Share

Bab 3

Author: Wei Yun
last update Last Updated: 2026-01-15 14:08:25

Long Xuan terdiam, wajahnya tertoleh ke samping. Perlahan, sang Adipati memutar wajahnya kembali, menatap Liya dengan sepasang mata yang menyala oleh kemarahan meledak-ledak.

​"Kau berani menamparku?" bisiknya rendah.

​Ia mematung sejenak, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses kenyataan yang baru saja terjadi. Sepanjang sejarah pernikahan mereka, Murong Shi,meski dikenal angkuh dan menyebalkan, tidak pernah berani menyentuh fisik Long Xuan secara kasar, apalagi mendaratkan tamparan keras di pipinya.

​"Dan kau berani menghinaku?" balas Liya dengan suara yang tak kalah tajam, sepasang matanya membalas tatapan Long Xuan tanpa gentar sedikit pun.

"Dengarkan aku, Tuan Adipati yang terhormat. Mulai detik ini, jaga bicaramu jika kau masih ingin aku menghormatimu sebagai suamiku!"

​Long Xuan tertawa pendek, sebuah tawa kering yang tidak mengandung rasa humor sedikit pun. "Kau benar-benar sudah gila, Murong Shi. Apa jatuh dari tangga atau benturan di kepalamu kemarin telah merusak otakmu secara permanen?"

​Belum sempat Liya membalas, kereta kuda berhenti dengan sentakan pelan.

Di luar, barisan pelayan sudah berdiri rapi di depan gerbang kediaman Adipati yang megah. Tanpa sepatah kata pun, Long Xuan melangkah keluar lebih dulu tanpa sedikit pun menoleh untuk membantu istrinya.

​Liya menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Ia turun dari kereta dengan susah payah; hanfu berlapis-lapis itu benar-benar menjadi musuh bagi kelincahannya. Matanya menyapu bangunan di hadapannya.

Arsitektur kuno dengan pilar-pilar raksasa dan atap melengkung ini sungguh nyata. Sentuhan kayu jati dan aroma tanah setelah hujan membuatnya tersadar bahwa ini bukan lagi sekadar narasi di atas kertas novel.

​"Nyonya, Anda baik-baik saja?" Seorang pelayan muda dengan wajah cemas dan mata bulat mendekat dengan ragu.

​Liya segera mengenali sosok itu dari deskripsi novel. Inilah Xiao Cui, satu-satunya pelayan yang tulus mengabdi pada Murong Shi karena hutang nyawa di masa lalu. Dalam alur cerita aslinya, gadis malang yang memiliki lesung pipi ini nantinya juga akan ikut dihukum mati akibat fitnah yang menimpa majikannya.

​"Aku baik-baik saja, Xiao Cui. Hanya merasa sedikit lelah dan penat," jawab Liya dengan suara yang lebih lembut.

​Xiao Cui tampak terkesiap. Ia mematung, memandang majikannya dengan ekspresi tidak percaya. Mungkin ia terkejut karena itu kali pertama Murong Shi memanggilnya dengan lembut, sebab di dalam novel, Murong Shi kerap memakinya.

​Liya tersenyum tipis, menyadari keterkejutan gadis itu. "Xiao Cui, jangan melamun. Antar aku ke kamar. Aku butuh mandi untuk membersihkan sisa-sisa malam yang menjengkelkan ini."

​Namun, langkah mereka terhenti begitu memasuki aula utama. Long Xuan berdiri di sana dengan punggung tegak, dikelilingi oleh beberapa pengawal pribadinya yang berwajah garang.

​"Mulai malam ini," Long Xuan berbicara dengan volume yang cukup keras agar suaranya menggema di seluruh ruangan dan didengar oleh seluruh penghuni rumah, "Nyonya Muda dilarang keluar dari kediaman tanpa izin dariku. Kau akan menetap di Paviliun Anggrek. Jangan coba-coba melangkah keluar dari sana, atau aku sendiri yang akan mematahkan kakimu!"

