LOGINDerap langkah Fan Yi menggema di sepanjang lorong lembap penjara bawah tanah Balai Kota Beiyuan. Kabar dari Su Lang, pasukan bandit Gunung Yu yang juga menyamar sebagai prajurit, masih terngiang jelas di telinganya: Li Yang tertangkap.Situasi ini adalah mimpi buruk. Li Yang bukan sekadar rekan, ia adalah kunci. Jika interogasi Murong Xie berhasil mematahkan semangat Li Yang, seluruh jaringan penyusup Bandit Gunung Yu yang telah dibangun akan runtuh dalam semalam. Eksekusi massal akan menanti mereka semua sebelum rencana besar Ketua mereka sempat dimulai."Kau tampak tegang, Kapten Fan," suara serak seorang penjaga di sampingnya membuyarkan lamunan Fan Yi."Aku hanya benci membuang waktu untuk tikus yang keras kepala," sahut Fan Yi dingin, menjaga topengnya sebagai Kepala Regu Penjaga Utara yang disiplin. "Tuan Murong Xie memberikan tugas ini padaku karena dia tahu aku tidak suka basa-basi."Di dalam hatinya, Fan Yi merutuki takdir. Menjadi perwira menengah di Beiyuan memberinya a
Bisikan Liya membuat ketukan jari Long Xuan di atas meja batu terhenti seketika. Matanya yang semula redup oleh kelelahan kini berkilat, memancarkan perpaduan antara keterkejutan dan kekaguman. Ia menjauhkan wajahnya sedikit untuk menatap istrinya, memastikan bahwa ia tidak salah dengar."Kau yakin?" tanya Long Xuan dengan suara yang sangat rendah, hampir berupa bisikan yang tertelan sunyi aula.Liya mengangguk pelan, senyum tipis yang sarat akan muslihat tersungging di bibirnya. "Benar. Kita umumkan bahwa ada tempat rahasia penyimpanan senjata saat kau berkuasa, namun kau lupa memberitahukannya pada Fan Yi. Katakan pada mereka bahwa informasi ini sangat penting sehingga kau harus mengirim kurir kedua tengah malam nanti ke Beiyuan untuk menyusul Fan Yi. Si pengkhianat tidak akan punya pilihan selain bertindak cepat. Jika dia tidak mengirim kabar sekarang, majikannya di Beiyuan tidak akan mengetahui informasi ini."Long Xuan terdiam, menimbang risiko dari rencana istrinya. "Itu arti
Angin gunung yang menderu di celah-celah dinding batu seolah membawa gema derap kuda Fan Yi yang semakin menjauh. Di ambang gerbang markas Gunung Yu yang kokoh, Xiao Cui masih berdiri mematung. Matanya yang sembab terpaku pada sisa-sisa debu yang perlahan mengendap di atas jalan setapak yang berliku. "Dia pria yang kuat, Xiao Cui. Dia akan kembali," bisik Liya sembari melangkah mendekat dan merangkul bahu pelayannya itu dengan erat. Xiao Cui menyeka air matanya dengan ujung lengan baju merahnya. "Hamba tahu, Nyonya. Tapi rasanya ... rasanya separuh nyawa hamba kembali ikut terbawa derap kaki kuda itu. Bagaimana jika ia tidak sempat melihat matahari terbit di Beiyuan? Bagaimana jika kabut di sana jauh lebih kejam daripada di sini?""Aku tahu rasanya," sahut Liya pelan, suaranya sedikit bergetar oleh empati. Ia teringat bagaimana rongga dadanya terasa hampa setiap kali Long Xuan harus pergi demi mengurus urusan pelik di Beiyuan, meninggalkan dirinya dalam penantian yang menyiksa.
Suasana kamar pengantin yang awalnya hangat oleh cahaya lilin merah kini terasa mencekam. Suara hiruk-pikuk dari luar barak—dering lonceng peringatan dan derap kaki prajurit—menjadi latar belakang yang pahit bagi sepasang pengantin baru ini. Xiao Cui, dengan tangan gemetar, berusaha merapikan hanfu merahnya yang sempat berantakan. Matanya yang sembap menatap Fan Yi, suaminya, yang kini berdiri kaku dengan tangan mengepal."Fan Yi ...." Suara Xiao Cui nyaris hilang, tertelan oleh kebisingan di luar. Ia memaksakan sebuah senyum getir. "Kau harus pergi. Tugasmu memanggil. Aku akan menunggumu kembali, Suamiku."Fan Yi menoleh. Hatinya mencelos melihat Xiao Cui tampak begitu rapuh duduk di tepi ranjang pengantin mereka yang masih rapi. Pria kaku yang biasanya tak mengenal rasa takut itu kini merasa dunianya seolah terbelah. Ia kembali mendekat, berlutut di hadapan Xiao Cui, dan menggenggam kedua tangan gadis itu dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya ke dalam ketidakpastian.
