LOGINSejenak, Nayara merasa dunia berhenti. Perutnya mual, napasnya pendek. Ada rasa asing, sebuah tekanan yang menekan dadanya. Seolah semua wanita di ruangan ini tidak berarti dibanding kehadiran satu orang: Shanaya.
Arga tersenyum kecil, langkahnya maju satu langkah. “Shanaya.” Suaranya datar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang Nayara tak bisa baca.
“Masih seperti dulu, ya,” Shanaya tertawa ringan, lalu tanpa ragu ia meraih tangan Arga, menggenggam dengan akrab. “Kamu bahkan masih suka pakai dasi warna perak. Nostalgia sekali.”
Beberapa orang di sekitar tertawa kecil, ikut terbawa dalam suasana.
Nayara berusaha mengatur ekspresi. Bibirnya melengkung tipis, meski dalam hati ia bergemuruh. Genggaman Shanaya pada tangan Arga terasa terlalu lama. Arga sempat menarik tangannya dengan tenang, lalu menoleh pada Nayara.
“Ini istriku, Nayara.”
Shanaya menoleh, senyumnya semakin lebar. Ia melangkah mendekat, matanya meneliti Nayara dari ujung kepala hingga kaki dalam hitungan detik. “Oh, Jadi ini istrimu? Senang sekali akhirnya bisa bertemu.”
Nada suaranya manis, tapi mata itu bicara lain. Ada sorot yang menusuk, seakan berkata: Kamu pengganti aku? Hanya segini?
Nayara merasakan telapak tangannya dingin. Ia menyambut uluran tangan Shanaya, genggamannya ringan. “Senang bertemu juga.”
Shanaya tertawa kecil. “Kamu cantik, Naya. Cantik dengan caramu sendiri. Natural, sederhana … beda sekali dengan dunia gemerlap ini.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi justru membuat Nayara semakin menyadari perbedaan mencolok antara dirinya dan wanita di depannya. Seperti langit dan bumi.
Arga cepat menimpali, nadanya lebih tegas. “Shanaya, aku akan menemani beberapa kolega sebentar. Naya, duduklah dulu.”
Ia menggenggam lengan istrinya sejenak, memberi isyarat agar tetap tenang. Tapi bagi Nayara, genggaman itu justru terasa dingin.
Sepeninggal Arga, Shanaya ikut bergabung dalam lingkaran tamu wanita. Anehnya, Nayara yang duduk di kursi sudut justru bisa mendengar dengan jelas potongan obrolan mereka.
“Shanaya itu memang nggak ada tandingannya. Pintar, cantik, sukses. Dulu semua orang kira dia yang akan menikah dengan Arga.”
“Ya, sayang sekali. Kalau itu terjadi, keluarga Maheswara pasti lebih … cocok.”
Mereka tertawa kecil, seolah Nayara tak ada di sana.
Nayara menunduk, meneguk air mineral di tangannya. Setiap kata itu menusuk, meninggalkan jejak pedih di dadanya. Insecure. Kata itu kini terasa begitu nyata.
Sementara itu, Shanaya melirik ke arah Nayara beberapa kali. Senyumnya tidak pernah padam, tapi sorot matanya penuh arti. Ia seperti ingin menunjukkan betapa masih kuatnya pengaruh dirinya terhadap Arga, betapa dunia di sekeliling ini lebih mengenalnya dibandingkan seorang Nayara yang dianggap asing.
Nayara menggenggam erat tas kecil di pangkuannya. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya: Apakah aku cukup untuk Arga? Atau aku hanya bayangan pengganti dari wanita ini?
Pikiran itu berputar, menambah sesak di dadanya. Ia ingin pergi, ingin lari dari ballroom yang dipenuhi cahaya terang namun terasa gelap bagi dirinya.
Namun, ia hanya bisa duduk diam, tersenyum samar, dan menahan diri.
Waktu berjalan lambat. Arga sibuk dengan para koleganya, meninggalkan Nayara dalam lingkaran sosial yang terasa asing. Sesekali ia menoleh, memberikan senyum menenangkan. Tapi bagi Nayara, itu tak cukup.
