Share

Salah Kamar

Author: Choco_muffin
last update Last Updated: 2025-12-10 19:39:24

“Makan dulu ya, Bu. Hari ini Cleona pulang agak malam, ada kerjaan tambahan,” katanya sambil menyendokkan nasi ke piring Danila.

Pagi itu, sebelum berangkat kerja, Cleona menyiapkan masakan sederhana untuk ibunya. Aroma tumisan hangat memenuhi dapur kecil mereka.

Danila mendongak, menatap putrinya penuh rasa ingin tahu. “Kerja apa malam-malam, Nak?”

Cleona sempat terdiam, lalu berdehem untuk meredakan gugupnya.

“E-itu, Bu… bantu-bantu di tempat Tante Cia. Ada pesanan catering banyak, harus siap pagi-pagi buat dikirim.”

Dalam hatinya, Cleona merapal banyak permintaan maaf. Ia terpaksa berbohong.

Danila tidak langsung merespons. Ada rasa ganjil yang mengusik hatinya, tapi ia tahu putrinya selalu berusaha keras demi mereka berdua. Akhirnya, ia hanya mengangguk pelan.

“Yang penting kamu jaga kesehatan aja, Na. Jangan diforsir, nanti malah sakit.”

Cleona tersenyum tipis, menahan perasaan bersalah. Ia hanya mengangguk, tidak berani menatap ibunya terlalu lama.

Usai makan, ia segera bersiap berangkat kerja. Sepatu sudah terpakai, tas sudah di bahu. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sebentar.

“Berangkat dulu ya, Bu,” ucap Cleona sambil mencium pipi Danila. “Jangan tunggu Ona, Ibu istirahat aja nanti.”

Danila mengelus lengan putrinya, senyumnya hangat meski matanya menyimpan cemas.

“Iya… kamu hati-hati ya, Na.”

Cleona mengangguk cepat, lalu bergegas pergi.

Setelah kepergian Cleona, Danila berdiri lama di depan rumah. Pandangannya tak lepas dari punggung sang anak yang semakin menjauh,

hingga akhirnya lenyap di tikungan jalan.

Ia menghela napas berat, tangan kirinya refleks menekan dada yang terasa sesak. Ada sesuatu yang membuat hatinya gelisah, seakan firasat buruk tengah berbisik pelan.

“Semoga kamu baik-baik saja, Nak…” ucap Danila lirih, hampir seperti doa yang ia kirimkan ke udara.

****

Sesampainya di tempat kerja, Cleona langsung menaruh barang-barangnya, lalu mengenakan celemek. Ia membantu karyawan lain merapikan gelas dan menyiapkan bahan makanan.

Saat sedang mengelap gelas, Silvia mendekat sambil mencondongkan tubuh.

“Lo siap kan, Na? Ntar malem.”

Cleona menoleh cepat, ada sedikit gugup yang ia tutupi dengan senyum tipis.

“Siaaap.”

Silvia menyipitkan mata, seolah ingin memastikan sekali lagi. Begitu yakin, ia menepuk pelan bahu Cleona.

“Bagus. Nanti pulang kerja kita langsung cabut.”

Cleona hanya mengangguk, tapi di dalam dadanya ada campuran antara penasaran, takut, dan deg-degan yang makin sulit ia redam.

Waktu terus berjalan. Suasana kafe yang hangat dipenuhi cahaya lampu kekuningan yang jatuh lembut di atas meja-meja kayu sederhana. Rak dinding berisi tanaman hias membuat ruangan kecil itu terasa lebih hidup.

Mesin kopi menderu pelan, berpadu dengan denting gelas dan riuh rendah obrolan pengunjung yang hampir tak pernah putus.

“Meja 25, americano sama spaghetti!” teriak Doddy dari balik bar.

“Siap, bentar lagi keluar!” sahut karyawan dapur.

“Cleona, tolong ambilin order meja 12 ya—latte sama croissant!” panggil Silvia sambil buru-buru menyusun gelas.

“On the way!” jawab Cleona cepat, berlari kecil sambil membawa nampan.

Kafe ini hanya memiliki enam karyawan: dua di dapur, dua pelayan di luar, satu barista, dan satu kasir. Silvia dan Cleona sering bergantian tugas, kadang melayani tamu, kadang membantu menyiapkan pesanan.

Meski kecil, Rvang— begitu nama kafe itu, nyaris tidak pernah sepi—setiap malam kursinya hampir penuh oleh mahasiswa, pekerja muda, atau pasangan yang mencari tempat nyaman untuk berbincang.

