Share

69 - DEMI IBU

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-09-07 23:46:00
“Berapa lama Erul tinggal di Braga?” tanya Guntur, memecah keheningan. Suaranya terdengar datar, tetapi ada sesuatu yang sengaja disembunyikannya di balik nada itu.

“Sepertinya akan lama,” sahutku, berusaha tetap tenang.

“Ia melanjutkan S-2-nya?”

“Benar.”

Guntur terkekeh hambar, lalu membalikkan tubuhnya perlahan. “Pasti kau bangga padanya.”

“Tentu saja. Maksudku, karena dia sahabatku.”

Aku buru-buru meluruskan ucapanku sebelum Guntur kembali salah paham. Namun, kalimat itu justru seperti menyul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   80 - PENGAKUAN DOSA

    Aku melangkah keluar, merapatkan jaket untuk menghalau udara dingin yang menusuk kulit. Sisa hujan deras semalam masih menyisakan kabut tipis dan genangan air di pelataran parkir. Langkah kakiku mendadak terhenti saat melihat sebuah siluet berdiri di bawah pohon trembesi di depan ruko. Suasana hari itu sangat sepi. Hanya satu atau dua pemilik ruko yang masih berada di dalam bangunan.Aku mengernyitkan dahi, lalu berjalan menghampiri gadis berambut keriting sebahu itu dengan alis terangkat. “Bagaimana kau tahu aku ada di sini, Ra?”Aku melanjutkan langkahku dan Clara menyusul di belakangku. Kami menyusuri sisi tanggul. Angin bertiup kencang menerpa tubuh kami. Sungai Teluk Palu membentang luas di bawah sana."Naomi bilang kau memiliki distro di sini," sahut Clara akhirnya. Suaranya terdengar datar, membelah keheningan. Dia memegang dua gelas cup kopi yang masih mengepulkan asap.Aku terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa kaku. "Hal apa yang membuatmu mencariku

  • Menjemput Senja di Langit Palu   79 - BELUDRU BURGUNDI

    Perlahan, aku mulai menyadari ada sesuatu yang berubah di antara aku dan Naomi.Jantungku berdetak lebih cepat setiap kali ia menyandarkan kepala di bahuku. Begitu pula ketika ia tiba-tiba memelukku karena mendengar kabar bahagia.Aku tidak tahu harus menyebut apa yang kurasakan. Mungkin karena sepanjang hidupku, belum pernah ada seseorang yang memperhatikanku dengan cara yang membuatku merasa benar-benar dilihat.Namun, di balik kehangatan itu, ada ketakutan yang perlahan mencekik.Bagaimana jika Naomi tahu?Bagaimana jika ia melihatku dengan cara yang berbeda?Aku takut ia akan menjauh dan menganggapku sebagai monster yang menjijikkan.Karena itu, aku mati-matian menyembunyikan semuanya. Dan entah bagaimana, aku berhasil.Kami lulus SMA dan melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan jurusan yang sama.Di bangku kuliah, kegemaranku mulai bergeser. Aku suka mengabadikan berbagai momen melalui lensa kameraku. Seiring berjalannya waktu, aku mulai lebih sering mengambil potret Naomi.

  • Menjemput Senja di Langit Palu   78 - DI BAWAH PAYUNG

    Pagi itu, udara di dalam ruang kelas XI-A terasa sedikit lebih riuh dari biasanya. Desas-desus tentang kedatangan seorang murid pindahan telah menyebar sejak bel masuk berbunyi. Aku hanya diam di bangku belakang, tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan mereka.Ketika langkah kaki terdengar mendekat, keheningan mendadak tercipta. Pintu terbuka, dan di belakang guru, seorang gadis melangkah masuk dengan seragam yang masih tampak baru dan rapi.“Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru yang pindah dari sekolah luar kota. Silakan introduce dirimu, Nak,” ujar sang guru sambil mempersilakannya maju.Gadis itu berdiri tegak di depan kelas. Dengan jemari yang bertautan tenang di depan roknya, ia mengumbar sebuah senyuman yang luar biasa cerah.Aku tanpa sadar mengangkat wajah dari buku sketsa yang sejak tadi kubuka.“Halo semuanya, selamat pagi. Perkenalkan, namaku Naomi Saraswati,” ucapnya dengan suara renyah yang terdengar begitu ramah dan percaya diri.Tak lama kemudian, sang wali

