MasukKetukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.
Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent
Kabut tipis menyelimuti lembah rubah saat fajar belum sepenuhnya naik. Cahaya biru pucat merembes di antara pepohonan tinggi, memantul di bebatuan berukir simbol kuno. Dunia itu tidak bising, tapi justru terlalu teratur, seolah setiap napas, setiap langkah, sudah diatur oleh sesuatu yang lebih tua dari waktu.Emma berdiri di samping Raynard.Jubah putih keperakan membalut tubuhnya. Bukan pakaian manusia. Bahannya ringan, hangat, dan seolah menyesuaikan dengan tubuhnya sendiri. Rambutnya dibiarkan tergerai, dihiasi benang perak yang disematkan para tetua perempuan rubah tanpa banyak bicara.Tatapan mereka dingin. Menilai.Emma bisa merasakannya.Bukan kebencian terang-terangan, tapi ketidakrelaan.Raynard menggenggam tangannya. Erat. Seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap tenang.“Jangan lepaskan,” bisik Raynard pelan.Emma mengangguk.Di hadapan mereka, sebuah altar batu melingkar berdiri. Di tengahnya, kolam dangkal berisi cairan berkilau, bukan air, melainkan esensi
Emma berdiri kaku di tengah dunia Rubah.Udara di sana lebih padat, beraroma tanah basah dan kayu tua. Di sekelilingnya, manusia rubah berlalu-lalang—tinggi, ramping, dengan telinga dan ekor yang tak disembunyikan. Ada laki-laki, ada perempuan. Banyak perempuan. Dan hampir semuanya menatap Emma dengan sorot yang sama.Sinis. Mengukur. Tidak ramah.Emma tanpa sadar merapatkan kedua lengannya ke tubuh. Ada rasa asing, seperti ia sedang berdiri di tempat yang jelas bukan miliknya.Raynard menunduk sedikit, berbisik di dekat telinganya.“Jangan takut. Di sini, tidak ada yang berani menyentuhmu.”Nada suaranya tenang, tapi ada tekanan di baliknya, peringatan yang ditujukan bukan untuk Emma, melainkan untuk siapa pun yang mendengar.Langkah kaki mendekat.Seorang perempuan dengan rambut oranye terang berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tajam, dagunya terangkat angkuh. Ia tidak melirik Emma, seolah keberadaan Emma terlalu rendah untuk diperhitungkan.“Raynard,” katanya dingin. “Kenapa
Edrick melangkah maju satu langkah. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka kembali menegang.“Kalian jangan senang dulu.”Raynard refleks merapatkan tubuh Emma ke sisinya. Emma menoleh, jantungnya kembali berdebar, firasat buruk menyelinap pelan.“Dua ini memang kalah,” lanjut Edrick datar, matanya menatap tubuh para pendeta yang terkapar. “Tapi kaum mereka belum habis.”Ia menoleh ke arah Raynard. Tatapannya tajam, bukan marah, lebih seperti peringatan.“Mereka tidak akan berhenti hanya karena gagal sekali. Mereka sudah tahu keberadaanmu. Sudah tahu manusia itu,” dagunya sedikit terangkat ke arah Emma, “adalah celah.”Emma menggenggam lengan Raynard lebih erat. “Mereka bisa ke dunia manusia lagi?”“Bukan bisa,” jawab Edrick pelan. “Mereka pasti akan mencoba.”Ia menghela napas pendek, seolah menimbang sesuatu yang tidak ingin ia ucapkan, namun harus.“Portal kalian bukan lagi rahasia. Jika satu pendeta bisa menembusnya, berarti ada metode. Dan metode
Raynard berdiri kaku. Untuk pertama kalinya, napasnya benar-benar goyah.Dua pendeta itu tertawa bersamaan, tawa pendek yang terdengar puas. Salah satunya melangkah setengah langkah maju, suaranya ringan seolah sedang menawar barang murah.“Tidak sulit,” katanya. “Serahkan esensi kehidupanmu. Hanya itu. Anak itu, ” ia melirik Oliver yang nyaris tak sadarkan diri, “akan kami lepaskan. Utuh.”Emma menggeleng keras. “Ray, jangan.”Raynard menutup mata sesaat. Bibirnya bergerak, hampir mengucapkan sesuatu. Cahaya biru di sekeliling tubuhnya bergetar tak stabil, seperti nyala api yang kehabisan udara.“Pilihan mulia,” ejek pendeta kedua. “Kau menyelamatkan bawahanmu. Dan dunia kami mendapat apa yang dibutuhkan.”Emma melangkah maju, namun kakinya terasa berat. Ia melihat keputusan itu hampir diambil dan itu membuat dadanya nyeri.Lalu udara berubah.Tekanan yang tak kasatmata menekan dari segala arah. Tanah bergetar halus, bukan karena ledakan, melainkan karena kehadiran. Api obor di sekit
“Maksudmu apa?” tanya Emma lirih, nyaris tak terdengar. “Apa maksudnya berpacu dengan waktu, Oliver?”Oliver menutup mata sesaat, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak seharusnya ia ucapkan. Ketika ia membukanya kembali, sorot matanya penuh kegelisahan.“Nona Emma,” katanya pelan namun tegas, “A
Oliver tak langsung menjawab, tangannya justru menggaruk kepala, matanya bergerak resah.Melihat keanehan itu, Raynard menoleh pada Emma, yang jelas terlihat kepo sekali mengenai hal ini. “Emma, habiskan makanannya. Aku ada perlu dengan Oliver.” Emma hanya mengedipkan mata beberapa kali, lalu fokus
“Siapa kamu?” geram Lee dengan muka merah padam, napasnya menderu dengan kedua tangan yang mengepal.Emma menelan ludah. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Ray, kenapa kamu di sini?”Raynard hanya tersenyum tipis. Setiap langkahnya menjadi pusat perhatian. Pria dengan wajah datar itu mendekat, sant
“Tolong ….”Emma ternganga, nyaris memuntahkan napasnya, dan detik berikutnya ia justru tersenyum pongah. Tetapi tidak pada Iris dan kubu-nya. Mereka diam, dengan wajah memucat.“Nona Iris, tolong.” Pria bertubuh kekar bersimpuh dengan tangan yang diborgol, di belakang beberapa polisi dan Frans ber







