Share

Menukar Takdir Istri Sang Adipati
Menukar Takdir Istri Sang Adipati
Author: Wei Yun

Bab 1

Author: Wei Yun
last update Last Updated: 2026-01-15 14:08:11

"Murong Shi ... ayolah, biarkan aku menghangatkan dirimu malam ini," suara serak laki-laki menghentak kesadaran Song Liya. Ia membuka matanya dengan sentakan jantung yang hebat, seolah baru saja ditarik paksa dari kegelapan.

​Pemandangan di depannya sungguh di luar nalar. Ia tidak berada di aspal jalanan yang dingin setelah tertabrak motor saat mengejar muridnya yang ikut balap motor liar.

Kini, ia berada di atas ranjang kayu berukir naga yang sangat megah dengan kelambu sutra yang menjuntai halus. Aroma dupa cendana yang kuat dan pekat menusuk hidungnya.

​Song Liya terkesiap, berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya yang masih terasa berkabut.

​Di mana ini? Apakah aku sudah mati dan bereinkarnasi? batin Song Liya panik.

Hal terakhir yang dia ingat adalah malam menjelang pagi itu; ia sedang menyusul muridnya yang nekat mengikuti balapan liar di pinggiran kota. Saat mencoba menghentikan aksi berbahaya itu, sebuah motor hilang kendali dan menghantam tubuhnya dengan keras.

​Sementara itu, seorang laki-laki bertelanjang dada dengan rambut hitam panjang yang terurai sebagian, baru saja menutup pintu kamar. Ia berbalik, lalu berjalan ke arah Liya dengan tatapan penuh gairah.

​Laki-laki itu terus maju hingga naik ke atas ranjang sambil terkekeh rendah. "Jangan malu-malu, Sayang. Bukankah kau yang memintaku datang ke sini melalui pesan rahasia itu?"

​”Apa?” Song Liya terbelalak. Ia bergerak cepat mundur ke sudut ranjang.

Namun, kain hanfu yang berat menghambat pergerakannya. Song Liya baru sadar bahwa saat ini ia mengenakan gaun sutra berwarna gading yang mewah dengan sulaman benang emas, bukan celana training dan kaos longgar yang biasanya ia pakai untuk tidur.

​Laki-laki itu berhasil menangkap kaki kanan Liya dengan kasar. "Mau lari ke mana? Kau sudah mengundangku, masa kau menolakku sekarang?"

​Liya bertahan dengan berpegangan kuat pada sisi ranjang. Tubuhnya tidak ikut tertarik meski pria itu menggunakan seluruh tenaganya. “Tidak …”

Pria itu menyeringai, "Kau semakin menarik jika berlagak melawan begini. Ayo, Murong Shi ... mari kita mulai malam panas kita."

​Song Liya tersentak hebat mendengar nama itu disebut lagi.

"Murong Shi …?" gumamnya tak percaya. Suaranya terdengar lebih lembut dan tinggi, bukan suara aslinya.

​Laki-laki itu terkekeh, tangannya mulai merayap naik ke betisnya. "Kenapa memanggil namamu sendiri? Suamimu yang seorang Adipati itu, bukankah dia sangat dingin dan selalu mengabaikanmu? Itulah sebabnya kau mencariku, kan?"

​Kini ingatan Song Liya menjernih secepat kilat. Malam itu, sesaat sebelum telepon tentang muridnya masuk, ia baru saja menamatkan bab terakhir sebuah novel populer berjudul Gelora Cinta Sang Adipati.

​’Ya Tuhan!’ Liya membelalak kaget. ‘Jangan-jangan aku masuk ke dalam alur cerita novel itu? Mengapa Murong Shi? Mengapa harus menjadi tokoh antagonis yang nasibnya berakhir di tiang gantungan!’ Song Liya menggeram putus asa dalam hati.

