Share

Malam Kelam

Author: Choco_muffin
last update Last Updated: 2025-12-10 19:40:46

Tubuh Cleona terhempas kasar ke dinding. Dagunya diremas kasar oleh pria tak dikenal di depannya, memaksanya mendongak.

“Siapa yang membayarmu?” suara berat itu setengah berteriak.

“Katakan!” tambahnya tegas.

Cleona menggeleng pelan, tubuhnya terasa lemas. Pria ini… sungguh berbeda dengan foto yang ditunjukkan Madam.

“M-maaf… Tuan… s-saya…” jawabnya terputus.

“Aawwsshh!”

Remasan di dagunya semakin kuat, membuatnya kesulitan melanjutkan kata-katanya.

“Aku sudah muak dengan permainan kalian,” geram Batara.

“Kali ini… kita lihat siapa yang ada di balik permainan bodoh ini!”

Sebagai pebisnis muda, Batara terbiasa menghadapi jebakan dari rival. Tapi kali ini, ia kecolongan. Efek obat perangsang yang diminumnya mulai terasa—tubuhnya panas, pikirannya kabur, tak lagi mampu menilai mana yang benar atau salah. Ada dorongan kuat yang harus ia lepaskan, atau nyawanya terancam.

Sreeettt…

.

“Aaakkkhh”

Dengan gerakan singkat, Batara mendorong tubuh Cleona ke atas kasur. Cleona terhuyung, sebagian rok tersibak, membuatnya segera menariknya kembali dengan cepat. Menutup paha mulusnya meskipun itu—berakhir sia-sia

Batara menelan ludah.

“Oh shit…” Pemandangan itu membuatnya semakin kehilangan kendali.

“T-tuan, tolong… jangan…” desak Cleona, suaranya bergetar memohon dilepaskan.

Batara menyeringai, matanya menatap tajam ke arah Cleona. “Kau sendiri yang datang padaku…” katanya pelan, alisnya terangkat.

“Sekarang kau berharap aku lepaskanmu?”

Ia melangkah mendekat, udara di antara mereka seakan menipis. Cleona menelan ludah, tubuhnya merangkak mundur.

“Nggak semudah itu, sayang…”

Batara dengan cepat meraih satu kaki Cleona, membuatnya terjatuh dengan posisi telentang.

“Aaahhh…”

“M-maaf, t-tuan… tolong jangan lakukan itu.” kini air mata Cleona mulai menetes membasahi pipinya.

Batara, yang sudah diselimuti kabut nafsu akibat efek obat perangsang, tak mengindahkan. Ia mengangkat kedua tangan gadis itu ke atas kepalanya, menguncinya.

Dengan cepat, ia menempelkan bibirnya pada bibir merah muda Cleona.

“Mmmpph…”

“Mmpphhh…”

Cleona menggeleng-gelengkan kepala, berusaha menghindar, namun ciuman yang baru saja ia rasakan terlalu kuat, membungkus seluruh bibirnya. Suaranya pun tenggelam.

Yang terdengar hanyalah bunyi decapan dan napas yang saling memburu di tengah udara yang dingin.

Kakinya yang semula meronta berusaha melepaskan diri, kini tertahan kuat oleh tubuh besar Batara. Cleona bahkan bisa merasakan sebuah benda memanjang dan keras menekan tepat di area perutnya, sekejap membuat tubuh bagian bawahnya berkedut tak beraturan.

Tubuhnya menegang…

“Mmmpphh.”

Huh! huh! huh!

Napas mereka memburu, saling bertubrukan saat ciuman itu terlepas. Dari atas, Batara menangkap sorot mata Cleona yang penuh permohonan. Namun kali ini, ia tak bergeming.

Satu tangan Batara tetap menahan tangan Cleona di atas, sementara tangan lainnya perlahan menyibak bagian pundak dress yang dikenakan gadis itu.

Kreekkkk!

Cleona memejamkan mata, menahan napas—

Dengan satu tarikan, dress itu sobek, memperlihatkan sebagian gundukan kenyal yang masih tersembunyi di balik bra navy miliknya.

Batara terdiam sejenak… terpana menatap gundukan di hadapannya. Padat… kenyal.

Sangat indah.

