ログインLong Xuan terdiam, wajahnya tertoleh ke samping. Perlahan, sang Adipati memutar wajahnya kembali, menatap Liya dengan sepasang mata yang menyala oleh kemarahan meledak-ledak.
"Kau berani menamparku?" bisiknya rendah. Ia mematung sejenak, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses kenyataan yang baru saja terjadi. Sepanjang sejarah pernikahan mereka, Murong Shi,meski dikenal angkuh dan menyebalkan, tidak pernah berani menyentuh fisik Long Xuan secara kasar, apalagi mendaratkan tamparan keras di pipinya. "Dan kau berani menghinaku?" balas Liya dengan suara yang tak kalah tajam, sepasang matanya membalas tatapan Long Xuan tanpa gentar sedikit pun. "Dengarkan aku, Tuan Adipati yang terhormat. Mulai detik ini, jaga bicaramu jika kau masih ingin aku menghormatimu sebagai suamiku!" Long Xuan tertawa pendek, sebuah tawa kering yang tidak mengandung rasa humor sedikit pun. "Kau benar-benar sudah gila, Murong Shi. Apa jatuh dari tangga atau benturan di kepalamu kemarin telah merusak otakmu secara permanen?" Belum sempat Liya membalas, kereta kuda berhenti dengan sentakan pelan. Di luar, barisan pelayan sudah berdiri rapi di depan gerbang kediaman Adipati yang megah. Tanpa sepatah kata pun, Long Xuan melangkah keluar lebih dulu tanpa sedikit pun menoleh untuk membantu istrinya. Liya menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Ia turun dari kereta dengan susah payah; hanfu berlapis-lapis itu benar-benar menjadi musuh bagi kelincahannya. Matanya menyapu bangunan di hadapannya. Arsitektur kuno dengan pilar-pilar raksasa dan atap melengkung ini sungguh nyata. Sentuhan kayu jati dan aroma tanah setelah hujan membuatnya tersadar bahwa ini bukan lagi sekadar narasi di atas kertas novel. "Nyonya, Anda baik-baik saja?" Seorang pelayan muda dengan wajah cemas dan mata bulat mendekat dengan ragu. Liya segera mengenali sosok itu dari deskripsi novel. Inilah Xiao Cui, satu-satunya pelayan yang tulus mengabdi pada Murong Shi karena hutang nyawa di masa lalu. Dalam alur cerita aslinya, gadis malang yang memiliki lesung pipi ini nantinya juga akan ikut dihukum mati akibat fitnah yang menimpa majikannya. "Aku baik-baik saja, Xiao Cui. Hanya merasa sedikit lelah dan penat," jawab Liya dengan suara yang lebih lembut. Xiao Cui tampak terkesiap. Ia mematung, memandang majikannya dengan ekspresi tidak percaya. Mungkin ia terkejut karena itu kali pertama Murong Shi memanggilnya dengan lembut, sebab di dalam novel, Murong Shi kerap memakinya. Liya tersenyum tipis, menyadari keterkejutan gadis itu. "Xiao Cui, jangan melamun. Antar aku ke kamar. Aku butuh mandi untuk membersihkan sisa-sisa malam yang menjengkelkan ini." Namun, langkah mereka terhenti begitu memasuki aula utama. Long Xuan berdiri di sana dengan punggung tegak, dikelilingi oleh beberapa pengawal pribadinya yang berwajah garang. "Mulai malam ini," Long Xuan berbicara dengan volume yang cukup keras agar suaranya menggema di seluruh ruangan dan didengar oleh seluruh penghuni rumah, "Nyonya Muda dilarang keluar dari kediaman tanpa izin dariku. Kau akan menetap di Paviliun Anggrek. Jangan coba-coba melangkah keluar dari sana, atau aku sendiri yang akan mematahkan kakimu!" Liya berkacak pinggang, menatap suaminya dengan tatapan menantang. "Kau memenjarakanku? Atas dasar apa kau melakukan ini?" "Atas dasar aku adalah suamimu dan penguasa mutlak di kediaman ini!" gertak Long Xuan, suaranya menggelegar layaknya petir. "Suami? Kau lebih mirip sipir penjara yang haus kekuasaan," sahut Liya berani, membuat para pelayan di sekitar mereka menahan napas serentak. "Tapi baiklah. Aku juga butuh waktu untuk menjauh dari wajah dinginmu yang membosankan itu, Long Xuan." Adipati itu hanya memberikan tatapan membunuh sebelum berbalik pergi menuju Paviliun Phoenix tempat tinggalnya. Di dalam Paviliun