Persiapan di markas Gunung Yu berubah menjadi hiruk-pikuk yang menyenangkan. Tidak ada denting pedang atau teriakan latihan yang mengintimidasi pagi itu. Liya memimpin segalanya dengan semangat yang meluap. Para bandit yang biasanya memegang kapak, kini tampak kikuk memegang untaian bunga liar dan kain-kain merah untuk menghias aula kecil di sudut markas."Pelan-pelan, Wan Yi! Bunga itu harus digantung simetris, bukan asal tempel!" teriak Liya sambil mengarahkan beberapa pria kekar yang sedang menghias langit-langit."Nyonya, tangan kami lebih biasa memegang leher musuh daripada tangkai bunga sesensitif ini," keluh Wan Yi, namun ia tetap tersenyum lebar.Di dalam kamar rias, Liya menatap Xiao Cui yang terpantul di cermin perunggu. Pelayannya itu tampak luar biasa cantik dalam balutan hanfu merah sederhana dengan sulaman benang emas di bagian kerah, hasil karya Liya dan Nyonya Besar Long dalam waktu singkat."Jangan gemetar begitu, Xiao Cui. Kau terlihat seperti bidadari gunung har
Bulan telah berganti, dan aroma pinus di lereng Gunung Yu terasa lebih tajam saat bayangan seorang penunggang kuda muncul dari balik kabut lembah. Fan Yi kembali. Penyamarannya di Beiyuan selama sebulan terakhir telah membuahkan hasil, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di sarang macan. Di dalam aula yang remang, Long Xuan menuangkan cangkir kedua arak hangat untuk pria di hadapannya. Fan Yi, yang baru saja menempuh perjalanan berbahaya dari Beiyuan, tampak lebih kurus dengan tulang pipi yang menonjol, namun matanya memancarkan ketajaman yang tak pernah padam."Minumlah, Fan Yi. Kau butuh ini untuk menghangatkan darahmu," ujar Long Xuan sembari menggeser cangkir tanah liat itu.Fan Yi meneguknya dalam sekali tegukan. "Terima kasih, Ketua. Beiyuan sedang bergejolak. Murong Guan tidak hanya memperkuat bentengnya, tapi dia sudah menempatkan Gunung Yu di urutan teratas daftar buruannya. Pasukan Murong Xi, putra sulungnya, sudah bersiap.""Murong Xi?" Xuan mengerutkan kening. "Aku be
Fajar baru saja menyingsing sepenuhnya saat Liya merapikan lipatan hanfu sutra di depan cermin. Hari ini, ia tidak memilih pakaian yang bersahaja. Sebaliknya, ia mengenakan gaun dengan potongan kerah yang sedikit lebih rendah dari biasanya, menonjolkan lekuk leher dan kemolekan dadanya yang penuh.
Angin dingin sisa semalam rupanya masih enggan beranjak dari Paviliun Anggrek. Di dalam kamar, Liya meringkuk pasrah. Suara bersinnya yang beruntun terdengar menyedihkan, kontras dengan tumpukan saputangan yang berserakan di sisi ranjang. Hidungnya sudah memerah, perih, dan sedikit lecet akibat ges
Di tengah remang cahaya lilin yang kian meredup, Lu Chen berdiri mematung dengan kepala menunduk dalam. Suaranya terdengar datar namun tajam saat menyampaikan laporan yang dibawanya."Tuan Adipati," Lu Chen memulai, suaranya merendah. "Hamba menerima informasi dari seorang informan yang sangat te
Begitu selesai mengantarkan Long Yuan ke akademi Shin Yue, Liya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia butuh ruang untuk bernapas, sebuah tempat di mana statusnya sebagai istri yang terabaikan tidak lagi relevan. Dengan suara tegas, ia memerintahkan kusir untuk memacu kereta menuju pasar dist