Hawa yang semula dingin kini berubah menjadi panas. Tanpa menunggu, Batara menunduk, mengecap belahan gundukan itu. Satu tangannya menyibak sebagian dress Cleona, membuatnya kini benar-benar terbuka.

Batara menelan ludah.

Tubuh Cleona meremang, menggeliat, hingga membusungkan dada. Tepat saat itu, Batara menyelipkan tangannya di belakang punggung Cleona, memaksa membuka kaitan bra-nya.

Ctaaakk!

Kaitan itu pun terlepas.

Dua gundukan dengan ujung yang sudah mengeras, terlihat sangat sempurna. Cleona hanya pasrah, matanya berembun.

Ia sadar, ia tidak mungkin lolos dari keadaan ini.

Ia memejamkan mata, merapal permintaan maaf untuk sang ibu yang menunggunya di rumah.

Sementara itu, Batara dengan mata penuh nafsu mulai memainkan gundukan itu — memegang, memiilin ujung bobanya, hingga…

Plaakk!

Tamparan keras membuat benda kenyal itu memantul indah. Cleona meringis, namun terdengar desahan pelan.

“Aakkhhhh…”

“T-tuan…”

“Apa kau menikmatinya? Hah?”

Plaak!!

Kali ini sisi satunya yang terkena tamparan.

“Akkhhh…”

“S-sakit, Tuan…”

Batara menyeringai. Ia kembali mensejajarkan wajahnya dengan Cleona, lalu melumat bibir kemerahan itu dengan lebih kuat, menghisapnya dalam-dalam. Bahkan lidahnya kini menerobos masuk, menjelajahi setiap rongga mulut gadis itu.

“Mmpphh…”

Cecap demi cecep mereka lalui.

Kini Cleona pasrah, tak lagi melawan. Itu membuat Batara semakin berani. Tangannya mulai meremas keras dua gundukan kenyal itu, memicu desahan dalam ciuman..

“Eeuugghh…”

Ciuman itu terlepas, kini perlahan turun ke leher Cleona… menjilat dan menyedot dengan lembut namun penuh gairah, hingga meninggalkan jejak samar merah basah di kulitnya. Napas mereka saling memburu, membuat udara di sekeliling terasa berat dan panas.

Ciuman itu terus menurun, hingga sampai pada dua gundukan kenyal , Batara melumat rakus ujung boba yang mengeras.

Membuat Cleona semakin menggeliat di bawahnya, napasnya tersengal-sengal. Rasa aneh mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya terombang-ambing antara menolak dan ingin meminta lebih.

Tangan Batara kini mulai mengangkat rok cleona hingga keatas menyisakan pemandangan yang tak kalah indah. Sebuah lembah basah yang masih terbungkus kain berenda.

Dengan nakal, jemari Batara menerobos masuk, menyentuh tepat di bagian sensitifnya. Menerobos masuk, mengobrak-abrik isi didalam nya. Reflek Cleona merintih, menggeliat.

“Akkhh… t-tuan ampunnn,”

“Tolong—jangan”

Tapi Batara tak mengindahkan. Tubuhnya jelas tak terkendali, matanya memerah penuh gejolak. Ia bahkan merobek paksa kain berenda itu, lalu mendekat, dan tanpa ragu menenggelamkan wajahnya di antara kedua paha Cleona, membuat gadis itu terperangah ngeri.

Ia beri kecupan singkat, lalu menghisap nya lebih dalam. Lidahnya dipaksa masuk, membuat tubuh Cleona menggeliat tak berdaya.

“T-tuan…” bisiknya, suara bergetar.

Semakin dalam hisapan batara dilembahnya, semakin menggeliat tubuh cleona . Ada rasa yang sulit dijelaskan . Enak tapi sakit.. sakit tapi.. nagih.

“Euughh…" desahan lirih keluar dari Cleona, tak lagi mampu ia tahan. Tubuhnya bergetar, dan ia menggenggam rambut Batara dengan erat. Menyalurkan segala perasaan aneh yang ia rasakan.

Batara menarik dirinya perlahan, menyeka liur di bibirnya dengan punggung tangan. Ia kemudian berdiri, menarik tubuh Cleona sedikit ke ujung ranjang, membuka paha mulusnya dengan hati-hati. Bersiap memasukkan pedang pusakanya, hingga tubuh gadis itu tersentak.

“Aakkkkhhhh!” jerit Cleona menggema, disertai air mata yang tertahan antara rasa sakit dan rasa bersalah pada sang ibu.