Anggrek yang mewah namun terasa sunyi, Liya duduk di depan cermin rias. Ia menatap pantulan wajah yang ada di sana. Benar-benar cantik. Kulitnya seputih porselen, bibirnya merah alami tanpa perlu bantuan gincu, dan matanya besar serta jernih. "Sayang sekali, wajah secantik ini dimiliki oleh orang yang karakternya hancur berkeping-keping," gumam Liya. Ia sadar betul bahwa ingatan orang-orang tentang Murong Shi hanyalah tentang kekejaman dan rasa haus perhatian yang patologis. Jika ia ingin selamat dari akhir cerita yang tragis, ia harus melakukan perbaikan besar-besaran terhadap karakter ini. "Xiao Cui, kemari," panggil Liya. Xiao Cui mendekat dengan kepala tertunduk dalam. "Ya, Nyonya? Apakah Nyonya ingin Xiao Cui menyiapkan teh krisan atau memijat kaki Nyonya?" "Katakan padaku dengan jujur, Xiao Cui. Siapa saja orang yang paling membenciku di kediaman ini?" tanya Liya tanpa basa-basi. Xiao Cui mendadak pucat pasi, tubuhnya gemetar. "Anu ... Nyonya ... itu ... Xiao Cui tidak berani mengatakannya. Mohon ampuni hamba." "Katakan saja. Aku berjanji, aku tidak akan marah atau memukulmu," desak Liya dengan nada yang sangat meyakinkan. "Hampir ... hampir semua orang, Nyonya," bisik Xiao Cui jujur dengan suara yang nyaris hilang. "Terutama Nyonya Besar Long, ibu dari Tuan Adipati. Beliau sangat membenci pernikahan Tuan dan Nyonya. Bahkan, hamba mendengar selentingan bahwa beliau sedang merencanakan untuk memberikan selir bagi Tuan Adipati dari keluarga bangsawan yang terpandang." Liya mengangguk-angguk paham. "Jadi ibu mertuaku adalah dalang utamanya. Menarik. Tampaknya hidupku di sini akan jauh lebih menantang daripada menghadapi tawuran antar murid sekolah." "Xiao Cui, siapkan air hangat. Aku ingin mandi. Setelah itu, kau pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Kau tampak sangat lelah," perintah Liya. Asap tipis mengepul dari bak kayu besar yang dipenuhi air hangat dan taburan kelopak mawar. Song Liya memejamkan mata, membiarkan kehangatan air meresap ke dalam pori-porinya, mencoba mengusir ketegangan dari otot-ototnya. Namun, saat ia berdiri untuk membilas diri, ia tertegun menatap pantulan dirinya di permukaan air yang mulai tenang. Ia meraba bahunya, lalu turun ke arah dadanya. "Luar biasa ..." gumamnya tak percaya. Berbeda jauh dengan tubuh aslinya di dunia nyata yang atletis dan cenderung kaku karena intensitas olahraga yang tinggi, tubuh Murong Shi adalah definisi kesempurnaan feminin yang provokatif. Dada yang penuh, kulitnya licin tanpa cacat, pinggangnya begitu ramping sehingga seolah bisa dilingkari dengan dua telapak tangan, dan lekukan pinggulnya begitu proporsional. "Kalau saja aku punya tubuh seperti ini di masa depan, aku pasti sudah menjadi model papan atas, bukan guru olahraga yang setiap hari berteriak menggunakan peluit," gerutunya sambil tersenyum getir. Selesai mandi, Liya mencari sesuatu untuk mengeringkan tubuhnya. Namun, yang ia temukan hanyalah lembaran-lembaran kain sutra putih tipis. Dengan kebiasaan lamanya yang praktis, ia hanya melilitkan selembar kain sutra itu menutupi dada hingga paha atasnya, persis seperti cara ia melilitkan handuk setelah mandi di apartemennya. Ia juga melilitkan kain lain di kepala untuk membungkus rambutnya yang basah kuyup. Kain sutra itu, saat terkena sisa air di kulitnya, menjadi semi-transparan dan melekat erat, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya dengan sangat gamblang. "Ugh, betapa aku merindukan hairdryer," omelnya sambil terus menggosok rambutnya dengan kasar di dekat jendela yang terbuka sedikit. Tiba-tiba, suara ketukan keras menghantam pintu kamarnya, memecah keheningan malam di paviliun tersebut. "Siapa?! Xiao Cui, bukankah sudah kubilang untuk beristirahat?" teriak Liya kesal. Namun, ketukan itu tidak berhenti, malah semakin keras dan menuntut. Dengan