Hingga tiba saatnya kafe tutup, semua karyawan sudah beres-beres dan bersiap pulang. Lampu-lampu mulai diredupkan, kursi-kursi ditata kembali ke posisi semula.

“Kalian nggak pulang?” tanya Doddy heran, melihat Cleona dan Silvia masih duduk di depan kafe.

“Nunggu Grab,” jawab Silvia singkat sambil menunduk mengecek ponselnya.

“Terus lo, Na? Bukannya lo bawa motor?” Doddy menoleh ke arah Cleona.

Cleona menyeringai sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Gue ngikut Silvia aja. Motor gue nitip sini dulu.”

Doddy hanya mengangguk, meski sorot matanya tampak sedikit penasaran. Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, sebuah mobil Grab sudah berhenti di depan kafe.

“Tuh, Grab-nya udah dateng, Na,” ujar Silvia sambil bangkit. Ia melambaikan tangan pada Doddy. “Duluan ya, Dod. Hati-hati di jalan!”

“Siap, kalian juga,” balas Doddy singkat.

Silvia segera melangkah menghampiri mobil, dan Cleona mengikuti di belakang tanpa banyak kata. Tangannya basah oleh keringat, jantungnya berdegup kencang. Ada rasa ingin menolak, tapi semuanya sudah terlambat.

.

.

Perjalanan berlangsung hening. Cleona hanya menatap keluar jendela, berusaha menenangkan perasaan gelisah, napasnya terasa sesak.

Dalam hitungan menit, mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah yang berdiri anggun, diterangi lampu temaram nan elegan.

Hotel DoubleTree…

“Ayo, Na,” gumam Silvia pelan sambil membuka pintu mobil.

Cleona menelan ludah. Kakinya sempat gemetar sebelum akhirnya melangkah turun, mengikuti Silvia menuju lobi hotel.

Di saat yang bersamaan, seorang pria dengan setelan jas rapi baru saja turun dari mobil hitam di depan hotel. Dialah CEO GrahaPharm, yang datang untuk menghadiri meeting mendadak malam itu.Kehadirannya nyaris tak diperhatikan siapa pun di tengah riuh lalu lalang tamu hotel.

Sementara itu, Cleona dan Silvia sudah melangkah masuk ke lobi. Aroma wangi khas hotel bercampur dengan dinginnya hembusan pendingin ruangan. Mereka berjalan menuju seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan yang sejak tadi menunggu di sofa, menatap keduanya dengan sorot penuh perhitungan.

Silvia menyapa lebih dulu, suaranya penuh hormat.

“Selamat malam, Madam.” Ia mengangguk pelan.

Wanita yang mereka panggil Madam hanya membalas anggukan singkat, lalu matanya langsung menelisik Cleona dari ujung kepala hingga kaki.

“Ini wanita yang kamu bilang kemarin?” tanyanya datar.

Cleona merasa tubuhnya kaku saat sorot tajam itu menelannya bulat-bulat. Sudut bibir Madam perlahan terangkat.

“Lumayaaan…” ucapnya seraya memutar tubuh Cleona dengan jemari dinginnya.

“Kamu tahu kan tugasmu malam ini?” suaranya kini diarahkan langsung pada Cleona.

Gadis itu mengangguk dengan tangan sedikit gemetar.

“Pura-pura berfoto mesra. Telanjang. Di dalam kamar hotel.”

Madam menyeringai puas.

“Betul. Lima juta untuk satu foto.” Ia menyerahkan sebuah foto pada Cleona.

Dengan ragu, Cleona menerimanya. Wajah di foto itu membuat jantungnya berdegup kencang.

“Dia seorang public figure,” jelas Madam, nada suaranya meninggi sedikit, penuh tekanan.

“Client saya meminta kamu menjebaknya. Dengan foto-foto mesra di atas ranjang… seolah kalian punya hubungan.” Madam mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya seperti bisikan dingin yang menusuk telinga.

Cleona merasakan bulu kuduknya meremang.

“Tenang saja,” lanjut Madam dengan senyum tipis, “Dia sudah dalam keadaan tidak sadar. Jadi kamu bisa lebih leluasa menjalankan tugasmu.”

“Jadi pastikan kamu berhasil. Tanpa ada kendala sedikitpun.” Lanjutnya.

Cleona menelan ludah, dadanya sesak. Ia kembali mengangguk.

Lo bisa, Na… cuma foto doang… batinnya berusaha menguatkan diri, meski tubuhnya tak henti gemetar.

.

.

