LOGINDan jangan panggil aku tuan!” Kata-katanya terdengar berat.
Sejurus kemudian, Allard menggenggam jemari Satta, merenggangkan kedua tangannya di atas lantai, lalu tanpa aba-aba pria itu mencium bibir Satta. Sontak Satta terkejut dibuatnya, kedua bola mata gadis itu terbuka perlahan, ia menemukan sorot mata merah crimson milik Allard yang memandangi wajahnya, sedangkan bibirnya masih melumat habis bibir kenyal miliknya. Entah kenapa, sentuhan pria itu membuatnya dimabuk kepayang, hingga tanpa sadar Satta mulai memegang bagian lengan Allard yang begitu kekar ditumbuhi bulu-bulu halus bercorak kuning keemasan. Allard menghentikan ciaumannya, sebelum akhirnya pria itu bersuara. “Sebaiknya kau keluar dari sini secepat mungkin, sebelum sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi!” Satta mengangguk patuh. Sejurus kemudian gadis itu berjalan menuju pintu besi. Dan sialnya, pintu tersebut terkunci dari luar ruangan. “Cepat pergi!” sergah Allard “Apa kau pikir aku ingin terkurung di sini? Aku juga ingin segera pergi. Tapi kau tahu sendiri jika pintu utama ini dikunci dari luar?!” Satta mencoba menggeser pintu tersebut. Allard memandang pintu besi itu tanpa berkedip. Kemudian, dia berujar kembali. “Tidak ada waktu untuk bercanda. Sebaiknya kau cepat-cepat pergi dari tempat ini, jika tidak ingin menyesal. Kalau bisa … jangan pernah lagi muncul dihadapanku, paham?!” “Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” “Pergi!” sergahnya memekik. Setelah berujar demikian, Satta melangkah menuju pintu yang memang sudah tidak lagi terkunci. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Allard. Namun, kondisi kali ini tidak memungkinkan, terlebih Allard sedang tidak baik-baik saja. *** Pagi menyibak, aroma embun pagi masih menyelimuti istana Alderaan yang begitu megah dan penuh kehangatan. Dengan langkah tergesa, Satta segera memasuki ruang dapur untuk kembali mengerjakan pekerjaannya. “Kau dari mana saja semalam? Ibu mencarimu kemana-mana tapi kau tidak ada. Katakan pada ibu, kau kemana?!” Maria menghampiri Satta yang tengah duduk disebuah kursi meja makan khusus pelayan. Satta mencoba untuk menghalau perasaannya yang sedikit panik. “Aku tidak kemana-mana, Bu. Setelah merapikan halaman belakang gudang, aku langsung masuk dalam kamar dan tidur,” dusta Satta. Maria tersenyum picing. “Jangan bohong, Satta. Aku ini ibumu!” Satta bergeming. “Sebaiknya kau jangan pernah lagi main ke belakang gudang tua itu. Karena Kaisar serta Permaisuri pernah meminta pada setiap pelayan agar tidak bersinggungan dengan tempat itu.” “Aku disuruh Dora untuk menyapu halaman belakang. Karena kulihat gudang kosong itu terlalu penuh ditumbuhi rumput, jadi aku memutuskan untuk membersihkannya juga, karena hal itu aku terlambat masuk.” “Bukankah urusanmu hanya memasak? Jangan pernah mau jika Dora kembali menyuruhmu. Paham?!” Satta mengangguk. Baru juga dia mengenal sosok Allard, tapi hidupnya terasa seperti mendadak jungkir balik. Sialnya, rasa penasaran terhadap pria misterius itu terlalu mendominasi hingga Satta tidak punya alasan kuat untuk tidak lagi menemuinya. Mungkin dia akan membongkar segalanya nanti. Entahlah. *** “Bu, apa kau tahu tentang sesuatu yang mungkin pernah dirahasiakan di dalam istana ini?” Malam ini Satta memutuskan untuk tidak mengunjungi Allard. Pria itu juga masih menyimpan roti gandum darinya. Rasanya aman jika malam ini dia tidak datang. “Rahasia apa?” Satta mengedikkan pundaknya. “Apa saja.” “Tidak