مشاركة

BAB 6

مؤلف: Jw Hasya
last update تاريخ النشر: 2026-03-18 05:16:46

Sudah memasuki hari kesepuluh sejak Satta mengenal sosok Allard. Hampir tiap hari dia datang berkunjung, dan seperti malam ini, gadis itu kembali membawakan makanan berupa kentang rebus dan satu botol minuman penghangat tubuh.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Satta saat duduk berhadapan dengan Allard.

Pria itu memicingkan sebelah bibirnya. “Seperti yang kau lihat. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa.”

Detik kemudian, gadis itu menyalakan lilin kecil yang sebgaja dia bawa dari istana.

“Hei, kau terluka!” seru Satta saat melihat beberapa memar yang bercokol di area wajah Allard.

Dengan penuh perhatian, Satta menangkup wajah tampan tersebut penuh hati-hari. Bersamaan dengan ity, kelopak matanya mulai memanas. “Kenapa mereka melakukan ini padamu, Tuan?”

“Bukankah sudah pernah kukatakan, jangan panggil aku tuan. Kau tahu namaku. Panggil saja namaku.” Allard menatap dalam. Ada gelenyar hangat menelusup masuk dalam ulu hatinya.

Tiba-tiba menarik kedua tangannya saat pandangan Allard berubah padanya. Pun wanita itu merasakan ada debaran yang sulit untuk dijabarkan. Entah kenapa, sejak ciuman pria itu, Satta sering merasa jika jantungnya berdetak tidak stabil.

“Aku membawakan makan untukmu. Kau suka kentang rebus?” Dia mengalihkan perhatian Allard.

Tidak! Allard bahkan tidak peduli dengan makanan yang tengah Satta hidangkan untuknya. Bukan itu yang pria itu inginkan.

Pria itu kemudian mencekal lembut pergelangan tangan Satta. “Aku tidak lapar.”

“K-kalau begitu, kau bisa memakannya besok pagi. Tenang saja, kentang ini sudah kumasak dengan waktu cukup lama, jadi … tidak mungkin cepat basi,” katanya dengan wajah sedikit menunjukkan rasa ketakutan.

Sialnya, Satta bahkan tidka tahu jika rasa panik dan takutnya terhadap Allard justru memancing jiwa hewan yang bersarang dalam dirinya.

Allard menarik tubuh Satta masuk dalam pelukannya. “Kau tahu siapa aku?”

“A-apa maksudmu? J-jangan membuatku takut, A-Allard ….”

“Rasa takut serta panikmu, hanya akan membuat suasana semakin memburuk. Aku bisa menggigitmu, Nona ….” bisik Allard di cuping telinga Satta, hingga membuat debaran dalam dada gadis itu semakin berpacu kencang.

Dengan satu tarikan tangan, Allard berhasil mencium bibir tipis itu, begitu hangat dan lembut dia melumatnya, hingga Satta merasakan ada sebuah keinginan untuk membalas ciuman Allard.

Entah sadar atau tidak, gadis itu pun betul-betul membalas ciuman Allard. Hingga membuat jiwa beastmen pemuda itu benar-benar keluar dari dalam tubuhnya.

“Emh ….” Satta mendesah di tengah ciuman tersebut. Membuat kedua telinga rubah Allard naik turun seolah memberi tanda jika setelah adegan itu, dia akan menyuguhkan sesuatu yang lebih.

Dengan gerakan yang cukup cepat, dan bibir masih terpagut, Allard membuka pakaiannya dengan kecepatan di atas rata-rata.

Satta mendorong sedikit tubuh Allard yang sudah tidak mengenakan apa pun. Sebetulnya tubuh Satta menangkap sinyal itu, bahkan jika boleh jujur gadis tersebut memiliki keinginan yang sama, merasa penasaran karena bentuk tubuh pria tersebut begitu sixpack meskipun bulu-bulu halus bercokol di setiap pori kulitnya. Namun, bentuk manusia dari Allard masih terlihat Sempurna di hadapan Satta.

“Kau harus bisa mengendalikan hasratmu,” bisik Satta dengan suara menyeret.

Allard menelan salivanya dengan susah payah. “Aku butuh pelepasan.”