Setelah menerima instruksi bahwa target sudah siap, Cleona melangkah menuju kamar hotel. Matanya terus terpaku pada deretan angka di panel lift hingga berhenti di angka 9.

Ting!

Pintu lift terbuka.

“909…” gumamnya pelan, mengulang nomor kamar yang tadi disebutkan.

Sesampainya di depan pintu, Cleona menarik napas panjang.

“Hhh… lo bisa, Na!” bisiknya pada diri sendiri.

Namun saat kartu akses ditempelkan, pintu tak kunjung terbuka.

“Hah? Kok… nggak bisa?” Ia mengernyit, membolak-balik kartu, lalu menatap angka besar di depan pintu.

“Bener kok, 909…”

Ia mencoba lagi. Gagal. Hendak menempelkan kartu sekali lagi, tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.

Sosok pria bertubuh tinggi tegap berdiri di ambang pintu. Wajahnya sayu, rambut acak-acakan, dan sorot matanya berat— seperti sedang menahan sesuatu.

Cleona tercekat. Bukan karena penampilannya—tapi karena ia sadar. Ini… bukan kamar target di foto tadi.

Melainkan—kamar milik Batara, CEO GrahaPharm.

“M-Maaf, Tuan… saya sa—”

Kalimatnya terpotong begitu tangan besar itu menariknya masuk dengan kasar.

“Aaakhhh!” teriakan terkejutnya pecah.

Braaakkk!

Pintu tertutup rapat di belakang mereka.

Batara menatap tajam, suaranya parau namun ketegasan.

“Jadi… kamu yang menjebak saya?”

Ia mendekat, wajahnya semakin dingin.

“Siapa yang membayarmu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjebak Cucu Presdir   Kotak Misterius

    “Ona … kalau pulang, Ibu nitip roti tawar, ya.”Itu kalimat terakhir Danila saat Cleona berpamitan untuk menemui Cia. Hari itu, mereka berencana bersama-sama mendatangi kantor polisi sebagai saksi atas penemuan mayat kemarin.Seandainya Cleona tahu itu akan menjadi hari terakhirnya bersama sang ibu, ia akan menukar apa pun agar bisa tetap tinggal di rumah.Kini, di hadapannya, di atas ranjang pasien, tubuh Danila terbujur kaku. Wajahnya pucat dan dingin. Beberapa kabel yang masih menancap di tubuh itu perlahan dilepas, satu per satu.“Ibu…” Tangannya gemetar saat menyentuh kulit yang tak lagi hangat.“Tolong jangan tinggalkan Ona.” Air mata Cleona jatuh, membasahi wajah sang ibu.Cia mendekat dan mengusap lembut bahu Cleona. Tak ada kata. Hanya sentuhan pelan, seolah berharap itu cukup untuk menguatkan sahabatnya yang tenggelam dalam duka.Suara tangis Cleona menjadi satu-satunya bunyi di ruang ICU itu. Hawa dingin terasa semakin menusuk.Sementara itu, Batara menunggu di luar, berdir

  • Menjebak Cucu Presdir   Kehilangan

    Siang itu, di depan ruang IGD, dua wanita bersahabat duduk berdampingan. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki yang lalu-lalang menjadi latar di tengah keheningan.“Bener,” ulang Cia pelan, menatap Cleona lekat. “Lo nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Batara?”Cleona terpaksa menceritakan bagaimana ia bisa berakhir datang bersama Batara. Ia menyusun cerita yang aman—cukup masuk akal untuk dipercaya, tapi tidak sepenuhnya jujur. Ada bagian yang sengaja ia sisakan, terutama soal perjanjian antara dirinya dan atasannya itu.Ia mengangguk kecil. “Bener. Gue nggak sengaja pingsan di jalan. Dan… Pak Batara yang nemuin.”Cia mengangkat alis. “Terus?”“Nggak ada apa-apa lagi,” jawab Cleona cepat, nyaris terlalu cepat. “Cuma itu.”Ada jeda. Cia menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah mencari celah di wajah Cleona. Namun yang ia temukan hanya kelelahan—mata sembap, tangan gemetar dan napas yang terdengar berat.“Oke deh…” Cia akhirnya menghela napas. “Gue percaya.”Cleona tersenyum tipis