​Murong Shi dalam novel adalah wanita temperamental, arogan, dan jahat yang selalu membuat masalah bagi Adipati Xuan, suaminya. Namun, semua kelicikannya berakhir tragis setelah ia dijebak dalam sebuah skandal besar.

​Liya tidak punya waktu untuk meratapi nasib menjadi tokoh jahat karena pria bertelanjang dada itu kembali menerjang.

Napasnya berbau arak pekat, matanya merah, dan gerakannya sempoyongan namun agresif. Sebagai guru olahraga yang memiliki dasar bela diri yang kuat, insting Liya mengambil alih. Ia tidak menghindar lagi.

​Saat pria itu mendekat untuk menerkam, Liya menarik napas pendek. Dengan sudut yang sangat sempit di pojok ranjang, ia memutar pinggangnya.

Ia menggunakan teknik jepitan kaki, mengunci leher pria itu dengan kedua kakinya yang kuat, lalu membantingnya ke atas kasur dengan tumpuan berat tubuhnya.

​Pria itu memberontak, wajahnya memerah karena kehabisan oksigen. Ia berusaha membuka jepitan kaki Liya, namun jepitan itu terkunci rapat dengan teknik yang sempurna hingga akhirnya tubuh pria itu terkulai pingsan kehabisan napas.

​"Satu nol untuk Guru Olahraga," bisik Liya sambil melepaskan kunciannya. Ia mengibas kakinya yang sedikit sakit. Tubuh Murong Shi ternyata jauh lebih lemah dan jarang bergerak.

​Namun sepertinya kemenangan itu hanya bertahan sedetik. Dari balik pintu kayu yang besar, terdengar suara derap langkah kaki yang ramai dan teriakan melengking seorang wanita yang sangat ia kenal karakternya.

​"Murong Shi! Aku tahu kau di dalam! Dasar wanita tidak tahu malu!"

​BRAK! BRAK!

Pintu itu digedor dengan kasar dari luar.

"Buka pintunya! Beraninya kau menggoda suamiku di rumah orang lain! Murong Shi, keluar!"

​Liya mematung. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar. "Gawat. Suara itu ... jebakan ini ... aku ingat bagian ini!"

​Pikirannya berputar cepat, memanggil kembali memori dari halaman-halaman novel. Ini adalah malam pesta ulang tahun Bangsawan Dao. Dalam cerita aslinya, Murong Shi memang sengaja datang ke kamar ini, tapi ia tidak tahu bahwa ia sedang masuk ke dalam perangkap yang lebih besar.

​"Su Wen!" desis Song Liya. "Ini semua gara-gara Su Wen."

​Ia ingat betul detailnya. Su Wen, yang dalam cerita adalah sahabat sekaligus saingan Murong Shi, menaruh dendam karena kalah taruhan permainan kartu Madiao.

Murong Shi yang angkuh memenangkan gelang giok berukir naga hitam milik Su Wen, dan wanita licik itu membalas dendam dengan merancang skandal perselingkuhan ini.

Dalam novel, skandal inilah yang membuat Adipati Xuan memiliki alasan kuat untuk semakin membenci Murong Shi yang berakhir dengan skandal yang membawanya ke tiang gantungan.

​’Kalau aku tertangkap sekarang, alur kematian tokoh antagonis ini akan dimulai,’ gumam Liya panik. ‘Aku harus mengubah nasib wanita jahat ini jika mau bertahan hidup!’

​Suara pintu yang dipaksa buka semakin nyaring. Song Liya melihat pria yang pingsan di ranjang. Dengan cepat, ia menyambar pakaian pria itu yang berserakan di lantai dan memakaikannya kembali secara asal-asalan ke tubuh lemas tersebut.

Ia menyelimutinya hingga ke dada, membuatnya tampak seolah-olah pria itu hanya sedang tidur lelap karena mabuk berat.

​"Tidurlah yang nyenyak, Tuan Mesum," bisik Liya tajam.

​Ia menoleh ke arah jendela. Satu-satunya jalan keluar. Ia membukanya dan mendapati kenyataan pahit: kamar ini berada di lantai dua.

