Beranda / Fantasi / Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha / Bab 3 Sisa Panas Sang Alpha

Share

Bab 3 Sisa Panas Sang Alpha

Penulis: Yukari
last update Tanggal publikasi: 2026-03-17 11:23:42

Hening yang mencekam menyergap pondok kayu itu.

Tiga pemburu yang tadi menyerbu masuk dengan beringas kini mematung di ambang pintu yang hancur. Pedang perak di tangan mereka bergetar, memantulkan cahaya api perapian yang menari-nari. Namun, bukan api itu yang membuat mereka gemetar, melainkan sosok pria yang berdiri melindungi Lyra.

Kael tidak lagi tampak seperti pria yang sekarat. Luka-luka di bahunya masih di sana, namun otot-otot di balik kulitnya yang pucat kini mengencang, memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga oksigen di dalam ruangan terasa menipis. Setiap embusan napas Kael membawa hawa panas yang tidak wajar, sebuah kekuatan absolut yang memaksa siapa pun untuk menunduk.

Lyra, yang masih bersandar di dada Kael, bisa merasakan detak jantung pria itu melalui punggungnya. Detak itu tidak lagi lemah; berdenyut kuat, berirama sama dengan detak jantungnya sendiri. Rasa darah Kael yang tadi ia telan masih meninggalkan jejak panas di tenggorokannya, seolah-olah api sedang mengalir di pembuluh darahnya, mencari setiap sudut terdalam dari eksistensinya.

"Pergi," geram Kael. Suaranya bukan lagi suara manusia. Itu adalah dentuman rendah dari dasar bumi, sebuah perintah absolut dari seorang raja yang tidak menerima penolakan.

"Dia... dia sudah menandai manusia itu?" salah satu pemburu bergumam dengan wajah pucat pasi. Matanya terpaku pada tanda kemerahan yang berdenyut di leher Lyra—sebuah segel kepemilikan yang hanya bisa diberikan oleh seorang Alpha King melalui ritual darah yang sakral.

"Langkah kaki kalian sudah terlalu jauh memasuki wilayahku," ucap Kael dingin.

Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti mata manusia, Kael menerjang. Ia tidak menggunakan senjata. Tangannya yang besar mencengkeram leher pemburu terdekat dan menghantamkannya ke dinding pondok hingga kayu-kayunya retak. Dua lainnya mencoba menyerang dengan pedang perak, namun Kael hanya mengibaskan tangannya, mematahkan bilah logam itu seolah-olah itu hanya terbuat dari ranting kering.

Lyra terpaku, menyaksikan bagaimana pria yang baru saja ia selamatkan berubah menjadi mahluk penghancur yang begitu indah namun mematikan. Ada kengerian dalam hatinya, namun di saat yang sama, sebuah sensasi aneh menjalar di perutnya. Ikatan darah yang baru saja terbentuk membuat Lyra bisa merasakan setiap lonjakan adrenalin Kael, setiap percikan amarah yang menggairahkan.

Setelah ketiga pemburu itu terkapar tak berdaya, Kael berbalik. Matanya yang keemasan masih berkilat liar, pupilnya memanjang seperti predator. Ia berjalan mendekati Lyra. Setiap langkahnya terasa seperti beban yang menekan dada Lyra, namun wanita itu tidak mundur. Keberaniannya yang tersembunyi selama ini bangkit, menantang dominasi pria di depannya.

Kael berhenti tepat di depan Lyra. Tangannya yang besar terangkat, menyentuh pipi Lyra dengan kasar namun posesif. Ia menghirup udara di sekitar wanita itu, dan seketika rahangnya mengeras.

"Aromamu..." bisik Kael. Suaranya serak, penuh dengan gairah yang tertahan.

Aroma Lyra telah berubah. Jika sebelumnya ia berbau seperti hutan dan tanaman obat yang segar, kini aroma itu bercampur dengan esensi Alpha milik Kael, menciptakan wangi yang begitu memabukkan—manis, sensual, dan sangat menggairahkan. Bagi Kael, aroma itu seperti candu yang langsung membakar nalar serigalanya, menuntut untuk segera diklaim lebih dalam.

