Home / Fantasi / Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha / Bab 2 Ikatan Darah Alpha

Share

Bab 2 Ikatan Darah Alpha

Author: Yukari
last update publish date: 2026-03-17 11:23:26

Lyra tersentak. Ia segera menarik tangannya saat otot dada pria itu mengencang di bawah sentuhannya, seolah bereaksi terhadap kontak kulit yang tidak disengaja. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena kelelahan menyeret tubuh berat itu, melainkan karena kesadaran yang mulai merayap perlahan: ia sedang merawat sesuatu yang mungkin bukan manusia.

Api di perapian berderak pelan, memantulkan cahaya keemasan yang menari di dinding kayu pondoknya. Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan suara tetesan air dari atap yang terdengar ritmis di tengah kesunyian hutan Black Hollow.

Lyra duduk di kursi kayu kecil di samping ranjang, matanya tak lepas dari wajah pria itu. Napas pria itu kini berubah, tidak lagi berat dan tersengal, melainkan menjadi lebih dalam dan teratur.

Tiba-tiba, kelopak mata pria itu terangkat.

Tidak ada ekspresi bingung atau linglung. Saat kepalanya menoleh, sepasang mata dengan iris yang berkilat keemasan langsung mengunci tatapan Lyra. Cahaya itu menembus remang ruangan, tajam dan sangat waspada.

Lyra menelan ludah, jarinya meremas kain celemeknya yang basah. "Aku... aku membawamu ke sini karena kau pingsan di hutan," suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha tetap tegak. "Luka-lukamu sangat parah."

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Lyra, menyusuri wajahnya dengan intensitas yang membuat kulit tengkuk Lyra meremang. Tatapannya turun ke perban yang melilit bahunya, lalu kembali ke mata Lyra.

Dengan gerakan yang sangat terkontrol, pria itu bertumpu pada sikunya dan mengangkat tubuhnya. Pergerakan itu membuat otot-otot bidangnya menegang, dan Lyra bisa melihat noda merah di perban itu tidak bertambah lebar. Sebaliknya, hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu terasa semakin kuat.

"Kau seharusnya lari," suara pria itu rendah dan berat, seperti guntur yang tertahan di tenggorokan.

"Jika aku lari, kau akan mati kehabisan darah di lumpur," balas Lyra, mencoba mencari keberanian di balik rasa takutnya.

Pria itu mendengus kecil, sebuah bunyi yang lebih mirip geraman rendah. "Manusia kecil yang keras kepala." Ia mencoba duduk tegak, dan saat itulah Lyra menyadari betapa dominannya kehadiran pria ini. Pondoknya yang mungil terasa semakin sempit.

"Siapa namamu?" tanya pria itu tiba-tiba.

"Lyra."

"Lyra..." pria itu mengulanginya, seolah mencicipi nama itu di lidahnya. "Aku Kael."

Tepat saat nama itu terucap, telinga Kael bergerak sedikit. Ekspresinya yang semula tenang namun tajam berubah drastis menjadi sangat waspada. Ia memiringkan kepala, mendengarkan sesuatu yang belum bisa ditangkap oleh indra manusia Lyra.

"Mereka datang," desis Kael.

"Siapa?" Lyra ikut menegang.

"Pemburu. Mereka yang mencabikku di hutan tadi." Kael berusaha turun dari ranjang, namun tubuhnya masih sedikit terhuyung. Ia mencengkeram bahu Lyra untuk menyeimbangkan diri. Sentuhan itu terasa seperti besi panas yang menempel di kulit Lyra.

Tiba-tiba, suara lolongan panjang pecah di kejauhan, memecah kesunyian malam. Itu bukan suara serigala biasa. Suaranya lebih tinggi, penuh dengan kebencian yang haus darah. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah-langkah kaki yang berat menghantam tanah basah di luar pondok.

Brak!

Pintu pondok kayu itu bergetar hebat akibat hantaman dari luar.

"Kael Draven! Kami tahu kau di dalam!" sebuah suara kasar berteriak dari balik pintu. "Serahkan dirimu, atau kami ratakan gubuk ini!"

Wajah Kael mengeras. Ia menoleh pada Lyra, dan dalam cahaya api yang meredup, Lyra melihat pupil pria itu menyempit lagi menjadi garis vertikal yang liar.

"Dengarkan aku, Lyra," Kael mencengkeram kedua bahu Lyra, memaksanya untuk fokus. "Mereka tidak akan membiarkanmu hidup hanya karena kau manusia biasa. Bagi mereka, kau adalah saksi. Kau akan mati dalam hitungan menit jika mereka berhasil masuk."

"Lalu apa yang harus kulakukan?" napas Lyra memburu, panik mulai menguasainya.

"Hanya ada satu cara agar kaumku, yang juga sedang menuju ke sini, bisa mengenalimu sebagai bagian dari perlindunganku. Agar darahmu tidak tercium sebagai mangsa, melainkan sebagai pasangan seorang Alpha."

Kael menarik napas tajam. Di luar, suara kapak mulai menghantam pintu kayu pondok. Keripik kayu mulai beterbangan.

