LOGINJulia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.
Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.
Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.
“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.
Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.
“Astaga! Ini mah horor!”
Baru saja Mili berniat menghapus riasan menornya, ponselnya berdering. Sebuah nomor tak dikenal memanggil tanpa henti.
“Ini aku, Jonathan. Aku sudah di lobi.”
Mata ber-eyeshadow kehijauan Mili membelalak seketika mendengar suara berat nan dingin di ponselnya.
Sial! Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu kurang lima menit! Tanpa sempat memperbaiki riasannya yang hancur, Mili menyambar tas dan berlari keluar.
Sepanjang koridor hingga ke dalam lift, rasa percaya diri Mili hancur sampai titik minus. Tatapan aneh, dengkusan, dan tawa tertahan dari para penghuni apartemen yang se-lift dengannya membuat Mili terpojok malu di sudut belakang.
Ugh! Rasanya Mili ingin berlari saja, balik kanan ke tempat Julia!
Ting!
Pintu lift terbuka di lobi.
Mili baru saja hendak keluar ketika langkahnya terhenti. Tepat di depan lift, Jonathan sudah berdiri tegap dengan sebuket mawar merah di tangannya.
Pria itu mengenakan kemeja biru laut dengan dua kancing atas terbuka. Penampilannya tetap rapi, tetapi kali ini terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya. Begitu mata mereka bertemu, Jonathan hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya.
“Ayo,” ujar Jonathan sambil menyerahkan buket mawar itu kepada Mili.
Mili mengerjap beberapa kali sambil menatap buket itu dan Jonathan bergantian.
“Ini … buat aku?” tanya Mili sambil menunjuk dirinya sendiri.
Pasalnya, sejak pertama kali mereka bertemu, rasanya hanya ada rasa kesal di antara mereka. Tapi, kenapa sekarang tiba-tiba Jonathan malah memberinya bunga?
Ini sungguh aneh!
Jonathan mengangguk kecil, lalu menjawab dengan datar, bahkan sedikit malas, “Anggap saja bagian dari latihan. Kamu harus terbiasa nantinya.”
Mili kembali mengernyitkan dahinya. Jujur saja, ia sama sekali tidak paham.
"Kita akan bertemu keluargaku. Mereka perlu melihat kita sebagai pasangan yang sudah cukup dekat, bukan dua orang asing yang baru bertemu." Jonathan melirik buket di tangan Mili. "Jadi mulai sekarang, biasakan bersikap seperti kekasihku."
Mili mengusap tengkuknya. Mendengar kalimat itu saja sudah membuatnya tidak nyaman.
Jonathan kemudian melangkah lebih dulu menuju pintu keluar. Setelah beberapa langkah, ia berhenti dan menoleh. "Kenapa masih diam saja?"
Mili akhirnya mengikutinya.
Baru beberapa langkah, Jonathan justru mengulurkan tangannya. Tentu saja itu membuat Mili terkejut dan langsung menatap tangan itu, lalu menatap wajah Jonathan.
"Apa lagi?" tanya Mili bingung.
"Latihan." Jonathan menaikkan satu alisnya. Jawabannya pendek dan tenang, seolah menggenggam tangan perempuan yang akan diperkenalkan sebagai kekasihnya adalah hal paling biasa di dunia.
Mili menghela napas, lalu akhirnya menyambut tangan itu dengan enggan.
Jonathan menggenggamnya ringan, lalu berjalan kembali tanpa banyak bicara.
"Dibayar berapa kamu sama Vanesha?" tanya Jonathan santai ketika melihat lirikan kesal Mili.
Mili mendengus. Ia tidak tahu sejauh apa Jonathan tahu soal kesepakatan antara dirinya dengan Vanesha. Tapi yang jelas, ini semua benar-benar membuat rasa kesalnya kepada Jonathan semakin mencuat.
“Dua puluh? Tiga puluh?” tanya Jonathan lagi ketika tak kunjung mendapat jawaban. “Aku bisa bayar kamu 3 kali lipat kalau kamu bisa bekerja sama dengan sempurna.”
Mendengar itu, Mili seketika menoleh. Ia berpikir sejenak, menimbang. Tak lama ia tersenyum tipis, lalu mengangguk seraya berkata, “Deal!”
Kalau begini, dengan sepenuh hati Mili akan melakukan tugasnya dengan sangat baik.
***
Jonathan membawa Mili ke sebuah rumah megah berlantai dua bergaya American Classic dengan genggaman tangan yang lebih erat dari sebelumnya.
Mili menahan napas sewaktu pintu kayu ganda berukir itu terbuka lebar, menyambut langkahnya dan Jonathan ke dalam area foyer berlantai marmer berkilau. Langkah kaki mereka mengema lembut di bawah kemegahan lampu kristal gantung yang membiaskan pendar cahaya keperakan.
Jonathan dengan tenang membimbing Mili menyusuri koridor panjang berbingkai foto-foto keluarga bernuansa hitam-putih, melewati ruangan-ruangan luas berplafon tinggi.