Di bawah sana ada taman gelap yang dipenuhi tanaman berduri, tapi rutenya harus melewati atap bangunan yang sangat licin karena sisa hujan.

​KREK!

Suara kayu pintu mulai retak. Engselnya mulai goyah akibat dorongan paksa dari luar.

​"Tidak ada pilihan lain!"

​Song Liya melompat ke ambang jendela.

Dengan perasaan dongkol, ia mengangkat hanfu panjangnya yang mewah namun merepotkan, lalu mengikatkan ujung kainnya ke pinggang agar kakinya bisa bergerak bebas.

"Ah, andai sudah ada sneakers di jaman ini, aku tidak akan sesengsara ini," ucapnya sambil berdecak kesal.

​Ia menatap ke bawah sekali lagi lalu melompat ke luar jendela.

Tepat saat ujung jemarinya menutup jendela dari luar, pintu kamar di dalam sana jebol di dobrak hingga hancur berkeping-keping.

​"Mana dia?! Di mana jalang itu!" Suara Su Wen menggelegar di dalam kamar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 93

    Suasana di ruang makan utama kediaman Murong terasa lebih dingin daripada salju yang turun di Beiyuan. Lilin-lilin besar yang menyala di dinding perak seolah tidak mampu mengusir kebekuan yang merayap di meja panjang itu. Liya duduk tegak, tangannya melipat di bawah meja, sementara indranya menangkap setiap getaran intimidasi yang diarahkan kepadanya. ​Murong Guan, ayahnya, menyesap supnya perlahan sebelum meletakkan sendok dengan denting porselen yang tajam. ​"Kudengar Toko Kain Qing Fen di distrik timur sedang naik daun," suara Murong Guan memecah kesunyian. Matanya yang setajam elang menatap Liya tanpa berkedip. "Bagaimana Long Xuan? Apakah sang Adipati yang kaku itu mendukung ambisi istrinya berdagang seperti rakyat jelata?" ​Liya tersentak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang menghantamnya. Bagaimana dia bisa tahu? Selama ini, ia yakin usahanya di Beiyuan dilakukan dengan rapi dan tanpa diketahui keluarga Murong. Firasatnya yang sel

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 92

    Roda kereta kuda berderit pelan saat melintasi batas wilayah Changxu, meninggalkan bentang tanah Beiyuan. Liya menyingkap tirai sutra, menatap deretan prajurit berseragam biru tua dengan lencana ombak sungai yang kini mengawal jalannya. Inilah pasukan keluarga Murong, simbol kedigdayaan sang penguasa jalur sungai yang tak tertandingi.​Perjalanan menuju kediaman utama Murong memakan waktu hampir setengah hari. Menjelang senja, kereta akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang megah. Tidak ada riuh sambutan; suasana begitu sunyi seolah kepulangannya adalah rahasia yang tak perlu dirayakan. Hanya seorang pelayan tua yang membungkuk khidmat, membantu menurunkan barang-barang menuju sebuah paviliun yang letaknya agak terisolasi dari bangunan utama, satu sudut tempat Murong Shi menghabiskan masa gadisnya.​Liya mengamati sekeliling dengan saksama. Kediaman ini sangat mewah dan impresif, hampir menandingi keagungan Keluarga Long. Sesampainya di Paviliun tempat tinggalnya semasa gadisnya, ia

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 91

    Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.​Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengkungan bibir yang tak pernah menyentuh binar matanya. "Kaisar sedang diliputi kegelisahan, Tuan Murong. Beliau tidak menyukai kabar yang berembus dari Beiyuan belakangan ini."​Murong Guan melemparkan tatapan tajam, menembus ketenangan semu sang penasihat. "Jelaskan makna di balik ucapanmu itu, Penasihat Bao."​"Rencana awal kita mengirim putrimu ke Beiyuan adalah untuk menjadi beban, pengalih perhatian, dan jika memungkinkan, melumpuhkan pengaruh Adipati Beiyuan dari dalam. Namun, apa yang terjadi sekarang? Distrik Timur bangkit, pasar tradisional menjelma menjadi episentrum ekonomi baru, dan rakyat Beiyuan kini memuja nama klan Long lebih dari sebelumnya."​Murong Guan menyesap tehnya dengan

