Share

Bab 5

Penulis: Shirley
Tiga hari kemudian, aku tiba di tempat acara mengenakan gaun beludru hitam yang dipilih langsung oleh Zayn untukku. Roknya tanpa hiasan berlebihan, tetapi potongannya sempurna menonjolkan tubuhku yang sedang hamil.

Ryder langsung melihatku. Matanya sempat berbinar sejenak, mungkin mengira sikap sok pentingnya akhirnya berhasil membuatku menyerah. "Aku tahu kamu akan berubah pikiran."

Dia melangkah mendekat, lalu menilaiku seolah-olah aku adalah barang miliknya. "Tapi Emilia, kalau kamu mau berdiri di sampingku, kamu harus menunjukkan ketulusanmu. Pakaianmu masih terlalu sederhana dan nggak pakai perhiasan, nggak pantas jadi wanita Keluarga Soesatyo. Karena kamu sudah datang, ikut saja denganku dan jangan berkeliaran."

Aku bahkan malas untuk melirik Ryder. Aku menghindarinya dan berjalan lurus menuju meja utama di depan aula. Satu kursi kosong di sana, di samping gelas anggur khusus milik Zayn.

"Berhenti!"

Ryder yang kesal membentak, "Aku sedang bicara padamu. Tempat duduk kita di sana, di pojok. Kamu pikir kamu mau ke mana?"

Aku melangkah lagi. "Itu tempat dudukmu, tempat dudukku di sini."

Saat mengatakan itu, aku mengangkat dagu dan menunjuk tepat ke tengah ruangan.

Saat mengikuti arah pandanganku, ekspresi Ryder langsung menjadi muram. "Itu meja utama Keluarga Basuki. Kamu mau mati ya?"

Keributan itu cukup keras hingga menarik perhatian para tamu di sekitar.

Sebelum aku bisa melepaskan genggaman Ryder, sebuah teriakan melengking menembus alunan biola yang anggun. "Emilia, bagaimana kamu bisa masuk ke sini?"

Carmela yang mengenakan gaun merah penuh dengan payet yang mencolok segera mendekat dengan ekspresi siap bertengkar. Dia menunjuk cincin di tanganku. "Kenapa wanita murahan seperti ini bisa masuk? Dan masih berani pamer pakai barang palsu?"

Saat itu, banyak pasang mata yang langsung tertuju padaku.

Carmela menikmati perhatian itu, sehingga suaranya makin keras. "Semuanya, lihat! Bukannya cincin di tangan wanita ini tiruan dari Cincin Darah Emas milik Keluarga Basuki? Malam ini penampilan publik perdana dari Tuan Zayn dan istrinya. Wanita jalang ini malah menghina dengan pakai barang palsu. Satpam! Mana satpam? Kenapa sampah ini bisa masuk? Dia ke sini menjual diri ya? Cari sugar daddy?"

Wajah Ryder memucat. Dia menarik tangannya dariku dan bahkan mundur selangkah, lalu segera merapikan mansetnya. Setelah itu, dia berkata pada para penonton penasaran dengan nada dingin, "Aku nggak mengenalnya."

Melihat reaksi Ryder, Carmela menjadi makin berani. "Dengar itu? Ryder saja nggak mau mengakui aib sepertimu. Lepas cincin palsu itu dan enyah dari sini."

"Kamu yakin mau mengusirku?" tanyaku sambil tersenyum.

Sikapku membuat Carmela terkejut dan kepercayaan dirinya goyah sejenak. "Berhenti berpura-pura. Lepaskan sampah itu sekarang juga."

Setelah itu, Carmela langsung menerjang ke arah cincinku.

Aku mencoba untuk menghindari Carmela, tetapi aku lupa aku sedang memakai sepatu hak tinggi dan hamil membuat gerakanku tidak lincah lagi. Setelah itu, seseorang menyodorkan kaki dan membuatku tersandung. Aku pun kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai dengan keras.

