Share

Bab 2

Author: Naiynana
last update publish date: 2026-09-26 07:52:16

“Jul… serius aku harus pakai baju bentukan begini?” Mili menarik-narik bagian atas bajunya yang berpotongan dada terlalu rendah.

Setelah Mili menerima tawaran kemarin, Julia langsung membawanya ke mall untuk mempersiapkan penampilan demi mengacaukan kencan. Rencananya simpel, hanya bikin si pria ilfil setengah mati di detik pertama melihat Mili.

Atasan merah menyala bertali tipis dan rok mini motif leopard yang baru dicobanya ini benar-benar bikin Mili risih. Ditambah lagi, beberapa pengunjung pria sudah menatapnya dengan pandangan mengganggu.

“Ingat, Tiga Puluh Juta!” Julia mengingatkan dengan gaya dramatis. “Ya udah, sekarang kamu ganti lagi, bajunya mau aku bayar ke kasir. Sekalian tolong beliin aku iced americano di seberang, ya.”

Mili mengangguk. Ia cepat-cepat berganti pakaian ke kaus polo dan jeans miliknya, lalu melangkah keluar butik menuju coffee shop.

Beberapa menit kemudian, Mili keluar dengan segelas es kopi dingin di tangan. Namun baru lima langkah berjalan, matanya mendadak menajam. Langkahnya terhenti total.

Di depan butik perhiasan tak jauh dari coffee shop, berdiri seorang pria tinggi tegap berkemeja putih rapi dengan lengan digulung hingga siku. Pria itu sedang menerima telepon dengan raut wajah begitu serius.

Mili mengepalkan tangannya rapat-rapat. Cengkeramannya pada gelas kopi di tangannya mengerat.

Pria bajingan itu!

Amarah langsung naik ke permukaan. Ia tak mungkin salah lihat! Dialah pria yang mobilnya menyerempet Mili hingga berakhir ditolak wawancara penentuan!

Tanpa berpikir panjang, Mili melangkah lebar menghampiri pria itu dan langsung menegur dengan galak. “Hei, kamu!”

Pria itu menjauhkan teleponnya, lalu menoleh. Satu alisnya terangkat sedang telunjuknya menunjuk diri sendiri.

“Iya kamu!” sambar Mili.

Pria itu mengerutkan dahi.

"Ada masalah?" tanya pria itu dingin. Matanya menyapu penampilan Mili dari ujung rambut hingga sepatu ketsnya.

Tak ada reka ingat di matanya. Ia pun memalingkan muka, memandang Mili seolah gadis itu hanyalah gangguan kecil yang tidak penting.

"Masalah?" Mili tertawa sinis. "Kamu lupa? Mobilmu menyerempet ojek sampai aku jatuh ke comberan dan gagal wawancara kerja!"

Pria itu menghela napas kasar. Melirik jam tangan mewahnya, lalu kembali menatap Mili dengan raut malas dan merendahkan.

“Lalu?”

Mili terdiam sesaat. “Lalu kamu nggak mau bertanggung jawab?”

“Bertanggung jawab atas apa?” Pria itu mengangkat sebelah alis, lalu merogoh dompet kulitnya, mengambil selembar uang seratus ribuan, lalu menyodorkannya kepada Mili.  “Saya tidak punya waktu untuk menebak-nebak maksudmu. Ini cukup, kan? Pergilah! Jangan ganggu saya."

“Kamu pikir aku pengemis?!” 

Saat pria jangkung itu berbalik hendak pergi mengabaikannya, dendam Mili sudah memuncak.

Tanpa ba-bi-bu, Mili membuka tutup gelasnya dan menyiramkan seluruh iced americano itu tepat ke dada kemeja putih bersih pria tersebut.

SRRASH!

Noda coklat pekat mengaliri kemeja putih mewahnya. Pria itu membeku seketika. Wajah tampan blasteran jepangnya berubah pucat lalu menggeletuk menahan murka. Ia menatap kemejanya yang basah kuyup, lalu beralih menatap Mili dengan tatapan seolah ingin meremas gadis itu sampai hancur.

