แชร์

Bab 6 | Kau Adalah Tawananku

ผู้เขียน: MAMAZAN
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-18 02:27:05

Bab 6

Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Godalah dia… Buat dia bertekuk lutut padamu. Buat dia berselingkuh denganmu di rumah ini."

Lila terbelalak. "Apa?! Anda gila! Saya tidak akan melakukan hal menjijikkan seperti itu!"

"Jangan munafik," desis Oliver. "Semalam kau hampir menyerahkan dirimu demi uang. Sekarang aku menawarkan jalan yang lebih 'bersih'. Kau tidak perlu benar-benar tidur dengannya jika kau pintar. Aku hanya butuh bukti foto atau video saat dia mencoba menyentuhmu."

Oliver menarik diri sedikit, merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia menunjukkan sebuah foto surat kontrak operasi rumah sakit ibunya yang entah bagaimana sudah ada di tangannya.

"Ibumu akan dioperasi minggu depan. Biayanya 1,5 Milyar secara total, bukan? 500 juta hanya untuk uang muka. Jika kau berhasil membantuku menjatuhkan Jonathan, aku tidak hanya akan membayar 500 juta. Aku akan menanggung seluruh biaya operasi dan pemulihan ibumu sampai sembuh total."

Lila membeku. Angka itu... 1,5 Milyar adalah nyawa ibunya.

"Kenapa harus saya?" suara Lila bergetar.

"Karena kau cantik, polos, dan kau memiliki akses penuh ke rumah ini tanpa dicurigai," Oliver membelai helai rambut Lila yang bergelombang dengan jarinya yang kasar. "Dan yang paling penting... aku tahu kau sedang putus asa." Pria itu meremas dagu Lila, membuat pandangan wanita cantik itu focus pada dirinya.

Lila menepis tangan Oliver. Amarah masih berkecamuk di dadanya, tapi bayangan ibunya yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit terus menghantuinya. Ia melihat ke arah pintu, memikirkan segala resiko yang harus dia ambil.

"Anda ingin saya menjadi umpan?" tanya Lila dengan suara serak.

"Aku ingin kau menjadi kehancurannya," koreksi Oliver. "Begitu aku mendapatkan buktinya, dia akan keluar dari rumah ini dengan tangan kosong. Dan kau... kau akan mendapatkan uangmu dan ibumu akan selamat."

Lila terdiam cukup lama. Ruang kerja itu mendadak terasa sangat dingin. Ia tahu ia sedang melakukan kesepakatan dengan iblis, tapi iblis inilah yang memegang kunci keselamatan Ibunya.

"Bagaimana jika saya menolak?"

Oliver mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Maka bersiaplah mencari uang miliaran itu dalam waktu tiga hari. Atau... mungkin kau bisa mencoba memelas pada Jonathan? Tapi percayalah, dia tidak semurah hati yang kau kira."

Lila menggigit bibir bawahnya, menatap nanar ke arah cek kosong yang kini diletakkan Oliver di atas meja. Ini adalah pertaruhan besar. Harga dirinya sebagai wanita, atau nyawa wanita yang paling ia cintai di dunia.

Mengambil nafas panjang, "Baik," bisik Lila akhirnya, nyaris tak terdengar. "Saya terima kesepakatan ini."

Seringai kemenangan muncul di wajah Oliver. Ia meraih dagu Lila, mengangkatnya agar mata mereka bertemu. "Pilihan yang cerdas, kucing liar. Mulai besok, bersiaplah memainkan peranmu."

Oliver melepaskan Lila, berbalik kembali ke arah jendela seolah percakapan itu tidak berarti apa-apa. Namun, saat Lila hendak keluar dari ruangan dengan kaki lemas, suara Oliver kembali menghentikannya.

"Dan satu hal lagi, Lila..." Oliver melirik lewat bahunya, matanya berkilat aneh. "Hanya Jonathan yang boleh kau goda. Jangan sampai aku melihatmu menggoda pria lain!”

Kedua tangan Lila yang mengepal, naik mendorong dada Oliver. "Aku bukan wanita seperti itu, Tuan!"

Oliver tersenyum miring, sudut bibirnya naik. Ia menangkap kedua tangan Lila, menaikkannya ke atas, "Jangan menguji kesabaranku. Aku tahu pekerjaan keduamu hanyalah kedok agar kau bisa mendapatkan banyak uang dari pria kaya yang goda di sana!”