Sedangkan Batara tak memberi ampun; tanpa menunggu lembah Cleona beradaptasi, ia terus menggempurnya.

Malam itu menjadi malam panas yang panjang. Deru napas berat bergema, berpadu dengan desahan lirih yang tertahan, menciptakan suasana penuh ketegangan. Gerakan itu terus berulang, mengisi ruang dengan irama yang membuat udara semakin menipis.

.

.

Di sisi lain, Silvia menunggu di lobi hingga larut malam. Ia menghentakkan kaki ke lantai, frustrasi. Ia mencoba menelpon Cleona, tapi panggilannya tak kunjung tersambung.

“Brengsek! Cleona lama banget sih!” gerutunya kesal.

“Jangan-jangan digarap lagi sama dia!” tambahnya.

Saat hendak menelpon lagi, sebuah notifikasi pesan masuk lebih dulu. Ia membuka danmembaca pesan itu:

"MISI GAGAL! Temanmu tidak ada di dalam kamar!"

Deg! Jantungnya serasa tercekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjebak Cucu Presdir   Kotak Misterius

    “Ona … kalau pulang, Ibu nitip roti tawar, ya.”Itu kalimat terakhir Danila saat Cleona berpamitan untuk menemui Cia. Hari itu, mereka berencana bersama-sama mendatangi kantor polisi sebagai saksi atas penemuan mayat kemarin.Seandainya Cleona tahu itu akan menjadi hari terakhirnya bersama sang ibu, ia akan menukar apa pun agar bisa tetap tinggal di rumah.Kini, di hadapannya, di atas ranjang pasien, tubuh Danila terbujur kaku. Wajahnya pucat dan dingin. Beberapa kabel yang masih menancap di tubuh itu perlahan dilepas, satu per satu.“Ibu…” Tangannya gemetar saat menyentuh kulit yang tak lagi hangat.“Tolong jangan tinggalkan Ona.” Air mata Cleona jatuh, membasahi wajah sang ibu.Cia mendekat dan mengusap lembut bahu Cleona. Tak ada kata. Hanya sentuhan pelan, seolah berharap itu cukup untuk menguatkan sahabatnya yang tenggelam dalam duka.Suara tangis Cleona menjadi satu-satunya bunyi di ruang ICU itu. Hawa dingin terasa semakin menusuk.Sementara itu, Batara menunggu di luar, berdir

  • Menjebak Cucu Presdir   Kehilangan

    Siang itu, di depan ruang IGD, dua wanita bersahabat duduk berdampingan. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki yang lalu-lalang menjadi latar di tengah keheningan.“Bener,” ulang Cia pelan, menatap Cleona lekat. “Lo nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Batara?”Cleona terpaksa menceritakan bagaimana ia bisa berakhir datang bersama Batara. Ia menyusun cerita yang aman—cukup masuk akal untuk dipercaya, tapi tidak sepenuhnya jujur. Ada bagian yang sengaja ia sisakan, terutama soal perjanjian antara dirinya dan atasannya itu.Ia mengangguk kecil. “Bener. Gue nggak sengaja pingsan di jalan. Dan… Pak Batara yang nemuin.”Cia mengangkat alis. “Terus?”“Nggak ada apa-apa lagi,” jawab Cleona cepat, nyaris terlalu cepat. “Cuma itu.”Ada jeda. Cia menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah mencari celah di wajah Cleona. Namun yang ia temukan hanya kelelahan—mata sembap, tangan gemetar dan napas yang terdengar berat.“Oke deh…” Cia akhirnya menghela napas. “Gue percaya.”Cleona tersenyum tipis

