Beranda / Rumah Tangga / Menyala Istri Sah! / Bab 7. Firasat Seorang Istri. 

Share

Bab 7. Firasat Seorang Istri. 

Penulis: Ucing Ucay
last update Tanggal publikasi: 2026-01-14 10:06:46

Sepanjang sisa malam, Nayara merasakan tatapan Shanaya dari kejauhan. Senyum misterius wanita itu seperti tidak pernah hilang, seolah menyimpan rencana yang lebih besar. Dan yang lebih menyakitkan, setiap kali Arga berbicara dengan kolega, Shanaya selalu berhasil menyelip di antara mereka, menjadi pusat perhatian.

Nayara duduk di kursinya, berusaha menjaga senyum sopan. Namun dalam pikirannya, kata-kata Shanaya bergema terus. “Masa lalu bisa berputar menjadi masa depan … keluarganya juga menyukaiku.”

Itu bukan sekadar peringatan. Itu ancaman.

Dan untuk pertama kalinya, Nayara merasa rumah tangganya benar-benar berada dalam bahaya nyata.

***

Lampu-lampu jalan kota berkelebat di balik kaca mobil. Di jok belakang, tidak ada tawa riang Shaila atau rengekan manja Dharma. Hanya keheningan malam yang dingin.

Nayara duduk bersandar, matanya kosong menatap ke luar. Ia bisa merasakan Arga beberapa kali meliriknya dari kursi kemudi. Namun pria itu tidak berkata apa-apa. Seperti biasa, Arga memilih diam.

Dalam hati, Nayara ingin berteriak: Katakan sesuatu! Jelaskan sesuatu! Yakinkan aku bahwa dia tidak berarti apa-apa bagimu!

Tapi bibirnya terkunci. Harga dirinya menahannya.

“Capek?” tanya Arga akhirnya, suaranya datar.

“Sedikit,” jawab Nayara singkat.

Hening lagi.

Sesampainya di rumah, pengasuh menyambut mereka dengan laporan singkat: anak-anak sudah tidur dengan tenang. Rumah terasa damai, kontras dengan gejolak hati Nayara.

Ia masuk ke kamar, melepas gaunnya perlahan, lalu berdiri di depan cermin. Wajahnya yang lelah menatap balik. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketidakpercayaan pada dirinya sendiri.

Shanaya begitu sempurna—cantik, percaya diri, diidolakan semua orang, bahkan disukai oleh keluarga Maheswara. Sedangkan dirinya? Seorang wanita yang selalu dipandang sebelah mata oleh mertua dan kakak ipar.

Tapi kemudian ia teringat kata-kata Shanaya: “Malam ini baru permulaan.”

Nayara menggenggam sisi meja rias erat-erat. Tidak, ia tidak akan tinggal diam lagi. Ia sudah terlalu lama membiarkan dirinya dipermainkan oleh komentar nyinyir, pandangan merendahkan, dan sikap acuh Arga.

Mulai malam ini, ia berjanji dalam hati: ia akan berdiri. Ia akan melawan. Rumah tangga ini, cintanya pada Arga, keluarganya bersama Shaila dan Dharma—semuanya layak diperjuangkan.

Sementara itu, di kamar hotel, Shanaya berdiri di depan jendela besar, menatap kerlap-kerlip kota. Ia melepaskan antingnya, lalu tersenyum puas.

“Permainan baru saja dimulai,” gumamnya.

Bayangan wajah Arga muncul dalam pikirannya. Begitu pula tatapan Nayara yang berusaha keras menyembunyikan kegelisahan. Shanaya tahu ia berhasil menyalakan api pertama.

Dan ia bertekad untuk terus menyalakan apinya, sampai rumah tangga Nayara retak.

Gala berakhir dengan gemerlap lampu kristal dan tawa yang menggema. Namun bagi Nayara, malam itu bukan pesta kemenangan. Itu adalah awal dari medan perang.

Arga mungkin sibuk dengan urusan bisnisnya, seolah tidak menyadari ketegangan yang terjadi. Tapi Nayara tahu—dengan firasat yang tajam sebagai seorang istri—bahwa Shanaya bukan sekadar masa lalu. Ia ancaman nyata yang bisa mengguncang fondasi rumah tangga mereka.

Dan di dalam hati Nayara, sebuah tekad mengeras: ia tidak akan lagi sekadar diam.

Pertemuan dengan Shanaya malam itu adalah api pertama. Dan bara itu kini mulai membakar.

***

Malam itu, Nayara duduk di tepi ranjang. Gaun navy yang tadi ia kenakan sudah digantung rapi di lemari, berganti dengan piyama sutra sederhana. Lampu kamar yang temaram memantulkan bayangan samar di wajahnya. Tangannya meraba cincin pernikahan di jari manis, benda kecil yang selama sepuluh tahun terakhir selalu menemaninya, entah dalam suka maupun duka.