Sebelum aku sempat bereaksi, tumit stiletto yang tajam menginjak tangan kiriku. Rasa sakit yang menyengat langsung menyebar ke tubuhku.

Carmela tersenyum saat menginjak jemariku beserta cincin itu. "Itulah akibatnya memakai barang palsu. Sok hebat. Karena kamu sudah nggak tahu malu sampai mengikuti kami ke sini, anggap saja cincin itu sebagai tiket masukmu."

Tanganku sudah berlumuran darah sampai menodai ruby darah merpati dan meresap ke karpet mewah.

Orang-orang di sekitar mulai gelisah dan ingin meleraikan.

Aku memeluk perutku. Demi anak di dalam kandunganku, aku menahan sakit luar biasa dan mencoba menyebutkan identitasku. "Berhenti! Aku istrinya Zayn ...."

PLAK!

Tamparan keras langsung memotong ucapanku.

"Diam! Sekarang kamu mau menyebarkan rumor kalau kamu ini wanitanya Zayn? Apa kamu pantas?" kata Carmela.

Wajahku terasa panas dan aku bisa merasakan darah di sudut bibirku. Aku tidak berniat berkelahi dengan wanita gila di tempat seperti ini karena tidak perlu, Zayn yang akan mematahkan tangan dan kakinya sedikit demi sedikit.

Saat itu, Ryder akhirnya bereaksi. Dia berlari mendekat, lalu berlutut dan menyuruh Carmela berhenti. "Emilia, sudah puas?"

Ryder menatap tanganku yang berdarah dengan kilatan aneh muncul di matanya. "Kamu memakai cincin palsu dan berdandan seperti ini hanya untuk dipermalukan di depanku? Kamu mau menarik perhatianku dengan trik menyedihkan ini ya? Baiklah. Kalau sekarang kamu memohonku, aku akan menerimamu kembali."

Aku menahan sakit dan menatap ekspresi bodoh Ryder, lalu tersenyum. "Ryder, kamu sudah tamat. Bukan hanya kamu. Seluruh Keluarga Soesatyo dan Keluarga Sutanto, kalian semua akan tamat."

Ryder mengernyitkan alisnya, lalu membuka mulutnya dan hendak memaki.

Namun, pintu besar aula tiba-tiba didorong terbuka dari luar dan suasana aula yang tadinya bising pun langsung senyap.

Zayn Basuki yang mengenakan setelan hitam khusus dan menggendong putra kami, Lucas, melangkah masuk.

Melihat itu, ekspresi Ryder berubah. Dia buru-buru menarikku berdiri dan menyembunyikanku di belakangnya. "Sialan. Zayn sudah datang, jangan buat keributan lagi. Selama kamu nggak mengganggu Carmela lagi, aku masih bisa memberimu kesempatan. Genmu lumayan bagus juga ...."

Sebelum Ryder sempat menyelesaikan kalimatnya, Lucas yang berada di pelukan Zayn meronta karena ingin turun. Begitu kaki kecil itu menyentuh lantai, dia langsung berlari dengan langkah pendek ke arahku. Dia berlutut di sampingku, lalu berkata dengan suara bening dan terisak-isak, "Mama!"

Tatapan Zayn mengikuti langkah putranya dan langsung menatapku yang tergeletak berantakan di sudut ruangan. Dia melihat bekas tamparan di wajahku dan tanganku yang hancur serta berlumuran darah.

