INICIAR SESIÓNSudah memasuki hari kesepuluh sejak Satta mengenal sosok Allard. Hampir tiap hari dia datang berkunjung, dan seperti malam ini, gadis itu kembali membawakan makanan berupa kentang rebus dan satu botol minuman penghangat tubuh.
“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Satta saat duduk berhadapan dengan Allard. Pria itu memicingkan sebelah bibirnya. “Seperti yang kau lihat. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa.” Detik kemudian, gadis itu menyalakan lilin kecil yang sebgaja dia bawa dari istana. “Hei, kau terluka!” seru Satta saat melihat beberapa memar yang bercokol di area wajah Allard. Dengan penuh perhatian, Satta menangkup wajah tampan tersebut penuh hati-hari. Bersamaan dengan ity, kelopak matanya mulai memanas. “Kenapa mereka melakukan ini padamu, Tuan?” “Bukankah sudah pernah kukatakan, jangan panggil aku tuan. Kau tahu namaku. Panggil saja namaku.” Allard menatap dalam. Ada gelenyar hangat menelusup masuk dalam ulu hatinya. Tiba-tiba menarik kedua tangannya saat pandangan Allard berubah padanya. Pun wanita itu merasakan ada debaran yang sulit untuk dijabarkan. Entah kenapa, sejak ciuman pria itu, Satta sering merasa jika jantungnya berdetak tidak stabil. “Aku membawakan makan untukmu. Kau suka kentang rebus?” Dia mengalihkan perhatian Allard. Tidak! Allard bahkan tidak peduli dengan makanan yang tengah Satta hidangkan untuknya. Bukan itu yang pria itu inginkan. Pria itu kemudian mencekal lembut pergelangan tangan Satta. “Aku tidak lapar.” “K-kalau begitu, kau bisa memakannya besok pagi. Tenang saja, kentang ini sudah kumasak dengan waktu cukup lama, jadi … tidak mungkin cepat basi,” katanya dengan wajah sedikit menunjukkan rasa ketakutan. Sialnya, Satta bahkan tidka tahu jika rasa panik dan takutnya terhadap Allard justru memancing jiwa hewan yang bersarang dalam dirinya. Allard menarik tubuh Satta masuk dalam pelukannya. “Kau tahu siapa aku?” “A-apa maksudmu? J-jangan membuatku takut, A-Allard ….” “Rasa takut serta panikmu, hanya akan membuat suasana semakin memburuk. Aku bisa menggigitmu, Nona ….” bisik Allard di cuping telinga Satta, hingga membuat debaran dalam dada gadis itu semakin berpacu kencang. Dengan satu tarikan tangan, Allard berhasil mencium bibir tipis itu, begitu hangat dan lembut dia melumatnya, hingga Satta merasakan ada sebuah keinginan untuk membalas ciuman Allard. Entah sadar atau tidak, gadis itu pun betul-betul membalas ciuman Allard. Hingga membuat jiwa beastmen pemuda itu benar-benar keluar dari dalam tubuhnya. “Emh ….” Satta mendesah di tengah ciuman tersebut. Membuat kedua telinga rubah Allard naik turun seolah memberi tanda jika setelah adegan itu, dia akan menyuguhkan sesuatu yang lebih. Dengan gerakan yang cukup cepat, dan bibir masih terpagut, Allard membuka pakaiannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Satta mendorong sedikit tubuh Allard yang sudah tidak mengenakan apa pun. Sebetulnya tubuh Satta menangkap sinyal itu, bahkan jika boleh jujur gadis tersebut memiliki keinginan yang sama, merasa penasaran karena bentuk tubuh pria tersebut begitu sixpack meskipun bulu-bulu halus bercokol di setiap pori kulitnya. Namun, bentuk manusia dari Allard masih terlihat Sempurna di hadapan Satta. “Kau harus bisa mengendalikan hasratmu,” bisik Satta dengan suara menyeret. Allard menelan salivanya dengan susah payah. “Aku butuh pelepasan.” “Jangan, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya,” tolak Satta dengan wajah yang diselimuti rasa takut. Takut jika sesuatu yang tidak ia inginkan akan terjadi. “Apa kau pikir aku pernah melakukannya? Aku bahkan dikurung dalam ruangan ini lebih dari dua puluh tahun.” Suara Allard bergetar hebat. Hasrat yang membungkus dirinya tidak semudah itu untuk hilang. Kini sepuluh jari-jari Allard mencengkeram lengan Satta, membuat gadis itu merasa kembali