  • Menjebak Cucu Presdir   Rencana Tersembunyi

    Pagi itu seharusnya tenang. Cahaya mentari menembus jendela besar, menyinari meja yang masih tersisa aroma spaghetti dan jus strawberry. Tapi bagi Cleona, semua terasa hampa. Dadanya sesak, jantungnya berdegup cepat, seolah batu besar menimpa tubuhnya.“Maaf, Pak… saya harus ke rumah sakit sekarang,” ucapnya gemetar, kepala menunduk. Air matanya menetes tanpa ia sadari.Batara mengerutkan alis. Kursi di belakangnya bergeser saat ia bangkit, menatap Cleona yang hampir menyentuh knop pintu. Dengan gerakan mantap, tangannya meraih lengan wanita itu, menahan sejenak. Tatapan mereka bertemu—ada campuran khawatir dan… sesuatu yang lain, sulit dijelaskan.“Biar saya antar,” ucapnya tegas. “Tunggu di sini, jangan kemana-mana.”Cleona menelan ludah, pikirannya kacau. Ia ingin menolak, tapi panik untuk ibunya jauh lebih besar. Perlahan ia mengangguk, pasrah, membiarkan Batara sekali lagi mengambil alih kendali hidupnya.Tak lama, Batara muncul dari tangga, mengenakan sweter abu-abu yang sederha

  • Menjebak Cucu Presdir   Perburuan Di mulai

    Gudang tua itu pengap. Bau karat dan debu menempel di udara. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menjadi satu-satunya penerangan diruang itu. Dimas Saputra duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding. Tangannya memeluk erat sebuah ransel lusuh yang berisi beberapa pakaian dan makanan seadanya. Wajahnya tirus, matanya cekung, napasnya berat. Ketua penelitian laboratorium itu kini tak lebih dari buronan yang bersembunyi seperti tikus. “Brengsek… gue jadi sengsara begini,” gumamnya frustrasi. Matanya menatap kosong ke depan. Ingatannya perlahan di tarik ke beberapa hari lalu, saat ia melapor—mengatakan bahwa seluruh riset kini diawasi langsung oleh Batara. Ia ingat jelas sambungan telepon itu belum benar-benar terputus. “Bunuh dia. Kita sudah tidak membutuhkannya.” Suara Dimitri. Darah Dimas langsung naik. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu cepat menghantam dada. Kursi di depannya ditendang keras sampai terjungkal.

  • Menjebak Cucu Presdir   Redroom

    “Berani kamu mengabaikan pesan saya?” Kalimat itu membuat Cleona tersentak. Ia yang tengah berdiri di teras rumah langsung mendongak. Matanya membelalak begitu mendapati Batara bersandar santai di pintu mobil hitamnya, terparkir tepat di depan pagar. Matahari siang yang mulai condong ke barat memantulkan cahaya ke kaca mobil, membuat suasana terasa hangat sekaligus menekan. “Untuk apa Bapak di sini?” tanya Cleona, suaranya tertahan. Tangannya refleks mencengkeram ujung tas selempangnya. Batara tak menjawab. Ia meluruskan tubuh, melangkah mendekat dengan langkah panjang. Tangannya menangkap pergelangan tangan Cleona, lalu menariknya ke arah pintu mobil. “Pak—” tubuh Cleona ikut terseret. Ia nyaris kehilangan keseimbangan sebelum menghentakkan kaki, menahan diri tepat di ambang pintu yang sudah terbuka. “Ibu saya butuh saya hari ini,” ucapnya cepat, napasnya sedikit terengah. Batara menatapnya singkat, rahangnya mengeras. Tangannya di punggung Cleona menekan pelan namun memaksa

  • Menjebak Cucu Presdir   Investigasi

    “Astaga… lihat itu…!” Teriak seorang karyawan membuat semua kepala menengadah ke arah dinding kaca. Dalam hitungan detik, lorong GrahaPharm yang biasanya tenang berubah menjadi hiruk-pikuk penuh bisik dan langkah panik. Tubuh seorang manusia tergantung di rooftop. Diam. Tak bergerak. Bayangannya jatuh panjang di kaca, membuat siapa pun yang melihatnya merinding. Di tengah hiruk-pikuk itu, Batara muncul. Tatapannya seperti pisau yang membelah kekacauan. Tenang. Tapi berbahaya. “Hubungi polisi,” perintahnya pada Niko, suaranya rendah namun mengintimidasi. Ia lalu menatap karyawan yang masih terpaku di tempat. “Kalian segera berkemas. Kantor harus steril.” Telunjuknya kemudian mengarah ke Cleona. “Kecuali kamu—dan seluruh petugas lab. Tetap di sini sampai polisi datang.” Sebelum ia kembali ke ruangannya, pandangannya sempat bertemu dengan Cleona yang tampak ketakutan. Ekspresi itu cukup membuat rahangnya mengeras. Tak lama kemudian, suara sirene mendekat. Polisi memasu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status