Beberapa pengunjung mall mulai berhenti, berbisik, menunjuk-nunjuk, dan merekam kejadian itu. Terang saja pria itu terlihat semakin muntab.

Mili tersenyum puas melihat wajah sok berkuasa itu mendadak luntur. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi. “Ternyata uang melimpahmu itu gak bisa beli sopan santun, ya, Pria Sombong!”

Rahang pria itu mengeras. “Kamu punya masalah gangguan jiwa?”

Mili mengangkat dagu. “Kalau ketemu orang kayak kamu, mungkin iya.”

Belum sempat pria itu melangkah maju, Julia mendadak muncul dan membelalak panik. “Mili! Kamu ngapain?!”

“Ayo pergi!” seru Mili, lalu buru-buru menyeret tangan Julia. Ia sempat melambaikan tangan mengejek ke arah pria itu yang berdiri menahan amarah dengan kemeja kotornya, lalu melesat pergi membelah kerumunan.

Ah, setidaknya, dendam kesumat gara-gara gagal dapat pekerjaan sedikit terbayar.

“Sebenernya kamu ngapain, sih?!” tanya Julia terengah-engah begitu mereka masuk ke dalam mobilnya.

Napas Mili masih memburu. Begitu emosinya reda, ia menceritakan seluruh insiden kemeja putih dan es kopi tadi. Bukannya prihatin, Julia justru terbahak-bahak sampai keluar air mata.

“Dasar teman durjana kamu, Jul! Orang lagi emosi malah diketawain!” Mili menepuk bahu sahabatnya gemas.

“Habisnya lucu, Mil! Jakarta seluas ini tapi kamu malah ketemu dia lagi,” sahut Julia di sela tawa. “Fix, ini mah takdir. Katanya kalau ketemu sampai tiga kali, itu jodoh!”

Mili mendengkus geli. “Takdir dari mana?! Baru juga dua kali! Lagian habis ini aku juga nggak bakal sudi ketemu Si Muka Sombong itu lagi.”

***

Waktu kencan buta tiba. Mili berdiri di depan restoran fine dining bergaya Eropa dengan make up super medok dan dandanan ala biduan kabupaten hasil karya Julia. Matanya tak henti-hentinya menyapu setiap sudut restoran yang dipenuhi ornamen mahal dan tamu-tamu berpenampilan elegan.

Sesaat ia merasa minder dengan penampilannya sendiri yang begitu mencolok dan norak. Membuatnya tanpa sadar terus menarik-narik rok mini leopard dan juga atasan merah menyala berdada rendahnya itu.

“Baju ini bikin risih, sumpah! Lagian, ini orang-orang kaya kok ya masih pakai metode perjodohan gini sih,” bisiknya, lalu menghampiri meja resepsionis. "Permisi, reservasi atas nama Jonathan di mana, ya?"

Petugas resepsionis terdiam dua detik, menatap busana mencolok Mili dengan kening berkerut halus sebelum akhirnya tersenyum profesional. "Di ruang VIP 1, Nona. Mari saya antar."

Mili mengangguk dan mengekor di belakang pelayan tersebut. Tiba di depan pintu kayu jati nan megah, pelayan itu sempat melempar tatapan menilai sekali lagi sebelum pamit undur diri.

Sementara itu, Mili menarik napas panjang. Berusaha tenang, mempersiapkan diri. Ia kemudian mendorong pintu dan langsung memasang senyum paling ceria.

"Hai, sorry ya. I'm late. Cuma dua puluh menit aja sih. Tadi aku harus dandan dulu, terus makeu—"

Kalimatnya terputus ketika pria yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya mengangkat wajah.

Seketika tubuh Mili membeku.

‘Mati aku! Dia lagi?!’ teriak Mili dalam hati dengan jantung serasa melompat ke perut.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Aleena
Aduh mili jodoh kamu itu.........
goodnovel comment avatar
Adista Diyah
udah 3 kali Mil, berarti fix jodoh niiiihhh...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Merayu Mr. Impotent   bab 8

    Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 7

    “Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 6

    Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 5

    Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 4

    Seluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan. "I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini." "Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!""Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 3

    Pria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti."Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili."O–oke."Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.Mili, kamu pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status