LOGINDi dalam kamar mewah itu, waktu seolah berhenti berputar. Long Xuan menatap manik mata Liya dengan kedalaman yang sanggup menelan seluruh keraguan. Selama tiga tahun, ia membangun benteng es di sekeliling hatinya demi melindungi wanita ini dari "kutukan" darahnya, namun malam ini, benteng itu runtuh total oleh satu sentuhan lembut. Xuan menunduk, mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan. Namun, di luar dugaannya, Liya memberikan balasan yang jauh lebih berani. Ia melingkarkan lengannya di leher Xuan, menarik suaminya lebih dekat, dan dengan gerakan menggoda, ia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Xuan Xuan mengerang lemah, suara yang lahir dari rasa lapar yang tertahan bertahun-tahun. Hasratnya meledak seketika. Tangannya yang gemetar mulai kehilangan kendali. Ia bahkan tidak menyadari bagaimana jemari lentik Liya begitu cekatan membuka simpul jubahnya, hingga pakaian luar sang Adipati melonggar dan ditarik lepas oleh istrinya. Tanpa memutuskan tautan bibir mereka, Xu
Cahaya lilin di dalam kamar mewah itu bergoyang pelan. Aroma maskulin Long Xuan kini mengepung indra penciuman Liya, membuatnya merasa sesak sekaligus terlindungi. Xuan masih menatapnya dengan intensitas yang sanggup melelehkan logam, jemarinya yang kasar mengusap pipi Liya yang masih kemerahan bekas tangis."Bisakah kau tidak keras kepala dan bertindak sesukamu? Bisakah kau tidak membuatku gila karena mengkhawatirkanmu?" Suara Xuan rendah, serak oleh emosi yang tertahan.Liya terdiam, menundukkan kepala laksana anak kecil yang tengah disidang atas kenakalannya. Namun, rasa sesak di dadanya menuntut untuk dikeluarkan. Ia mendongak, menatap mata elang suaminya yang kian melembut."Tidak bolehkah seorang istri khawatir pada suaminya?" Pertanyaan Liya itu sederhana, namun sanggup menghentikan napas Long Xuan sejenak. Mata Liya berkaca-kaca, memantulkan pijar lilin yang syahdu. "Aku melihatmu disentuh wanita lain, Xuan. Aku melihatmu kehilangan dirimu. Bagaimana aku bisa diam saja?"L
Malam di Dan Xue yang sunyi seketika berubah menjadi badai emosi yang menyesakkan. Begitu Liya mengenali aroma maskulin yang bercampur dengan bau arak mahal itu, seluruh tubuhnya melemas. Ia tahu itu suaminya. Ia tidak berontak saat lengan kokoh Long Xuan melingkar di pinggangnya, mengangkat tubuhnya dengan seringan bulu.Xuan melompat ke balkon lantai atas dengan ketangkasan yang luar biasa, membawa mereka ke deretan kamar utama yang tarifnya hanya bisa dijangkau oleh kaum bangsawan. Dengan satu tendangan kasar, Xuan membuka pintu salah satu kamar mewah, mendorong Liya masuk hingga istrinya itu nyaris tersungkur di atas permadani tebal.Pintu dikunci dari dalam. Suasana kamar yang luas dengan interior kayu cendana dan ranjang besar berkelambu sutra itu terasa begitu mengintimidasi. Laki-laki di hadapannya masih mengenakan kain penutup wajah hitam. Tanpa ragu, Liya merangsek maju dan menyentak kain itu hingga terlepas.Mata mereka bertemu. Di sana, di bawah temaram lentera, berdi
Asap ungu yang menyesakkan masih menggantung di udara, namun Jiang Xun tidak memedulikan kekacauan di belakangnya. Pria itu menarik lengan Liya dengan kasar, menyeretnya menembus lorong-lorong gelap Paviliun Yunjin hingga mereka sampai di taman belakang yang sunyi. Oksigen dingin malam Dan Xue menusuk paru-paru Liya yang terengah-engah."Lepaskan! Tuan Jiang, kau gila!" teriak Liya, berusaha menyentak tangannya."Aku menyelamatkanmu, Miao Er! Lihatlah tempat itu, semua hancur!" Jiang Xun berbalik, matanya berkilat penuh obsesi. "Kau ikut denganku ke kediaman Jiang. Sekarang!"Namun, sebelum Jiang Xun sempat melangkah lebih jauh, sekelebat bayangan hitam melesat dari balik pepohonan ginkgo. Dengan gerakan yang hampir tak kasat mata, bayangan itu mendaratkan dua hantaman telak ke titik saraf di leher dan punggung Jiang Xun. Sang bangsawan itu jatuh tersungkur, lumpuh seketika tanpa sempat mengerang."Na Ying!" Liya terpekik pelan, jantungnya nyaris melompat keluar."Berhenti bert