Tubuh Ryder benar-benar membeku. Dia menunjuk Luca, lalu berkata dengan suara yang bergetar, "Apa aku salah dengar? Anak itu ... tadi memanggilnya ... Mama?"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menyaksikan Tunangan Mafiaku Menikahi Wanita Lain   Bab 11

    Sudut Pandang Zayn:Pukul tiga dini hari.Di kamar tidur kediaman Keluarga Basuki, tirai tertutup rapat dan tidak membiarkan sedikit pun cahaya masuk. Namun, aku tidak membutuhkannya, aku bisa menemukan sosok Emilia dengan sempurna di dalam kegelapan itu.Emilia tertidur pulas dengan napas yang dalam dan teratur sedang meringkuk di dalam pelukanku, seperti anak kucing yang penuh percaya diri. Rambutnya melilit di sela-sela jariku dan tercium aroma lembut dari vanila, itu adalah wangi surga.Aku tidak berani tidur. Aku takut jika aku memejamkan mata, semua ini hanya mimpi saat bangun nanti. Fantasi putus asa yang lahir dari ruang bawah tanah yang lembap dan gelap.Tangan bebasku melayang satu inci di atas lekuk lembut perutnya, di mana anak kedua kami tumbuh di sana. Bahkan sampai sekarang pun, rasa takut yang aneh lahir saat melihat Emilia tidur tanpa penjagaan apa pun. Kenyataan bahwa aku akhirnya memiliki semua yang kuinginkan, jantungku terasa seperti menghantam tulang rusukku.Emil

  • Menyaksikan Tunangan Mafiaku Menikahi Wanita Lain   Bab 10

    Tidak sulit untuk menebak apa janji terakhir Carmela dengan Ryder, itu adalah tindakan putus asa seorang ibu.Setelah menelan semua berlian itu, organ dalam Carmela pasti hancur dan tidak mungkin bertahan melewati malam itu. Dia pasti menggunakan lokasi putranya atau bahkan nyawanya sendiri untuk menukar kesempatan kabur bagi Ryder. Karena dia tahu, putranya masih memiliki kesempatan untuk makan jika Ryder masih hidup.Saat itu, pintu kamar pasien tiba-tiba terbuka lebar. Dua sosok yang satu besar dan satu kecil menerobos masuk, mengusir aroma steril di ruangan itu. Sebelum Bella sempat bereaksi, Zayn sudah mendorong Bella ke sudut."Emilia ...."Suara Zayn nyaris pecah dan matanya yang biasanya tegas kini dipenuhi urat merah. Dia memegang wajahku dengan lembut dan bertanya, "Di mana yang sakit? Bilang padaku, di mana yang sakit?"Luca menempel di sisi ranjang dengan mata yang memerah. Dia ingin menyentuhku, tetapi tidak berani dan terlihat sangat terpukul. "Mama, orang jahat itu meluk

  • Menyaksikan Tunangan Mafiaku Menikahi Wanita Lain   Bab 9

    Sikap acuh Zayn dan tawa orang-orang di sekeliling benar-benar menghancurkan pertahanan Ryder. Dia berdiri kaku dan mengepalkan tinjunya dengan begitu keras sampai buku jarinya berbunyi, tetapi dia tidak berani bertindak sembarangan di depan Zayn.Luca mengintip dari balik kaki Zayn dan wajah kecilnya dipenuhi dengan ekspresi dingin dan ejekan yang sama sekali tidak sesuai dengan usianya. "Masak? Kamu masih bermimpi ya? Mamaku adalah Nyonya Keluarga Basuki dan Tuan Putri milik Papa. Kamu pikir kamu pantas membuatnya menggerakkan satu jari untukmu?"Suara bocah itu kekanak-kanakan, tetapi setiap katanya seperti pisau yang menusuk tepat ke luka terdalam Ryder."Mama hanya akan punya dua anak, aku dan adikku. Kamu pikir anakmu pantas jadi anak Mama? Aku rasa dia akan kena kutukan hanya dengan memikirkannya."Setelah mengatakan itu, Luca menjepit hidungnya dengan jijik dan menatap Ryder dari atas ke bawah seolah-olah Ryder adalah benda kotor. "Lagi pula, bau kemiskinanmu itu buat sesak. Ka