​Liya berkacak pinggang, menatap suaminya dengan tatapan menantang. "Kau memenjarakanku? Atas dasar apa kau melakukan ini?"

​"Atas dasar aku adalah suamimu dan penguasa mutlak di kediaman ini!" gertak Long Xuan, suaranya menggelegar layaknya petir.

​"Suami? Kau lebih mirip sipir penjara yang haus kekuasaan," sahut Liya berani, membuat para pelayan di sekitar mereka menahan napas serentak. "Tapi baiklah. Aku juga butuh waktu untuk menjauh dari wajah dinginmu yang membosankan itu, Long Xuan."

​Adipati itu hanya memberikan tatapan membunuh sebelum berbalik pergi menuju Paviliun Phoenix tempat tinggalnya.

​Di dalam Paviliun Anggrek yang mewah namun terasa sunyi, Liya duduk di depan cermin rias. Ia menatap pantulan wajah yang ada di sana. Benar-benar cantik. Kulitnya seputih porselen, bibirnya merah alami tanpa perlu bantuan gincu, dan matanya besar serta jernih.

​"Sayang sekali, wajah secantik ini dimiliki oleh orang yang karakternya hancur berkeping-keping," gumam Liya. Ia sadar betul bahwa ingatan orang-orang tentang Murong Shi hanyalah tentang kekejaman dan rasa haus perhatian yang patologis.

Jika ia ingin selamat dari akhir cerita yang tragis, ia harus melakukan perbaikan besar-besaran terhadap karakter ini.

​"Xiao Cui, kemari," panggil Liya.

​Xiao Cui mendekat dengan kepala tertunduk dalam. "Ya, Nyonya? Apakah Nyonya ingin Xiao Cui menyiapkan teh krisan atau memijat kaki Nyonya?"

​"Katakan padaku dengan jujur, Xiao Cui. Siapa saja orang yang paling membenciku di kediaman ini?" tanya Liya tanpa basa-basi.

​Xiao Cui mendadak pucat pasi, tubuhnya gemetar. "Anu ... Nyonya ... itu ... Xiao Cui tidak berani mengatakannya. Mohon ampuni hamba."

​"Katakan saja. Aku berjanji, aku tidak akan marah atau memukulmu," desak Liya dengan nada yang sangat meyakinkan.

​"Hampir ... hampir semua orang, Nyonya," bisik Xiao Cui jujur dengan suara yang nyaris hilang. "Terutama Nyonya Besar Long, ibu dari Tuan Adipati. Beliau sangat membenci pernikahan Tuan dan Nyonya. Bahkan, hamba mendengar selentingan bahwa beliau sedang merencanakan untuk memberikan selir bagi Tuan Adipati dari keluarga bangsawan yang terpandang."

​Liya mengangguk-angguk paham. "Jadi ibu mertuaku adalah dalang utamanya. Menarik. Tampaknya hidupku di sini akan jauh lebih menantang daripada menghadapi tawuran antar murid sekolah."

​"Xiao Cui, siapkan air hangat. Aku ingin mandi. Setelah itu, kau pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Kau tampak sangat lelah," perintah Liya.

​Asap tipis mengepul dari bak kayu besar yang dipenuhi air hangat dan taburan kelopak mawar. Song Liya memejamkan mata, membiarkan kehangatan air meresap ke dalam pori-porinya, mencoba mengusir ketegangan dari otot-ototnya.

Namun, saat ia berdiri untuk membilas diri, ia tertegun menatap pantulan dirinya di permukaan air yang mulai tenang.

​Ia meraba bahunya, lalu turun ke arah dadanya. "Luar biasa ..." gumamnya tak percaya.

​Berbeda jauh dengan tubuh aslinya di dunia nyata yang atletis dan cenderung kaku karena intensitas olahraga yang tinggi, tubuh Murong Shi adalah definisi kesempurnaan feminin yang provokatif.

