تسجيل الدخولHans berbaring tenang di ranjang rumah sakit. Seprai berwarna putih bersih itu makin menonjolkan wajahnya yang pucat pasi.Dua hari terakhir ini, pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh Stella. Nyeri di sekujur tubuh yang dia rasakan tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan kerinduan dan kepeduliannya terhadap wanita itu.Dia baru saja bisa bangkit dengan susah payah, tetapi sudah tidak sabar ingin melepaskan diri dari ranjang rumah sakit yang mengikatnya dan segera memulai perjalanan untuk menemukan Stella.Begitu mengetahui niatnya, sahabat-sahabatnya berkumpul di sekelilingnya. Wajah mereka penuh kekhawatiran dan kecemasan.Salah seorang dari mereka meraih bahunya dan menasihatinya. "Lihat dirimu sekarang ini, lusuh dan bahkan nggak cukuran. Kalau kamu mendatanginya seperti ini, jangankan bisa membuatnya berubah pikiran, dia mungkin akan takut dan menjauh darimu."Hans kemudian perlahan bangkit dan menyeret langkahnya yang berat menuju cermin.Yang terlihat adalah seorang pria deng
Hans mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi tekad. "Ayah, aku ingin menemukan Stella. Aku harus menemukannya."Ayahnya Hans sangat marah hingga wajahnya merah padam. "Ikut aku pulang sekarang juga! Jangan mempermalukan diri di sini lagi!" serunya dengan tegas.Selesai berbicara, dia melambaikan tangan kepada para pengawalnya dan memerintahkan. "Pukul dia sampai pingsan, lalu bawa dia pergi!"Para pengawal maju dan meraih lengan Hans. Hans berusaha meronta, suaranya terdengar putus asa. "Lepaskan aku! Aku harus menemukan Stella! Aku harus menemukannya!"Namun, sekeras apa pun dia meronta, para pengawal itu tidak mau melepaskannya. Mereka memukul bagian belakang lehernya. Pandangan Hans berubah menjadi gelap, dan pingsan.Ketika dia terbangun kembali, dia sudah berada di kediaman Setiawan. Tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur, dan dia tidak bisa bergerak. Ayahnya berdiri di samping tempat tidur, memegang cambuk di tangannya, sambil memasang wajah sedingin es."Hans, aku tanya kamu
Di sisi lain, Hans bergegas ke Lundon. Namun, dia terlambat dan tidak menemukan Stella.Dia hanya mendengar dari orang-orang bahwa memang ada gadis yang sangat mirip dengannya, kondisinya terlihat sangat bagus, dan juga mengatakan bahwa gadis itu sedang berkeliling dunia serta telah mengambil banyak foto untuk dibagikan kepada mereka.Melihat foto-foto itu, Hans mendadak merasakan lonjakan kepedihan yang tak terlukiskan di hatinya.Dalam foto tersebut, Stella tersenyum cerah, dan matanya penuh dengan kebebasan serta kegembiraan.Dia tampak seperti orang yang berbeda, bukan lagi gadis yang diam-diam mengorbankan diri untuknya.Hans mencari di sekitar lingkungan itu untuk waktu yang lama, tetapi hasilnya tetap nihil.Terakhir, dia teringat pada Desy.Dia bergegas kembali ke tanah air dan menemui Desy. "Desy, apa kamu tahu di mana Stella berada? Aku sudah tahu bahwa kecelakaan pesawat itu sengaja direkayasa. Di mana dia? Dia pasti sudah beri tahu kamu, 'kan? Katakan padaku," desak Hans.D
Hans minum-minum di rumah selama tiga hari berturut-turut. Dia menggenggam erat foto Stella, matanya kosong dan mati rasa.Ruangan itu penuh dengan bau alkohol menyengat. Botol-botol kosong yang tak terhitung jumlahnya berserakan di lantai.Pikirannya kacau, dan hatinya terasa seperti diremas erat oleh sesuatu, begitu menyakitkan hingga dia sulit bernapas dengan normal.Sensasi pedas itu mengalir ke tenggorokannya, seakan membakar organ dalamnya.Dia mencoba membius dirinya sendiri dengan alkohol, agar berhenti memikirkan Stella, agar berhenti merasakan sakit yang terus-menerus itu. Namun setiap kali dia memejamkan matanya, suara dan senyum Stella akan muncul dengan jelas di hadapannya, membuat hatinya terasa sakit sekali.Saat dia hendak mabuk hingga tidak sadarkan diri, pintu tiba-tiba didorong terbuka, dan beberapa sahabatnya bergegas masuk. Melihat kondisi Hans, mereka dengan cepat melangkah maju dan merebut botol anggur dari tangannya. Suara mereka penuh dengan desakan."Hans, ten
Mendengar bisikan-bisikan dari bawah panggung, wajah Sonia menjadi pucat pasi. "Hans, apa yang kamu katakan?" tanyanya dengan suara bergetar."Jangan dengar perkataannya. Itu nggak benar, itu nggak benar!"Hans menatapnya dingin. Nada bicaranya penuh sarkasme. "Sonia, kamu kira aku nggak tahu alasan kamu melarikan diri dari pernikahan waktu itu? Kamu menganggap keluarga kaya itu nggak baik, dan terlalu banyak aturan. Kamu menyukai kebebasan dan pemberontakan. Itu sebabnya, kamu bisa ditipu dan tidur dengan seorang preman. Di hari kamu melarikan diri, Stella berinisiatif mengambil tanggung jawab demi menyelamatkan reputasiku. Dia menanggung semua aib itu, dan nggak pernah mengeluh. Sebaliknya, kamu dengan nyaman menikmati simpati dan belas kasihan dari semua orang."Air mata Sonia langsung menggenang, dan suaranya dipenuhi rasa putus asa."Hans, jangan seperti ini ... jangan bicara lagi .... Aku mengakui kesalahanku sekarang .... Aku mengakui kesalahanku ....""Kamu mengakui kesalahan?
"Lantas, kenapa dia nggak balas pesan yang kukirim? Dulu dia selalu balas setiap pesan yang kukirim dengan cepat." Sonia masih merasa sedikit gelisah."Dia nggak balas pesan pasti karena sibuk mempersiapkan jas dan cincin pernikahan. Lagian, pernikahan kalian terlalu mendadak, dan dia pasti ingin memberikan yang terbaik untukmu."Setelah mendengar itu, Sonia baru merasa sedikit lebih tenang.Untungnya, waktu masih belum tiba. Dia bisa dengan sabar menunggu kemunculan pria itu.Sonia yakin betapa besar cinta Hans padanya.Jadi, apa pun yang terjadi, pria itu pasti akan datang.Entah sudah berapa berlalu, dan waktu sekarang telah menunjukkan hampir jam sembilan. Mereka mengundang banyak orang kali ini, dan kerumunan di bawah mulai sibuk berbisik-bisik.Tepat ketika dia mulai merasa tidak nyaman lagi, pintu tiba-tiba terbuka dengan keras.Dia mendongak, dan senyumnya menjadi makin cerah saat melihat Hans muncul.Hans mengenakan setelan hitam, memasang ekspresi dingin dan tatapannya tajam.







