Share

Bab. 7

Penulis: Layli Dinata
last update Tanggal publikasi: 2026-05-21 06:13:57

“Siapa kamu?” geram Lee dengan muka merah padam, napasnya menderu dengan kedua tangan yang mengepal.

Emma menelan ludah. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Ray, kenapa kamu di sini?”

Raynard hanya tersenyum tipis. Setiap langkahnya menjadi pusat perhatian. Pria dengan wajah datar itu mendekat, santai. 

“Dia siapa?” gumam Frans, lirih.

“Dia tuanku,” jawab Oliver refleks, lalu ia nyengir dan menggaruk kepala. “Maksudku, dia bosku.”

Frans mengangguk, pelan. Lee justru menegakkan punggung, mengamati Raynard dari atas sampai bawah, raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan.

“Aku sama sekali tidak pernah melihatmu di media bisnis manapun. Siapa kamu?” 

Pertanyaan Lee sama sekali tidak Emma gubris. Pun dengan Raynard yang kini sudah berdiri di sebelah Emma yang ketakutan.

“Ray, bagaimana kamu ada di sini? Bukankah kondisimu sedang tidak baik-baik saja?” bisik Emma, Raynard hanya menatapnya datar.

“Ekhem!” Lee George menarik tangan Emma, “Emma, dia siapa?”

“Saya suami Emma.” Raynard justru menarik siku Emma, hingga gadis ramping itu menempel padanya.

“Su-suami?” Emma nyaris tersendak. Ia menatap iris cokelat yang kini sedang memeluk pinggang rampingnya itu. “Ray, kita–”

“Sayang, kamu pergi terlalu lama,” bisik Raynard dengan nada penuh penekanan, matanya melotot tajam.

‘Su-suami? Sejak kapan aku menikah?’ batin Emma tak percaya.

“Suami? Hey! Kamu mengaku-ngaku! Sejak kapan Emma menikah!” Lee George tak terima. Pun dengan keluarganya.

“Siapa kamu, Anak Muda! Datang-datang mengaku sebagai suami pewaris Azure!” Keith George mulai tak terima, calon menantunya diklaim sembarangan.

Susana kembali riuh. Orang-orang heboh dengan berita ini.

“Emma … ini apa-apaan?” Frans mulai khawatir. Tatapannya penuh dengan intimidasi pada Raynard. “Emma, semua ini …..”

“Aku Raynard Onyx. Suami Emma Azure. Kami memang menikah belum lama ini. Dan sebentar lagi, pernikahan itu akan diresmikan. Bukan begitu, Sayang?” Raynard mencengkram pinggang Emma, seolah sedang memberikan peringatan keras pada Emma tentang posisi gadis itu.

Emma tahu itu. Ia memang tidak akan pernah bisa lepas dari Pangeran Rubah itu. Sial, bahkan melihat mata Raynard saja ia sudah menggigil, parah.

“I-iya. Di-dia suamiku.”

Semua heboh. Tamu undangan membicarakan ini. Bukankah pesta ini diperuntukkan untuk menjalin kerja sama antara Georgetown dan Azure Group dengan cara menjodohkan anak-anaknya?

Frans menyugar rambutnya, tampak benar-benar frustasi.

“Tidak mungkin! Ini salah, kan Emma?” Wajah Lee sudah merah padam. Bahkan, ia tidak bisa menyembunyikan rasa malu lagi. Keluarganya seolah menjadi badut di acaranya sendiri.

“Emma, Lee …  tidak bisa! Kalian harus menikah!” Keith tidak mau kalah. Ia mendekati Frans yang menjadi orang kepercayaan keluarga Azure. “Pak Frans, bagaimana mungkin ini terjadi?Bagaimana dengan perjanjian keluarga? Mengenai kontrak juga. Ini tidak mungkin dibatalkan! Semua sudah sepakat.”

“Tuan George, aku tidak tahu mengenai masalah ini.”

“Frans, gak bisa begitu dong!”

“Apanya yang tidak bisa?” Raynard menyela dengan tenang, seolah masalah ini adalah hal yang sepele baginya. Emma bisa melihat dari ketenangan Raynard. Pria yang bisa melakukan apapun dengan sihirnya itu.

Ah, bagaimana jika Raynard melakukan tindakan gila itu? Di depan banyak orang. Lagian, kenapa Raynard harus repot-repot datang, toh ia juga tidak akan menerima perjodohan itu lagi. Situasi terasa panas bagi Emma. Ia tak memiliki kuasa apapun. Parahnya, Raynard benar-benar akan membunuhnya.