Dada yang penuh, kulitnya licin tanpa cacat, pinggangnya begitu ramping sehingga seolah bisa dilingkari dengan dua telapak tangan, dan lekukan pinggulnya begitu proporsional.

​"Kalau saja aku punya tubuh seperti ini di masa depan, aku pasti sudah menjadi model papan atas, bukan guru olahraga yang setiap hari berteriak menggunakan peluit," gerutunya sambil tersenyum getir.

​Selesai mandi, Liya mencari sesuatu untuk mengeringkan tubuhnya. Namun, yang ia temukan hanyalah lembaran-lembaran kain sutra putih tipis.

Dengan kebiasaan lamanya yang praktis, ia hanya melilitkan selembar kain sutra itu menutupi dada hingga paha atasnya, persis seperti cara ia melilitkan handuk setelah mandi di apartemennya. Ia juga melilitkan kain lain di kepala untuk membungkus rambutnya yang basah kuyup.

​Kain sutra itu, saat terkena sisa air di kulitnya, menjadi semi-transparan dan melekat erat, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya dengan sangat gamblang.

​"Ugh, betapa aku merindukan hairdryer," omelnya sambil terus menggosok rambutnya dengan kasar di dekat jendela yang terbuka sedikit.

​Tiba-tiba, suara ketukan keras menghantam pintu kamarnya, memecah keheningan malam di paviliun tersebut.

​"Siapa?! Xiao Cui, bukankah sudah kubilang untuk beristirahat?" teriak Liya kesal. Namun, ketukan itu tidak berhenti, malah semakin keras dan menuntut.

​Dengan langkah kesal dan kaki telanjang yang masih basah, Liya berjalan menuju pintu. Ia menyentakkan daun pintu kayu itu hingga terbuka lebar dengan emosi yang meluap.

"Apa lagi yang kau—"

​Kalimatnya terputus di tengah jalan. Oksigen seolah lenyap dari paru-parunya. Bukan Xiao Cui yang berdiri di sana, melainkan Long Xuan dengan wajah yang masih dipenuhi amarah, namun matanya mendadak terpaku pada pemandangan di depannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 5

    Matahari belum benar-benar bangkit dari peraduannya, namun Song Liya sudah memecah kesunyian di dalam kamar tidurnya yang luas. Di dunia asalnya, ia adalah pemuja olahraga, baginya, keringat adalah meditasi. Ia memanfaatkan furnitur kayu jati yang berat sebagai alat olahraga dadakan. Dengan napas yang teratur, ia melakukan posisi push-up di lantai yang dingin. ​"Aku harus tetap bugar," batin Liya sambil mengatur napas. "Apa pun jamannya, entah itu abad ke-21 atau dunia novel antah-berantah ini, tubuh adalah satu-satunya aset yang bisa kuandalkan." ​Ketika cahaya mentari mulai menyelinap melalui celah jendela, suara ketukan pelan terdengar di pintu kayu yang kokoh. ​"Nyonya, apakah sudah bangun? Ini Xiao Cui," suara pelayan itu terdengar mencicit, penuh keraguan. ​"Masuklah," sahut Liya tanpa menghentikan gerakannya. ​Xiao Cui tertegun di ambang pintu. Biasanya, ia harus bolak-balik hingga lima kali hanya untuk membujuk majikannya membuka mata. Kali ini, cukup satu panggilan. I

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 4

    Sesosok pria tinggi tegap dengan hanfu sutra hitam berdiri mematung di ambang pintu. Adipati Long Xuan. Sepasang netranya yang biasanya setajam sembilu dan sedingin es kutub, kini membelalak lebar, kehilangan keangkuhannya. Pandangannya luruh secara tak terkendali; mulai dari rambut Liya yang terbungkus kain seadanya, turun ke bahu porselen yang masih basah berkilau, hingga tertambat pada selembar sutra putih yang kini menjiplak sempurna setiap lengkung anatomis tubuh istrinya. ​Selama dua tahun bahtera pernikahan mereka yang hambar, Long Xuan tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di kamar ini pada jam-jam krusial, apalagi menyaksikan istrinya dalam kondisi yang begitu intim. Atmosfer paviliun yang tadinya tenang mendadak dipenuhi ketegangan yang menyesakkan paru-paru. ​"Kau…" Suara Long Xuan tercekat, seolah ada gumpalan emosi yang menyumbat kerongkongannya. ​Liya tersentak, keterkejutan murni menyambar sistem sarafnya. Namun, Song Liya yang bersemayam di tubuh itu bukanl