langkah kesal dan kaki telanjang yang masih basah, Liya berjalan menuju pintu. Ia menyentakkan daun pintu kayu itu hingga terbuka lebar dengan emosi yang meluap. "Apa lagi yang kau—" Kalimatnya terputus di tengah jalan. Oksigen seolah lenyap dari paru-parunya. Bukan Xiao Cui yang berdiri di sana, melainkan Long Xuan dengan wajah yang masih dipenuhi amarah, namun matanya mendadak terpaku pada pemandangan di depannya.Debu jalanan masih berterbangan saat deru kaki kuda pasukan Beiyuan berhenti mendadak di depan penginapan. Long Xuan melompat turun dari kudanya dengan tergesa. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan firasat buruk yang kini terbukti di depan mata.Pemandangan di depannya adalah neraka yang membeku; keheningan yang mencekam menyelimuti halaman yang kini dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dengan luka sabetan yang mengerikan. Aroma amis darah menyeruak, memenuhi udara malam yang dingin."Shishi! Na Ying!" teriak Xuan, suaranya pecah membelah kesunyian.Langkahnya menerjang masuk ke dalam lobi yang hancur berantakan. Kursi dan meja kayu hancur berkeping-keping, guci porselen pecah berserakan di lantai yang kini licin oleh cairan merah. Ia mengabaikan mayat-mayat penyerbu yang tewas di tangan Na Ying. Matanya liar menyisir setiap sudut, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Cari Nyonya Adipati! Geledah setiap jengkal tempat ini! Ja
Kegelapan seketika menyergap kamar penginapan itu saat Na Ying menjentikkan kepingan logam kecil dari sakunya, memadamkan sisa lilin yang menyala dengan presisi maut. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, Liya bisa menyaksikan gerak-gerik mertuanya yang begitu taktis dan efisien. "Shishi, lekas!" bisik Na Ying rendah, napasnya sedikit tertahan guna meredam perih yang menghunjam punggungnya. Dengan ketangkasan yang lahir dari desakan rasa takut, Liya membantu Na Ying menyusun bantal-bantal di balik selimut sutra. Dalam keremangan, gundukan itu tampak identik dengan dua insan yang tengah terlelap. Begitu umpan terpasang, Na Ying mencengkeram lengan Liya, menariknya mendekati ambang pintu kamar. BRAAAK!!! Tepat saat daun pintu terkatup rapat di belakang mereka, suara jendela kamar didobrak dari luar terdengar memekakkan telinga. Derap langkah kaki yang berat menghujam lantai kayu, disusul desingan tajam mata pedang yang menghujam bantal-bantal kosong di atas ranjang. "Mereka sud
Cahaya fajar perlahan melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan kulit Liya yang halus. Kesadarannya terjaga saat merasakan hembusan napas hangat yang teratur menyapu keningnya, diikuti sebuah kecupan lembut yang mendarat lama di bibirnya. Liya membuka mata, mendapati wajah Long Xuan hanya berjarak seujung kuku darinya. Namun, ia terkesiap melihat penampilan suaminya. Tidak ada lagi jubah sutra megah dengan sulaman naga atau baju zirah perak yang berkilau; yang ada hanyalah pakaian kasar dari serat rami yang kusam, ikat kepala kain kumal, dan corengan jelaga di rahang tegasnya."Xuan?" bisik Liya parau, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Kau ... kau sudah akan pergi?""Waktunya tiba, Shishi," jawab Xuan dengan suara rendah. Ia mengelus pipi istrinya dengan jemari yang kasar.Liya segera bangkit, duduk di tepi ranjang sementara jemarinya meraba kain rami yang dikenakan Xuan. Ia memandangi suaminya dari ujung kepala hingga kaki. "Penyamaranmu ... kau terlihat sangat
