Lagian, Tante nikah sama Papa hanya mau hartanya saja. Kamu dan Iris itu sama-sama licik!” “Ini bagaimana, Lee?” ucap Jhon George pada putranya yang mulai ragu dengan Iris. “Lee, kamu harus percaya. Dia memfitnahku. Aku gak mungkin lakuin itu. Aku yakin, mereka sekongkol. Dia ingin menjatuhkanku, mereka sengaja seperti itu, demi menghina perjodohan itu. Ya, dia gak mau sama kamu. Dia … dia ngarang, supaya pertunangan kalian batal, dan dia … dia sempat bilang kalau aku yang suruh gantiin.” Lee George mendelik. Ia menggeleng lemah. Emma tertawa renyah. Iris memang pandai sekali memanipulasi. “Aku tidak peduli soal perjodohan itu, Iris. Sekarang bahkan aku sudah tahu, Lee adalah pecundang yang tidak memilik prinsip.” “Kau….” Lee George menunjuk Emma tak suka. “Sudahlah. Terserah soal perjodohan itu. Aku hanya ingin menghukum pendosa. Yang korupsi uang perusahaan dan berencana membunuhku,” desis Emma. Semua orang menatap Iris dan Emilia secara bergantian. Seolah ini adalah pertunjukan yang seru. Oliver masih mengamati, takut hal lain akan menyerang nona-nya. “Emma, atau siapapun kamu.” Emilia maju selangkah. “Jangan memfitnah! Tidak ada bukti kalau kami korup. Lagian, selama ini kami tidak pernah mengurusi. Bukankah kamu dan orang-orang kamu yang urus?” “Aku pasti akan tunjukan! Lihat saja, aku pasti menemukannya,” ucap Emma. Ia juga tak memiliki bukti. Matanya menuju ke pintu, iya takut, akan terjadi sesuatu pada Frans. Bahkan, sampai saat ini batang hidungnya belum kelihatan. Emma mencoba untuk menghubungi Frans. “Tunggu sebentar “ Panggilan tersambung, tetapi tidak diangkat. Emma resah. Ia benar-benar takut. Oliver mendekat. “Nona, ada apa?” bisik Oliver. “Gak tahu, Om Frans gak angkat telponnya.” Emilla tersenyum penuh kemenangan. “Bukti apa, Emma? Atau jangan-jangan kamu berbohong? Apa kamu memang tak punya bukti? Sudahlah, Emma. Jangan mengarang lagi. Selama ini, semua orang tahu, kamu yang selalu bersikap burik sama kami. Lagian, aku yakin video itu hanya editan “ Emma tak menggubris, ia masih berusaha menghubungi Frans. Yang sampai saat ini tak mengangkat telponnya. “Ayolah, Om. Angkat,” gumam Emma semakin resah. “Nona Emma, sudah, Nona. Jangan berakting lagi,’’ ucap Sheli, sekretaris Emma yang sejak tadi diam. Ia menghampiri Emma yang kini menatapnya tajam. “Anda lupa, ayah Anda sendiri yang bilang, kalau Anda tidak boleh memecat Nona Iris? Ayah Anda yang bilang,Anda harus mencintai Nona Iris layaknya adik kandung?” Emma mengabaikan ponselnya, tangannya menunjuk Sheli dengan bengis. “Kamu … lihat, apa yang akan kuberikan padamu nanti.” “Lihatlah, hadirin. Kalian sudah tahu, kan karakter nona kami ini? Tolong, untuk tidak berpikir yang tidak-tidak tentang Nona Iris dan ibunya. Selama ini, masalah keluarga ini sangat pelik. Nona Emma sama sekali tidak menyukai saudara tirinya. Saya saksinya. Saya rela dipecat untuk keadilan.” Sheli mengucapkannya dengan percaya diri. Semua saling desas-desus, Emma kelabakan. “Lakukan sesuatu, Oliver!” Oliver mencoba menghentikan waktu, dan ingin tahu keberadaan Frans sebagai kunci dari semua bukti. Namun, suara langkah kaki membuat mereka semua menoleh ke arah pintu. “Tolong ….” Mata Emma mendelik. Mulutnya ternganga lebar. Pun dengan Iris dan Emilia dan juga Sheli.Ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.
Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent
Kabut tipis menyelimuti lembah rubah saat fajar belum sepenuhnya naik. Cahaya biru pucat merembes di antara pepohonan tinggi, memantul di bebatuan berukir simbol kuno. Dunia itu tidak bising, tapi justru terlalu teratur, seolah setiap napas, setiap langkah, sudah diatur oleh sesuatu yang lebih tua dari waktu.Emma berdiri di samping Raynard.Jubah putih keperakan membalut tubuhnya. Bukan pakaian manusia. Bahannya ringan, hangat, dan seolah menyesuaikan dengan tubuhnya sendiri. Rambutnya dibiarkan tergerai, dihiasi benang perak yang disematkan para tetua perempuan rubah tanpa banyak bicara.Tatapan mereka dingin. Menilai.Emma bisa merasakannya.Bukan kebencian terang-terangan, tapi ketidakrelaan.Raynard menggenggam tangannya. Erat. Seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap tenang.“Jangan lepaskan,” bisik Raynard pelan.Emma mengangguk.Di hadapan mereka, sebuah altar batu melingkar berdiri. Di tengahnya, kolam dangkal berisi cairan berkilau, bukan air, melainkan esensi
Emma berdiri kaku di tengah dunia Rubah.Udara di sana lebih padat, beraroma tanah basah dan kayu tua. Di sekelilingnya, manusia rubah berlalu-lalang—tinggi, ramping, dengan telinga dan ekor yang tak disembunyikan. Ada laki-laki, ada perempuan. Banyak perempuan. Dan hampir semuanya menatap Emma dengan sorot yang sama.Sinis. Mengukur. Tidak ramah.Emma tanpa sadar merapatkan kedua lengannya ke tubuh. Ada rasa asing, seperti ia sedang berdiri di tempat yang jelas bukan miliknya.Raynard menunduk sedikit, berbisik di dekat telinganya.“Jangan takut. Di sini, tidak ada yang berani menyentuhmu.”Nada suaranya tenang, tapi ada tekanan di baliknya, peringatan yang ditujukan bukan untuk Emma, melainkan untuk siapa pun yang mendengar.Langkah kaki mendekat.Seorang perempuan dengan rambut oranye terang berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tajam, dagunya terangkat angkuh. Ia tidak melirik Emma, seolah keberadaan Emma terlalu rendah untuk diperhitungkan.“Raynard,” katanya dingin. “Kenapa
Edrick melangkah maju satu langkah. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka kembali menegang.“Kalian jangan senang dulu.”Raynard refleks merapatkan tubuh Emma ke sisinya. Emma menoleh, jantungnya kembali berdebar, firasat buruk menyelinap pelan.“Dua ini memang kalah,” lanjut Edrick datar, matanya menatap tubuh para pendeta yang terkapar. “Tapi kaum mereka belum habis.”Ia menoleh ke arah Raynard. Tatapannya tajam, bukan marah, lebih seperti peringatan.“Mereka tidak akan berhenti hanya karena gagal sekali. Mereka sudah tahu keberadaanmu. Sudah tahu manusia itu,” dagunya sedikit terangkat ke arah Emma, “adalah celah.”Emma menggenggam lengan Raynard lebih erat. “Mereka bisa ke dunia manusia lagi?”“Bukan bisa,” jawab Edrick pelan. “Mereka pasti akan mencoba.”Ia menghela napas pendek, seolah menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan, namun harus.“Portal kalian bukan lagi rahasia. Jika satu pendeta bisa menembusnya, berarti ada metode. Dan metode
Raynard berdiri kaku. Untuk pertama kalinya, napasnya benar-benar goyah.Dua pendeta itu tertawa bersamaan, tawa pendek yang terdengar puas. Salah satunya melangkah setengah langkah maju, suaranya ringan seolah sedang menawar barang murah.“Tidak sulit,” katanya. “Serahkan esensi kehidupanmu. Hanya itu. Anak itu, ” ia melirik Oliver yang nyaris tak sadarkan diri, “akan kami lepaskan. Utuh.”Emma menggeleng keras. “Ray, jangan.”Raynard menutup mata sesaat. Bibirnya bergerak, hampir mengucapkan sesuatu. Cahaya biru di sekeliling tubuhnya bergetar tak stabil, seperti nyala api yang kehabisan udara.“Pilihan mulia,” ejek pendeta kedua. “Kau menyelamatkan bawahanmu. Dan dunia kami mendapat apa yang dibutuhkan.”Emma melangkah maju, namun kakinya terasa berat. Ia melihat keputusan itu hampir diambil dan itu membuat dadanya nyeri.Lalu udara berubah.Tekanan yang tak kasatmata menekan dari segala arah. Tanah bergetar halus, bukan karena ledakan, melainkan karena kehadiran. Api obor di sekit
Raynard menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah dingin, tajam dengan keyakinan yang tak ingin ia ucapkan sembarangan.“Bukan ayahku,” katanya akhirnya. “Dan bukan pendeta itu.”Emma terdiam. Dadanya berdebar, firasat buruk merambat naik. “Lalu siapa?”“Oliver,” jawab Raynard lir
Raynard menatap Clara lebih lama dari sebelumnya, suaranya turun satu oktaf.“Clara, aku perlu kamu berjanji satu hal.”Clara menghentikan gerakannya. “Apa?”“Jangan katakan pada siapa pun kalau kami ada di sini. Pada siapa pun.”Kening Clara berkerut. “Termasuk ayahku?”Ia menoleh singkat, lalu me
Tiba-tiba Emma merasa udara di sekitarnya berubah.Tidak serta-merta menyakitkan, tapi berat. Tidak sejernih dunia Raynard. Ada aroma knalpot yang samar, bercampur bau debu dan beton, bau khas metropolitan yang dulu begitu akrab, kini terasa menyesakkan. Padahal mereka tidak berada di pinggir jalan
Emma terengah. Mata sayunya menatap manik Raynard yang memerah. Bukan karena marah, tetapi karena hawa panas yang keluar dari tubuhnya. Hasrat yang ia pendam selama ini.“Emma, aku….” Ucapan Raynard terhentu, Emma kembali membungkam bibirnya dengan ciuman panas. Raynard tidak bisa menahan diri. Tu







