MasukLiya menempelkan tubuhnya ke dinding luar, menahan napas. Ia mendengar langkah kaki banyak orang masuk. Ia tidak menunggu lebih lama. Ia merayap di atas genting dengan hati-hati. Sebagai seorang guru olahraga, keseimbangannya luar biasa, namun berjalan di atas atap kuno dengan pakaian wanita bangsawan adalah tantangan baru.
Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun adrenalin membuatnya tetap fokus. Ia melihat sebuah pohon dedalu besar yang dahan-dahannya menjuntai hingga ke dekat balkon lantai dua di sisi lain bangunan. Dengan satu lompatan nekat, Liya menggapai dahan pohon tersebut. Tangannya tergores kulit pohon yang kasar, namun ia berhasil bergantung. Ia merosot turun dengan cekatan, mendarat di atas rumput taman yang basah tanpa menimbulkan suara berarti. Begitu kakinya menginjak tanah, ia segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menurunkan kembali roknya, dan mengatur napas. Ia tidak melarikan diri keluar gerbang; sebaliknya, ia justru berjalan tenang kembali menuju aula pesta yang ramai. Di depan kamar tadi, kerumunan orang sudah berkumpul. Liya menyelinap di antara para tamu, berpura-pura baru saja datang dari arah berlawanan. "Mana? Mana wanita sundal itu?!" teriak seorang wanita berpakaian ungu mewah, istri dari pria yang dibuat pingsan oleh Liya tadi. Su Wen, wanita yang menjebak Murong Shi, tampak berdiri di depan pintu dengan wajah pucat. Ia kebingungan melihat ke dalam kamar. "Seharusnya dia ada di sini! Tadi aku melihat Murong Shi masuk ke kamar ini bersama suamimu!" teriak Su Wen membela diri. Istri bangsawan itu keluar dari kamar dengan wajah lebih marah lagi. "Kau menuduh suamiku tidur dengan Murong Shi, tapi di dalam sana suamiku tidur sendirian! Dia bahkan masih memakai pakaian lengkap! Su Wen, apa kau sedang mencoba memfitnah keluarga kami? Atau jangan-jangan kau yang melakukan ini untuk memfitnah Murong Shi?" "Bukan! Bukan begitu!" Su Wen gagap. "Aku bersumpah, tadi ...." "Tadi apa, Su Wen?" Suara jernih Liya memecah keributan. Semua orang menoleh. Liya berjalan mendekat dengan kipas di tangan, wajahnya tampak tenang dan elegan, seolah ia baru saja menikmati teh di taman. "Aku mendengar namaku disebut-sebut. Ada apa ini? Mengapa kalian semua berkumpul di depan kamar tamu?" tanya Liya dengan nada polos yang dibuat-buat. Su Wen membelalak. "Kau ... bagaimana bisa kau ada di sana?" "Aku di taman belakang, menikmati udara segar karena aula terlalu sesak," jawab Liya sambil tersenyum tipis. "Su Wen, wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit karena kalah taruhan gelang giok kemarin?" Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu. Fitnah Su Wen berbalik menghantam dirinya sendiri. Di era ini, tuduhan tanpa bukti terhadap istri seorang Adipati adalah pelanggaran berat. Liya merasa menang. Ia berhasil mematahkan plot pertama dari kehancurannya. Namun, kemenangan itu buyar ketika suasana aula mendadak hening dan suhunya seolah turun beberapa derajat. Sebuah tangan besar, kasar, dan sangat kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Liya. "Aduh!" Liya meringis. Ia mendongak dan napasnya tertahan. Di depannya berdiri seorang pria yang tingginya jauh melampauinya. Pria itu memakai jubah hitam dengan bordiran naga perak yang rumit. Wajahnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan mata setajam elang yang tampak berkilat penuh amarah yang tertahan. "Kita pulang," suara pria itu rendah, berat, dan sedingin es di puncak gunung. "Tunggu, kau—" kalimat Liya terhenti saat ia menyadari aura dominan yang memancar dari pria ini. Ini pasti dia. Adipati Xuan, suami Murong Shi. Tanpa menunggu jawaban, pria itu menarik tangan Liya dengan kasar, menyeretnya melewati kerumunan tamu yang membungkuk hormat. Liya terpaksa setengah berlari mengikuti langkah kakinya yang panjang dan tergesa-gesa. "Hei! Lepaskan! Sakit!" protes Liya sambil mencoba melepaskan cengkeramannya. Adipati Xuan tidak berhenti sampai mereka mencapai kereta kuda megah di luar kediaman Keluarga Dao. Ia menyentakkan tangan Liya hingga wanita itu hampir jatuh ke dalam kereta. "Masuk," perintahnya singkat tanpa menatap mata Liya. Liya duduk di dalam kereta yang mulai berjalan, hatinya berdegup kencang karena marah sekaligus takut. Ia memperhatikan pria yang kini duduk di depannya, bersedekap dengan mata terpejam, mengabaikan kehadirannya sama sekali. Jadi ini suamiku? Dia jauh lebih intimidatif daripada Kepala Sekolah