Share

Bab 2

Penulis: Wei Yun
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 14:08:16

Liya menempelkan tubuhnya ke dinding luar, menahan napas. Ia mendengar langkah kaki banyak orang masuk. Ia tidak menunggu lebih lama. Ia merayap di atas genting dengan hati-hati. Sebagai seorang guru olahraga, keseimbangannya luar biasa, namun berjalan di atas atap kuno dengan pakaian wanita bangsawan adalah tantangan baru.

Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun adrenalin membuatnya tetap fokus. Ia melihat sebuah pohon dedalu besar yang dahan-dahannya menjuntai hingga ke dekat balkon lantai dua di sisi lain bangunan.

​Dengan satu lompatan nekat, Liya menggapai dahan pohon tersebut. Tangannya tergores kulit pohon yang kasar, namun ia berhasil bergantung. Ia merosot turun dengan cekatan, mendarat di atas rumput taman yang basah tanpa menimbulkan suara berarti.

​Begitu kakinya menginjak tanah, ia segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menurunkan kembali roknya, dan mengatur napas. Ia tidak melarikan diri keluar gerbang; sebaliknya, ia justru berjalan tenang kembali menuju aula pesta yang ramai.

​Di depan kamar tadi, kerumunan orang sudah berkumpul. Liya menyelinap di antara para tamu, berpura-pura baru saja datang dari arah berlawanan.

​"Mana? Mana wanita sundal itu?!" teriak seorang wanita berpakaian ungu mewah, istri dari pria yang dibuat pingsan oleh Liya tadi.

​Su Wen, wanita yang menjebak Murong Shi, tampak berdiri di depan pintu dengan wajah pucat. Ia kebingungan melihat ke dalam kamar.

​"Seharusnya dia ada di sini! Tadi aku melihat Murong Shi masuk ke kamar ini bersama suamimu!" teriak Su Wen membela diri.

​Istri bangsawan itu keluar dari kamar dengan wajah lebih marah lagi. "Kau menuduh suamiku tidur dengan Murong Shi, tapi di dalam sana suamiku tidur sendirian! Dia bahkan masih memakai pakaian lengkap! Su Wen, apa kau sedang mencoba memfitnah keluarga kami? Atau jangan-jangan kau yang melakukan ini untuk memfitnah Murong Shi?"

​"Bukan! Bukan begitu!" Su Wen gagap. "Aku bersumpah, tadi ...."

​"Tadi apa, Su Wen?"

​Suara jernih Liya memecah keributan. Semua orang menoleh. Liya berjalan mendekat dengan kipas di tangan, wajahnya tampak tenang dan elegan, seolah ia baru saja menikmati teh di taman.

​"Aku mendengar namaku disebut-sebut. Ada apa ini? Mengapa kalian semua berkumpul di depan kamar tamu?" tanya Liya dengan nada polos yang dibuat-buat.

​Su Wen membelalak. "Kau ... bagaimana bisa kau ada di sana?"

​"Aku di taman belakang, menikmati udara segar karena aula terlalu sesak," jawab Liya sambil tersenyum tipis. "Su Wen, wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit karena kalah taruhan gelang giok kemarin?"

​Bisik-bisik mulai terdengar di antara para tamu. Fitnah Su Wen berbalik menghantam dirinya sendiri. Di era ini, tuduhan tanpa bukti terhadap istri seorang Adipati adalah pelanggaran berat.

​Liya merasa menang. Ia berhasil mematahkan plot pertama dari kehancurannya. Namun, kemenangan itu buyar ketika suasana aula mendadak hening dan suhunya seolah turun beberapa derajat.

​Sebuah tangan besar, kasar, dan sangat kuat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Liya.

​"Aduh!" Liya meringis.

​Ia mendongak dan napasnya tertahan. Di depannya berdiri seorang pria yang tingginya jauh melampauinya. Pria itu memakai jubah hitam dengan bordiran naga perak yang rumit. Wajahnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan mata setajam elang yang tampak berkilat penuh amarah yang tertahan.

​"Kita pulang," suara pria itu rendah, berat, dan sedingin es di puncak gunung.

​"Tunggu, kau—" kalimat Liya terhenti saat ia menyadari aura dominan yang memancar dari pria ini. Ini pasti dia. Adipati Xuan, suami Murong Shi.

​Tanpa menunggu jawaban, pria itu menarik tangan Liya dengan kasar, menyeretnya melewati kerumunan tamu yang membungkuk hormat. Liya terpaksa setengah berlari mengikuti langkah kakinya yang panjang dan tergesa-gesa.

​"Hei! Lepaskan! Sakit!" protes Liya sambil mencoba melepaskan cengkeramannya.

​Adipati Xuan tidak berhenti sampai mereka mencapai kereta kuda megah di luar kediaman Keluarga Dao. Ia menyentakkan tangan Liya hingga wanita itu hampir jatuh ke dalam kereta.

​"Masuk," perintahnya singkat tanpa menatap mata Liya.