ketakutan. Bukan merasa iba, rasa takut dalam diri Satta membuat keinginan Allard untuk bersenggama dengannya menjadi kian menggebu. Hanya dengan sekali tarikan, kini tubuh Satta berada di bawah kendali tubuh Allard. Pria itu menindihnya, menatap dalam kedua netra coklat milik pelayan tersebut. “Aku akan bertanggung jawab untuk segala sesuatu yang akan kulakukan padamu.” Netra Satta meremang, lalu terpejam, seolah pasrah dengan konsekuensi karena telah membuat naluri setengah hewan Allard bangkit.Angin malam berembus perlahan, membawa aroma kelopak bunga mawar dan melati yang tumbuh di taman bawah. Di dalam kamar yang tenang itu, Allard tidak langsung memejamkan mata. Ia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan sambil memperhatikan wajah Satta yang tampak bercahaya di bawah temaram lampu minyak. Waktu seolah melambat. Allard teringat hari-hari ketika ia hanya mengenal logam pedang dan derap kaki kuda. Ia ingat betapa dingin hatinya dulu, hingga wanita di depannya ini datang dan mencairkan segala kebekuan itu. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Satta bertanya dengan suara lirih, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Allard mengulurkan tangannya, membelai pipi Satta yang masih terasa selembut sutra. "Aku hanya sedang menghitung keberuntunganku, Elena. Jika dulu aku tidak memilih untuk membawamu bersamaku, mungkin hari ini aku hanyalah seorang raja tua yang kesepian di atas takhta berdarah." Satta membuka matanya, m
Sepuluh tahun telah berlalu sejak ekspedisi terakhir Allard ke perbatasan utara. Kini, Alderaan tidak lagi membutuhkan pedang yang terhunus untuk menjaga kedaulatannya. "Sang Gagak" yang dulu menjadi ancaman terakhir, akhirnya luruh bukan karena kekuatan zirah, melainkan karena pengikutnya yang satu demi satu meletakkan senjata, memilih untuk pulang ke rumah-rumah kayu yang hangat dan ladang gandum yang kuning keemasan yang disediakan oleh Sang Singa.Kedamaian di Alderaan bukan lagi sebuah jeda di antara dua perang, melainkan sebuah cara hidup yang mengakar.Cahaya matahari pagi yang lembut membasuh bukit di pinggiran ibu kota. Di sana, sebuah vila kayu yang sederhana namun elegan berdiri, jauh dari hiruk-pikuk urusan birokrasi istana yang kini telah diserahkan sebagian besar kepada Abraham.Allard berdiri di depan jendela besar, tangannya yang kini memiliki beberapa garis kerutan tambahan tetap terasa kuat saat ia menggenggam cangkir keramik berisi teh melati. Di hadapannya, hampara
Tujuh tahun telah berlalu sejak malam di mana api melahap menara tinggi Alderaan dan darah Zehewa meresap ke bumi. Alderaan yang sekarang bukan lagi sekadar kerajaan yang pulih, melainkan sebuah simfoni kemakmuran yang dibangun dari abu. Istana baru telah berdiri—tidak lagi angkuh dan terisolasi seperti benteng lama, melainkan lebih terbuka, dengan taman-taman yang menghubungkan kediaman raja langsung dengan alun-alun rakyat, melambangkan filosofi Allard: raja adalah akar, dan rakyat adalah daunnya.Di tengah taman istana, pohon *Ginkgo* yang legendaris itu masih berdiri. Meskipun separuh batangnya memiliki bekas luka bakar permanen, daun-daunnya tumbuh lebih rimbun dan lebih kuning keemasan daripada sebelumnya. Pohon itu menjadi saksi bisu dari dua pangeran yang kini sedang berlatih tanding di bawah naungannya.Abraham, yang kini berusia dua belas tahun, telah tumbuh menjadi pemuda yang ramping namun berotot, dengan ketenangan seorang jenderal. Sementara itu, Ares, si "anak api" yang
