LOGINPria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!
Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!
Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.
‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.
Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti.
"Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili.
"O–oke."
Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.
Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.
Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.
Mili, kamu pasti bisa!
Begitu Jonathan menyesap mocktail itu, Mili langsung membuka percakapan dengan penuh keyakinan.
"To the point aja, ya, berapa banyak wanita yang sudah kamu ajak ke tempat tidur?" tanya Mili dengan tatapan mengunci.
Uhuk!
Jonathan tersedak. Ia meraih tisu, mengusap bibirnya buru-buru dengan mata menatap Mili tajam.
Bukannya merasa bersalah, Mili malah mencondongkan tubuhnya dengan senyum provokatif.
“Apa itu penting?” Jonathan balik bertanya.
Mili berdecak pelan. Ia makin mendalami perannya. Gadis itu bersedekap seraya menyandarkan punggung, lalu mengangkat bahu sekilas.
“Buatku penting banget. Aku paling pantang sama lelaki yang gak bisa bikin puas di ranjang. Pesona pria itu baru terbukti kalau dia 'kuat' di atas kasur," jawab Mili sok meyakinkan, bersikap seolah-olah ia sudah sangat berpengalaman.
Jonathan tak segera merespon. Pria itu memilih diam, menatap wajah menor Mili penuh selidik.
“Lagian zaman sekarang sebelum fix pelaminan tuh harus ada free trial-nya dulu, kan. Biar tahu worth it apa enggak! Iya, gak?” lanjut Mili sambil memainkan kuku-kuku jarinya yang telah dipasang kuku palsu merah cabai oleh Julia.
"Aku tak pernah melakukan hal seperti itu," potong Jonathan singkat, lalu kembali menyesap minumannya.
Drama Mili makin menjadi. Ia mendelik kaget. "Lah, rugi di aku, dong? Kalo begitu, mana bisa tahu daya tancapmu oke atau enggak. Padahal jujur aja, buatku itu syarat sah utama, loh!”
Tanpa jaim, Mili menelengkan kepala sedikit, pura-pura menerobos pandangan ke bawah meja yang menghalangi. Setelah itu, ia kembali menatap Jo dengan muka polos tanpa dosa, lalu setengah berbisik, “Tapi … yang di sana baik-baik saja, kan?”
Rahang Jonathan mengeras seketika. Tatapan matanya berubah pekat menahan murka. Bahkan gelas di tangannya tampak dicengkram begitu erat.
Mili diam-diam bersorak gembira. Gestur dan ekspresi Jonathan adalah pertanda jelas bahwa taktiknya berhasil. Pria mana pun pasti akan ilfeel dan tersinggung menghadapi provokasi seperti tadi. Apalagi pria yang konon impoten. Egonya sudah pasti terluka berat.
Sayangnya, selebrasi di kepalanya buyar seketika saat suara Jonathan yang begitu tenang menyela.
"Matamu tidak akan bisa menilai ‘performa' dari balik taplak meja," ucap Jonathan dengan suara tenang. "Kalau mau bukti nyata, kita bisa langsung coba setelah makan malam. Gimana?"
Mili terkesiap dengan mata membulat penuh. Keberanian yang tadi dipamerkannya lenyap dalam sekejap. Maksud hati memberi umpan maut, ia malah balik terperangkap dalam jebakannya sendiri.
Apa-apaan ini?! Seharusnya tidak seperti ini!
Mili mengedipkan matanya berkali-kali. Otaknya mendadak stuck. Ia berkedip berkali-kali dengan tenggorokan yang serasa tersumbat batu, kehabisan kata-kata untuk membalas.
"I–itu..."
Kalimat Mili terpotong saat pintu bergeser terbuka. Rombongan pelayan masuk membawa nampan hidangan utama.
"Permisi, Tuan. Makanan sudah siap," ucap salah satu pelayan.
Mili mengembuskan napas teramat lega. Merasa terselamatkan meski hanya untuk sementara.
Begitu pelayan undur diri, fokus Mili langsung teralih penuh ke piring-piring di depannya. Aroma makanan lezat yang tak ia ketahui namanya itu mendadak membuat perutnya menjerit minta diisi.