"Apa yang terjadi padaku?" suara Lyra bergetar. Ia merasa tubuhnya sangat sensitif. Setiap helai pakaian yang menyentuh kulitnya terasa kasar, dan kehadiran Kael yang begitu dekat membuat seluruh sarafnya berteriak minta diperhatikan.

Kael melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga dada bidangnya bersentuhan dengan puncak dada Lyra yang naik-turun. Ia merunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leher Lyra, tepat di atas tanda yang baru saja ia buat. Napas panas Kael menyapu kulit sensitif itu, membuat Lyra merinding hebat hingga jari-jarinya meremas kain kemeja Kael yang robek.

"Kau sedang berubah, Lyra," gumam Kael di kulitnya. "Darahku sedang mencari setiap sudut di tubuhmu, mengklaimmu sebagai milikku. Kau bukan lagi manusia biasa yang bisa berjalan bebas tanpa seizinku."

Tangan Kael yang besar merayap ke pinggang Lyra, menarik tubuh mungil itu agar menempel sempurna pada tubuh kerasnya. Lyra bisa merasakan setiap lekuk otot Kael melalui gaun tipisnya. Panas tubuh pria itu seolah ingin melelehkan pertahanan Lyra, mengundang hasrat yang selama ini ia kunci rapat.

"Lepaskan..." Lyra mencoba memprotes, namun suaranya justru terdengar seperti desahan yang mengundang.

Kael tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia semakin merapatkan dekapan itu, membiarkan Lyra merasakan dominasi fisiknya yang absolut. Ia mencium tanda di leher Lyra, sebuah ciuman yang posesif dan penuh gairah. "Kau baru saja meminum darahku, Lyra. Dan sekarang, seluruh sel di tubuhmu sedang memanggil namaku, memohon untuk kusempurnakan."

Kael mengangkat wajahnya, menatap mata Lyra yang mulai sayu karena pengaruh ikatan mereka. Ia melihat bibir Lyra yang sedikit terbuka, dan tanpa peringatan, ia menyambar bibir itu dengan ciuman yang kasar namun penuh dahaga. Ciuman itu bukan sebuah permintaan, melainkan sebuah penaklukan yang membuat Lyra kehilangan tumpuan.

Lyra merasa dunianya berputar. Lidah Kael menjelajah dengan otoritas mutlak, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Gairah yang meledak di antara mereka terasa begitu primitif, seolah-olah mereka adalah dua mahluk yang memang diciptakan untuk saling menghancurkan dalam kenikmatan. Di dalam pondok kecil yang berantakan itu, Lyra menyadari bahwa ia telah terjebak dalam jaring laba-laba sang Alpha King.

Tiba-tiba, Kael melepaskan ciuman itu dan menoleh ke arah pintu. Telinganya bergerak sedikit. Meskipun gairah sedang membakarnya, insting rajanya tetap waspada terhadap bahaya yang mengintai di balik badai.

"Kita tidak bisa tinggal di sini," ucap Kael, suaranya kembali dingin dan penuh perintah. "Bala bantuan mereka sedang menuju ke sini. Dan aku tidak akan membiarkan mereka mencium jejakmu."

Kael menyambar jubah hitamnya dan menyelimuti tubuh Lyra, menutupi tanda di leher wanita itu seolah-olah ia sedang menyembunyikan harta karun yang paling berharga dari mata dunia. Ia menggendong Lyra dalam pelukannya yang kuat, melangkah keluar menembus hujan yang kini terasa lebih hangat bagi Lyra.

Saat mereka melintasi perbatasan hutan Black Hollow, Lyra melihat bayangan seseorang berdiri di antara pepohonan di kejauhan. Sosok pria tinggi dengan aura yang tak kalah dominan, mengawasi mereka dengan tatapan yang tajam dan penuh obsesi.