Asap hitam membumbung tinggi, mencabik langit malam Alderaan yang kini berwarna merah kesumat. Di tengah taman yang biasanya menjadi tempat ketenangan, kini berubah menjadi teater maut. Allard berdiri kokoh, kakinya berpijak pada bumi yang bergetar akibat rentetan ledakan di menara mesiu. Darah pengkhianat mengalir di sepanjang bilah pedang peraknya, menetes pelan ke atas rumput yang menghitam karena abu.Di belakangnya, perjuangan hidup dan mati yang berbeda sedang berlangsung. Satta terbaring di atas hamparan kain darurat di bawah perlindungan akar pohon Ginkgo yang agung. Erangannya memecah suara denting senjata. Para bidan bekerja dengan tangan gemetar, mencoba membawa sebuah nyawa ke dunia di saat kematian sedang menari-nari di sekeliling mereka."Satu dorongan lagi, Yang Mulia! Bertahanlah!" suara bidan itu tenggelam dalam dentuman reruntuhan istana.Allard tidak menoleh. Ia tidak boleh menoleh. Di depannya, dari balik kabut asap, sosok yang seharusnya sudah habis ditelan api mu
Ketegangan di Alderaan merambat seperti kabut beracun yang tak terlihat. Bulan ketujuh kehamilan Satta ditandai dengan perubahan atmosfer yang drastis. Langit yang biasanya cerah kini sering tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah alam pun merasakan ada sesuatu yang busuk sedang merayap di bawah kaki mereka.Di dalam kamar utama, Satta terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi lehernya. Ia menoleh ke samping, melihat Allard yang masih terlelap, namun tangan pria itu tetap menggenggam jemari Satta, bahkan dalam tidurnya. Firasat Satta semakin kuat; bukan lagi sekadar rasa mual, melainkan perasaan diawasi yang amat nyata."Allard..." bisiknya lirih.Sang Singa terjaga seketika. Mata birunya yang tajam langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang. Insting perangnya, yang selama lima tahun ini sempat tumpul oleh kedamaian, mendadak bangkit kembali. "Ada apa, Elena? Apa perutmu sakit?""Bukan... tapi rasanya ada sesuatu di sini. Di bawah kita," Satta men
Berita tentang kehamilan Sang Ratu mengalir seperti air bah yang menjebol bendungan, tak terbendung meski Allard telah mencoba menutup rapat pintu-pintu rahasia istana. Dari bisik-bisik para pelayan di dapur, hingga obrolan para pedagang di pasar utama Alderaan, kabar itu menjadi simbol harapan baru. Namun, getaran kegembiraan itu merambat jauh ke bawah, menembus lapisan lantai marmer istana, melewati dinding-dinding batu yang lembap, hingga mencapai kegelapan yang paling pekat: penjara bawah tanah terdalam yang dikenal sebagai Lubang Penyesalan.Di sana, di dalam sel yang hanya diterangi oleh remang lampu minyak yang hampir padam, Zehewa duduk bersandar pada dinding yang berlumut. Rambutnya yang dulu tertata rapi kini kusut masai, menutupi wajahnya yang pucat dan tirus. Rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya berdenting setiap kali ia bergerak, menciptakan suara parau yang menjadi satu-satunya musik di dunianya.Sudah lima tahun ia membusuk di sini. Lima tahun ia men
Lembah Valeria yang biasanya dilingkupi kedamaian musim gugur mendadak berubah mencekam. Kabar tentang pernikahan Satta dan sang tabib Jhonatan ternyata tidak hanya berhenti di telinga para penduduk desa. Melalui jaringan mata-mata yang selama ini memantau dari kegelapan, berita itu terbang secepat
Kabut tipis menyelimuti Lembah Valeria saat fajar menyingsing, namun suasana di kedai kopi pusat desa terasa lebih panas dari biasanya. Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bernama Silas—yang ladangnya berbatasan langsung dengan kebun anggur Jhonatan—sedang berbisik dengan nada penuh selidik k
Angin musim gugur di Lembah Valeria kini berembus lebih kencang, membawa aroma tanah basah dan fermentasi buah anggur yang mulai matang. Di balik dinding kayu pondok yang hangat, surat dari Allard masih tergeletak di atas meja, seolah-olah kertas kecil itu memiliki berat ribuan ton yang menekan atm
Musim gugur mulai mewarnai lembah Valeria dengan rona jingga dan cokelat kemerahan. Lima bulan telah berlalu sejak derap kaki kuda Raja Allard menghilang di balik kabut fajar. Kehidupan di pondok tepi kebun anggur itu kembali tenang, setidaknya di permukaan. Anak laki-laki Satta, yang ia beri nama







