แชร์

32 - PERMINTAAN

ผู้เขียน: Celine Alo08
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-17 23:27:10

Tiga jam sebelumnya.

Aku duduk sendirian di dalam mobil.

Mesin mobil telah lama mati. Aku membuka sebuah kontak tanpa nama yang hanya berisi deretan angka.

Tanpa ragu, jemariku mulai mengetik.

Aku butuh bantuan untuk membuat seseorang takut.

Kukirim pesan itu.

Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar.

Layar kembali menyala.

Siapa orangnya?

Aku mengangkat kepala.

Dari balik kaca depan, gedung terminal masih bermandikan cahaya lampu proyek. Siluet para pekerja sesekali melintas.

Tatapanku berhe
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menjemput Senja di Langit Palu   32 - PERMINTAAN

    Tiga jam sebelumnya.Aku duduk sendirian di dalam mobil.Mesin mobil telah lama mati. Aku membuka sebuah kontak tanpa nama yang hanya berisi deretan angka.Tanpa ragu, jemariku mulai mengetik.Aku butuh bantuan untuk membuat seseorang takut.Kukirim pesan itu.Beberapa detik kemudian, ponselku bergetar.Layar kembali menyala.Siapa orangnya?Aku mengangkat kepala.Dari balik kaca depan, gedung terminal masih bermandikan cahaya lampu proyek. Siluet para pekerja sesekali melintas.Tatapanku berhenti pada bangunan itu.***Siang itu, aku memasuki kantor polisi.Suasana di dalam terasa sibuk. Beberapa petugas berjalan cepat melewati lorong, sementara suara percakapan dan dering telepon terdengar bersahutan dari beberapa ruangan.Aku sempat melihat seorang petugas membawa setumpuk berkas di tangannya. Di sisi lain, dua orang duduk menunggu dengan wajah tegang. Aku mengikuti sipir yang mengantarku menuju ruang kunjungan.Sudah setengah jam aku menunggu.Akhirnya, suara langkah kaki terdenga

  • Menjemput Senja di Langit Palu   31 - TERSANGKA

    Di antara pandangan yang mulai kabur, kulihat sorot lampu sepeda motor berhenti beberapa meter dariku. Seorang pria berjaket kulit melompat turun. Aku mengenali sosok itu."Naomi!"Suara itu terdengar begitu jelas di telingaku. Belum sempat aku menjawab, ia sudah menerjang pria yang berjalan ke arahku.Bruk!Suara benturan terdengar disusul umpatan dan langkah kaki yang saling berkejaran."Brengsek!"Brak!Bayangan mereka saling beradu di hadapanku.Tak lama kemudian, suara derap kaki lain berdatangan dari arah bangunan."Ada apa ini?""Telepon polisi!""Panggil ambulans! Cepat!"Suara-suara itu terdengar semakin samar. Kelopak mataku semakin berat.***Malam itu, aku berdiri di depan ruang observasi. Melalui celah kaca di pintu, kulihat seorang perawat sedang memeriksa tekanan darahnya.Mama Naomi duduk beberapa kursi dariku. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Bibirnya terus bergerak pelan, melantunkan doa yang nyaris tak terdengar.Aku mengembuskan napas panjang.B

  • Menjemput Senja di Langit Palu   30 - MALAM BERDARAH

    Aku mengetuk pintu kamar.“Masuk,” terdengar sahutan lirih dari dalam.Aku memutar kenop pintu perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.Lampu kamar hanya menyala redup. Ines bersandar di kepala ranjang dengan piyama bermotif polkadot merah muda.“Kamu sakit, Nes?”Aku melangkah mendekat, lalu menarik kursi di samping ranjang.Belum sempat kudengar jawabannya, Ines tiba-tiba bergeser mendekat.“Erul...”Kedua lengannya langsung melingkari pinggangku.“Aku sakit, Rul.”Aku terdiam di tempat, membiarkan kedua tanganku menggantung canggung di udara tanpa membalas pelukannya.Aku menempelkan punggung tangan ke dahinya.“Keningmu dingin,” kataku datar.Aku menarik tangan kembali.“Kamu tidak demam, kok.”Ines hanya menunduk.Pandanganku beralih ke semangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis di atas meja rias.Aku mengambil mangkuk itu, lalu kembali duduk di samping ranjang.Aku menyendok sedikit bubur hangat, lalu menyodorkannya ke depan bibirnya.“Buka mulut,” ujarku pelan.Ines men