“Kalau Emma sudah menikah, bagaimana mungkin dia akan menerima perjodohan itu?”

“Ray, sudah. Biar aku selesaikan.” Emma menarik tangan Raynard, mencoba meredam pria itu, padahal jelas ia tahu, di sini yang ngotot adalah Keith dan Lee.

“Emma, kamu sudah menyetujui perjodohan itu. Salah satu putri keluarga Azure harus menikahiku.” Lee George meraih tangan Emma, gadis itu menepisnya tanpa perasaan.

“Bukankah kamu mau menikahi Iris tadinya? NIkahi saja dia!”

“Sudah, Lee. Sudah! Kitra pergi saja. Ini penghinaan untuk keluarga kita.” Alana menghampiri Lee, mencoba menenangkan putranya. Ia benar-benar merasa malu, apalagi mengenai gunjingan beberapa orang di sana. 

“Ma, gak bisa dibiarin!” 

Raynard memutar bola mata, suasana menjadi riuh. Ia menjentikkan jari. Waktu seolah berhenti. Tetapi tidak untuknya, Oliver dan Emma.

“Ray, apa yang sedang kamu lakukan?” Emma menatap ke sekitar, orang-orang mirip seperti patung, tak bergerak sama sekali.

Raynard tersenyum miring, sebelah tangannya masuk ke celana saku, ia sedikit membungkuk, supaya wajahnya sejajar dengan wajah Emma. 

Dengan penuh pengertian, Oliver berbalik badan.  Emma justru menelan ludah karena wajahnya sedekat itu dengan pangeran dingin itu.

“Jangan bermain terlalu jauh, Emma. Kita harus pulang. Aku sudah muak melihat drama manusia yang bodoh itu.”

“Ray, lalu mereka ba-bagaimana?” Emma menatap satu-persatu orang di depannya. Merasa prihatin.

“Jangan pedulikan, setelah kita pergi, semua akan berjalan seperti semula, mereka akan bubar dan melupakan kejadian barusan.”

Mendengar hal itu, Emma langsung melebarkan senyuman. Reflek, tangannya terulur untuk menangkup kedua pipi Raynard. “Ah, kamu pintar sekali!”

Hanya dengan sentuhan di pipi saja, wajah Raynard langsung memerah, matanya mendelik. Ia langsung mengeram, terjadi sedikit perubahan di tubuhnya, mulai dari telinga, sampai ekornya pun keluar. 

“Emma, jangan menyiksaku! Kamu akan mendapatkan hukuman setelah ini.”

“Hu-hukuman apa?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 44 Panggilan Hati

    Seraaaaaang!”Teriakan itu memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Prajurit Raiver bergerak lebih dulu. Derap kaki memenuhi halaman batu, pedang dan tombak terangkat bersamaan. Sorak perang menggema, membuat beberapa pelayan yang masih berada di sekitar balai menjerit ketakutan dan berlari menjauh.“Lindungi tetua!” teriak salah satu pengawal Onyx.Raynard tidak mundur. Begitu prajurit pertama menerjang, ia menyambar tombak yang mengarah ke dadanya, memutarnya, lalu menghantamkan gagang tombak itu ke rahang lawan. Tubuh pria itu terpelanting dan menabrak dua prajurit di belakangnya.Diego langsung maju dengan pedang panjang berlapis cahaya merah. Tebasannya cepat dan berat. Raynard menahan dengan pedangnya sendiri, benturan keduanya memercikkan cahaya biru dan merah yang membuat udara berdesis.“Masih sempat melindungi manusia itu?” sindir Diego sambil menekan pedangnya.Raynard mendorong balik hingga Diego mundur setengah langkah. “Aku selalu sempat.”Di sisi lain ha

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 43 Serangan

    Langkah Raynard mantap menuju ke balai. Terdengar keributan. Beberapa orang berkumpul di sana. Termasuk ayahnya dan juga para tetua.“Tuan Muda, Diego River datang dengan para prajurit mereka!” Salah satu pengawal tergopoh menghampiri Raynard, wajahnya penuh dengan ketakutan.“Sial! Dia justru datang terlebih dahulu.” Raynard menghentikan langkah, kepalannya semakin kuat. Mengingat Emma sedang mengandung, jiwa protektifnya kembali muncul.“Tambah lagi keamanan di ruangan itu. Jangan ada satu pun yang boleh masuk. Siapa pun itu, termasuk pelayan, sebelum aku kembali.”Pengawal itu memberikan anggukan. “Semuanya, bersiap!” teriak Raynard. Para prajuritnya mengikuti di belakang.Sorak sorai terdengar keras dari kejauhan. Para prajurit klan Raiver mulai meneriaki slogan mereka.Saat Raynard keluar, suasana jadi hening. Edrick sudah nyaris putus asa.“Tenang!” Diego maju selangkah, senyum smirknya membuat Raynard muak. Pria itu menatap sinis Raynard.“Ada apa? Bukankah duel itu akan dilak

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 42 Apa Sungguhan?