Ia menghela napas panjang. Kepalanya penuh sesak oleh bayangan Shanaya—gaun merah marun yang membalut tubuh sempurna, tatapan menantang yang tidak bisa ia lupakan sepanjang gala malam ini.

Namun sebelum rasa cemburu itu menelan habis dirinya, kenangan lain menyeruak. Sebuah perjalanan panjang yang membawanya sampai di titik ini.

Dan ingatan itu menariknya kembali ke masa lalu.

Sepuluh Tahun Lalu

Langit sore di kampus Universitas Nusantara dipenuhi warna jingga. Burung-burung berterbangan pulang, sementara mahasiswa masih bertebaran di sekitar taman depan fakultas ekonomi.

Di bangku kayu dekat kolam, seorang gadis dengan rambut sebahu duduk serius menekuni buku catatan tebal.

Nayara Vismaya Pradipta. Mahasiswi tahun ketiga jurusan akuntansi. Pintar, tekun, dan dikenal sederhana.

Sore itu, ia begitu sibuk mencatat materi tambahan jelang ujian, sampai tak sadar ada bayangan tinggi yang menutupi bukunya.

“Pinjam pulpen?”

Nayara menoleh. Seorang pria berdiri di depannya dengan kemeja putih tergulung santai, wajahnya tenang, matanya tajam.

Arga Wiranata Maheswara. Anak pengusaha, populer di kampus karena ketampanan sekaligus kecerdasannya.

“Tidak bawa sendiri?” Nayara mengernyit.

Arga tersenyum kecil. “Ketinggalan. Tapi aku butuh sekarang. Ada catatan yang harus dicoret.”

Nayara menyerahkan pulpen tanpa banyak kata. Ia mengira Arga akan pergi, tapi pria itu malah duduk di sampingnya.

“Belajar keras sekali,” ucap Arga, menatap bukunya.

“Ujian. Aku tidak mau gagal,” jawab Nayara singkat.

Arga tertawa pelan. “Kamu tipe yang serius ya. Menarik.”

Itulah pertemuan pertama mereka. Singkat, sederhana, namun menorehkan kesan yang tak terhapus.

Seiring waktu, Arga semakin sering muncul. Kadang pura-pura meminjam catatan, kadang hanya duduk di bangku taman yang sama. Awalnya Nayara merasa terganggu, tapi lama-kelamaan kehadiran pria itu jadi kebiasaan yang ia tunggu.

Suatu sore, Arga muncul dengan dua gelas kopi.

“Aku tahu kamu selalu begadang belajar. Coba ini.”

Nayara menatapnya heran. “Kenapa perhatian sekali?”

Arga menatap lurus. “Karena aku ingin mengenalmu.”

Kalimat itu membuat Nayara terdiam. Tidak ada rayuan murahan, hanya ketulusan yang entah kenapa sulit ia tolak.

Minggu-minggu berikutnya, mereka semakin dekat. Dari obrolan sepele soal dosen killer, hingga diskusi panjang tentang masa depan. Arga bercerita ingin membangun perusahaan sendiri. Nayara bercerita ingin membantu orang tuanya membuka usaha kecil.

Di balik perbedaan status sosial, ada kesamaan tekad yang mempertemukan mereka.

Hubungan itu tidak berjalan mulus. Begitu keluarga Maheswara mengetahui Arga dekat dengan Nayara, mereka langsung menentang.

“Ia bukan dari kalangan kita,” ujar ibunya suatu malam saat makan keluarga. “Kamu harus memilih dengan bijak, Arga. Masa depanmu terlalu besar untuk diikat oleh gadis biasa.”

Shanaya Prameswari, gadis cantik anak pengusaha besar, saat itu masih dekat dengan keluarga Maheswara. Ia kerap dibandingkan secara terang-terangan dengan Nayara.

“Ia lebih selevel. Lebih pantas,” begitu kata sang ibu.

Namun Arga bergeming. “Aku yang jalani hidupku, Bu. Dan aku tahu apa yang aku mau.”

“Aku tidak mau jadi penyebab kamu ribut dengan keluargamu,” ucapnya di taman kampus.

Arga menggenggam tangannya erat. “Kalau aku bisa melawan dunia untukmu, kenapa kamu takut?”

Kata-kata itu meneguhkan hati Nayara.

Setelah lulus, Arga sibuk membangun bisnis. Nayara bekerja di firma akuntansi. Hubungan mereka bertahan meski jarak dan waktu sering jadi ujian.