"A-anu... mending kita makan dulu, deh! Kasihan, kan, chef-nya udah capek-capek masak kalau dianggurin. Soal yang tadi … anggap aja angin lalu!" cetus Mili asal bunyi tanpa berani menatap mata Jonathan. Takut jika pria itu kembali membahas hal tadi.
Jonathan mengangkat sebelah alisnya. Alih-alih memojokkan lebih lanjut, pria itu hanya mengangguk tipis. "Silakan."
Mili tidak menunggu lebih lama lagi. Begitu mencicipi suapan pertama, wajahnya langsung berbinar-binar penuh cahaya. Tanpa sadar kepalanya sampai bergoyang-goyang. Matanya pun sesekali memejam nikmat.
Ia belum pernah memakan daging selezat itu. Saking enaknya, ia sampai lupa ucapan Jonathan yang membuatnya kebat-kebit. Di depan makanan restoran peraih Bintang Michelin, harga diri dan rasa paniknya ditunda dulu.
Tak sampai sepuluh menit, piring Mili bersih licin. Ia makan begitu lahap, cepat, tanpa peduli etiket makan fine dining sama sekali.
Mili menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas terengah kenyang. Tisu di tangannya menyapu sisa saus di bibir, sementara tangan satunya lagi sibuk mengelus perutnya yang kini membuncit puas. Bibirnya mengukir senyum bahagia.
Namun sedetik kemudian, senyum itu membeku total. Matanya membelalak horor.
‘Ya Tuhan, aku ke sini kan bukan buat wisata kuliner!’
Wajah polos yang sebelumnya sibuk menikmati makanan seketika menghilang, berganti dengan senyuman sok misterius. Mili menarik napas, membusungkan dada, lalu kembali memasang mode centil ala cewek penggoda yang sudah dilatihnya setengah mati bersama Julia semalaman.
Jonathan yang sedang memegang gelas airnya menyipitkan mata, menyadari perubahan drastis sikap Mili. "Ada apa lagi?"
Mili bertopang dagu, melemparkan tatapan menilai ke arah Jonathan dari atas ke bawah.
“Gini ya... aku tuh cuma mau sama cowok yang udah jelas-jelas perkasa, berpengalaman, dan terbukti kuat di ranjang. Sementara kamu kan belum teruji,” tutur Mili sok prihatin. Mili sengaja mendesah berat dan menggeleng pelan. “Gak usah dipaksa deh, kita emang gak cocok. Jadi, menurutku gak usah dilanjut. Sampai sini aja, ya.”
Dalam hati, Mili tersenyum. Ia sudah menemukan penutupan kencan yang sempurna.
Akan tetapi, Jonathan tak kunjung merespons. Pria itu justru terus mengunci tatapannya pada Mili, mengamati perubahan raut wajah gadis di depannya yang berganti-ganti cepat. Intimidasi tenang dalam mata Jonathan lambat laun malah membuat Mili ketar-ketir dan salah tingkah.
Gadis itu berdeham pelan, lalu menghabiskan sisa minuman di gelasnya dalam sekali teguk.
"Kalau gitu... karena kita juga udah selesai makan, aku pamit dulu, ya." Mili tersenyum lebar sambil merapikan tas kecilnya.
Tanpa menunggu balasan, Mili memutar tubuh dan melangkah pergi. Namun, derit kursi yang bergeser mengejutkannya. Jonathan menyusul berdiri.
Gerakan pria itu begitu tenang, tetapi ritme langkahnya memaksa Mili mundur teratur hingga pinggulnya membentur tepi meja. Mili menahan napas, kepanikan menjalar cepat. "K-kamu mau apa?"
Jonathan mengikis sisa jarak di antara mereka. Kedua lengan kekarnya mendarat di sisi kiri dan kanan meja, mengunci tubuh Mili tanpa celah. Tatapan tajamnya yang mengintimidasi tak bergeser sedikit pun dari wajah menor Mili. Perlahan, sudut bibirnya terangkat miring, membentuk seringai misterius.
"Mau kemana? Bukankah kamu mau bukti?” bisik Jonathan persis di depan wajah Mili. “Bagaimana kalau kita pesan kamar malam ini?”
***
Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!
“Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o
Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.
Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat
Seluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan. "I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini." "Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!""Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum
Pria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti."Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili."O–oke."Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.Mili, kamu pa