ada.” Maria menggeleng sambil mencoba untuk menginga sesuatu. “Semua berjalan dengan baik. Kaisar selalu mempercayakan segala sesuatu di dalam istana kepada para pelayan dan pengawal. “Sungguh? Bagaimana dengan Permaisuri? Kau bahkan tahu jika beliau sering sekali berlaku kurang adil.” “Ssst! Kau ini! Jaga ucapanmu, jika sampai terdengar orang lain. Bisa matilah kau!” “Maaf … tapi aku merasa tengah ada sesuatu yang dirahasiakan. Rahasia besar di dalam istana ini,” ujarnya dengan nada serius. “Satta, cukup! Kita ini hanya seorang pelayan, tidak pantas jika harus mencampuri urusan di dalam istana yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hidup kita!”Waktu berjalan lambat di Istana Alderaan. Sejak kepergian Satta seminggu yang lalu, kemegahan istana itu seolah terkikis, digantikan oleh aura dingin yang mencekam. Kamar utama yang biasanya hangat kini tak ubahnya sebuah makam megah tanpa kehidupan.Di atas ranjang besar berkelambu sutra, Allard terbaring lemah. Wajahnya yang biasa tegas dan angkuh kini pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang menebal. Tubuhnya yang gagah tampak menyusut. Di atas meja kayu di sudut ruangan, nampan berisi bubur gandum dan sup ayam berkeul asap yang sudah mendingin sama sekali tidak disentuh.Pintu kamar terbuka perlahan. Ratu Helena melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat. Gaun kebesarannya terasa terlalu megah untuk menutupi kesedihan yang menggelayuti wajahnya. Melihat putranya yang perkasa kini luruh tak berdaya, dada Helena berdenyut nyeri."Allard," panggil Helena lembut, menyentuh dahi putranya. Panasnya masih tinggi. "Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu seperti ini? Makanl
Aroma tanah basah dan daun-daun teh liar menyeruak di dalam gubuk kayu yang sederhana itu. Satta perlahan membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah. Pandangannya buram, namun ia bisa merasakan seberkas cahaya matahari pagi menembus celah-celah anyaman bambu, menerangi ruangan asing tempatnya berbaring."Ah, kau sudah sadar, Nak? Jangan banyak bergerak dulu," sebuah suara parau yang lembut menyapa pendengarannya.Satta menoleh. Seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan pakaian kain kasar sedang duduk di samping tempat tidurnya, sibuk memeras kain basah ke dalam mangkuk kayu."Aku ... aku di mana?" bisik Satta, suaranya parau dan kering. Ia mencoba bangkit, namun rasa pening yang hebat langsung menghantam kepalanya, membuatnya kembali terjatuh ke bantal jerami."Kau aman. Ini Desa tirta, sebuah desa kecil di kaki lembah, sangat jauh dari keramaian Kota Alderaan," jawab pria tua itu sambil tersenyum menenangkan. "Para warga menemukanmu pingsan di dekat sungai seminggu yan
Satta sedang duduk di sebuah bangku taman yang terletak di bagian sayap kanan istana. Pandangannya menerawang, sesuatu tengah membuat dirinya sedikit murung. “Ada apa, Satta. Kenapa ibu lihat kau begitu lelah.” Maria menghampiri sang putri, mencoba menelisik dari sudut penglihatan paling dalam. Satta menoleh, menyeret napasnya yang begitu berat. “Aku tidak bisa hidup dengan orang yang selalu menyimpan dendam, Bu.” “Maksudmu?” “Allard.” Wanita menoleh sebelum melanjutkan kata-katanya. “Hampir setiap harindan setiap malam, dia selalu memikirkan strategi untuk membalas dendam pada siapa saja yang telah membuat hidupnya dulu sangat buruk. Satta takut, karena sikapnya itu, Allard akan kembali menjadi manusia rubah.” Maria menghelan napas panjang. “Nanti ibu akan coba bicara dengannya, atau kungkin dengan Ratu Helena.” “Tidak perlu, Bu. Karena hanya akan percuma.” “Lalu? Kau akan membiarkannya?” “Satta akan pergi. Mungkin dengan kepergianku nanti, dia akan berubah.” “Pergi? Ke ma