Hingga suatu malam, setelah menghadiri pameran bisnis, Arga berhenti di tepi jalan yang dipenuhi lampu kota. Ia berlutut, menyodorkan cincin sederhana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menyala Istri Sah!    Bab 128. Kembali Jadi Rumah

    Pagi itu rumah keluarga kecil itu terasa berbeda.Hangat. Penuh tawa. Tidak ada lagi udara dingin yang dulu sering menyesaki ruang makan setiap kali mereka duduk bersama.Dari dapur, aroma wangi tumisan bawang menyeruak lembut. Suara panci dan tawa bercampur jadi satu—sesuatu yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu.Arga sedang berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar wortel yang dikenakan setengah asal. Di sebelahnya, Nayara sibuk memotong sayur dengan ekspresi serius tapi senyum terus menghiasi wajahnya.“Mas, tolong kecilin apinya, nanti gosong,” tegur Nayara sambil melirik panci.Arga malah terkekeh. “Tenang aja, Chef Nayara. Aku udah pro sekarang.”Begitu selesai bicara, minyak di wajan tiba-tiba muncrat dan membuatnya reflek mundur.“Au! Panas!”Nayara spontan tertawa sampai harus menutup mulutnya. “Tuh kan, katanya udah pro!”Arga menatap istrinya pura-pura kesal. “Kamu sengaja nggak kasih tau kan biar aku keliatan gagal?”“Ya siapa suruh sok yakin,” Nayara menjawab

  • Menyala Istri Sah!    Bab 127. Pulang ke Hati

    Malam itu rumah terasa tenang.Hanya suara jam dinding yang terdengar, berdetak pelan dari ruang keluarga. Udara sejuk dari jendela yang terbuka membuat tirai bergerak lembut. Di kamar tamu, Dharma dan Shaila sudah terlelap, kelelahan setelah seharian membantu di panti asuhan.Di ruang tengah, lampu temaram menyinari dua sosok yang duduk saling berhadapan. Arga dan Nayara.Mereka sudah lama tidak duduk berdua seperti ini—tanpa jarak, tanpa dinding, tanpa perantara apa pun.Di antara mereka ada dua cangkir teh yang mulai dingin, dibiarkan begitu saja.Arga menatap istrinya dalam diam. Wajah Nayara masih sama seperti yang selalu ia ingat—lembut tapi kuat. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan mata itu tak lagi dipenuhi kemarahan, melainkan kebimbangan yang jujur.“Sudah tiga tahun ya,” suara Nayara pelan, nyaris seperti gumaman.Arga menarik napas panjang. “Tiga tahun sejak semuanya berantakan.”Ia menunduk. “Aku masih ingat malam kamu pergi, Nay. Aku pikir waktu bakal bant

  • Menyala Istri Sah!    Bab 126. Bahagia yang Menular

    “Sudah lama ya, kita nggak ke sini,” ucap Nayara sambil tersenyum. “Aku bawa sedikit hadiah buat anak-anak, Mbak. Pakaian dari butik, model baru. Semuanya baru keluar dari produksi.”Indira menatap tumpukan kardus itu dengan mata membulat. “Astaga, ini semua untuk anak-anak? Banyak sekali, Nayara .…”Nayara tertawa kecil. “Nggak seberapa, Mbak. Aku cuma ingin mereka ngerasain punya pakaian baru juga. Ini juga hasil dari butik yang sekarang berkembang. Sekarang kami sudah buka cabang di beberapa negara Asia.”Arga menatap istrinya dengan bangga yang tak disembunyikan. Ia tahu betul perjalanan panjang Nayara untuk sampai di titik ini. Dari butik kecil di ruko kecil hingga kini menjadi brand fashion terkenal. Dan di balik kesuksesan itu, Nayara tetap rendah hati.Ratna yang ikut bersama mereka turun dari mobil kedua. Begitu melihat menantunya, wajah Ratna langsung lembut. Ia mendekat, menepuk bahu Nayara dengan penuh kasih.“Kamu memang luar biasa, Nak. Ibu beruntung punya menantu sepert

  • Menyala Istri Sah!    Bab 125. Rumah untuk yang Tak Punya Rumah

    Mentari pagi menyinari halaman rumah besar bergaya kolonial itu. Di halaman yang dulu sering sunyi, kini terdengar tawa anak-anak kecil yang berlarian sambil membawa bola, beberapa lainnya sibuk menyiram bunga dengan ember kecil. Pemandangan itu membuat Indira berdiri lama di depan jendela, matanya basah tapi bibirnya tersenyum lembut.Sudah dua tahun berlalu sejak ia benar-benar memutuskan untuk melepaskan masa lalunya—rasa kehilangan, penyesalan, dan semua luka yang dulu ia bawa seperti beban berat di punggungnya. Sekarang, rumah yang dulu terasa kosong berubah menjadi tempat hidup bagi puluhan anak yang membutuhkan kasih sayang.Panti itu diberi nama “Rumah Cahaya Indira.”Nama yang sederhana, tapi penuh makna. Ia ingin setiap anak yang datang menemukan cahaya baru di hidupnya, seperti dirinya yang menemukan arti hidup setelah kehilangan begitu banyak hal.“Bu Indira, ayo ikut sarapan sama kami!” seru seorang anak laki-laki berumur delapan tahun, dengan senyum penuh semangat.Indir

