Share

129 - GOLD DIGGER

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-10-07 23:53:53

“Hal apa yang tidak diketahui oleh Mr. Aras tentangmu?”

Aku belum pernah bercerita kepadanya tentang mantan suamiku, Guntur Wicaksana. Aku berharap bisa mengatakannya secara langsung kepadanya. Aras hadir dalam hidupku ketika aku sudah bercerai. Ia juga tidak mengetahui bahwa aku pernah mengalami keguguran setelah memergoki mantan suamiku berciuman dengan mantan pacarnya. Mereka bahkan pernah tinggal bersama selama dua tahun.

Aku tidak ingin Aras berpikir bahwa aku menjadikannya sebagai pelaria
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   131 - CANDU

    Aroma kayu manis yang samar berpadu dengan gurihnya daging domba empuk di atas hamparan purée terung panggang memenuhi ruang makan apartemen Ines malam itu. Hidangan tradisional Turki, Hünkar Beğendi, tersaji dengan cantik di tengah meja. Suasananya hangat dan privat, jauh dari hiruk-pikuk Margaret River Hospital yang biasa menyita seluruh waktuku.Aku menyuap sesendok makanan itu ke dalam mulut. Dagingnya begitu lembut, sementara saus berbahan terung dan bechamel lumer sempurna di lidah.“Kau bisa memasaknya?” tanyaku, menatap Ines yang duduk di seberang meja. Ia memperhatikanku dengan raut cemas.“Aku mencobanya, tentu saja. Aku melihat tutorialnya di You***e, tetapi aku benar-benar tidak yakin dengan rasanya,” jawab Ines jujur. Jemarinya meremas serbet makan dengan gugup.Aku tersenyum lembut, lalu menelan suapan pertama itu.“Ini lezat,” kataku tulus.“Tapi... ini pertama kalinya kau mengundangku dinner seperti ini di apartemenmu. Biasanya kita hanya bertemu di kafe atau di taman,

  • Menjemput Senja di Langit Palu   130 - PASIEN KARDIOMIOPATI HIPERTROFIK

    Kesibukan unit darurat dan aroma khas ruang sterilisasi sudah menjadi hal yang akrab bagiku, seperti hari-hari biasanya. Sebagai dokter spesialis jantung atau kardiolog di Margaret River Hospital, hari-hariku selalu berpacu dengan waktu. Di tempat ini, setiap detik bisa menjadi pembatas antara hidup dan mati. Aku dituntut untuk tetap fokus ketika berhadapan dengan otot jantung yang melemah atau pembuluh darah yang tersumbat.Namun, semua orang di luar sana hanya mengetahui permukaannya. Mereka hanya melihatku sebagai seorang dokter ahli jantung yang berdedikasi tinggi pada pekerjaanku. Tidak banyak yang tahu bahwa di balik jas putih ini, aku menyimpan sisi lain dari hidupku yang jauh lebih rumit—sebuah hubungan terlarang, meskipun aku sudah memiliki seorang kekasih.Siang itu terasa sangat menguras energi, baik secara fisik maupun mental. Aku baru saja menyelesaikan tindakan kritis di ruang kateterisasi (cath lab) untuk menyelamatkan seorang pasien yang telah berjuang melawan kardiomi

  • Menjemput Senja di Langit Palu   129 - GOLD DIGGER

    “Hal apa yang tidak diketahui oleh Mr. Aras tentangmu?”Aku belum pernah bercerita kepadanya tentang mantan suamiku, Guntur Wicaksana. Aku berharap bisa mengatakannya secara langsung kepadanya. Aras hadir dalam hidupku ketika aku sudah bercerai. Ia juga tidak mengetahui bahwa aku pernah mengalami keguguran setelah memergoki mantan suamiku berciuman dengan mantan pacarnya. Mereka bahkan pernah tinggal bersama selama dua tahun.Aku tidak ingin Aras berpikir bahwa aku menjadikannya sebagai pelarian. Aku juga tidak ingin membuatnya merasa seperti obat untuk menyembuhkan luka masa laluku. Tidak. Itu tidak benar. Bagaimanapun, Aras hadir ketika aku benar-benar sudah sembuh. Ketika aku sudah terbebas dari utang-utang mantan suamiku dan mulai menata kembali hidupku.Ketika akhirnya mengetahui kenyataan bahwa ia telah meninggal, sejujurnya aku merasa bersalah karena sempat mengira ia pergi begitu saja tanpa mengetahui bahwa saat itu ia sedang sakit. Dan pada akhirnya, aku justru bertemu dengan