Shanaya, di sisi lain, selalu berhasil menempatkan dirinya dekat dengan Arga. Entah bagaimana, setiap kali Nayara menoleh, selalu ada momen di mana Shanaya dan Arga terlihat bicara berdua. Tertawa kecil. Saling mengenang masa lalu.
Di dada Nayara, perasaan tidak aman itu tumbuh. Bukan hanya karena Shanaya begitu mempesona. Tapi juga karena semua orang di ruangan ini seakan lebih menganggap Shanaya sebagai “pasangan ideal” bagi Arga.
Saat jeda musik, Shanaya mencondongkan tubuh, berbicara lebih pelan namun cukup terdengar. “Aku selalu kagum padamu, Arga. Kamu … tidak banyak berubah.”
Nayara menoleh cepat, menatap tajam. Shanaya tersenyum tipis, lalu menyesap minumannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Sesekali ia menyelipkan kenangan lama. “Arga, masih ingat waktu kita hampir telat presentasi karena kamu lupa bawa dokumen? Untung aku yang menyelamatkan situasi.”
Orang-orang tertawa. Arga tersenyum samar, hanya menanggapi singkat.
Nayara duduk di sampingnya, berusaha tetap tenang. Namun setiap kata Shanaya seperti pisau halus yang menggores hatinya. Ia tahu maksud wanita itu: mengingatkan semua orang betapa pentingnya Shanaya di masa lalu Arga.
***
Beberapa saat setelah jamuan makan malam selesai, Nayara berpamitan pada seorang tamu yang baru saja berbincang dengannya. Ia kemudian meminta izin pada Arga untuk ke restroom. Senyum kecil ia paksakan, meski dadanya penuh sesak.
Langkahnya menyusuri lorong hotel yang sepi. Cahaya lampu gantung kristal di sepanjang koridor memantulkan bayangan samar di lantai marmer. Setiap dentingan hak sepatu terdengar lebih nyaring daripada biasanya. Di tempat yang seharusnya tenang, Nayara justru merasakan firasat buruk.
Ia berhenti sejenak, menahan napas panjang. Jantungnya berdetak kencang, bukan hanya karena rasa cemburu yang sejak tadi ia tekan, tapi juga karena sebuah keyakinan samar: kehadiran Shanaya malam ini bukan kebetulan.
Seolah semesta menjawab kegelisahannya, suara langkah tumit mendekat. Irama hak tinggi yang mantap, penuh percaya diri.
Shanaya.
Sosok itu muncul di ujung lorong, gaun merah marunnya menyapu lantai dengan elegan. Rambut hitam panjang tergerai indah, senyum tipis menghiasi bibir merahnya. Matanya menatap lurus, tajam, seolah pertemuan ini sudah direncanakan sejak awal.
“Nayara,” sapa Shanaya. Nada suaranya ramah, namun sorot matanya penuh tantangan.
Nayara berbalik, berdiri tegak. Tubuhnya mungkin sedikit gemetar, tapi ia menahannya sekuat tenaga. “Ada perlu?” tanyanya dingin.
Shanaya melangkah perlahan mendekat, suara haknya menambah ketegangan di udara. Ia berhenti hanya beberapa langkah dari Nayara, lalu tersenyum dengan percaya diri. “Tidak. Aku hanya ingin bilang … kamu beruntung. Banyak wanita yang ingin berada di posisimu. Termasuk aku, dulu.”
Kata-kata itu bagai pisau berkilat yang dilempar tepat ke dada.
“Dulu,” tekan Nayara, menatap balik tanpa berkedip.
Shanaya tertawa kecil, nada tawanya meremehkan. “Ya. Dulu. Tapi, siapa tahu masa lalu bisa berputar menjadi masa depan, kan? Arga selalu punya tempat khusus di hatiku. Dan… keluarganya juga menyukaiku.”
Kalimat itu menampar keras, lebih keras daripada ejekan halus yang pernah dilontarkan Indira atau Ratna. Shanaya tidak sekadar berniat menyakiti; ia sedang menancapkan klaim.
Nayara menegakkan bahu. “Aku bukan wanita yang suka berebut,” ucapnya dengan suara yang tenang namun dingin. “Tapi kalau kau pikir bisa mengusik rumah tanggaku, kamu salah besar.”