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 90

    Angin sore di tepian Danau Beiyuan berembus membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa amis darah yang mulai memudar. Di bawah sebuah pohon willow tua, sebuah gundukan tanah baru berdiri sunyi. Na Ying dan Liya baru saja menyelesaikan pemakaman sederhana untuk Bibi Wan. Tidak ada nisan mewah, hanya tumpukan batu alam sebagai tanda bahwa seorang tabib hebat telah beristirahat di sana. ​Kereta kuda sewaan Liya yang membawanya tadi telah lenyap, kemungkinan besar kusirnya melarikan diri karena ketakutan saat melihat komplotan berpakaian hitam menyerang. ​"Naiklah ke kudaku," perintah Na Ying singkat sembari menuntun tunggangannya. Suaranya kembali dingin, namun ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di balik cadarnya. ​Liya menurut, namun sebelum ia menginjakkan kaki di sanggurdi, ia menahan lengan Na Ying. Jantungnya berdegup kencang. Rahasia yang ia simpan sejak semalam terasa menyumbat tenggorokannya. Ia tahu, momen ini mungkin tidak akan datang dua kali. ​"Kak Na, tunggu se

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 89

    Parang tajam itu hanya berjarak beberapa milimeter dari kulit leher Liya ketika sebuah deru kencang membelah kesunyian. Suara derap kaki kuda yang dipacu membabi buta mendekat, dibarengi teriakan melengking yang menggetarkan nyali.​"Lepaskan dia dan menyerahlah, tikus-tikus menjijikkan!"​Sesosok bayangan melesat dari punggung kuda yang masih berlari. Wanita itu mengenakan cadar hitam dan caping bambu yang menutupi wajahnya, namun aura maut yang ia bawa tak bisa disembunyikan. Ia mendarat dengan ringan, pedangnya langsung berdenting, menebas udara dalam gerakan busur yang mematikan.​"Nyonya Bandit Gunung Yu!" seru salah satu penyergap dengan nada gentar. "Na Ying!"​Na Ying tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan serangan yang lebih buas. Meski ia melawan para pembunuh yang terlatih, ilmu bela diri pimpinan bandit itu berada pada tingkatan yang berbeda. Setiap ayunan pedangnya presisi, mematahkan pertahanan dan melukai titik vital. Dalam waktu singkat, tiga orang tersungku

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 88

    Pagi itu, denting sumpit yang beradu dengan porselen menjadi satu-satunya melodi yang mengisi ruang makan kediaman Keluarga Long. Long Xuan duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedingin marmer, tak sekalipun melirik ke arah istrinya. Begitu suapan terakhir selesai, ia langsung berdiri tanpa sepatah kata pun, meninggalkan aroma dingin yang tertinggal di udara saat jubah hitamnya menghilang di balik pintu. ​Liya tetap diam, menatap uap teh yang perlahan menghilang dari cangkirnya. Pikirannya tidak sedang meratapi sikap dingin suaminya yang tiba-tiba itu. Sebaliknya, ada setitik rasa syukur yang muncul. ​Baguslah kalau dia mengabaikanku, batin Liya. Setidaknya, kecurigaannya tidak akan membayangi langkahku hari ini. ​Fokus Liya sekarang adalah satu yaitu Nenek Tabib dan janji obat untuk Long Xuan. Ia tahu, waktunya tidak banyak. Setelah Liya memastikan Long Xuan telah berangkat ke Balai Kota dan Long Yuan sudah aman di sekolah, dengan penyamaran sederhana dan kereta kuda sewaan yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status