  • Menjemput Senja di Langit Palu   128 - PERNYATAAN

    “Kau jatuh cinta pada orang yang belum pernah kau temui?”Pesan itu terkirim begitu saja dan muncul di ruang obrolan kami. Ini adalah pertama kalinya aku memberanikan diri menceritakan rahasia ini kepada seseorang. Selama ini, aku tidak pernah berniat curhat kepada anak-anak L’Escape Studio—bahkan kepada Clara, sahabat baikku yang sudah bersamaku sejak bangku SMA.Pertanyaan itu membuatku teringat ketika aku menghadiri pernikahan Giska, salah seorang teman kuliah kami, menemukan belahan jiwanya melalui aplikasi kencan. Aku masih ingat bagaimana orang-orang di sekitar kami meremehkannya, bahkan tidak jarang menganggapnya sudah gila. Bagaimana mungkin tidak? Hubungan mereka bukan sekadar terpisah jarak antar kota, melainkan terbentang di antara dua benua.Dulu, aku sering menyaksikan bagaimana Giska menghabiskan malamnya hanya untuk menunggu bunyi bzzzt atau kedipan lampu dari ponselnya, berharap ada rekaman suara atau pesan masuk dari kekasih Turkinya. Ketika orang-orang mendesaknya de

  • Menjemput Senja di Langit Palu   127 - KINAN BASKARA

    Aroma mentega dan tumisan bawang bombai memenuhi seisi dapur malam itu. Di bawah temaram lampu gantung, suasana terasa begitu hangat. Aku bergerak canggung, sesekali memotong wortel dengan ukuran yang tidak terlalu rapi, sementara Kinan berdiri di sebelahku dengan celemek abu-abu yang membungkus tubuh tegapnya.Dari balik pembatas dapur, langkah kaki Mama terdengar mendekat. Beliau bersandar di ambang pintu, menatap kami berdua dengan senyum penuh arti yang membuat pipiku mendadak panas.“Anggap saja Mama tidak di rumah malam ini. Nikmati saja waktu kalian berdua,” goda Mama sambil mengerlingkan mata dengan jenaka sebelum berbalik kembali ke ruang tamu.“Mama!” seruku tertahan karena malu, yang langsung dibalas tawa renyah wanita yang telah melahirkanku itu.Aku menoleh ke arah Kinan, khawatir dia merasa tidak nyaman. Namun, pria itu hanya tersenyum tipis dan tetap tenang. Tangannya begitu cekatan mengocok telur, lalu memutarnya di atas teflon dengan gerakan yang begitu mulus hingga m

  • Menjemput Senja di Langit Palu   126 - CINTA BARU

    Aroma kertas tua, kayu yang dipoles, dan udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutku begitu aku melangkah masuk ke Stanton Library di kawasan North Sydney. Perpustakaan empat lantai dengan arsitektur pertengahan abad itu terasa lengang pada hari kerja. Aku menyusuri jajaran rak tinggi di bagian botani dan hortikultura, mencari buku panduan mengenai metode perawatan pohon palem. Aku membutuhkan referensi itu untuk proyek lanskap. Jari-jariku menelusuri punggung buku-buku tebal, sementara mataku dengan jeli membaca nomor klasifikasi.Langkah kaki terdengar dari beberapa rak di belakangku. Awalnya, aku mengira itu hanya pengunjung lain. Namun, setiap kali aku berpindah koridor rak—dari bagian tanaman tropis ke jajaran buku arsitektur taman—suara langkah kaki yang konstan dan berjarak sama itu terus mengikutiku.Aku berhenti di depan rak buku-buku tebal bersampul hijau ketika layar ponselku menyala. Rupanya, ada notifikasi dari aplikasi pesan anonim di ponselku.“Apakah kau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status