Senyum Shanaya tidak pudar. Ia justru mendekat setengah langkah, jaraknya kini begitu tipis hingga Nayara bisa mencium samar aroma parfumnya—mahal, menusuk, meninggalkan kesan mendominasi.
“Kita lihat saja, Nayara,” bisiknya pelan. “Malam ini baru permulaan.”
Tatapannya tajam, lalu ia melangkah mundur dengan anggun, seolah baru saja memenangkan sebuah duel.
Nayara menutup mata sejenak, mengatur napas. Ia tidak boleh terlihat rapuh. Dengan langkah mantap, ia kembali menyusuri lorong, menahan gejolak dalam dadanya. Ketika memasuki ballroom lagi, ia segera menyusun wajahnya kembali. Senyum tipis terpampang di bibir, meski tangannya masih bergetar.
Arga yang sedang berbincang dengan dua kolega bisnis menoleh. Pandangannya langsung jatuh pada istrinya. Ada guratan cemas di matanya. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya begitu Nayara mendekat.
Ia tersenyum samar. “Aku baik.”
Hanya itu jawabannya. Padahal di dalam hati, Nayara tahu ia sedang berada di tepi jurang.
Cahaya lampu malam menembus jendela kaca restoran kecil di pusat kota, menimpa wajah Indira yang menegang di balik kemudi mobilnya. Tangannya memegang erat ponsel dengan kamera menyala, merekam dari kejauhan sosok suaminya—Mahesa—yang duduk di meja pojok bersama seorang wanita yang tak asing lagi: Shanaya.Indira menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah. Dada yang sesak itu berubah menjadi bara. Ia tak tahu harus marah dulu atau tertawa pada kebodohannya sendiri. Setelah semua gosip yang beredar tentang wanita itu—Shanaya si perusak rumah tangga orang—sekarang ia benar-benar melihat Mahesa duduk bersama wanita itu.Mereka tampak serius berbicara. Sesekali Shanaya menyentuh tangan Mahesa dengan ekspresi memelas. Mahesa menunduk, tampak bicara dengan nada pelan. Bagi Indira, pemandangan itu sudah cukup menghancurkan.“Aku tahu ada yang nggak beres,” gumamnya lirih. “Kamu pikir aku nggak bisa baca tanda-tanda, Mahesa?”Begitu Mahesa berdiri, Indira dengan cepat menunduk, pura-pura
Hujan belum reda ketika Arga kembali menatap dua kertas di meja: satu surat rumah sakit dengan hasil kehamilan Shanaya, satu lagi surat gugatan cerai dari Nayara. Ia menatap keduanya lama, lalu tanpa berpikir panjang, tangannya meraih surat gugatan itu. Dalam hitungan detik, kertas itu robek di tangannya—robek dengan suara tajam yang memecah sunyi ruang tamu.Potongan kertas itu jatuh berserakan di lantai.Arga menunduk, dadanya naik turun cepat. Napasnya berat, matanya gelap oleh tekad yang terlalu keras.“Aku tidak akan menceraikanmu, Nayara,” gumamnya lirih namun pasti. “Sekalipun kamu membenciku ... aku tidak akan biarkan semuanya berakhir begini.”Langkah lembut terdengar di tangga. Nayara muncul dengan wajah yang masih basah air mata. Ia menatap Arga yang kini berdiri dengan tangan gemetar, di antara serpihan surat cerainya sendiri.“Mas ....” Suaranya pelan, tapi sarat luka. “Kamu baru saja merobek hakku untuk berhenti terluka.”Arga menatapnya lama. “Aku tahu kamu benci aku se
Suasana ruang tamu masih beraroma tegang ketika suara pintu tertutup keras membelah udara. Shanaya menatap Arga dengan mata berkilat, tapi sorot itu tak lagi lembut seperti dulu. Ia berdiri tegak di hadapan pria yang dulu selalu melindunginya, kini berubah menjadi sosok dingin dan asing.“Aku hanya datang karena kamu tidak memberi kabar, Arga,” ucap Shanaya dengan nada yang dibuat sehalus mungkin. “Tiga hari aku menunggu. Katamu, kamu akan menemuiku setelah urusan kantor selesai. Tapi sampai hari ini, tidak satu pesan pun kamu kirim. Jadi, aku pikir … mungkin kamu memang tak berniat menemuiku.”Arga menarik napas berat, menahan amarah yang sudah sampai di ujung tenggorokan. “Dan karena itu kamu merasa pantas datang ke rumahku? Rumah yang kamu tahu masih ada istriku di dalamnya?”Nada suaranya tegas, dingin, tapi matanya menyimpan kekecewaan yang dalam. Shanaya tersenyum samar, menatap ke arah tangga di mana Nayara berdiri diam, tubuhnya kaku seperti patung.“Justru karena itu aku data
