LOGIN“Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.
Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.
Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!
“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.
“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.
“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”
“Orang-orang?” Mili langsung menyela.
“Kenapa orang-orang harus tahu hubungan kita? Kamu gak berniat publikasikan hubungan aneh ini, kan?” lanjutnya.
Senyum tipis terukir di bibir Jonathan. Ia bangkit berdiri, melangkah pelan, lalu berhenti tepat di belakang Mili yang duduk sambil meremas map. Dari sana, ia bisa melihat pantulan bayangan keduanya dari jendela.
“Aku ingin hubungan kita langsung official di depan keluargaku,” ucap Jonathan lugas.
Mili tersentak. Baru saja ia hendak menoleh, Jonathan sudah lebih dulu menunduk begitu rendah. Mendekatkan bibirnya persis di samping telinga Mili.
“Besok, kita kencan perdana sebagai kekasih. Aku akan menjemputmu sebelum jam satu siang.” Jonathan berbisik.
“Kita mau kemana?” tanya Mili waspada dengan perut menegang.
“Ke rumahku,” jawab Jonathan tanpa menjauhkan bibirnya dari telinga Mili.
Mili menahan napas. Tubuhnya kaku. “M-mau apa?”
“Mengumumkan hubungan kita,” jawab Jonathan.
Mili membelalak. “Tapi? Kenapa? Secepat itu? Kita baru saja—”
“Sssssttt!” Jonathan menempelkan telunjuk di bibirnya.
“Kamu memilih jadi pacarku berarti kamu sudah siap mengikuti aturanku,” ujar Jonathan.
“Tenang aja. Aturanku gak banyak dan gak akan merugikanmu. Jangan banyak tanya. Cukup kamu turuti semua aturanku. Cukup jadi kekasih yang patuh,” lanjut pria itu seraya perlahan menegakkan lagi tubuhnya.
“Tapi aturanmu gak ada yang aneh-aneh, kan?” cecar Mili curiga.
Jonathan berdecak pelan sambil menggeleng samar, menatap Mili seakan-akan gadis itu baru saja melontarkan tuduhan paling konyol sejagat raya.
“Aku ini pria terhormat,” sahut Jonathan tenang. “Aku tak akan melakukan hal-hal picik seperti yang ada di dalam otakmu itu.”
“Janji, ya? Awas aja kalo macam-macam!” potong Mili cepat, menunjuk wajah Jonathan dengan jari telunjuknya.
Jonathan mengangguk dengan raut meyakinkan. “Deal.”
“Satu lagi, jangan ada sentuhan fisik!” Mili kembali menegaskan batasannya.
Jonathan terdiam sejenak. Dahi pria itu berkerut tipis, seolah-olah tengah menimbang kalkulasi bisnis yang rumit.
“Bagaimana kalau pegangan tangan saja?” usul Jonathan. “Hanya formalitas. Lucu saja kalau status kita kekasih tapi jalannya berjarak satu meter.”
“Enggak! Sekali enggak bisa, tetap enggak bisa!” seru Mili mantap tanpa ragu sedikit pun.
Biarpun posisinya sedang terjepit, Mili menolak menyerah begitu saja. Setidaknya ada satu keping harga diri yang ingin dipertahankannya.
“Hanya berpegangan tangan. Tidak lebih,” tawar Jonathan, mulai melancarkan taktik negosiasinya. “Itu pun cuma di depan keluargaku. Setelahnya, bebas.”
“Kalo gitu, sekali pegangan tangan, sepuluh juta!” tembak Mili asal-asalan. Ia cuma berharap pria sok kaya itu kapok dan menghormati pendiriannya.
“Oke! Mau cash atau transfer?” balas Jonathan tanpa ragu sedikit pun.
Sebelum Mili sempat mencerna kata-katanya, Jonathan sudah merogoh ponsel dan memberi perintah singkat. Detik berikutnya, asisten pribadi berpakaian serba hitam yang tadi membawakan map masuk kembali ke ruangan.
“Beri dia sepuluh juta! Sekarang!” perintah Jonathan.
“HAAAH?!” Mili refleks membekap mulutnya sendiri. Sungguh, ia tadi hanya asal bicara!
Tanpa banyak tanya, sang asisten merogoh bagian dalam jas hitamnya, lalu mengeluarkan seikat uang tunai sepuluh juta rupiah. Plok! Uang itu mendarat mulus di meja.
Mili melotot hingga matanya hampir loncat gara-gara melihat sepuluh juta dalam hitungan detik muncul begitu saja di hadapannya.