"Dia adalah musuh yang paling berbahaya bagi kita, karena dia mencium apa yang telah kutanamkan di dalam dirimu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 106 Rahasia Mirana dan Bara Pengkhianatan

    Gema suara kuno yang menyusup ke dalam benak Kael Draven membuat cengkeramannya pada pinggang Lyra semakin mengetat, seolah takut wanita itu akan menguap menjadi asap jika ia melonggarkannya sedikit saja. Mata ungu maut sang Alpha King berkilat tajam menatap Lyra yang kini tampak terkejut, karena rupanya suara itu tidak hanya terdengar di batin Kael, melainkan juga bergaung di dalam kepala Lyra sendiri. Nama Mirana, sang ibu yang selama ini dianggap sebagai penjaga kesucian klan pemburu, disebut dengan nada yang sarat akan kutukan purba.Aroma mawar hitam yang menguar dari tubuh Lyra mendadak melambat, menjadi dingin dan digantikan oleh wangi mistis yang sangat tua, wangi yang persis sama dengan esensi maut yang sedang merayap turun dari langit-langit kuil. Gairah slow-burn yang biasanya menyatukan mereka kini diselimuti oleh rasa tegang yang mencekam; ada sebuah kebenaran mengerikan yang selama ini disembunyikan di balik darah murni yang mengalir di tubuh Lyra."Ibuku... apa hubungan

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 105 Aliansi Kegelapan yang Terjaga

    Reruntuhan langit-langit kuil terlarang meluncur jatuh seperti hujan meteor batu, menghantam lantai marmer kuno hingga memercikkan debu dan serpihan es yang pekat. Di atas altar yang mulai retak, Kael Draven melompat mundur dengan bahu kiri yang masih mengepulkan asap hitam akibat tusukan api biru dingin Lucius. Namun, rasa sakit dari senjata terkutuk itu lenyap seketika dari kesadarannya, digantikan oleh naluri predator yang mendidih saat sepasang mata merah raksasa di celah langit-langit menatap lurus ke arah rahim Lyra dan bayi laki-laki yang berada di dekapan wanita itu.Aroma mawar hitam yang mengalir dari tubuh Lyra mendadak bergolak menjadi aroma defensif yang sangat tajam, memicu detak jantung setiap makhluk di dalam ruangan. Kael melesat kembali ke atas altar dalam satu kedipan mata, melingkarkan lengan kanannya yang kekar ke pinggang Lyra, menarik tubuh wanita itu dengan keposesifan yang sangat mendalam dan menghimpit. Dominasi maskulin sang Alpha King memancar begitu pekat,

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 104 Kebangkitan Sang Mantan Tunangan

    Aroma perak kuno yang menyeruak masuk ke dalam kuil terlarang terasa begitu pekat hingga membuat kabut ungu milik Selena lenyap seketika, tergantikan oleh hawa sedingin es yang menusuk tulang. Dari balik reruntuhan gerbang kuil, sesosok pria dengan zirah perak yang telah hancur di bagian dada melangkah masuk dengan keangkuhan yang menakutkan. Dialah Lucius. Mantan tunangan Lyra itu ternyata belum mati; ia bangkit kembali dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna perak jernih tanpa pupil, tanda bahwa ia telah sepenuhnya menyerahkan jiwanya kepada mahluk asap hitam dari klan Pencabut Nyawa demi mendapatkan kekuatan murni.Di tangannya, Lucius memegang sebuah pedang panjang yang memancarkan api biru dingin, sebuah senjata terlarang klan pemburu pusat yang dirancang untuk memutus ikatan kontrak darah secara permanen. Kehadiran Lucius membawa tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi semua orang di dalam kuil, termasuk para tetua dewan yang langsung mundur ketakutan ke sudut ruangan."

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 103 Gairah di Balik Kabut Beracun

    Kabut ungu beracun yang dilepaskan Selena memenuhi seluruh ruangan kuil terlarang, menciptakan ilusi visual yang memusingkan dan merusak indra penciuman kaum serigala. Kael Draven terbatuk rendah, merasakan esensi mautnya bergolak menolak racun perak yang mencoba membakar paru-parunya. Namun, pikiran Kael tidak tertuju pada rasa sakit fisiknya; insting posesifnya langsung berteriak liar saat menyadari jaraknya dengan Lyra telah terpisah oleh kabut sialan ini."Lyra!" raung Kael, suaranya membelah kabut dengan kekuatan dominasi yang sanggup menggetarkan pilar kuil.Ia tidak mempedulikan Rovan yang berada di dekatnya, melainkan langsung berbalik dan melesat menuju altar batu dengan kecepatan murni seorang predator yang merasa hartanya terancam. Posesifitas Kael telah mencapai titik di mana ia lebih baik menghancurkan kuil ini dan mengubur mereka semua hidup-hidup daripada kehilangan aroma mawar hitam Lyra walau hanya sekejap saja.Di atas altar, Lyra berusaha mempertahankan kesadarannya