Liya berdiri mematung di lorong yang remang, punggungnya menempel pada dinding kayu yang dingin sementara cengkeraman Jiang Xun di lengannya kian menguat. Di ujung lorong, bayangan Na Ying memberikan isyarat rahasia, sebuah tanda bahwa ia harus menahan Jiang Xun lebih lama agar Na Ying bisa menyelinap ke paviliun atas yang baru saja ditinggalkan kosong."Tuan Jiang, tenanglah," bisik Liya dengan nada yang dibuat manja, mencoba meredam amarah pria di depannya. "Tuan adalah satu-satunya pelindungku di tempat terkutuk ini. Jika Tuan membawaku pergi sekarang, Lan Xue akan murka dan mencelakaiku. Tolong, bersabarlah sedikit lagi."Jiang Xun menggeram, matanya berkilat penuh obsesi. "Wanita tua itu tidak akan berani menyentuhmu jika kau bersamaku, Miao Er! Lihat bagaimana laki-laki peliharannnya memperlakukanmu tadi? Dia memandangmu seolah kau adalah sampah!""Justru karena itu, Tuan," Liya memberanikan diri menyentuh dada Jiang Xun, jemarinya gemetar namun ia memaksakan sebuah tatapan
Cahaya fajar menyelinap di sela-sela tirai sutra kamar penginapan. Liya duduk di tepi ranjang, menatap pergelangan kakinya yang kini dibebat kain putih. Rasa yang berdenyut itu masih ada, namun hatinya jauh lebih sakit saat membayangkan tatapan dingin Long Xuan semalam.Na Ying berdiri di depan jendela, membelakangi Liya. Suaranya rendah namun tajam saat ia mulai menyusun rencana baru."Jiang Xun bukan sekadar penghambat, Shishi. Dia adalah kunci perak yang bisa mendekatkan kita dengan Lan Xue," ujar Na Ying tanpa menoleh.Liya menghela napas, jemarinya meremas kain seprai. "Dia menginginkanku, Na Ying. Dia ingin menjadikanku sebagai kekasihnya. Bagaimana aku bisa memanfaatkan pria yang menatapku seolah-olah aku adalah barang dagangan?"Na Ying berbalik, matanya berkilat. "Dengan memberikan harapan palsu. Lan Xue menghormati kekuatan keluarga Jiang. Jika Jiang Xun selalu berada di sisimu, Lan Xue tidak akan berani menyentuhmu atau mengusirmu dari paviliun ini meskipun dia mulai c
Senja mulai membayang di ufuk barat, namun di dalam ruang kerja pribadinya yang terletak di sudut terpencil Akademi Shin Yue, Chen Yuan merasa dunianya gelap gulita. Meja belajarnya berantakan. Kertas-kertas berserakan di lantai bak guguran daun di musim luruh. Ia mencoret baris puisi yang baru dit
Pagi di Kediaman Long disambut dengan kabut tipis yang menyelimuti atap-atap paviliun. Di dalam Paviliun Anggrek, Liya berusaha membuka kelopak matanya, namun dunianya terasa berputar. Kepalanya terasa berat, dan sendi-sendinya terasa linu seolah habis dipukuli.Hatchi! Hatchi!Suara bersinnya ya
Fajar menyingsing di ufuk timur, membawa semburat cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela Paviliun Anggrek. Liya membuka matanya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Demam yang kemarin merantai tubuhnya telah meluruh, meninggalkan sisa-sisa hangat yang menjalar di hatinya setiap kali i
Suasana di Kediaman Long tidak lagi sama sejak keributan besar di Paviliun Phoenix. Liya, yang biasanya masih berusaha menjaga tata krama sebagai menantu, kini benar-benar menarik diri. Kamarnya di Paviliun Anggrek seolah menjadi benteng yang tak tertembus. Ia menolak hadir dalam makan pagi dan mal







