LOGIN
“Makan dulu ya, Bu. Hari ini Cleona pulang agak malam, ada kerjaan tambahan,” katanya sambil menyendokkan nasi ke piring Danila. Pagi itu, sebelum berangkat kerja, Cleona menyiapkan masakan sederhana untuk ibunya. Aroma tumisan hangat memenuhi dapur kecil mereka. Danila mendongak, menatap putrinya penuh rasa ingin tahu. “Kerja apa malam-malam, Nak?” Cleona sempat terdiam, lalu berdehem untuk meredakan gugupnya. “E-itu, Bu… bantu-bantu di tempat Tante Cia. Ada pesanan catering banyak, harus siap pagi-pagi buat dikirim.” Dalam hatinya, Cleona merapal banyak permintaan maaf. Ia terpaksa berbohong. Danila tidak langsung merespons. Ada rasa ganjil yang mengusik hatinya, tapi ia tahu putrinya selalu berusaha keras demi mereka berdua. Akhirnya, ia hanya mengangguk pelan. “Yang penting kamu jaga kesehatan aja, Na. Jangan diforsir, nanti malah sakit.” Cleona tersenyum tipis, menahan perasaan bersalah. Ia hanya mengangguk, tidak berani menatap ibunya terlalu lama. Usai makan, ia segera bersiap berangkat kerja. Sepatu sudah terpakai, tas sudah di bahu. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sebentar. “Berangkat dulu ya, Bu,” ucap Cleona sambil mencium pipi Danila. “Jangan tunggu Ona, Ibu istirahat aja nanti.” Danila mengelus lengan putrinya, senyumnya hangat meski matanya menyimpan cemas. “Iya… kamu hati-hati ya, Na.” Cleona mengangguk cepat, lalu bergegas pergi. Setelah kepergian Cleona, Danila berdiri lama di depan rumah. Pandangannya tak lepas dari punggung sang anak yang semakin menjauh, hingga akhirnya lenyap di tikungan jalan. Ia menghela napas berat, tangan kirinya refleks menekan dada yang terasa sesak. Ada sesuatu yang membuat hatinya gelisah, seakan firasat buruk tengah berbisik pelan. “Semoga kamu baik-baik saja, Nak…” ucap Danila lirih, hampir seperti doa yang ia kirimkan ke udara. **** Sesampainya di tempat kerja, Cleona langsung menaruh barang-barangnya, lalu mengenakan celemek. Ia membantu karyawan lain merapikan gelas dan menyiapkan bahan makanan. Saat sedang mengelap gelas, Silvia mendekat sambil mencondongkan tubuh. “Lo siap kan, Na? Ntar malem.” Cleona menoleh cepat, ada sedikit gugup yang ia tutupi dengan senyum tipis. “Siaaap.” Silvia menyipitkan mata, seolah ingin memastikan sekali lagi. Begitu yakin, ia menepuk pelan bahu Cleona. “Bagus. Nanti pulang kerja kita langsung cabut.” Cleona hanya mengangguk, tapi di dalam dadanya ada campuran antara penasaran, takut, dan deg-degan yang makin sulit ia redam. Waktu terus berjalan. Suasana kafe yang hangat dipenuhi cahaya lampu kekuningan yang jatuh lembut di atas meja-meja kayu sederhana. Rak dinding berisi tanaman hias membuat ruangan kecil itu terasa lebih hidup. Mesin kopi menderu pelan, berpadu dengan denting gelas dan riuh rendah obrolan pengunjung yang hampir tak pernah putus. “Meja 25, americano sama spaghetti!” teriak Doddy dari balik bar. “Siap, bentar lagi keluar!” sahut karyawan dapur. “Cleona, tolong ambilin order meja 12 ya—latte sama croissant!” panggil Silvia sambil buru-buru menyusun gelas. “On the way!” jawab Cleona cepat, berlari kecil sambil membawa nampan. Kafe ini hanya memiliki enam karyawan: dua di dapur, dua pelayan di luar, satu barista, dan satu kasir. Silvia dan Cleona sering bergantian tugas, kadang melayani tamu, kadang membantu menyiapkan pesanan. Meski kecil, Rvang— begitu nama kafe itu, nyaris tidak pernah sepi—setiap malam kursinya hampir penuh oleh mahasiswa, pekerja muda, atau pasangan yang mencari tempat nyaman untuk berbincang. Hingga tiba saatnya kafe tutup, semua karyawan sudah beres-beres dan bersiap pulang. Lampu-lampu mulai diredupkan, kursi-kursi ditata kembali ke posisi semula. “Kalian nggak pulang?” tanya Doddy heran, melihat Cleona dan Silvia masih duduk di depan kafe. “Nunggu Grab,” jawab Silvia singkat sambil menunduk mengecek ponselnya. “Terus lo, Na? Bukannya lo bawa motor?” Doddy menoleh ke arah Cleona. Cleona menyeringai sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Gue ngikut Silvia aja. Motor gue nitip sini dulu.” Doddy hanya mengangguk, meski sorot matanya tampak sedikit penasaran. Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, sebuah mobil Grab sudah berhenti di depan kafe. “Tuh, Grab-nya udah dateng, Na,” ujar Silvia sambil bangkit. Ia melambaikan tangan pada Doddy. “Duluan ya, Dod. Hati-hati di jalan!” “Siap, kalian juga,” balas Doddy singkat. Silvia segera melangkah menghampiri mobil, dan Cleona mengikuti di belakang tanpa banyak kata. Tangannya basah oleh keringat, jantungnya berdegup kencang. Ada rasa ingin menolak, tapi semuanya sudah terlambat. . . Perjalanan berlangsung hening. Cleona hanya menatap keluar jendela, berusaha menenangkan perasaan gelisah, napasnya terasa sesak. Dalam hitungan menit, mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah yang berdiri anggun, diterangi lampu temaram nan elegan. Hotel DoubleTree… “Ayo, Na,” gumam Silvia pelan sambil membuka pintu mobil. Cleona menelan ludah. Kakinya sempat gemetar sebelum akhirnya melangkah turun, mengikuti Silvia menuju lobi hotel. Di saat yang bersamaan, seorang pria dengan setelan jas rapi baru saja turun dari mobil hitam di depan hotel. Dialah CEO GrahaPharm, yang datang untuk menghadiri meeting mendadak malam itu.Kehadirannya nyaris tak diperhatikan siapa pun di tengah riuh lalu lalang tamu hotel. Sementara itu, Cleona dan Silvia sudah melangkah masuk ke lobi. Aroma wangi khas hotel bercampur dengan dinginnya hembusan pendingin ruangan. Mereka berjalan menuju seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan yang sejak tadi menunggu di sofa, menatap keduanya dengan sorot penuh perhitungan. Silvia menyapa lebih dulu, suaranya penuh hormat. “Selamat malam, Madam.” Ia mengangguk pelan. Wanita yang mereka panggil Madam hanya membalas anggukan singkat, lalu matanya langsung menelisik Cleona dari ujung kepala hingga kaki. “Ini wanita yang kamu bilang kemarin?” tanyanya datar. Cleona merasa tubuhnya kaku saat sorot tajam itu menelannya bulat-bulat. Sudut bibir Madam perlahan terangkat. “Lumayaaan…” ucapnya seraya memutar tubuh Cleona dengan jemari dinginnya. “Kamu tahu kan tugasmu malam ini?” suaranya kini diarahkan langsung pada Cleona. Gadis itu mengangguk dengan tangan sedikit gemetar. “Pura-pura berfoto mesra. Telanjang. Di dalam kamar hotel.” Madam menyeringai puas. “Betul. Lima juta untuk satu foto.” Ia menyerahkan sebuah foto pada Cleona. Dengan ragu, Cleona menerimanya. Wajah di foto itu membuat jantungnya berdegup kencang. “Dia seorang public figure,” jelas Madam, nada suaranya meninggi sedikit, penuh tekanan. “Client saya meminta kamu menjebaknya. Dengan foto-foto mesra di atas ranjang… seolah kalian punya hubungan.” Madam mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya seperti bisikan dingin yang menusuk telinga. Cleona merasakan bulu kuduknya meremang. “Tenang saja,” lanjut Madam dengan senyum tipis, “Dia sudah dalam keadaan tidak sadar. Jadi kamu bisa lebih leluasa menjalankan tugasmu.” “Jadi pastikan kamu berhasil. Tanpa ada kendala sedikitpun.” Lanjutnya. Cleona menelan ludah, dadanya sesak. Ia kembali mengangguk. Lo bisa, Na… cuma foto doang… batinnya berusaha menguatkan diri, meski tubuhnya tak henti gemetar. . . Setelah menerima instruksi bahwa target