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 3

    Long Xuan terdiam, wajahnya tertoleh ke samping. Perlahan, sang Adipati memutar wajahnya kembali, menatap Liya dengan sepasang mata yang menyala oleh kemarahan meledak-ledak. ​"Kau berani menamparku?" bisiknya rendah. ​Ia mematung sejenak, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses kenyataan yang baru saja terjadi. Sepanjang sejarah pernikahan mereka, Murong Shi,meski dikenal angkuh dan menyebalkan, tidak pernah berani menyentuh fisik Long Xuan secara kasar, apalagi mendaratkan tamparan keras di pipinya. ​"Dan kau berani menghinaku?" balas Liya dengan suara yang tak kalah tajam, sepasang matanya membalas tatapan Long Xuan tanpa gentar sedikit pun. "Dengarkan aku, Tuan Adipati yang terhormat. Mulai detik ini, jaga bicaramu jika kau masih ingin aku menghormatimu sebagai suamiku!" ​Long Xuan tertawa pendek, sebuah tawa kering yang tidak mengandung rasa humor sedikit pun. "Kau benar-benar sudah gila, Murong Shi. Apa jatuh dari tangga atau benturan di kepalamu kemarin telah merusak ot

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 2

    Liya menempelkan tubuhnya ke dinding luar, menahan napas. Ia mendengar langkah kaki banyak orang masuk. Ia tidak menunggu lebih lama. Ia merayap di atas genting dengan hati-hati. Sebagai seorang guru olahraga, keseimbangannya luar biasa, namun berjalan di atas atap kuno dengan pakaian wanita bangsawan adalah tantangan baru. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun adrenalin membuatnya tetap fokus. Ia melihat sebuah pohon dedalu besar yang dahan-dahannya menjuntai hingga ke dekat balkon lantai dua di sisi lain bangunan. ​Dengan satu lompatan nekat, Liya menggapai dahan pohon tersebut. Tangannya tergores kulit pohon yang kasar, namun ia berhasil bergantung. Ia merosot turun dengan cekatan, mendarat di atas rumput taman yang basah tanpa menimbulkan suara berarti. ​Begitu kakinya menginjak tanah, ia segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menurunkan kembali roknya, dan mengatur napas. Ia tidak melarikan diri keluar gerbang; sebaliknya, ia justru berjalan tenang kemb

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 1

    "Murong Shi ... ayolah, biarkan aku menghangatkan dirimu malam ini," suara serak laki-laki menghentak kesadaran Song Liya. Ia membuka matanya dengan sentakan jantung yang hebat, seolah baru saja ditarik paksa dari kegelapan. ​Pemandangan di depannya sungguh di luar nalar. Ia tidak berada di aspal jalanan yang dingin setelah tertabrak motor saat mengejar muridnya yang ikut balap motor liar. Kini, ia berada di atas ranjang kayu berukir naga yang sangat megah dengan kelambu sutra yang menjuntai halus. Aroma dupa cendana yang kuat dan pekat menusuk hidungnya. ​Song Liya terkesiap, berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya yang masih terasa berkabut. ​Di mana ini? Apakah aku sudah mati dan bereinkarnasi? batin Song Liya panik. Hal terakhir yang dia ingat adalah malam menjelang pagi itu; ia sedang menyusul muridnya yang nekat mengikuti balapan liar di pinggiran kota. Saat mencoba menghentikan aksi berbahaya itu, sebuah motor hilang kendali dan menghantam tubuhnya dengan keras. ​Se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status