Liu, batin Liya masygul. Ia teringat, siang sebelum insiden tabrakan itu, Kepala Sekolah Liu menjatuhkan sanksi skorsing tiga bulan dan mencopot jabatannya sebagai wali kelas 3C. Ia paham ini bukan sekadar urusan membela murid yang dirundung. Selama ini, ia dianggap sebagai "anomali" bagi birokrasi sekolah. Sebagai guru olahraga, ia kerap disepelekan, padahal ia adalah satu-satunya yang vokal mengkritik ketidakadilan kebijakan. Kini, meski Murong Shi lolos dari jerat Su Wen, Liya sadar perjuangannya baru di titik awal. ‘Jika aku ingin bertahan hidup di semesta ini, aku harus bermetamorfosis menjadi Murong Shi yang baru’ pikir Liya sembari menatap profil samping Adipati yang rupawan namun membeku itu. Dan langkah perdana adalah ... memaksa pria bongkahan es ini berhenti memandangnya seolah dirinya adalah manusia tak berguna! Kereta kuda melaju membelah malam yang sunyi. Hanya terdengar suara derap kaki kuda dan gesekan roda kayu pada jalanan berbatu. Di dalam ruangan sempit itu, ketegangan terasa begitu pekat hingga Song Liya merasa sulit untuk sekadar bernapas secara normal. Ia melirik pria di depannya. Adipati Xuan, atau yang dalam novel dikenal sebagai Adipati Agung Long Xuan, masih memejamkan mata. Rahangnya mengatup rapat, menciptakan garis tegas yang menambah kesan kejam pada wajah tampannya. "Hmm," Liya memulai, mencoba mencairkan suasana. "Tuan Adipati, kau mencengkeram tanganku terlalu keras tadi. Lihat, pergelangan tanganku merah." Mata Long Xuan terbuka seketika. Kilatan dingin di pupilnya membuat Liya refleks menarik diri. "Kau seharusnya bersyukur hanya pergelangan tanganmu yang merah, Murong Shi," suara Long Xuan terdengar seperti desis pedang yang dicabut dari sarungnya. "Jika aku tidak memikirkan martabat keluarga Long, aku akan membiarkan kerumunan tadi menguliti wajahmu yang tebal riasan itu." Liya mengerutkan kening. Insting "Guru Song" yang tak suka ditindas mulai bangkit. "Untuk apa? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Justru aku yang hampir menjadi korban fitnah di sana!" Long Xuan mendengkus sinis, senyum meremehkan tersungging di bibirnya. "Fitnah? Aku tidak bodoh, aku tahu sifatmu. Kau pikir dengan mendekati pria-pria di pesta itu bisa membuatku cemburu? Itu hanya membuat dirimu terlihat seperti pelacur murahan." PLAK! Suara tamparan itu meledak di ruang kereta. Liya sendiri terperanjat dengan kecepatan tangannya yang mendarat telak di pipi Adipati Xuan.Matahari pagi menyusup malu-malu di balik jendela kayu Kediaman Long, membawa kehangatan yang sudah lama tidak dirasakan oleh dinding-dinding rumah besar ini. Suasana ruang makan yang biasanya sunyi dan kaku, kini berubah total. Gelak tawa kecil dan denting sumpit yang beradu dengan mangkuk porselen menciptakan simfoni kehidupan yang baru.Di kepala meja, Nyonya Besar Long duduk dengan keanggunan yang kembali memancar dari wajahnya. Guratan-guratan kesedihan yang selama bertahun-tahun mengukir wajahnya seolah sirna dalam semalam, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di sampingnya, si kecil Long Yuan sibuk mengunyah kue beras dengan pipi yang menggembung, sesekali tertawa saat Xiao Cui menyeka sisa makanan di sudut bibirnya.Mereka semua baru saja tiba kembali di Kediaman Long kemarin, setelah Long Xuan menjemput mereka dari Gunung Yu.Hari ini, aturan ketat tentang kasta dan pelayan dilebur atas perintah Long Xuan. Di meja makan panjang itu, Fan Yi dan Xiao Cui duduk ber
Ketakutan yang tiba-tiba menyergap membuat senyum di bibir Liya mendadak kaku. Bayangan kelam tentang penyakit darah iblis yang kini mengalir di dalam darahnya seolah bangkit, menjadi kabut tebal yang mendadak menutupi kebahagiaannya. Ia tahu betul bagaimana kutukan itu bekerja—rasa sakit yang menyiksa, hilangnya kesadaran, dan haus darah yang mengerikan. Bagaimana jika janin suci ini harus menanggung beban kutukan yang sama?Ia dan Long Xuan sudah mengetahui cara mengatasi sat kambuh walau belum mendapatkan obatnya. Namun bagaimana jika anaknya nanti muncul sakitnya. Apa yang harus ia lakukan.Long Xuan, yang selalu peka terhadap setiap perubahan ekspresi istrinya, menyadari binar kebahagiaan di mata Liya yang mendadak meredup. Ia mengusap pipi Liya yang masih agak dingin dengan ibu jarinya."Shishi, ada apa? Mengapa wajahmu mendadak sedih?" tanya Long Xuan dengan nada rendah, penuh perhatian.Liya memaksakan sebuah senyuman, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Xuan. Aku hanya ...