Liya berdiri mematung di lorong penginapan yang remang, menatap punggung suaminya yang kian menjauh dan menghilang di balik kegelapan tangga. Hatinya seperti diremas melihat kehancuran di mata Xuan. Isak tangis dari dalam kamar memanggilnya kembali; Na Ying sedang meratap, sebuah suara yang sarat akan penyesalan yang terlambat.Liya masuk kembali dan mendapati Na Ying berusaha duduk, tangannya mencengkeram kain seprai. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tak terbendung."Dia membenciku, Shishi ... Dia benar-benar membenciku," isak Na Ying parau. "Setiap kata yang ia ucapkan ... semuanya benar. Aku adalah seorang pengecut."Liya duduk di tepi ranjang, merangkul bahu wanita yang gemetar itu. "Dia tidak membencimu, Na Ying. Dia hanya sedang terluka. Seluruh dunianya baru saja terbalik. Bayangkan, pria yang dibesarkan untuk menjadi pedang Beiyuan kini mengetahui bahwa selama ini darah yang ia perangi adalah darahnya sendiri.""Tapi aku punya alasan yang kuat!" Na Ying men
Xuan mengembuskan napas panjang dengan kasar, sebuah geraman frustrasi tertahan di tenggorokannya. Untuk kesekian kalinya, ia harus menelan kembali gairah yang sudah di ujung tanduk karena gangguan yang tak terduga. Liya, yang masih berada di pelukan Xuan, menatap wajah suaminya yang nampak kesal dengan binar jenaka. Ia memberikan senyum meledek, menyadari bahwa suaminya sedang berjuang keras menekan hasrat yang masih terjebak di dalam dirinya. "Jangan menertawakanku, Shishi," bisik Xuan parau, matanya masih berkilat gelap. Liya terkekeh kecil, lalu mengecup hidung Xuan. "Aku tidak tertawa, Xuan. Hanya saja ... sepertinya semesta memang sedang menguji kesabaran sang Adipati Beiyuan malam ini." Xuan memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Ia memberi kode melalui gerakan kepala agar Liya segera bangkit dan memenuhi panggilan Na Ying. Sebelum benar-benar keluar dari bak mandi, Liya sempat mengecup bibir suaminya dengan ringan, sebuah kecupan manis yang seo
"Xuan!!" Liya terpekik, air mawar yang semula tenang kini bergelombang hebat akibat gerakannya yang tiba-tiba. Wajahnya yang semula pucat karena kelelahan, seketika berubah merah padam hingga ke telinga.Long Xuan sudah berada di dalam bak kayu besar itu. Tubuhnya yang kokoh dan penuh otot tampak berkilau tertimpa cahaya lilin yang temaram. Ia tidak mengenakan sehelai benang pun. Tatapannya yang tadi dingin saat menyusun strategi dengan Lu Chen, kini berubah menjadi gelap dan intens, penuh dengan kerinduan yang tak tertahankan."Sst ... jangan berteriak, Shishi. Kau ingin seluruh pasukan Beiyuan mendobrak pintu ini karena mengira ada penyusup?" bisik Xuan, suaranya serak dan rendah, bergetar tepat di depan wajah Liya."Kau ... sejak kapan kau masuk?" Liya bertanya dengan napas terengah-engah, tangannya secara refleks menutupi dadanya yang terekspos, meski ia tahu itu sia-sia di hadapan suaminya sendiri.Xuan terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat maskulin dan penuh dominasi.
Larangan keras yang diteriakkan Long Xuan di selasar tadi bukannya membuat Liya surut, justru menjadi api yang menyulut rasa penasaran di dalam dadanya. Ada sesuatu yang tidak beres. Seorang panglima yang sanggup menahan tebasan pedang tanpa mengedipkan mata, tidak mungkin mengerang separah itu han
Malam telah jatuh menyelimuti ibu kota. Liya melangkah keluar secara diam-diam, dari gerbang samping kediaman Long dengan pakaian yang lebih sederhana, kerudung tipis menutupi sebagian wajahnya. Ia sengaja tidak menggunakan kereta kuda berlogo keluarga Adipati; ia tidak ingin kepulangannya nanti me
Malam di aula utama kediaman Adipati Long menyisakan aroma dupa cendana yang berat, berbaur dengan sisa-sisa ketegangan yang seolah membeku di udara. Di bawah cahaya lampion yang temaram, jamuan makan malam itu berlangsung dalam kesunyian yang mencekam, hingga suara riang Long Yuan memecah kehening
Kabut tipis menyelimuti kaki Gunung Lingyun saat fajar menyingsing, namun keriuhan di perkemahan Akademi Shin Yue sudah membuncah sejak pagi buta. Bagi para bangsawan dan pangeran yang hadir, ajang ini bukan sekadar kegiatan sekolah, melainkan panggung untuk memamerkan kemegahan serta status sosial







