LOGINSudut Pandang Zayn:Pukul tiga dini hari.Di kamar tidur kediaman Keluarga Basuki, tirai tertutup rapat dan tidak membiarkan sedikit pun cahaya masuk. Namun, aku tidak membutuhkannya, aku bisa menemukan sosok Emilia dengan sempurna di dalam kegelapan itu.Emilia tertidur pulas dengan napas yang dalam dan teratur sedang meringkuk di dalam pelukanku, seperti anak kucing yang penuh percaya diri. Rambutnya melilit di sela-sela jariku dan tercium aroma lembut dari vanila, itu adalah wangi surga.Aku tidak berani tidur. Aku takut jika aku memejamkan mata, semua ini hanya mimpi saat bangun nanti. Fantasi putus asa yang lahir dari ruang bawah tanah yang lembap dan gelap.Tangan bebasku melayang satu inci di atas lekuk lembut perutnya, di mana anak kedua kami tumbuh di sana. Bahkan sampai sekarang pun, rasa takut yang aneh lahir saat melihat Emilia tidur tanpa penjagaan apa pun. Kenyataan bahwa aku akhirnya memiliki semua yang kuinginkan, jantungku terasa seperti menghantam tulang rusukku.Emil
Tidak sulit untuk menebak apa janji terakhir Carmela dengan Ryder, itu adalah tindakan putus asa seorang ibu.Setelah menelan semua berlian itu, organ dalam Carmela pasti hancur dan tidak mungkin bertahan melewati malam itu. Dia pasti menggunakan lokasi putranya atau bahkan nyawanya sendiri untuk menukar kesempatan kabur bagi Ryder. Karena dia tahu, putranya masih memiliki kesempatan untuk makan jika Ryder masih hidup.Saat itu, pintu kamar pasien tiba-tiba terbuka lebar. Dua sosok yang satu besar dan satu kecil menerobos masuk, mengusir aroma steril di ruangan itu. Sebelum Bella sempat bereaksi, Zayn sudah mendorong Bella ke sudut."Emilia ...."Suara Zayn nyaris pecah dan matanya yang biasanya tegas kini dipenuhi urat merah. Dia memegang wajahku dengan lembut dan bertanya, "Di mana yang sakit? Bilang padaku, di mana yang sakit?"Luca menempel di sisi ranjang dengan mata yang memerah. Dia ingin menyentuhku, tetapi tidak berani dan terlihat sangat terpukul. "Mama, orang jahat itu meluk
Sikap acuh Zayn dan tawa orang-orang di sekeliling benar-benar menghancurkan pertahanan Ryder. Dia berdiri kaku dan mengepalkan tinjunya dengan begitu keras sampai buku jarinya berbunyi, tetapi dia tidak berani bertindak sembarangan di depan Zayn.Luca mengintip dari balik kaki Zayn dan wajah kecilnya dipenuhi dengan ekspresi dingin dan ejekan yang sama sekali tidak sesuai dengan usianya. "Masak? Kamu masih bermimpi ya? Mamaku adalah Nyonya Keluarga Basuki dan Tuan Putri milik Papa. Kamu pikir kamu pantas membuatnya menggerakkan satu jari untukmu?"Suara bocah itu kekanak-kanakan, tetapi setiap katanya seperti pisau yang menusuk tepat ke luka terdalam Ryder."Mama hanya akan punya dua anak, aku dan adikku. Kamu pikir anakmu pantas jadi anak Mama? Aku rasa dia akan kena kutukan hanya dengan memikirkannya."Setelah mengatakan itu, Luca menjepit hidungnya dengan jijik dan menatap Ryder dari atas ke bawah seolah-olah Ryder adalah benda kotor. "Lagi pula, bau kemiskinanmu itu buat sesak. Ka
Aku menghela napas, lalu menarik tanganku kembali. "Sudah, kalian membuat dokternya hampir mati ketakutan."Mendengar ucapanku, dokter itu seperti baru saja mendapat pengampunan. Dia mengusap keringat di keningnya dan melapor pada Zayn dengan suara gemetar, "Tuan, tangan Nyonya hanya mengalami memar jaringan lunak dan perlu istirahat. Aku akan pakai obat terbaik, aku jamin nggak akan meninggalkan bekas."Zayn tidak mengatakan apa pun, tetapi diamnya terlihat seperti gunung berapi yang akan meletus. Hanya aku yang tahu, itu adalah tanda amarahnya akan segera meledak.Di samping kami, Ryder sudah basah oleh keringat. Dia tidak menyangka Emilia yang dahulu diinjak-injaknya telah berubah menjadi ratu dunia bawah tanah, Nyonya Keluarga Basuki. Melihat kedekatanku dengan Zayn, dia merasa sangat cemburu dan keberanian yang datang entah dari mana terlintas di matanya.Namun, Ryder masih memiliki sedikit akal sehat. Untuk kelangsungan Keluarga Soesatyo, dia harus menelan harga dirinya dan meran
Para anak buah yang tadinya mengikuti Ryder di bandara dan mengejekku pun kini gemetar ketakutan. Mereka sampai harus mencengkeram tepi meja di dekat mereka hanya agar bisa tetap berdiri dengan stabil.Mereka akhirnya menyadari Emilia si anjing peliharaan yang mereka hina selama tiga tahun dan pecundang miskin yang mereka remehkan, ternyata adalah Nyonya terhormat dari Keluarga Basuki. Seandainya tatapan bisa membunuh, tatapan Zayn yang dingin sudah membantai mereka puluhan ribu kali.Air mataku masih mengalir saat Zayn menepuk punggungku dengan lembut. Namun, selalu saja ada orang bodoh yang berniat untuk mati, sehingga sengaja berjalan masuk ke garis tembak."Ya Tuhan, norak sekali," kata seorang wanita yang melengking dan memotong ketegangan.Wanita itu adalah Tessa, pengikut Carmela yang mengenakan gaun pendek merah muda. Dia jelas-jelas belum memahami situasinya atau mungkin dia memang benar-benar idiot.Tessa melangkah maju sambil menggoyangkan pinggul, lalu menunjuk Zayn dan aku
Ekspresi Luca yang biasanya kaku seperti Zayn pun kini berubah menjadi ketakutan. Meskipun tangisannya yang kekanak-kanakan terdengar pelan, masih cukup jelas untuk membuat seluruh orang di aula terdiam. Tangan kecil Luca mencengkeram gaun beludruku, lalu membenamkan wajahnya yang dibasahi air mata di lekuk leherku dan seluruh tubuhnya bergetar.Suasana di ruangan itu benar-benar sunyi.Tangan Ryder yang terulur membeku di udara. Ekspresi di wajahnya terlihat tak ternilai, seperti baru saja dipukul palu. Tatapannya yang terlihat tidak percaya beralih dari pewaris keluarga yang berharga itu sampai ke aku yang tergeletak menyedihkan di lantai.Aku mengertakkan gigi untuk menahan rasa sakit dan menatap kesatria kecilku. Pelukan Luca yang lembut dan beraroma susu langsung menenangkan kegelapan di hatiku. Sebelum aku sempat berbicara, tangan kecil Luca yang gemetar perlahan-lahan mengangkat tangan kiriku yang sudah menjadi gumpalan daging dan darah.Ruby darah merpati yang dahulu berkilau k