Allard tidak berhenti melangkah. Sepatu botnya menghantam lantai batu dengan irama yang kaku, seolah setiap langkah adalah usaha untuk menekan gemuruh di dalam dadanya. Lorong penjara bawah tanah itu panjang dan sempit, diterangi oleh obor-obor dinding yang apinya menari liar tertiup angin dingin dari celah ventilasi.Helena berjalan di sampingnya, nyaris tanpa suara. Gaun suteranya yang berwarna pucat tampak kontras dengan kegelapan di sekeliling mereka. Wajahnya tetap tenang, namun kerutan halus di keningnya mengisyaratkan kekhawatiran yang mendalam.“Membalas rasa sakit dengan rasa sakit yang sama tidak akan menyembuhkan lukamu, Allard,” suara Helena lembut, namun bergema di dinding-dinding lembap itu. “Kau memberinya kegelapan yang kau rasakan dulu, tapi kau lupa bahwa kegelapan itu jugalah yang memberi makan monster di dalam dirimu.”Allard mendengus sinis, tawa pendek yang pahit keluar dari tenggorokannya. “Ibu selalu bicara tentang kesucian jiwa. Tapi di luar sana, di atas takh
“Kau terlalu ceroboh, Adikku,” ujar Allard suara beratnya bergema, meredam suara petir di luar. “Allard, kau—““Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu.” Dia mendesah berat, sebelum kembali bersuara. “Kau salah mencari musuh. Seharusnya kau bisa menikmati semua ini, tapi rupanya … kau lebih memilih untuk membangunkan sisi gelap dari hidupku.”Zehewa mundur beberapa langkah hingga tubuhnya terbentur meja kecil. “A-apa maksudmu?”Allard menyeringai, sebuah ekspresi yang jauh dari kata ramah. Cahaya kilat dari jendela besar di aula itu menyambar, menyinari separuh wajahnya dan memberikan kesan seolah-olah bayangan di belakangnya bergerak mengikuti ritme emosinya yang memuncak.“Kau bertanya apa maksudku?” Allard melangkah maju. Setiap derap sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi Zehewa. “Maksudku adalah, kesabaran memiliki batas, Zehewa. Dan kau baru saja melompati batas itu dengan kaki telanjang.”Zehewa mencoba meraih benda apa pun di atas meja kecil di
Dendam yang mengalir dalam darah Zehewa telah mencapai puncak. Gadis yang belumnya dino atkan sebagai putri mahkota itu saat ini seakan tersingkir—semua bermula dari tewasnya sang ibu—Viona di tangan Allard. “Jika aku tidak bisa duduk di atas singgah sana yang seharusnya, jangan pernah bermimpi hidupmu akan baik-baik saja, Allard. Aku bersumpah demi dendam ibuku, aku akan menebas lehermu sendiri.” Gadis itu mengepal erat di dalam kamarnya. Wajahnya pasi, gemeletuk giginya terdengar sedikit memekakkan telinga. Sepeninggal Viona, Zehewa telah mengatur strategi untuk membuat tahta sang kakak tirimya hancur. Namun, siapa sangka, segala apa yang diatur sedemikian rupa, rupanya telah sampai di telinga Allard. “Ibu harap kau tidak bersikap terlalu kasar padanya. Karena bagaimana pun juga, dia masih adikmu, Allard.” Permaisuri Helena mendatangi Allard di ruang perpustakaan. “Tapi, ibu … karena Viona, ibu hampir tidak menghirup udara segar!”“Tapi dia sudah kau bunuh, Nak. Apa lagi yang in
“Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na
Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters
Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada
Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p