“Jadi, hak pegang tangan buat besok sudah sah, kan?” tanya Jonathan dengan sudut bibir terangkat.
Mili tak menyahut. Seluruh fokusnya masih pada setumpuk uang di depan matanya.
“Masih kurang?” tanya Jonathan.
Mili mendongak perlahan, matanya berkedip-kedip linglung.
“Kalau masih kurang, kamu bisa dapat lebih banyak lagi.” Jonathan menggeser kartu akses kamar hotel di atas meja, lalu menghentikannya persis di samping tumpukan uang. “Kunci kamar kita masih di sini. Mau pakai sekarang?”
“Pake aja sendiri! Memangnya aku cewek apaan!” Mili langsung sewot. Tak terima. Sementara Jonathan hanya mendengkus melihat ekspresi kesal gadis itu.
“Apa sudah selesai? Aku ingin pulang!” Mili mulai lelah. Pertemuan kali ini benar-benar menguras habis energinya.
“Nggak makan dulu?” tawar Jonathan.
“Enggak! Bagaimana mungkin aku ada selera untuk makan!” jawab Mili sungguh-sungguh. Ia hanya ingin cepat pulang dan menjauh dari Jonathan.
“Oke. Mau diantar?” tanya Jonathan.
“Enggak perlu!” tukas Mili,
“Bagus, deh,” sahut Jonathan.
Mili langsung melempar tatapan membunuh, sementara Jonathan hanya membalasnya dengan senyum tanpa dosa.
“Roy, tolong antar Mili ke depan,” pinta Jonathan pada sang asisten yang langsung mempersilakan Mili melangkah dengan amat santun.
“Mili,” panggil Jonathan saat Mili hampir melewati ambang pintu.
“Apa lagi?!” cetus Mili tajam.
“Besok, dandan yang cantik dan seksi seperti kencan pertama kita, ya.”
Dahi Mili terlipat. “Maksudnya?”
“Pakai baju yang waktu itu. Tanktop merah, rok leopard, plus boots hitammu yang menggoda.” Jonathan menjawab dengan senyum terkulum.
“Hah?! Kamu ajak aku ketemu keluargamu pake baju baju begitu?”
“Sssst!” Jonathan mengangkat telunjuknya di udara. “Jadilah penurut.”
Mili geleng-geleng kepala, benar-benar tak habis pikir.
“Uangmu ketinggalan,” seloroh Jonathan menunjuk tumpukan sepuluh juta di meja. “Ambil, itu milikmu.”
Sempat ada gengsi yang menahan jemari Mili, tapi logika mendesaknya. Ia berbalik cepat, menyambar uang itu, lalu menjejalkannya ke tas.
Jonathan tersenyum samar melihat pemandangan itu. Namun, tepat ketika daun pintu tertutup rapat dari luar, ekspresi ramah di wajahnya menghilang seketika.
***
Julia langsung berlari menghampiri saat melihat Mili keluar dari restoran. Gadis itu terlihat sangat cemas dan sepanjang waktu menunggu dengan was-was.
“Gimana, Mil? Jonathan kemakan umpan kita?” Julia langsung mencecar.
“Beres!” sahut Mili singkat.
“Serius?!” Mata Julia membelalak, masih ragu.
Mili mengangguk pelan. “Seratus persen. Jonathan sendiri yang bilang kalau dia gak bakal lanjutin kencan ini.”
“YESSSS!!” Julia melompat kegirangan seraya meninju udara. “Berhasil! Rencana kita berhasil, Mil!”
Namun, sorak-sorai Julia mendadak terhenti saat menyadari raut wajah Mili. Dahinya berkerut-kerut heran. “Tapi... kalau berhasil, kenapa mukamu lesu gitu, Mil?”
Mili menggeleng lemah, lalu menghembuskan napas berat dengan dua bahu terkulai jatuh.
“Aku cuma capek. Ayo pulang,” jawab Mili lesu.
Gadis itu tak berbohong. Ia benar-benar lelah. Jiwa dan raga. Ia bahkan tak punya sisa tenaga untuk membeberkan drama gila antara dirinya dan Jonathan kepada Julia.
Dan satu hal yang terus berdengung di kepalanya dan sulit sekali dipercayai saat ini adalah ia sekarang pacar seorang Jonathan. Pria yang sudah menghancurkan jalan mimpinya.
***
Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!
“Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o
Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.
Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat
Seluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan. "I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini." "Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!""Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum
Pria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti."Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili."O–oke."Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.Mili, kamu pa