"Kau harus menerima darahku," kata Kael lugas. "Ikatan Darah Alpha. Ini adalah perjanjian kuno. Kau akan terikat padaku, dan aku akan memiliki kewajiban mutlak untuk menjagamu."

Lyra tertegun. Ia melihat ke arah pintu yang hampir jebol, lalu kembali ke mata emas Kael yang berkilat penuh urgensi. Tidak ada waktu untuk bertanya tentang legenda atau logika.

"Lakukan," bisik Lyra.

Kael tidak membuang waktu. Ia mengangkat tangan kanannya, dan dengan gigi taring yang tiba-tiba memanjang dan berkilat, ia merobek pergelangan tangannya sendiri. Darah yang keluar tidak berwarna merah terang, melainkan merah gelap yang pekat dengan semburat keemasan yang aneh.

"Minum," perintahnya.

Lyra ragu sesaat, namun saat kapak musuh berhasil melubangi pintu, ia menarik napas panjang dan menempelkan bibirnya pada luka di pergelangan tangan Kael.

Rasa darah itu bukan amis logam seperti darah manusia. Rasanya panas, seperti menelan cairan api yang langsung menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Lyra terbatuk kecil, namun Kael menahan kepalanya, memastikan ikatan itu terbentuk sempurna.

Seketika, sebuah sensasi ledakan energi menghantam dada Lyra. Jantungnya berdegup dengan ritme yang sama dengan jantung Kael. Penglihatannya menjadi luar biasa tajam, ia bisa melihat debu yang beterbangan di udara dan mendengar detak jantung para pengepung di luar.

Di leher Lyra, tepat di bawah garis rahang, muncul tanda kemerahan yang berdenyut panas, seolah-olah sebuah stempel besi panas baru saja ditekankan di sana.

"Sekarang kau milikku," bisik Kael, suaranya kini terdengar sangat protektif dan penuh kuasa.

Pintu pondok itu akhirnya hancur berantakan. Tiga pria besar dengan pakaian hitam dan wajah penuh bekas luka menyerbu masuk, membawa pedang perak yang berkilat. Namun, mereka berhenti mendadak.

Mereka tidak lagi melihat pria lemah yang sekarat.

Kael berdiri tegak di depan Lyra, auranya meledak keluar memenuhi ruangan. Hawa dingin dari luar seolah membeku saat menyentuh panas yang memancar dari tubuh Kael. Namun yang membuat para pemburu itu mundur ketakutan adalah aroma di ruangan itu.

Aroma Lyra kini telah berubah. Ia tidak lagi berbau seperti manusia biasa. Tubuhnya memancarkan aroma hutan pinus dan kekuasaan, aroma yang sama dengan Kael Draven.

"Alpha..." salah satu pemburu bergumam dengan wajah pucat.

"Dia... dia sudah menandai manusia itu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 103 Gairah di Balik Kabut Beracun

    Kabut ungu beracun yang dilepaskan Selena memenuhi seluruh ruangan kuil terlarang, menciptakan ilusi visual yang memusingkan dan merusak indra penciuman kaum serigala. Kael Draven terbatuk rendah, merasakan esensi mautnya bergolak menolak racun perak yang mencoba membakar paru-parunya. Namun, pikiran Kael tidak tertuju pada rasa sakit fisiknya; insting posesifnya langsung berteriak liar saat menyadari jaraknya dengan Lyra telah terpisah oleh kabut sialan ini."Lyra!" raung Kael, suaranya membelah kabut dengan kekuatan dominasi yang sanggup menggetarkan pilar kuil.Ia tidak mempedulikan Rovan yang berada di dekatnya, melainkan langsung berbalik dan melesat menuju altar batu dengan kecepatan murni seorang predator yang merasa hartanya terancam. Posesifitas Kael telah mencapai titik di mana ia lebih baik menghancurkan kuil ini dan mengubur mereka semua hidup-hidup daripada kehilangan aroma mawar hitam Lyra walau hanya sekejap saja.Di atas altar, Lyra berusaha mempertahankan kesadarannya

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 102 Jerat Lavender dan Ultimatum Dewan

    Suara Selena yang melengking memecah keheningan pasca-pertempuran, bergaung di antara pilar batu kuil terlarang yang masih bersimbah darah segar. Bau tajam dari lavender dingin miliknya menyeruak masuk, mencoba mengikis aroma mawar hitam pekat yang menyelimuti tubuh Lyra dan bayi yang baru saja lahir. Kael Draven tidak bergerak dari posisinya di atas altar batu, namun dekapannya pada Lyra mengencang hingga jubah hitamnya membungkus wanita itu dan sang anak seperti sebuah benteng yang tak tertembus.Mata emas Kael yang kini dilapisi pendaran ungu maut berkilat berbahaya saat ia menoleh ke arah kegelapan pintu masuk kuil. Rasa jengkel dan amarah meledak di dalam dadanya karena keintiman sensual yang baru saja ia rasakan bersama pasangannya harus diganggu oleh intrik murahan. Posesifitas sang Alpha King meradang; ia tidak sudi membiarkan satu pun pasang mata, termasuk wanita ular seperti Selena, melihat kerapuhan sekaligus keagungan Lyra pasca-melahirkan benih terlarang mereka."Kau mela