​Liya duduk di dalam kereta yang mulai berjalan, hatinya berdegup kencang karena marah sekaligus takut. Ia memperhatikan pria yang kini duduk di depannya, bersedekap dengan mata terpejam, mengabaikan kehadirannya sama sekali.

​Jadi ini suamiku? Dia jauh lebih intimidatif daripada Kepala Sekolah Liu, batin Liya masygul.

Ia teringat, siang sebelum insiden tabrakan itu, Kepala Sekolah Liu menjatuhkan sanksi skorsing tiga bulan dan mencopot jabatannya sebagai wali kelas 3C.

​Ia paham ini bukan sekadar urusan membela murid yang dirundung. Selama ini, ia dianggap sebagai "anomali" bagi birokrasi sekolah. Sebagai guru olahraga, ia kerap disepelekan, padahal ia adalah satu-satunya yang vokal mengkritik ketidakadilan kebijakan.

​Kini, meski Murong Shi lolos dari jerat Su Wen, Liya sadar perjuangannya baru di titik awal.

‘​Jika aku ingin bertahan hidup di semesta ini, aku harus bermetamorfosis menjadi Murong Shi yang baru’ pikir Liya sembari menatap profil samping Adipati yang rupawan namun membeku itu.

Dan langkah perdana adalah ... memaksa pria bongkahan es ini berhenti memandangnya seolah dirinya adalah manusia tak berguna!

Kereta kuda melaju membelah malam yang sunyi. Hanya terdengar suara derap kaki kuda dan gesekan roda kayu pada jalanan berbatu. Di dalam ruangan sempit itu, ketegangan terasa begitu pekat hingga Song Liya merasa sulit untuk sekadar bernapas secara normal.

​Ia melirik pria di depannya. Adipati Xuan, atau yang dalam novel dikenal sebagai Adipati Agung Long Xuan, masih memejamkan mata. Rahangnya mengatup rapat, menciptakan garis tegas yang menambah kesan kejam pada wajah tampannya.

​"Hmm," Liya memulai, mencoba mencairkan suasana. "Tuan Adipati, kau mencengkeram tanganku terlalu keras tadi. Lihat, pergelangan tanganku merah."

​Mata Long Xuan terbuka seketika. Kilatan dingin di pupilnya membuat Liya refleks menarik diri.

​"Kau seharusnya bersyukur hanya pergelangan tanganmu yang merah, Murong Shi," suara Long Xuan terdengar seperti desis pedang yang dicabut dari sarungnya. "Jika aku tidak memikirkan martabat keluarga Long, aku akan membiarkan kerumunan tadi menguliti wajahmu yang tebal riasan itu."

​Liya mengerutkan kening. Insting "Guru Song" yang tak suka ditindas mulai bangkit. "Untuk apa? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Justru aku yang hampir menjadi korban fitnah di sana!"

​Long Xuan mendengkus sinis, senyum meremehkan tersungging di bibirnya. "Fitnah? Aku tidak bodoh, aku tahu sifatmu. Kau pikir dengan mendekati pria-pria di pesta itu bisa membuatku cemburu? Itu hanya membuat dirimu terlihat seperti pelacur murahan."

PLAK!

Suara tamparan itu meledak di ruang kereta. Liya sendiri terperanjat dengan kecepatan tangannya yang mendarat telak di pipi Adipati Xuan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 93

    Suasana di ruang makan utama kediaman Murong terasa lebih dingin daripada salju yang turun di Beiyuan. Lilin-lilin besar yang menyala di dinding perak seolah tidak mampu mengusir kebekuan yang merayap di meja panjang itu. Liya duduk tegak, tangannya melipat di bawah meja, sementara indranya menangkap setiap getaran intimidasi yang diarahkan kepadanya. ​Murong Guan, ayahnya, menyesap supnya perlahan sebelum meletakkan sendok dengan denting porselen yang tajam. ​"Kudengar Toko Kain Qing Fen di distrik timur sedang naik daun," suara Murong Guan memecah kesunyian. Matanya yang setajam elang menatap Liya tanpa berkedip. "Bagaimana Long Xuan? Apakah sang Adipati yang kaku itu mendukung ambisi istrinya berdagang seperti rakyat jelata?" ​Liya tersentak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang menghantamnya. Bagaimana dia bisa tahu? Selama ini, ia yakin usahanya di Beiyuan dilakukan dengan rapi dan tanpa diketahui keluarga Murong. Firasatnya yang sel

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 92

    Roda kereta kuda berderit pelan saat melintasi batas wilayah Changxu, meninggalkan bentang tanah Beiyuan. Liya menyingkap tirai sutra, menatap deretan prajurit berseragam biru tua dengan lencana ombak sungai yang kini mengawal jalannya. Inilah pasukan keluarga Murong, simbol kedigdayaan sang penguasa jalur sungai yang tak tertandingi.​Perjalanan menuju kediaman utama Murong memakan waktu hampir setengah hari. Menjelang senja, kereta akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang megah. Tidak ada riuh sambutan; suasana begitu sunyi seolah kepulangannya adalah rahasia yang tak perlu dirayakan. Hanya seorang pelayan tua yang membungkuk khidmat, membantu menurunkan barang-barang menuju sebuah paviliun yang letaknya agak terisolasi dari bangunan utama, satu sudut tempat Murong Shi menghabiskan masa gadisnya.​Liya mengamati sekeliling dengan saksama. Kediaman ini sangat mewah dan impresif, hampir menandingi keagungan Keluarga Long. Sesampainya di Paviliun tempat tinggalnya semasa gadisnya, ia