Pria tampan itu tanpa izin melumat bibir Lila dengan kasar dan paksaan. Lila memberontak, namun, ciuman Oliver terlalu kuat tidak memberinya ruang untuk bernafas. "Euhm... Euhmp... T-tuan..."

Oliver melepaskan ciumannya, terdengar suara nafas Lila. Ia menatap tajam ke Oliver, "Kalau anda seperti ini, saya tidak akan melanjutkan perjanjian ini! Anda gila sudah menuduhku seperti ini!" ujarnya menantang.

"Hahaha!" Suara tawa rendah bernada mengejek lolos dari Oliver. "Apa kau pikir memiliki wewenang untuk hal itu?"

"Perjanjian berubah." Usai mengatakan itu, Oliver langsung mengangkat Lila dan memikul wanita itu di pundaknya seperti memikul karung beras. Membawa Lila ke tempat tidur.

"Tuan Oliver, lepaskan saya!"

Oliver segera membungkam mulut Lila dengan ciumannya yang menuntut, menghancurkan sisa-sisa perlawanan wanita itu. Ia baru melepaskannya saat Lila mulai kehabisan napas dan tubuhnya melemas di bawah tekanan berat tubuh Oliver.

"Kau adalah tawananku, kucing liar!" bisik Oliver.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 53 | Hubungan Susan Laven

    Bab 53"Kamu sangat seksi, love," bisik Austin dengan suara parau tepat di depan bibir Bella.Austin tidak menunggu lama. Begitu mereka berada di area private pool, ia menarik pinggang Bella hingga tubuh mungil istrinya menabrak dada bidangnya yang keras. Tanpa kata, ia membungkam bibir Bella dengan ciuman yang intens dan menuntut—ciuman yang selalu berhasil membuat Bella kehilangan kekuatannya.Tangan besar Austin mulai bergerak terampil, melucuti kancing-kancing dress sutra yang dikenakan Bella. Kain mahal itu meluncur jatuh ke lantai marmer dalam sekejap. Dengan gerakan mantap, Austin mengangkat tubuh Bella dalam gendongan bridal style. Ia membawa istrinya menuruni tangga kolam renang yang airnya sudah diatur dengan suhu hangat yang menenangkan.Begitu kulit mereka bersentuhan dengan air, Austin merapatkan tubuh mereka kembali. "Tubuhmu masih sangat indah, love," puji Austin tulus. Matanya menatap kagum pada setiap lekuk tubuh istrinya yang dirawat dengan sangat telaten. Baginya, B

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 52 | Luka Hati

    Bab 52Kata-kata Oliver barusan seolah menjadi petir di siang bolong bagi Giselle. Ia terperangah, matanya membelalak tak percaya menatap Oliver.“Menikah?” suara Giselle bergetar, hampir tidak terdengar. “Sharon... menikah dengan Jonathan? Tidak mungkin. Ibumu sangat mencintai Gustav. Bagaimana bisa dia memberikan hatinya pada pria yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang suaminya?”Oliver menyeringai pahit, sebuah ekspresi yang penuh dengan luka lama. “Hati? Tidak, Bibi. Ibu tidak pernah memberikan hatinya. Jonathan menggunakan keadaan. Saat Ayah tiada, Ibu berada di titik terendahnya. Jonathan datang sebagai pahlawan palsu, menjanjikan perlindungan padaku dan perusahaan. Tapi itu semua hanya jebakan.”Giselle menutup mulutnya dengan telapak tangan, air matanya kini mengalir deras tanpa terbendung. “Jadi itu alasannya... dia mengusirku. Dia tahu aku adalah satu-satunya orang yang bisa memperingatkan Sharon tentang niat busuknya.”“Dia menghancurkan mental Ibu perlahan-lahan,” lanj