  • Menjemput Senja di Langit Palu   77 - KOTAK BERPITA MERAH

    Baru selesai aku berganti pakaian, mataku tertuju pada sebuah kotak kecil dengan pita berwarna merah yang melilit pembungkusnya. Aku membuka kotak itu perlahan dan mendapati sebuah jam tangan klasik dengan leather strap berwarna cokelat. Di bawahnya terselip sebuah kartu ucapan dengan tulisan,Semoga kau menyukai hadiahmu.Jam tangan itu serupa dengan yang pernah diberikan Guntur saat ulang tahunku. Namun, jam tangan tersebut sudah kubuang. Aku bahkan menyaksikan langsung benda itu tenggelam ke dalam sungai yang tidak jauh dari rumah Papa di Braga.Mustahil jam tangan ini adalah benda yang sama.Aku membawa kotak itu keluar kamar dan menghampiri Mama yang sedang membalik adonan kue di atas wajan.“Kau sudah selesai mandi?”Aku mengangguk.“Ma, jam tangan ini dari siapa?” tanyaku sambil menunjukkan benda yang kumaksud.Mama menggeleng kecil.“Mama juga tidak tahu, sayang. Tadi siang, sebelum kau sampai di rumah, ada kurir GoSend yang mengantarkan hadiah itu.”Matanya melirik isi kotak

  • Menjemput Senja di Langit Palu   76 - MI KUAH KARI

    Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta siang itu begitu hidup. Di salah satu sudut ruang tunggu keberangkatan yang luas dan berlantai mengilap, aku duduk bersandar sambil sesekali mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke balik dinding kaca besar. Beberapa burung besi tampak terparkir gagah di apron.Boarding pass masih tergenggam di tanganku. Beberapa saat lagi, aku akan terbang menuju Palu. Riuh suara pengumuman keberangkatan dan derap langkah para penumpang yang berlalu-lalang menjadi latar yang menemaniku menghabiskan menit-menit terakhir sebelum boarding.Aku sedang menunggu Clara yang beberapa saat lalu mampir ke salah satu retail bandara untuk membeli camilan sebagai buah tangan.Tak lama kemudian, Clara muncul sambil membawa tas tangan berbahan kardus. Baru saja ia hendak duduk, panggilan untuk memasuki pesawat menggema di ruang tunggu.Aku segera bangkit, menyampirkan tas kecil ke bahu, lalu mengikuti antrean penumpang yang mulai mengular menuju garbarata.Di tengah baris

  • Menjemput Senja di Langit Palu   75 - PUISI

    “Ini... ini wangi parfum bajingan itu!”Suara teriakan yang lolos dari mulutku ternyata cukup keras. Botol kaca itu langsung kubanting ke atas ranjang.Clara buru-buru keluar dari kamar mandi. Handuk masih melilit tubuhnya.“Ada apa, Naomi?”“Tidak salah lagi. Pasti ini ulah Guntur.”“Tapi, kenapa botol parfummu kau banting?”Clara memungut botol yang isinya tinggal setengah. Ia mengangkatnya ke hidung dan menghirup aromanya.“Bukankah kau memilih parfum ini sendiri?”“Aku sudah lama mengganti aroma parfumku.”Clara kembali mendekatkan botol itu ke hidungnya. Ia menghirupnya sekali lagi, lalu mengernyitkan dahi.“Kau benar. Hanya Kak Guntur yang masih memakai parfum dengan aroma seperti ini.”Tanganku langsung terulur.Clara menyerahkan botol itu kepadaku. Aku menutupnya rapat, lalu menggenggamnya lebih erat dari yang seharusnya.“Naomi, kau mau ke mana?”Aku tidak menjawab.Begitu sampai di ruang rapat, pandanganku langsung menemukan pria berambut cokelat yang masih berbicara dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status