“Jangan, aku belum pernah melakukan ini sebelumnya,” tolak Satta dengan wajah yang diselimuti rasa takut. Takut jika sesuatu yang tidak ia inginkan akan terjadi.

“Apa kau pikir aku pernah melakukannya? Aku bahkan dikurung dalam ruangan ini lebih dari dua puluh tahun.” Suara Allard bergetar hebat. Hasrat yang membungkus dirinya tidak semudah itu untuk hilang.

Kini sepuluh jari-jari Allard mencengkeram lengan Satta, membuat gadis itu merasa kembali ketakutan.

Bukan merasa iba, rasa takut dalam diri Satta membuat keinginan Allard untuk bersenggama dengannya menjadi kian menggebu.

Hanya dengan sekali tarikan, kini tubuh Satta berada di bawah kendali tubuh Allard. Pria itu menindihnya, menatap dalam kedua netra coklat milik pelayan tersebut. “Aku akan bertanggung jawab untuk segala sesuatu yang akan kulakukan padamu.”

Netra Satta meremang, lalu terpejam, seolah pasrah dengan konsekuensi karena telah membuat naluri setengah hewan Allard bangkit.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Iin Huang
Allard seperti ny udh pengen banget itu
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 9

    Udara di ruang bawah tanah kembali terasa sejuk dan lembab setelah sedikit angin fajar masuk menyelinap melalui celah-celah kecil. Semalam, Satta memutuskan untuk tidur dalam gudang bersama Allard. Entah kenapa, wanita itu sebegitu pedukinya dengan pria yang baru saja dikenal tersebut. Hampir semalaman, Satta tidak memejamkan mata. Bahkan, kedua skleranya masih tampak begitu merah karena menangis.“Aku akan kembali ke istana sebentar lagi, Allard,” katanya sambil menyingsingkan senyum. “Jangan khawatir, aku akan berusaha mencari cara agar kau bisa keluar dari sini,” sambungnya dengan nada menjanjikan, sambil menutup erat pintu gudang tua yang berdebu.Hanya beberapa menit setelah kepergian Satta, suara langkah kaki yang berat terdengar menggema di lorong sempit. Pintu besi yang kusam terbuka dengan keras, menyinari ruangan dengan cahaya pagi yang tipis. Di sana berdiri Kaisar Alderaan—wajahnya bersungut-sungut, sama seperti Allard hany

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 8

    Sejak kejadian tiga malam lalu, hingga saat ini Satta memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi Allard. Di samping dia takut, di sini lain gadis itu malu karena tubuhnya tidak sedikit pun menolak segala permainan yang Allard suguhkan. “Besok pagi akan diadakan upacara mahkota untuk Tuan Putri Zehewa. Jadi … hari ini tidak ada kata istirahat untuk kita semua.” Dora berujar di dalam ruang dapur khusus. Mendengar kata-kata tersebut, Satta teringat dengan sosok yang terkurung di dalam ruang bawah tanah—Allard. Masih ingat betul dengan kata-kata Permaisuri saat perempuan paruh baya itu mengunjungi Allard. “Dora, boleh aku izin ke luar sebentar? Ada yang harus kubeli.”Dora mengernyit. “Beberapa hari ini kau sedikit kurang fokus bekerja, Satta. Apa ada yang tengah kau sembunyikan dariku?” katanya sambil menatap Satta penuh curiga. Satta menggeleng. “Tidak, Dora. Aku sedang ingin membeli sesuatu untuk Tuan Putri Zehewa. Karena selama ini dia selalu baik padaku.”“Ah, kau benar sekali. Aku