sudah siap, Cleona melangkah menuju kamar hotel. Matanya terus terpaku pada deretan angka di panel lift hingga berhenti di angka 9. Ting! Pintu lift terbuka. “909…” gumamnya pelan, mengulang nomor kamar yang tadi disebutkan. Sesampainya di depan pintu, Cleona menarik napas panjang. “Hhh… lo bisa, Na!” bisiknya pada diri sendiri. Namun saat kartu akses ditempelkan, pintu tak kunjung terbuka. “Hah? Kok… nggak bisa?” Ia mengernyit, membolak-balik kartu, lalu menatap angka besar di depan pintu. “Bener kok, 909…” Ia mencoba lagi. Gagal. Hendak menempelkan kartu sekali lagi, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Sosok pria bertubuh tinggi tegap berdiri di ambang pintu. Wajahnya sayu, rambut acak-acakan, dan sorot matanya berat— seperti sedang menahan sesuatu. Cleona tercekat. Bukan karena penampilannya—tapi karena ia sadar. Ini… bukan kamar target di foto tadi. Melainkan—kamar milik Batara, CEO GrahaPharm. “M-Maaf, Tuan… saya sa—” Kalimatnya terpotong begitu tangan besar itu menariknya masuk dengan kasar. “Aaakhhh!” teriakan terkejutnya pecah. Braaakkk! Pintu tertutup rapat di belakang mereka. Batara menatap tajam, suaranya parau namun ketegasan. “Jadi… kamu yang menjebak saya?” Ia mendekat, wajahnya semakin dingin. “Siapa yang membayarmu?” Suara klakson bersahutan dari bawah sana, samar, nyaris tenggelam oleh jarak. Dari atas gedung, jalanan terlihat padat dan kecil—ramai, tapi terasa jauh, seolah berada di dunia lain.Batara berdiri di depan jendela. Satu tangan memegang cangkir teh yang sudah lama dingin, sementara tangan lainnya terselip di saku celana. Pandangannya kosong menembus langit yang mulai gelap, ditambah pikirannya yang berantakan.“Huh…”Helaan napas pelan lolos begitu saja dari bibirnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara lirih dari belakang—membuatnya refleks menoleh.“Euuggh…”Cleona menggeliat pelan. Tubuhnya terasa kaku, pegal dari pinggang ke bawah. Ia mengerjap beberapa kali, matanya menyipit, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.Perlahan kesadarannya kembali. Pandangannya berkeliling—menyapu langit-langit, tirai, lalu berhenti pada sosok Batara yang berdiri di depan jendela.Refleks, ia menarik selimut menutupi tubuhnya. “J-jam berapa sekarang?” suaranya serak, gugup. Begitu melihat
Cahaya senja menyusup lewat celah jendela, mewarnai ruangan dengan semburat jingga ketika Batara keluar dari kamar mandi sambil menggendong tubuh Cleona yang terkulai lemah. Sejak siang hingga menjelang senja, pria itu tak hanya sekali menyentuhnya—berkali-kali, hingga tenaga gadis itu benar-benar habis.Dengan hati-hati, Batara menurunkan Cleona ke atas kasur. Tubuhnya tampak lemas, nyaris tanpa daya. Ia menarik selimut hingga menutupi dada gadis itu.“Istirahatlah…” gumamnya lirih.Tentu saja, kata itu hanya menggantung di udara, karena Cleona sudah lebih dulu tidur—bahkan sejak Batara menggendongnya keluar dari kamar mandi.Batara berdiri di sisi tempat tidur, memperhatikan setiap garis wajah itu—alisnya yang tegas, bulu mata yang lentik, hingga bibir yang sedikit bengkak akibat ulahnya sendiri. Senyum tipis terbit di sudut bibir pria itu.“Cantik…” bisiknya pelan.Udara sore terasa hangat, menyelinap lembut lewat jendela yang tirainya setengah terbuka. Cahaya oranye memantul di ku