  • Menyala Istri Sah!    Bab 124. Satu Detak di Antara Derita

    Di salah satu kamar bersalin yang sempit, Shanaya terbaring dengan wajah pucat pasi. Rambutnya menempel di dahi karena keringat, bibirnya pecah, napasnya berat—dan air matanya mengalir tanpa henti.Ia menggenggam erat tepi ranjang, berusaha menahan rasa sakit yang datang bergelombang di perutnya. Suster di sampingnya berkata agar ia terus bernapas teratur, tapi suaranya terdengar jauh, kabur, seolah tertelan oleh suara hujan di luar sana.“Bu, kontraksinya sudah kuat ... ayo tahan sedikit lagi, ya,” ujar suster muda itu, suaranya lembut namun penuh tekanan waktu.Shanaya mengangguk pelan, menggigit bibir hingga darahnya terasa di lidah.Setiap denyut rasa sakit yang datang seolah mengiris nyawanya sedikit demi sedikit.Ia ingin menjerit, ingin menggenggam tangan seseorang—tapi tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada Mahesa, tidak ada ibunya, tidak ada satu pun keluarga yang menunggunya di balik pintu.Yang ada hanya dirinya sendiri, berjuang melawan sakit yang seperti tak berujung.Di

  • Menyala Istri Sah!    Bab 123. Saat Dinding Itu Mulai Retak

    Pagi itu, aroma wangi melati dari taman belakang menyusup lembut ke dalam rumah. Matahari baru naik separuh, menyinari kaca jendela dapur dengan bias keemasan yang hangat. Nayara berdiri di sana, menyiapkan sarapan sambil sesekali menatap ke arah halaman belakang, tempat Arga sedang bermain bola kecil bersama Shaila dan Dharma.Pemandangan itu—sesuatu yang dulu biasa, kini terasa asing tapi juga menenangkan.Arga tertawa kecil ketika Shaila berlari mengejar bola dan hampir jatuh. Refleks, pria itu menangkap tubuh mungil putrinya, mengangkatnya tinggi ke udara sambil berkata, “Nggak apa-apa, kan, Putri Ayah?”Shaila tertawa keras, suaranya menggema ke seluruh halaman.Sementara Dharma, yang biasanya dingin dan enggan ikut bermain, kini berdiri di sisi Arga, mengoper bola dengan tenang, sesekali tersenyum kecil.Dari balik jendela itu, Nayara diam—matanya berkaca. Ia tak menyangka suasana seperti ini bisa kembali hadir di rumahnya. Dulu, rumah itu penuh suara bentakan dan diam yang menu

  • Menyala Istri Sah!    Bab 6. Munculnya Masa Lalu. 

    Sejenak, Nayara merasa dunia berhenti. Perutnya mual, napasnya pendek. Ada rasa asing, sebuah tekanan yang menekan dadanya. Seolah semua wanita di ruangan ini tidak berarti dibanding kehadiran satu orang: Shanaya.Arga tersenyum kecil, langkahnya maju satu langkah. “Shanaya.” Suaranya datar, tapi a

  • Menyala Istri Sah!    Bab 5. Pertemuan yang Membakar. 

    Minggu berikutnya, rumah keluarga Arga Maheswara terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada suara riang Shaila yang berlarian mencari pita rambutnya, atau rengekan Dharma yang minta dicari sepatu kesukaannya. Sejak sore, kedua anak itu sudah bersama pengasuh mereka, sesuai pesan Nayara agar ditemani d

  • Menyala Istri Sah!    Bab 2. Keluarga Besar Maheswara

    “Sayang,” ucapnya, suaranya datar namun tegas, “aku ada rapat penting pagi ini. Kamu yang antar anak-anak ke sekolah, kan?”Nayara, yang masih jongkok mengikat tali sepatu Shaila, hanya mengangguk tanpa menoleh. “Ya. Setelah itu aku mau mampir sebentar ke butik.”Arga menepuk bahu Dharma sambil men

  • Menyala Istri Sah!    Bab 1. Pagi yang Hangat.

    Cahaya matahari merambat masuk melalui tirai tipis di ruang makan keluarga Maheswara. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan harum roti panggang, menyebar ke seluruh ruangan. Lonceng kecil jam dinding berdentang, menandai pukul enam tepat. Suasana rumah besar itu hidup, penuh suara riang, te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status