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 51 | Semakin Terungkap

    Bab 51Begitu masuk di VVIP room khusus Harold Family, Austinmembawa istrinya duduk di atas sofa kulit yang empuk.“Kamu penasaran sayang?” tanya Bella pada Austin begitu iaduduk menghadap suaminya.Austin tersenyum tipis, “Not really, love.” Ucapnya sambilmencubit kecil hidung Bella.Membuat Bella mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku tetap mau cerita, hubby.""Iya sayangku. Jadi bagaimana bisa kenal dengan Oliver?"Bella pun dengan antusias menceritakan ulang apa yang ia dengar dari Giselle.Austin mendengarkan sang istri dengan baik, meski jujur ia tidak terlalu peduli akan hal itu. Bukan karena nir empati. Tapi begitulah dia.Tapi demi Bella, ia akan dengan senang hati mendengar story telling sang istri."Begitu sayang..." tutup Bella mengakhiri ceritanya.Austin mengangguk paham, "Hmm, sebenarnya aku bisa membantu Oliver untuk mencari rekam jejak kematian kedua orang tuanya, tapi dia menolaknya.""Pasti berat untuk Oliver saat itu, hubby," gumam Bella bersandar manja pada sang su

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 50 | Masa Lalu

    Bab 50"Menarik. Aku memang tidak salah menilaimu," ujar Austin sembari mengangguk puas. Namun, ia tidak langsung menutup pembicaraan. Matanya kembali menatap Oliver dengan sorot yang lebih dalam. "Lalu bagaimana dengan Monfalco Corp?"Austin ingat betul alasan di balik ambisi besar Oliver. Ia tahu betapa kerasnya Oliver berusaha merayap dari bawah demi mengambil alih takhta yang seharusnya menjadi haknya. Sebenarnya, bagi Austin Harold, menghancurkan perusahaan sekelas Monfalco Corp atau membelinya secara paksa adalah hal yang mudah. Ia bahkan sempat menawarkan bantuan untuk memberikan perusahaan itu langsung ke tangan Oliver saat pertama kali mendengar kisah pengkhianatan Jonathan.Namun, Oliver menolak dengan halus. Ia ingin tangannya sendirilah yang menyeret Jonathan turun dari singgasananya hingga hancur berkeping-keping."Dia memiliki banyak anjing yang setia," jawab Oliver dengan rahang mengeras dan wajah penuh kekesalan. Ia merujuk pada jajaran direksi dan pemegang saham yang m

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 49 | Austin Harold

    Bab 49Beberapa bulan lalu, selama ia berada di Jerman, Oliver telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk membangun kerajaan bisnisnya sendiri secara mandiri. Ia ingin membuktikan bahwa namanya bisa berdiri tegak tanpa bayang-bayang besar keluarga Monfalco di Swedia. Setelah bertahun-tahun merintis dengan penuh peluh, akhirnya hari ini ia bisa duduk berhadapan dengan sosok legendaris yang selama ini hanya bisa ia amati dari jauh—Austin Harold.Dari Austin-lah, Oliver berhasil menembus dinding tebal lingkaran pebisnis raksasa di Jerman. Benar saja, kepiawaian Austin bukan sekadar isapan jempol belaka. Oliver, sebagai sesama pria, merasa sangat kagum dengan kharisma dan ketajaman berpikir pria itu. Bahkan, melalui koneksi ini, ia sempat dikenalkan dengan putra Austin yang memiliki usia sebaya dengannya, Arion Harold, yang kini memegang kendali operasional di pusat."Maaf saya mengganggu waktu liburan Anda, Tuan Austin," ujar Oliver dengan nada tulus. Ia tahu betapa mahalnya wa

  • Menjadi Tawanan Tuan Muda   Bab 48 | Bertemu Sosok Legendaris

    Bab 48"Kami akrab, Ibu. Dokter Nathaniel sangat membantuku selama perawatan Ibu di sini, dia benar-benar dokter yang luar biasa," potong Lila cepat sebelum Nathaniel menyelesaikan kalimatnya. Ia memberikan senyum lebar yang sedikit dipaksakan, berusaha menetralkan suasana agar Susan tidak memiliki ekspektasi atau kesalahpahaman yang lebih jauh.Susan mengangguk pelan, tampak lega meski sorot matanya masih menyimpan sedikit rasa ingin tahu. "Begitu ya... syukurlah kalau Lila ada yang membantu."Dokter Nathaniel memilih diam. Ia tidak membantah ataupun membenarkan. Pria itu tetap memasang wajah ramah yang menenangkan pada Susan, meskipun dalam hati ia mencatat bagaimana Lila seolah membangun benteng pertahanan setiap kali ia mencoba melangkah lebih dekat."Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu Susan. Masih ada pasien lain yang harus saya kunjungi. Lila, jika ada apa-apa, hubungi saya segera," ujar Nathaniel lembut. Ia memberikan satu anggukan sopan pada Susan sebelum melangkah keluar ruan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status