    Raynard tetap menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan menyusuri lorong batu. Langkahnya sengaja diperlambat, menyesuaikan dengan Emma yang masih terlihat sedikit lemas.“Kita mau ke mana?” tanya Emma penasaran.“Sebentar lagi kamu juga tahu,” jawab Raynard dengan senyum tipis.Mereka melewati beberapa taman kecil, lalu sebuah gerbang kayu berukir terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk, Emma sontak menghentikan langkahnya.“Ray….”Di hadapannya terbentang hamparan bunga berwarna-warni yang seolah tak berujung. Kupu-kupu dengan berbagai warna beterbangan bebas di antara kelopak-kelopak bunga. Sebagian bahkan memancarkan cahaya lembut saat sayapnya mengepak, membuat taman itu tampak seperti lukisan hidup.Angin berembus pelan, membawa aroma bunga yang segar dan menenangkan.“Cantik sekali, aku suka sama wangi bunganya juga,” gumam Emma tanpa mengalihkan pandangannya.Raynard tersenyum melihat kekaguman di wajah istrinya.“Ini Taman Aravelle,” ujarnya. “Tempat ini hanya dibuka untu

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 41 Mencoba Terbiasa

    Emma baru saja benar-benar terjaga ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia menyibak selimut, lalu berjalan membuka pintu dengan rambut masih terurai.Di ambang pintu, dua pelayan perempuan berdiri rapi. Salah satunya membawa nampan berisi gaun berwarna pucat dengan sulaman perak halus, yang lain membawa perhiasan sederhana.Emma refleks tertegun.“Uh… ini untuk apa?”Pelayan yang lebih tua menunduk sopan. “Ini gaun yang harus dikenakan hari ini, Nyonya.”Nada suaranya datar, seolah itu bukan permintaan, melainkan ketetapan.Emma ragu sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Baik.”Ia membiarkan mereka masuk dan mulai membantu melepas pakaian tidurnya, merapikan rambutnya, mengenakan gaun itu dengan cekatan. Kainnya ringan, dingin di kulit, jatuh pas di tubuh Emma tanpa terasa berlebihan.Saat pelayan terakhir mengencangkan ikatannya, Emma bertanya, seolah baru teringat sesuatu, “Raynard di mana?”Kedua pelayan itu saling pandang singkat sebelum

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 40 Incaran

    Ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   34. Menjenguk Dede Bayi di dalam Perut

    Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab 32 Kamu Tak Boleh Tersentuh

    Raynard menggeleng pelan. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah dingin, tajam dengan keyakinan yang tak ingin ia ucapkan sembarangan.“Bukan ayahku,” katanya akhirnya. “Dan bukan pendeta itu.”Emma terdiam. Dadanya berdebar, firasat buruk merambat naik. “Lalu siapa?”“Oliver,” jawab Raynard lir

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 3

    Tatapan Raynard yang tajam membuat Emma seperti sesak napas, gadis itu beringsut mundur. “Kamu lupa, hidupmu aku yang tentukan? Jangan tawar-menawar. Nasibmu sudah sial sejak dulu.”Emma mengerucutkan bibirnya. Jelas ia akan mencari cara untuk memperpanjang umurnya. Lagian, ia tahu Raynard tak akan

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 2

    Raynard melerai ciuman itu dengan paksa. Napasnya terengah, pipinya merah padam.Alih-alih takut, Emma justru menyentuh telinga Raynard. “Apa? Bagaimana bisa? Siapa kamu sebenarnya?’’“Turunkan tanganmu!” Emma menarik tangannya cepat. Ia masih belum bisa menghilangkan rasa takjubnya.“Jangan memak

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 1

    Emma melangkah mendekati jembatan kayu, yang sebentar lagi akan dibangun beton. Senyumnya merekah, takjub. “Ayah, lihatlah! Aku bisa membangun mimpi Ayah,” gumamnya pelan. Air matanya nyaris menetes karena terharu. Ia yakin,mendiang ayahnya akan bangga.“Emma.” Iris mendekat, gadis kemayu itu ters

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status