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 91

    Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.​Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengkungan bibir yang tak pernah menyentuh binar matanya. "Kaisar sedang diliputi kegelisahan, Tuan Murong. Beliau tidak menyukai kabar yang berembus dari Beiyuan belakangan ini."​Murong Guan melemparkan tatapan tajam, menembus ketenangan semu sang penasihat. "Jelaskan makna di balik ucapanmu itu, Penasihat Bao."​"Rencana awal kita mengirim putrimu ke Beiyuan adalah untuk menjadi beban, pengalih perhatian, dan jika memungkinkan, melumpuhkan pengaruh Adipati Beiyuan dari dalam. Namun, apa yang terjadi sekarang? Distrik Timur bangkit, pasar tradisional menjelma menjadi episentrum ekonomi baru, dan rakyat Beiyuan kini memuja nama klan Long lebih dari sebelumnya."​Murong Guan menyesap tehnya dengan

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 90

    Angin sore di tepian Danau Beiyuan berembus membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa amis darah yang mulai memudar. Di bawah sebuah pohon willow tua, sebuah gundukan tanah baru berdiri sunyi. Na Ying dan Liya baru saja menyelesaikan pemakaman sederhana untuk Bibi Wan. Tidak ada nisan mewah, hanya tumpukan batu alam sebagai tanda bahwa seorang tabib hebat telah beristirahat di sana. ​Kereta kuda sewaan Liya yang membawanya tadi telah lenyap, kemungkinan besar kusirnya melarikan diri karena ketakutan saat melihat komplotan berpakaian hitam menyerang. ​"Naiklah ke kudaku," perintah Na Ying singkat sembari menuntun tunggangannya. Suaranya kembali dingin, namun ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di balik cadarnya. ​Liya menurut, namun sebelum ia menginjakkan kaki di sanggurdi, ia menahan lengan Na Ying. Jantungnya berdegup kencang. Rahasia yang ia simpan sejak semalam terasa menyumbat tenggorokannya. Ia tahu, momen ini mungkin tidak akan datang dua kali. ​"Kak Na, tunggu se

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 89

    Parang tajam itu hanya berjarak beberapa milimeter dari kulit leher Liya ketika sebuah deru kencang membelah kesunyian. Suara derap kaki kuda yang dipacu membabi buta mendekat, dibarengi teriakan melengking yang menggetarkan nyali.​"Lepaskan dia dan menyerahlah, tikus-tikus menjijikkan!"​Sesosok bayangan melesat dari punggung kuda yang masih berlari. Wanita itu mengenakan cadar hitam dan caping bambu yang menutupi wajahnya, namun aura maut yang ia bawa tak bisa disembunyikan. Ia mendarat dengan ringan, pedangnya langsung berdenting, menebas udara dalam gerakan busur yang mematikan.​"Nyonya Bandit Gunung Yu!" seru salah satu penyergap dengan nada gentar. "Na Ying!"​Na Ying tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan serangan yang lebih buas. Meski ia melawan para pembunuh yang terlatih, ilmu bela diri pimpinan bandit itu berada pada tingkatan yang berbeda. Setiap ayunan pedangnya presisi, mematahkan pertahanan dan melukai titik vital. Dalam waktu singkat, tiga orang tersungku

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 88

    Pagi itu, denting sumpit yang beradu dengan porselen menjadi satu-satunya melodi yang mengisi ruang makan kediaman Keluarga Long. Long Xuan duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedingin marmer, tak sekalipun melirik ke arah istrinya. Begitu suapan terakhir selesai, ia langsung berdiri tanpa sepatah kata pun, meninggalkan aroma dingin yang tertinggal di udara saat jubah hitamnya menghilang di balik pintu. ​Liya tetap diam, menatap uap teh yang perlahan menghilang dari cangkirnya. Pikirannya tidak sedang meratapi sikap dingin suaminya yang tiba-tiba itu. Sebaliknya, ada setitik rasa syukur yang muncul. ​Baguslah kalau dia mengabaikanku, batin Liya. Setidaknya, kecurigaannya tidak akan membayangi langkahku hari ini. ​Fokus Liya sekarang adalah satu yaitu Nenek Tabib dan janji obat untuk Long Xuan. Ia tahu, waktunya tidak banyak. Setelah Liya memastikan Long Xuan telah berangkat ke Balai Kota dan Long Yuan sudah aman di sekolah, dengan penyamaran sederhana dan kereta kuda sewaan yang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status