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 7 ❤️‍🔥

    Pria itu mulai meraba paha mulus Satta yang dibalut dengan sebuah stocking berwarna senada dengan kulitnya, lalu melurutkannya ke bawah. Sentuhan sintal yang dilakukan Allard membuat bulu badan gadis itu meremang. “Ehm ….” desah Satta. Sejurus kemudian, pria itu menyingkap rok bagian bawah ke atas, sehingga menampilkan paha mulus dengan sebuah segitiga yang masih terbungkus kain berwarna merah menyala. Membuat hasrat liar sang beastmen tersebut semakin menggebu. “Kau mau apa?” Suara Satta lirih, bergetar dan … seperti sedang menahan sesuatu. Allard merasakan getaran yang datang dari tubuh Satta di bawahnya, dan meskipun hasratnya begitu besar, sesuatu di dalam diri Allard menghentikannya sebelum melangkah lebih jauh. Jari-jarinya yang semula mulai menjelajahi area yang begitu sensitif tiba-tiba berhenti, lalu perlahan-lahan merayap ke atas hingga berada di bagian perut. Lalu menyentuh dada gadis itu dengan sentuhan yang jauh lebih lembut."Aku tidak akan menyakitimu ... tidak aka

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 6

    Sudah memasuki hari kesepuluh sejak Satta mengenal sosok Allard. Hampir tiap hari dia datang berkunjung, dan seperti malam ini, gadis itu kembali membawakan makanan berupa kentang rebus dan satu botol minuman penghangat tubuh. “Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Satta saat duduk berhadapan dengan Allard. Pria itu memicingkan sebelah bibirnya. “Seperti yang kau lihat. Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa.”Detik kemudian, gadis itu menyalakan lilin kecil yang sebgaja dia bawa dari istana. “Hei, kau terluka!” seru Satta saat melihat beberapa memar yang bercokol di area wajah Allard. Dengan penuh perhatian, Satta menangkup wajah tampan tersebut penuh hati-hari. Bersamaan dengan ity, kelopak matanya mulai memanas. “Kenapa mereka melakukan ini padamu, Tuan?”“Bukankah sudah pernah kukatakan, jangan panggil aku tuan. Kau tahu namaku. Panggil saja namaku.” Allard menatap dalam. Ada gelenyar hangat menelusup masuk dalam ulu hatinya. Tiba-tiba menarik kedua tangannya saat pandangan Alla

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 5

    Dan jangan panggil aku tuan!” Kata-katanya terdengar berat. Sejurus kemudian, Allard menggenggam jemari Satta, merenggangkan kedua tangannya di atas lantai, lalu tanpa aba-aba pria itu mencium bibir Satta. Sontak Satta terkejut dibuatnya, kedua bola mata gadis itu terbuka perlahan, ia menemukan sorot mata merah crimson milik Allard yang memandangi wajahnya, sedangkan bibirnya masih melumat habis bibir kenyal miliknya. Entah kenapa, sentuhan pria itu membuatnya dimabuk kepayang, hingga tanpa sadar Satta mulai memegang bagian lengan Allard yang begitu kekar ditumbuhi bulu-bulu halus bercorak kuning keemasan. Allard menghentikan ciaumannya, sebelum akhirnya pria itu bersuara. “Sebaiknya kau keluar dari sini secepat mungkin, sebelum sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi!”Satta mengangguk patuh. Sejurus kemudian gadis itu berjalan menuju pintu besi. Dan sialnya, pintu tersebut terkunci dari luar ruangan. “Cepat pergi!” sergah Allard “Apa kau pikir aku ingin terkurung di sini? Aku

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 4

    Sore ini, Satta bertugas memasak untuk Kaisar serta Permaisuri. Di saat kedua tangannya begitu piawai memainkan gagang pisau, tiba-tiba pikirannya melambung pada sosok Allard. Sejurus kemudian, gadis itu melihat ke segala penjuru ruangan. Tidak ada orang selain dirinya. Gadis itu kemudian dengan sedikit tergesa memasukkan satu potong roti gandung ke dalam saku rok berbentuk payung yang dikenakannya. “Rasanya dia tidak akan kenyang jika hanya makan roti ini saja,” gerutu Satta. “Baiklah, nanti akan aku sisihkan masakanku untuk pria itu,” imbuh Satta sambil merajang beberapa bawang. “Satta, setelah selesai masak, kau bersihkan halaman belakang.” Dora, salah satu pelayan yang lebih senior darinya memerintah.Satta mengangguk pelan, membersihkan halaman belakang? Itu sama halnya gadis tersebut akan memiliki cukup waktu untuk kembali menemui Allard. Usai memasak, Satta segera meraih sapu serta pengki yang berada di bawah pohon rindang. Sebelumnya, gadis itu juga membawa ember yang te

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status