  • Menjemput Senja di Langit Palu   29 - TIGA PRIA

    Aku berjalan menyusuri koridor ruang airline yang belum selesai direnovasi. Langkah sepatuku memantul pelan di lantai beton yang masih dipenuhi debu halus.Layar ponselku menyala.Erul"Naomi, aku lambat ke lokasi proyek. Ada urusan mendadak.""It's okay.""Kalau urusan di sini kelar, aku pasti langsung ke sana.""Jangan dipikirkan."Aku memasukkan ponsel ke saku rompi.Malam ini terasa jauh lebih sunyi dibanding jadwal lembur biasanya. Suara gerinda yang sejak sore memenuhi bangunan kini tinggal terdengar sesekali.Di sisi timur, beberapa teknisi elektrikal masih berdiri di atas scaffolding, memasang fitting lampu. Di sisi lain, beberapa pekerja membongkar pelat lantai dari lantai dua. Selebihnya, area proyek mulai kosong."Tidak ada pekerjaan arsitektur malam ini," gumamku pelan.Aku menghampiri seorang mandor yang sedang mengawasi para pekerja membereskan peralatan."Pak, rencananya lembur sampai jam berapa?""Tidak lama, Bu. Jam delapan sudah selesai. Tim lain juga sudah mulai ber

  • Menjemput Senja di Langit Palu   28 - CEMBURU

    Siang itu, aku kembali memasuki kantor direksi konsultan.“Permisi.”Clara mengangkat kepala.“Oh, taruh saja di sini. Sebentar, ya. Aku data dulu.”Aku mengangguk kecil. Kutarik kursi di depan mejanya, lalu duduk sambil menunggu berkas-berkas itu selesai diperiksa.Tanpa sengaja, pandanganku beralih ke sudut ruangan.Naomi dan Erul duduk berdampingan di depan meja kerja. Naomi sedang menjelaskan spesifikasi material, sementara Erul sesekali mengajukan pertanyaan dan mencatat beberapa poin penting.Pemandangan biasa.Bagi orang lain, mereka hanya dua rekan kerja yang sedang membahas pekerjaan.Namun, rahangku mengeras.Berbeda sekali dengan sikap Erul kepadaku.Tidak ada sapaan. Tidak ada tatapan. Bahkan ketika kami berpapasan di depan kantor kontraktor, ia hanya mengangguk singkat sebelum melanjutkan langkah, seolah-olah kami tidak pernah saling mengenal.Erul memang sudah memperingatkanku. Jika hubungan kami sampai diketahui orang lain, ia bisa ikut dicurigai terlibat dalam semua per

  • Menjemput Senja di Langit Palu   27 - ASISTEN ARSITEK

    Aku mencocokkan posisi bukaan pintu dan jendela pada gambar denah. Beberapa pekerja tampak sibuk menyusun bata ringan, sementara suara mesin pemotong hebel sesekali menderu.“Bagian ini nanti jangan lupa disisakan untuk jalur instalasi listrik,” ujarku sambil menunjuk salah satu sisi dinding.“Baik, Bu.”Aku kembali menelusuri gambar di tanganku. Tanpa kusadari, sejak beberapa menit lalu seseorang terus memperhatikanku.“Bu Naomi.”Aku menoleh.Seorang pria mengenakan rompi proyek berwarna hijau dan helm putih berdiri beberapa langkah di belakangku.“Ya?”“Saya butuh arahan untuk menentukan arah kiblat musala nantinya.”Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di ruang direksi.Clara yang sedang mengetik laporan spontan mengangkat kepala. Tatapannya langsung tertuju pada seorang pria yang duduk di depan meja Naomi.“Ngapain kamu di sini, Rul?”Pandangan Clara kembali turun dari kemeja dan rompi yang dikenakan pria itu hingga berhenti pada kartu identitas yang tergantung di dadanya.Be

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status