Dua hari sejak kepergian Arga ke Surabaya, rumah terasa terlalu tenang. Terlalu sunyi hingga suara detik jam di ruang makan terdengar jelas setiap kali Nayara melintas. Anak-anak selalu menanyakan kapan Ayah mereka pulang, dan mereka dibantu dijaga oleh Mbok Darmi. Tapi sekalipun rumah itu tidak benar-benar kosong, heningnya tetap menekan dada Nayara setiap kali malam tiba.Sejak pagi, ia berusaha sibuk. Menyapu, mencuci, memasak sesuatu yang bahkan tidak disentuh siapa pun. Mbok Darmi berkali-kali memintanya duduk, istirahat, tapi Nayara menolak halus.“Kalau diam, rasanya makin sesak, Mbok,” katanya pelan, sambil menata piring yang seharusnya tak perlu dipindahkan lagi.Mbok Darmi menghela napas, menatap nyonya mudanya itu dengan iba. “Bu, kalau memang kepikiran Pak Arga, jangan disimpan terus di dada. Kadang marah itu juga perlu keluar, biar nggak bikin sakit.”Nayara tersenyum, tapi pahit. “Saya sudah terlalu banyak marah, Mbok. Sekarang malah capek sendiri.”Anak-anak berlarian d
Ia menarik napas dalam-dalam, bangkit dari tempat tidur, dan berjalan ke cermin.Wajahnya tampak tenang, tapi di balik mata itu ada retakan halus yang tak lagi bisa disembunyikan.“Kalau aku terus di sini, aku cuma nyakitin diri sendiri,” bisiknya pelan.Kantor pengacara itu terletak di lantai dua sebuah ruko sederhana di Jalan Haryono. Tidak terlalu besar, tapi reputasinya baik — tempat orang-orang datang diam-diam ketika rumah tangga mereka mulai retak.Nayara mengenakan blouse krem dan celana panjang hitam, rambut diikat rapi. Tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Ia duduk di ruang tunggu dengan jantung berdebar, sementara suara printer dan percakapan pelan terdengar dari ruangan lain.“Bu Nayara?” panggil resepsionis. “Silakan masuk, Pak Rian sudah menunggu.”Langkahnya pelan saat ia masuk ke ruang kerja pengacara itu. Rian, pria muda berusia awal empat puluhan, berdiri menyambutnya dengan sopan.“Silakan duduk, Bu Nayara. Saya sudah menerima pesan Anda kemarin. Ibu ingin mengu
Hujan masih turun deras malam itu. Wiper mobil Arga bergerak cepat, menyapu air yang terus menetes di kaca depan, tapi pandangannya tetap buram—bukan karena hujan, melainkan karena pikirannya yang berantakan.Sejak ia melihat Shanaya bersama Mahesa di mobil tadi, otaknya seperti dipenuhi gema yang tak berhenti menggema:Apa mungkin anak itu bukan milikku?Tangannya mengepal di setir, sendi-sendi jarinya memutih. Napasnya pendek, seperti menahan amarah yang berusaha menembus kulitnya.Ia memperlambat laju mobil, tapi pikirannya justru melaju lebih cepat dari kecepatan apa pun.Semua hal yang sempat ia abaikan kini kembali satu per satu.Ucapan Shanaya yang sering berubah.Reaksi Mahesa yang selalu tampak terlalu tahu.Dan cara Mahesa menyarankan agar ia “bertanggung jawab” pada Shanaya, seolah sudah tahu segalanya lebih dulu.“Bisa jadi … dari awal mereka memang mainin aku,” gumamnya lirih.Tapi begitu kata-kata itu keluar, dada Arga justru semakin sesak. Ia menggigit bibir bawahnya, m