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 101 Takhta Darah dan Air Mata

    Rasa sakit dari anak panah perak Elara yang menancap di bahu Kael Draven terasa seperti api yang mencoba melahap jiwanya, namun sang Alpha King bahkan tidak mengerang. Ia berdiri tegak dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna ungu gelap, aura Pencabut Nyawa menyelimuti dirinya seperti baju zirah yang tak tertembus. Di belakangnya, Lyra mendekap erat sang bayi yang baru lahir, aroma mawar hitamnya kini berubah menjadi aroma perlindungan yang sangat pekat, melindungi sang pewaris dari hawa dingin kuil.Kael menatap Elara dengan pandangan yang sanggup meruntuhkan nyali klan pemburu manapun. Posesifitasnya terhadap Lyra kini berlipat ganda karena keberadaan sang anak. Baginya, mereka berdua adalah bukti kekuasaannya yang mutlak atas takdir. Kael tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan bibi Lyra sendiri, untuk mengambil kebahagiaan yang baru saja ia perjuangkan di tengah genangan darah."Kau baru saja menandatangani surat kematian seluruh klanmu, Elara," desis Kael dengan suara yang terde

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 100 Kelahiran Sang Pewaris Terlarang

    Suasana di dalam kuil terlarang kini berubah menjadi neraka yang indah. Di satu sisi, ribuan ksatria pemburu pusat mulai merangsek masuk melalui gerbang yang hancur, membawa cahaya perak yang menyakitkan bagi bangsa serigala. Di sisi lain, Lyra sedang berjuang di atas altar batu, keringat dingin membanjiri tubuhnya yang hanya tertutup sutra tipis yang kini sudah terkoyak. Aroma mawar hitam di ruangan itu mencapai puncaknya, menciptakan kabut harum yang begitu memabukkan hingga para pemburu yang paling kuat sekalipun sempat goyah dalam langkah mereka.Kael Draven berdiri di depan altar seperti dewa kematian yang haus darah. Ia tidak membiarkan satu pun pemburu mendekati radius tiga meter dari tempat Lyra berada. Setiap kali pedang perak mencoba menebasnya, Kael membalas dengan cakar kegelapan yang langsung merobek baju zirah dan daging musuhnya. Dominasi Kael meledak secara absolut; ia tidak lagi bertarung sebagai seorang raja, melainkan sebagai seorang jantan yang sedang melindungi be

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 99 Badai Perak di Gerbang Kematian

    Gema terompet perak yang ditiup Lucius sebelum ia pingsan masih terngiang di langit-langit kuil terlarang, memantul di antara pilar-pilar batu yang dipenuhi ukiran kuno. Di luar sana, ribuan langkah kaki ksatria pemburu pusat terdengar berderap di atas salju yang membeku, mengepung satu-satunya pintu masuk menuju makam para Alpha King pertama.Kael Draven berdiri di tepi kolam air hitam, tubuhnya yang telanjang dada memperlihatkan otot-otot yang menegang dan tato kuno yang berpendar ungu dengan intensitas yang menakutkan.Darah dari telapak tangannya masih menetes, menyatu dengan air hitam di bawah kakinya, menciptakan riak-riak kegelapan yang seolah hidup. Di dalam dekapannya, Lyra terengah-engah dengan wajah yang memerah karena pengaruh ciuman panas mereka sebelumnya serta gejolak energi dari rahimnya. Aroma mawar hitam yang menguar dari kulit Lyra kini bercampur dengan wangi nektar yang sangat manis, sebuah tanda bahwa tubuhnya sedang mempersiapkan sesuatu yang luar biasa besar unt

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 98 Segel Perak dan Hasrat yang Terbelenggu

    Pola tato perak di bahu Lyra berpendar dengan cahaya biru yang menyakitkan mata. Kael Draven terkejut, namun kemarahannya jauh lebih besar daripada keterkejutannya. Ia segera menarik tangannya dari kulit Lyra, seolah olah ia baru saja menyentuh api abadi. Posesifitas Kael meledak secara instan saat ia menyadari bahwa Lucius, pria dari masa lalu Lyra, telah berani menanamkan sesuatu di dalam tubuh miliknya."Lucius... bajingan itu," desis Kael dengan suara yang sangat rendah dan mematikan.Lyra merintih kesakitan. Pola tato itu seolah olah sedang menghisap energi emasnya dan menggantinya dengan rasa dingin yang membekukan darah. Ia terjatuh di pelukan Kael, tubuhnya gemetar hebat. Aroma mawar hitamnya memudar, digantikan oleh aroma perak yang tajam dan steril, sebuah aroma yang sangat dibenci oleh kaum werewolf."Kael, rasanya seperti... ribuan jarum menusuk jiwaku," bisik Lyra dengan air mata yang mulai mengalir.Kael tidak membiarkan rasa panik menguasainya. Ia membawa Lyra masuk ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status