  • Menyaksikan Tunangan Mafiaku Menikahi Wanita Lain   Bab 8

    Aku menghela napas, lalu menarik tanganku kembali. "Sudah, kalian membuat dokternya hampir mati ketakutan."Mendengar ucapanku, dokter itu seperti baru saja mendapat pengampunan. Dia mengusap keringat di keningnya dan melapor pada Zayn dengan suara gemetar, "Tuan, tangan Nyonya hanya mengalami memar jaringan lunak dan perlu istirahat. Aku akan pakai obat terbaik, aku jamin nggak akan meninggalkan bekas."Zayn tidak mengatakan apa pun, tetapi diamnya terlihat seperti gunung berapi yang akan meletus. Hanya aku yang tahu, itu adalah tanda amarahnya akan segera meledak.Di samping kami, Ryder sudah basah oleh keringat. Dia tidak menyangka Emilia yang dahulu diinjak-injaknya telah berubah menjadi ratu dunia bawah tanah, Nyonya Keluarga Basuki. Melihat kedekatanku dengan Zayn, dia merasa sangat cemburu dan keberanian yang datang entah dari mana terlintas di matanya.Namun, Ryder masih memiliki sedikit akal sehat. Untuk kelangsungan Keluarga Soesatyo, dia harus menelan harga dirinya dan meran

  • Menyaksikan Tunangan Mafiaku Menikahi Wanita Lain   Bab 7

    Para anak buah yang tadinya mengikuti Ryder di bandara dan mengejekku pun kini gemetar ketakutan. Mereka sampai harus mencengkeram tepi meja di dekat mereka hanya agar bisa tetap berdiri dengan stabil.Mereka akhirnya menyadari Emilia si anjing peliharaan yang mereka hina selama tiga tahun dan pecundang miskin yang mereka remehkan, ternyata adalah Nyonya terhormat dari Keluarga Basuki. Seandainya tatapan bisa membunuh, tatapan Zayn yang dingin sudah membantai mereka puluhan ribu kali.Air mataku masih mengalir saat Zayn menepuk punggungku dengan lembut. Namun, selalu saja ada orang bodoh yang berniat untuk mati, sehingga sengaja berjalan masuk ke garis tembak."Ya Tuhan, norak sekali," kata seorang wanita yang melengking dan memotong ketegangan.Wanita itu adalah Tessa, pengikut Carmela yang mengenakan gaun pendek merah muda. Dia jelas-jelas belum memahami situasinya atau mungkin dia memang benar-benar idiot.Tessa melangkah maju sambil menggoyangkan pinggul, lalu menunjuk Zayn dan aku

  • Menyaksikan Tunangan Mafiaku Menikahi Wanita Lain   Bab 6

    Ekspresi Luca yang biasanya kaku seperti Zayn pun kini berubah menjadi ketakutan. Meskipun tangisannya yang kekanak-kanakan terdengar pelan, masih cukup jelas untuk membuat seluruh orang di aula terdiam. Tangan kecil Luca mencengkeram gaun beludruku, lalu membenamkan wajahnya yang dibasahi air mata di lekuk leherku dan seluruh tubuhnya bergetar.Suasana di ruangan itu benar-benar sunyi.Tangan Ryder yang terulur membeku di udara. Ekspresi di wajahnya terlihat tak ternilai, seperti baru saja dipukul palu. Tatapannya yang terlihat tidak percaya beralih dari pewaris keluarga yang berharga itu sampai ke aku yang tergeletak menyedihkan di lantai.Aku mengertakkan gigi untuk menahan rasa sakit dan menatap kesatria kecilku. Pelukan Luca yang lembut dan beraroma susu langsung menenangkan kegelapan di hatiku. Sebelum aku sempat berbicara, tangan kecil Luca yang gemetar perlahan-lahan mengangkat tangan kiriku yang sudah menjadi gumpalan daging dan darah.Ruby darah merpati yang dahulu berkilau k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status