ログインFajar menyingsing di ufuk timur Changxu, membawa semburat cahaya pucat yang menembus celah jendela paviliun. Namun, bagi Liya, malam seolah tak pernah berakhir. Matanya terjaga, menatap langit-langit ranjang kelambu yang mewah namun terasa mencekik.Di sudut kamar, Xiao Cui masih terlelap di atas dipan kecil. Napasnya teratur, kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam benak Liya."Asal-usulku ... orang tua Yuan’er ... intrik pernikahan ini," gumam Liya pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kesunyian pagi. "Mengapa semuanya datang bersamaan seperti air bah?"Ia berguling ke sisi kanan, lalu ke kiri. Pikirannya buntu. Mengetahui bahwa dirinya hanyalah pion politik yang dipungut dari sungai untuk melemahkan Long Xuan membuat hatinya perih. Murong Shi yang asli mungkin hanya seorang wanita manja, tapi ia digunakan sebagai senjata untuk menghancurkan reputasi pria yang kini mulai ia kagumi.Haruskah aku kembali menjadi wanita bodoh yang temperamental? pikirnya getir. Hanya agar pa
Cahaya bulan yang pucat menembus kisi-kisi jendela kamar Murong Lian. Ia menutup pintu kamarnya dengan senyum kepuasan yang masih tertinggal, membayangkan hati kakaknya, Murong Shi yang hancur karena kenyataan pahit tentang hal yang baru diketahuinya. Namun, sebelum ia sempat melangkah menuju ranjang, sebuah tangan kekar menyambar pinggangnya dari kegelapan. Lian tersentak pelan, namun sedetik kemudian ia tertawa kecil saat mengenali aroma tubuh pria itu. "Kau lama sekali, Lian. Aku sudah lama menunggumu di sini," bisik Murong Xie, suaranya serak dan penuh tuntutan. Lian berbalik dalam pelukan kakak tirinya, menyandarkan jemarinya di dada bidang Xie yang terbungkus sutra perak. "Sabar, Kak Xie. Aku harus memberikan sedikit 'hadiah perpisahan' untuk kakakku tercinta. Aku tahu kau tak sabar, matamu seharian tadi terus memandanginya, bukan?" Xie menyeringai gelap, matanya berkilat di bawah sinar lentera. "Kau selalu tahu apa yang kupikirkan. Sekarang, aku ingin melampiaskan se
Liya melangkah keluar dari ruang belajar Murong Guan dengan lutut yang terasa lemas, namun punggungnya tetap tegak. Kata-kata Murong Guan bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Eksekusi. Long Xuan pernah mengeksekusi kakak iparnya sendiri demi kesetiaan pada Beiyuan. Kini ia mengerti mengapa suaminya selalu menatapnya dengan penuh kecurigaan. Di mata Long Xuan, setiap wanita yang dikirim oleh keluarga bangsawan ke dalam keluarganya adalah potensi pengkhianat. Dan ia, Murong Shi, adalah bom waktu yang akan diledakkan tepat di jantung paviliunnya. "Nyonya ... wajah Nyonya pucat sekali," bisik Xiao Cui yang mencegatnya di lorong gelap. "Apa yang dikatakan Tuan Besar? Apakah beliau memarahi Nyonya?" Liya tidak menjawab dengan segera. Ia hanya menggenggam tangan Xiao Cui dengan dingin, menyalurkan kegelisahan yang membeku. "Siapkan barang-barang kita, Xiao Cui. Kita tidak akan tinggal di sini lebih lama lagi. Besok pagi-pagi sekali, kita kembali ke Beiyuan." "Tapi Nyonya, b
Udara di dalam ruang kerja Murong Guan terasa kian mencekik oleh ketegangan yang memuncak. Liya merasakan ujung jemarinya mendingin, namun api amarah di dadanya justru berkobar makin panas. Pertanyaan ayahnya tentang perubahan sikapnya membuat lidah Liya kelu sejenak. Ia tidak menjawab, namun rahangnya mengeras, tatapannya tajam menantang mata ayahnya yang penuh kelicikan. Murong Guan menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu dengan denting yang menyakitkan telinga. Ia menyipitkan mata, menatap putrinya seolah sedang membedah isi kepalanya. "Murong Shi yang aku kenal tidak pernah berani menatap mataku seperti sekarang," ucap Guan dengan nada curiga yang kental. "Siapa yang mengajarimu bersikap lancang seperti ini? Apakah Long Xuan yang mengajarimu untuk membangkang pada ayahmu sendiri?" Liya menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya hingga ia tampak lebih tinggi dari sebelumnya. "Aku berubah atau tidak, itu bukan urusan Ayah lagi. Aku adalah istri Ad
Suasana di ruang makan utama kediaman Murong terasa lebih dingin daripada salju yang turun di Beiyuan. Lilin-lilin besar yang menyala di dinding perak seolah tidak mampu mengusir kebekuan yang merayap di meja panjang itu. Liya duduk tegak, tangannya melipat di bawah meja, sementara indranya menangkap setiap getaran intimidasi yang diarahkan kepadanya. Murong Guan, ayahnya, menyesap supnya perlahan sebelum meletakkan sendok dengan denting porselen yang tajam. "Kudengar Toko Kain Qing Fen di distrik timur sedang naik daun," suara Murong Guan memecah kesunyian. Matanya yang setajam elang menatap Liya tanpa berkedip. "Bagaimana Long Xuan? Apakah sang Adipati yang kaku itu mendukung ambisi istrinya berdagang seperti rakyat jelata?" Liya tersentak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang menghantamnya. Bagaimana dia bisa tahu? Selama ini, ia yakin usahanya di Beiyuan dilakukan dengan rapi dan tanpa diketahui keluarga Murong. Firasatnya yang sel
Roda kereta kuda berderit pelan saat melintasi batas wilayah Changxu, meninggalkan bentang tanah Beiyuan. Liya menyingkap tirai sutra, menatap deretan prajurit berseragam biru tua dengan lencana ombak sungai yang kini mengawal jalannya. Inilah pasukan keluarga Murong, simbol kedigdayaan sang penguasa jalur sungai yang tak tertandingi.Perjalanan menuju kediaman utama Murong memakan waktu hampir setengah hari. Menjelang senja, kereta akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang megah. Tidak ada riuh sambutan; suasana begitu sunyi seolah kepulangannya adalah rahasia yang tak perlu dirayakan. Hanya seorang pelayan tua yang membungkuk khidmat, membantu menurunkan barang-barang menuju sebuah paviliun yang letaknya agak terisolasi dari bangunan utama, satu sudut tempat Murong Shi menghabiskan masa gadisnya.Liya mengamati sekeliling dengan saksama. Kediaman ini sangat mewah dan impresif, hampir menandingi keagungan Keluarga Long. Sesampainya di Paviliun tempat tinggalnya semasa gadisnya, ia