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 102 Jerat Lavender dan Ultimatum Dewan

    Suara Selena yang melengking memecah keheningan pasca-pertempuran, bergaung di antara pilar batu kuil terlarang yang masih bersimbah darah segar. Bau tajam dari lavender dingin miliknya menyeruak masuk, mencoba mengikis aroma mawar hitam pekat yang menyelimuti tubuh Lyra dan bayi yang baru saja lahir. Kael Draven tidak bergerak dari posisinya di atas altar batu, namun dekapannya pada Lyra mengencang hingga jubah hitamnya membungkus wanita itu dan sang anak seperti sebuah benteng yang tak tertembus.Mata emas Kael yang kini dilapisi pendaran ungu maut berkilat berbahaya saat ia menoleh ke arah kegelapan pintu masuk kuil. Rasa jengkel dan amarah meledak di dalam dadanya karena keintiman sensual yang baru saja ia rasakan bersama pasangannya harus diganggu oleh intrik murahan. Posesifitas sang Alpha King meradang; ia tidak sudi membiarkan satu pun pasang mata, termasuk wanita ular seperti Selena, melihat kerapuhan sekaligus keagungan Lyra pasca-melahirkan benih terlarang mereka."Kau mela

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 101 Takhta Darah dan Air Mata

    Rasa sakit dari anak panah perak Elara yang menancap di bahu Kael Draven terasa seperti api yang mencoba melahap jiwanya, namun sang Alpha King bahkan tidak mengerang. Ia berdiri tegak dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna ungu gelap, aura Pencabut Nyawa menyelimuti dirinya seperti baju zirah yang tak tertembus. Di belakangnya, Lyra mendekap erat sang bayi yang baru lahir, aroma mawar hitamnya kini berubah menjadi aroma perlindungan yang sangat pekat, melindungi sang pewaris dari hawa dingin kuil.Kael menatap Elara dengan pandangan yang sanggup meruntuhkan nyali klan pemburu manapun. Posesifitasnya terhadap Lyra kini berlipat ganda karena keberadaan sang anak. Baginya, mereka berdua adalah bukti kekuasaannya yang mutlak atas takdir. Kael tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan bibi Lyra sendiri, untuk mengambil kebahagiaan yang baru saja ia perjuangkan di tengah genangan darah."Kau baru saja menandatangani surat kematian seluruh klanmu, Elara," desis Kael dengan suara yang terde

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 84 Prahara Tanda Maut

    Lantai marmer yang dingin seolah tidak berarti di bawah lutut Kael Draven saat dia menatap perut Lyra dengan tatapan yang dipenuhi kengerian sekaligus pemujaan yang gelap.Tanda ungu yang menyerupai sulur-sulur kematian itu berpendar redup, kontras dengan kulit putih porselen Lyra yang biasanya mem

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 63 Harga dari Sebuah Nyawa

    Aula perjamuan Kastel mendadak menjadi medan tempur aura yang sangat mengerikan. Kehadiran mahluk bayangan Pencabut Nyawa di ambang pintu bukan hanya membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi juga membawa ultimatum yang sanggup meruntuhkan kewarasan siapa pun.Sosok bayangan itu berdiri diam,

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 52 Luka yang Mendamba

    Cahaya fajar yang abu-abu menyusup melalui celah-celah batu menara yang hancur. Suasana di dalam kamar terasa sangat berat, dipenuhi oleh aroma pengap darah dan sisa-sisa energi Pencabut Nyawa yang masih menggantung di udara.Kael masih terbaring di atas ranjang yang kini bersimbah noda hitam. Luka

  • Menjadi Tawanan Takdir sang Alpha   Bab 48 Pengkhianatan di Balik Bayang-Bayang

    Langit di atas Kastel Blackwood seolah terbelah oleh kilatan energi perak dan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi. Di halaman kastel, tanah marmer yang biasanya dingin kini bersimbah darah dan dipenuhi retakan akibat hantaman kekuatan dua predator puncak.Kael berdiri dengan napas yang membur

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status