  • Menjebak Cucu Presdir   Rencana Tersembunyi

    Pagi itu seharusnya tenang. Cahaya mentari menembus jendela besar, menyinari meja yang masih tersisa aroma spaghetti dan jus strawberry. Tapi bagi Cleona, semua terasa hampa. Dadanya sesak, jantungnya berdegup cepat, seolah batu besar menimpa tubuhnya.“Maaf, Pak… saya harus ke rumah sakit sekarang,” ucapnya gemetar, kepala menunduk. Air matanya menetes tanpa ia sadari.Batara mengerutkan alis. Kursi di belakangnya bergeser saat ia bangkit, menatap Cleona yang hampir menyentuh knop pintu. Dengan gerakan mantap, tangannya meraih lengan wanita itu, menahan sejenak. Tatapan mereka bertemu—ada campuran khawatir dan… sesuatu yang lain, sulit dijelaskan.“Biar saya antar,” ucapnya tegas. “Tunggu di sini, jangan kemana-mana.”Cleona menelan ludah, pikirannya kacau. Ia ingin menolak, tapi panik untuk ibunya jauh lebih besar. Perlahan ia mengangguk, pasrah, membiarkan Batara sekali lagi mengambil alih kendali hidupnya.Tak lama, Batara muncul dari tangga, mengenakan sweter abu-abu yang sederha

  • Menjebak Cucu Presdir   Perburuan Di mulai

    Gudang tua itu pengap. Bau karat dan debu menempel di udara. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menjadi satu-satunya penerangan diruang itu. Dimas Saputra duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding. Tangannya memeluk erat sebuah ransel lusuh yang berisi beberapa pakaian dan makanan seadanya. Wajahnya tirus, matanya cekung, napasnya berat. Ketua penelitian laboratorium itu kini tak lebih dari buronan yang bersembunyi seperti tikus. “Brengsek… gue jadi sengsara begini,” gumamnya frustrasi. Matanya menatap kosong ke depan. Ingatannya perlahan di tarik ke beberapa hari lalu, saat ia melapor—mengatakan bahwa seluruh riset kini diawasi langsung oleh Batara. Ia ingat jelas sambungan telepon itu belum benar-benar terputus. “Bunuh dia. Kita sudah tidak membutuhkannya.” Suara Dimitri. Darah Dimas langsung naik. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu cepat menghantam dada. Kursi di depannya ditendang keras sampai terjungkal.

  • Menjebak Cucu Presdir   Redroom

    “Berani kamu mengabaikan pesan saya?” Kalimat itu membuat Cleona tersentak. Ia yang tengah berdiri di teras rumah langsung mendongak. Matanya membelalak begitu mendapati Batara bersandar santai di pintu mobil hitamnya, terparkir tepat di depan pagar. Matahari siang yang mulai condong ke barat memantulkan cahaya ke kaca mobil, membuat suasana terasa hangat sekaligus menekan. “Untuk apa Bapak di sini?” tanya Cleona, suaranya tertahan. Tangannya refleks mencengkeram ujung tas selempangnya. Batara tak menjawab. Ia meluruskan tubuh, melangkah mendekat dengan langkah panjang. Tangannya menangkap pergelangan tangan Cleona, lalu menariknya ke arah pintu mobil. “Pak—” tubuh Cleona ikut terseret. Ia nyaris kehilangan keseimbangan sebelum menghentakkan kaki, menahan diri tepat di ambang pintu yang sudah terbuka. “Ibu saya butuh saya hari ini,” ucapnya cepat, napasnya sedikit terengah. Batara menatapnya singkat, rahangnya mengeras. Tangannya di punggung Cleona menekan pelan namun memaksa

  • Menjebak Cucu Presdir   Investigasi

    “Astaga… lihat itu…!” Teriak seorang karyawan membuat semua kepala menengadah ke arah dinding kaca. Dalam hitungan detik, lorong GrahaPharm yang biasanya tenang berubah menjadi hiruk-pikuk penuh bisik dan langkah panik. Tubuh seorang manusia tergantung di rooftop. Diam. Tak bergerak. Bayangannya jatuh panjang di kaca, membuat siapa pun yang melihatnya merinding. Di tengah hiruk-pikuk itu, Batara muncul. Tatapannya seperti pisau yang membelah kekacauan. Tenang. Tapi berbahaya. “Hubungi polisi,” perintahnya pada Niko, suaranya rendah namun mengintimidasi. Ia lalu menatap karyawan yang masih terpaku di tempat. “Kalian segera berkemas. Kantor harus steril.” Telunjuknya kemudian mengarah ke Cleona. “Kecuali kamu—dan seluruh petugas lab. Tetap di sini sampai polisi datang.” Sebelum ia kembali ke ruangannya, pandangannya sempat bertemu dengan Cleona yang tampak ketakutan. Ekspresi itu cukup membuat rahangnya mengeras. Tak lama kemudian, suara sirene mendekat. Polisi memasu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status