Suasana sepi di koridor menuju Paviliun Anggrek seketika pecah saat beberapa pelayan yang membawa nampan berisi teh melintas. Begitu melihat sesosok wanita terkapar tak sadarkan diri di atas lantai batu, salah satu dari mereka menjerit histeris hingga nampan di tangannya jatuh berdentang nyaring."Nyonya Besar! Astaga, Nyonya Besar!"Kepanikan meluas dalam hitungan detik. Beberapa pengawal anak buah Zhang Yu yang berjaga di perimeter luar segera berlari masuk. Di antara kekacauan itu, Fan Yi yang kebetulan sedang berpatroli langsung bergegas mendekat. Wajah Fan Yi itu seketika pucat pasi melihat Liya yang terpejam rapat dengan wajah seputih kertas."Nyonya! Minggir kalian semua!" teriak Fan Yi, langsung berlutut dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Liya. Denyutnya terasa cepat namun sangat lemah. Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh sang Nyonya Besar ke dalam gendongannya. "Cepat panggil Tabib Utama ke kamar di Paviliun Anggrek! Sekarang!"Berita pingsannya Liya m
Langkah kaki Liya bergema pelan di sepanjang koridor kediaman Keluarga Long. Tempat ini dahulunya adalah pusat kejayaan keluarga suaminya, tempat tinggalnya, sebelum akhirnya direbut secara paksa dan dikuasai oleh Murong Guan dengan cara yang licik. Kini, setelah Murong Guan tumbang, atmosfer mencekam di dalam kediaman megah itu perlahan mulai terkikis, berganti dengan kesunyian yang asing. Liya berjalan menuju Paviliun Phoenix, tempat tinggal dan bekerja masa lalu milik Long Xuan yang selama masa pendudukan digunakan oleh Murong Guan sebagai ruang pribadinya. Saat jemari lentiknya mendorong pintu kayu yang tebal, pemandangan di dalam kamar membuat Liya menghentikan langkah sejenak. Bentuknya sudah berubah sama sekali. Tirai-tirai sutra berwarna hijau tua khas kamar suaminya telah diganti dengan kain-kain beludru merah marun yang mencolok dan beraroma dupa gaharu yang pekat. Perabotan kayu cendana yang dulu sederhana namun kokoh, kini digantikan oleh meja-meja berlapis emas dan uk
Dengan satu gerakan yang bertenaga namun penuh perhitungan, Liya mendorong bahu Long Xuan hingga pria itu kembali telentang di atas dipan, lalu ia bergerak cepat menaiki tubuh suaminya, mengungkungnya dari atas.Long Xuan meringis sedikit saat punggungnya membentur kayu dipan, namun seringai jenaka justru kembali terukir di bibirnya. Hanfu sutra milik Liya yang sudah agak longgar kini tersingkap di bagian bahu, menampilkan kulit putihnya yang sehalus porselen di bawah temaram lampu minyak. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi begitu pekat, sarat akan ketegangan intim yang memabukkan."Kau berani menantangku dalam kondisi seperti ini, Shishi?" bisik Long Xuan.Sepasang tangannya yang kekar langsung naik dan mencengkeram pinggang ramping Liya dengan posesif, bersiap untuk menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang lebih dalam. Gairah yang meletup-letup setelah lolos dari maut seolah memberinya energi tambahan yang tak terbendung. Pusaka di bawah sana yang mulai menega
Di dalam ruang area Balai Kota, suasana mendadak sibuk—bukan karena kondisi darurat medis, melainkan karena sebuah rencana usil yang mendadak melintas di kepala Sang Ketua Gunung Yu. Long Xuan, yang dadanya baru saja selesai dibalut kain, tiba-tiba menegakkan punggungnya saat seorang pasukan berlari masuk dan melapor bahwa Nyonya Besar sedang menuju ke sana dengan wajah pucat pasi. Sepasang mata Long Xuan yang tadinya redup karena letih, mendadak berkilat jenaka. "Fan Yi, Su Lang, kemari kalian," panggil Long Xuan setengah berbisik, menahan ringisan di dadanya. "Ada apa, Ketua? Apakah lukanya kembali robek?" tanya Fan Yi panik, langsung mendekat dengan wajah tegang. "Tidak. Istriku sedang menuju ke mari," ujar Long Xuan dengan seringai kecil di sudut bibirnya. "Aku ingin melihat seberapa besar dia mencintaiku. Aku akan berpura-pura mati. Kalian berdua, bersandiwara seolah-olah aku sudah tiada. Pasang wajah paling merana yang kalian bisa." Su Lang terbelalak, hampir saja menj