Tok! Tok! Tok!Ketukan itu kembali terdengar, lebih keras.Sungguh, Batara ingin menghajar siapa pun yang berani mengganggunya di saat seperti ini. Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuh, lalu merapikan kemeja yang sedikit berantakan.Sekilas, pandangan Batara tertuju pada Cleona yang kini terbaring lemas, tubuhnya tanpa sehelai kain pun. Hawa dingin menembus kulitnya, membuat tubuhnya meremang. Kedua tangannya terikat ke atas kepala.Perlahan ia bergerak mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.“Jangan berteriak. Diam di sini kalau kau ingin selamat,” katanya sembari menepuk pelan pipi Cleona.Gadis itu hanya mengangguk pasrah, tubuhnya masih diliputi ketakutan dan kebingungan. Matanya tertutup rapat, membuatnya tak bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingnya.Batara menarik napas panjang, lalu berbalik menuju pintu. Ketukan itu terdengar lagi — kali ini lebih berat dan mendesakTok! Tok! Tok!Ceklek.Pintu terbuka perlahan. Matanya membulat saat mel
Cleona menelan ludah, tubuhnya seketika kaku. Jantungnya berdetak kencang, napasnya tercekat. Mata Batara menatapnya tanpa berkedip, tajam, penuh pertanyaan—dan amarah yang sulit disembunyikan.Bagaimana bisa… batin Cleona.Batara berdiri perlahan, langkahnya mantap mendekat. Cleona reflek mundur, detak jantungnya semakin cepat. Ia berbalik bergerak ke arah gagang pintu, berencana melarikan diri, tapi sebelum tangannya menyentuhnya—Sreetttt!Genggaman Batara lebih cepat. Tangannya menahan pergelangan Cleona, menariknya mendekat hingga tubuh mereka berdempetan.Seketika, aroma vanila yang lembut dari tubuh Cleona menguar, menusuk indera Batara. Membuat ingatan tentang malam itu di hotel—kembali muncul, dan membangunkan hasrat yang mati-matian ia pendam selama ini.“T-tolong lepaskan saya, Tuan!” suara Cleona bergetar, napasnya tersengal di antara rasa takut dan bingung. Namun genggaman Batara tetap kuat, tegas, tak memberinya ruang untuk lari.“Jadi sekarang, kau ingin memata-matai pe
Jam menunjukkan pukul enam pagi ketika ia melangkah masuk ke gedung Grahapharm. Hari ini, suasananya terasa berbeda—mood-nya sedang bagus. Mungkin karena ini hari pertamanya bekerja.“Selamat pagi, Pak,” sapa Cleona sopan pada petugas keamanan yang berdiri di depan pintu lobi, sambil sedikit menunduk dan tersenyum ramah.Satpam itu membalas dengan anggukan kecil. “Pagi juga, Mbak. Hari pertama, ya?”Cleona terkekeh singkat, mengangguk. “Iya, Pak. Hari pertama banget.”“Semangat, ya. Kerja di sini seru kok, asal tahan sama SOP-nya,” ujarnya bersahabat.“Siap, Pak. Terima kasih.”Cleona lalu melangkah masuk, menatap sekeliling lobi yang masih sepi. Aroma kopi pagi samar tercium dari pantry di ujung ruangan, sementara cahaya matahari menembus kaca besar di sisi kiri, memberi kesan hangat pada awal harinya.Ia menelusuri lorong sesuai arahan Cia—paling ujung sebelah kanan. Langkahnya terpantul lembut di lantai keramik yang masih mengilap. Tak lama, ia tiba di ruang karyawan.Ruangan itu t
Sesuai ide Cia semalam, Cleona kini berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan besar “Grahapharm.” Di tangannya, ia menggenggam amplop cokelat berisi surat lamaran kerja dan data diri.“Huh…” ia menghela napas berat, lalu mengepalkan tangan kanannya.“Semangat!” bisiknya pada diri sendiri.Begitu sampai di meja security, ia menyapa sopan.“Permisi, Pak. Mau interview dengan Ibu Sofie.”Sofie adalah supervisor office boy/girl di perusahaan itu.“Oh, kalau gitu ikut saya, Mbak,” jawab security ramah.Cleona mengangguk cepat. Ia pun mengikuti langkah petugas melewati lorong demi lorong. Setiap sudut terasa asing, membuatnya semakin gugup. Kedua tangannya meremas map cokelat di dada, seolah menjadi pegangan terakhir.Hingga akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan“General Affairs Office”Cleona menahan napas ketika, Security mengetuk sebentar, lalu membuka pintu.Ruangan itu sederhana—ada meja besar dengan tumpukan map, papan jadwal