Meski begitu, Mili tak sedikit pun menikmati pemandangan indah interior rumah tersebut. Pikirannya sibuk berkelana sambil meredam rasa gugup. Walaupun apa yang sedang dilakukannya hanya sebatas pura-pura dan transaksi, tetapi tetap saja ia tak bisa mengabaikan perasaan cemasnya. Apalagi, ia sendiri tak tahu hal seperti apa yang akan dihadapinya.
Makin dalam mereka melangkah, keheningan rumah itu perlahan berganti dengan alunan musik klasik yang terdengar samar dari arah ruang kaca di ujung koridor. Di balik kaca itu, tampak sekumpulan orang-orang berbusana anggun nan elegan tengah asyik berbincang hangat.
Mili meringis pelan menyadari betapa kontras penampilannya dengan orang-orang di balik kaca sana.
“Kamu ingin jadiin aku badut di acara keluargamu, ya?” Mili setengah berbisik. Di kepala gadis itu, sebuah benang merah mendadak terikat rapi. Teka-teki gila yang menyiksanya sejak kemarin mulai menemukan jawabannya.
“Bukan badut. Tapi kekasihku,” balas Jonathan santai.
“Jujur saja! Apa kamu mengajakku karena ingin merusak acara keluargamu?” tanya Mili, masih saja penasaran akan alasan Jonathan menjadikannya pacar dadakan.
Alih-alih menjawab, Jonathan malah mengeratkan tautan tangan keduanya.
“Ingat, jadilah pacar terbaikku hari ini!” Pria itu berbisik, mengingatkan.
Mili menghela napas. Lalu kembali menata perasaannya. Ia berusaha bersikap cuek dan santai. Terpenting sekarang adalah menjalankan apa yang sudah disepakatinya bersama Jonathan. Sisanya, tentu bukan urusannya!
“Oke! Aku akan jadi pacar terbaikmu hari ini!” bisik Mili mantap. Tanpa ragu, ia memeluk erat lengan Jonathan, merapatkan tubuhnya hingga mereka terlihat seperti pasangan yang tak bisa dipisahkan. “Gandengan yang ini aku kasih diskon seratus ribu!”
Dalam pikiran pragmatis Mili, makin cepat keinginan Jonathan tercapai, makin cepat pula ia lepas dari genggaman pria gila ini. Bebas!
Jonathan mendengkus pelan, namun diam-diam menyambut antusias rangkulan mesra gadis itu.
Bersama-sama, mereka melangkah melintasi ambang pintu. Suara alunan musik klasik dan gelak tawa tamu yang tadinya memenuhi ruangan mendadak terhenti. Dalam hitungan detik, seluruh ruangan kaca itu berubah hening total.
Semua kepala serempak menoleh. Mata mereka membelalak, menatap tak berkedip pada Jonathan dan Mili.
“Selamat siang, semuanya. Mohon maaf kami datang sedikit terlambat,” tutur Jonathan dengan suara tenang, sopan, dan tertata rapi.
Senyap.
Tak seorang pun menjawab. Seluruh pasang mata di ruangan itu terpaku, sebelum perlahan bergeser ke arah Mili yang tak henti tersenyum centil sambil bergelayut manja di lengan Jonathan.
Selang beberapa detik, kerumunan tamu terbelah. Seorang wanita paruh baya bergaun hitam anggun melangkah maju terburu-buru. Sepasang mata sipitnya yang tajam langsung mengunci Jonathan, lalu menatap Mili dari ujung boots, rok leopard, hingga riasan menor di wajahnya.
Wanita itu adalah Yukiko, nenek Jonathan.
Bulu kuduk Mili meremang sewaktu beradu pandang dengan wanita keturunan Jepang bertampang galak itu. Tatapan mata sipit itu seolah-olah bisa menebas lehernya dalam satu kali lirikan.
“Siapa dia, Jo?” tanya Yukiko tanpa basa-basi.
“Ah, Nenek!” Jonathan mengulas senyum paling cerah. “Kenalkan, ini Mili. Pacarku.”
Desah napas syok bersahutan di seluruh ruangan.
“P-pacar? Apa-apaan ini, Jo?!” Yukiko mendesis, rahangnya mengencang menahan murka.
“Iya, pacarku,” ulang Jonathan santai. “Maaf kalau terkesan mendadak. Tapi kurasa, ini waktu yang tepat untuk mengenalkan pilihan hatiku sendiri ke hadapan keluarga.”
“Jonathaaan!” panggil Yukiko dengan nada setengah berteriak. “Kamu tahu kan acara apa ini?”
“Ya,” jawab Jonathan singkat.
“Ini acara perjodohanmu dengan Clarissa! Kenapa kamu malah bawa gadis aneh yang kamu aku-aku sebagai pacar, hah?” Yukiko menggeram dengan cuping hidung kembang kempis. Suaranya terdengar ditahan-tahan agar tak sampai menggelegar ke seantero ruangan.
Di sisi Jonathan, Mili langsung melotot. “Perjodohan?” gumamnya tak kalah syok.
“Ikut Nenek!” perintah Yukiko, lalu melangkah lebih dulu menuju pintu kaca.
Namun, Jonathan tak bergerak setapak pun. Sikap kaku cucunya itu membuat Yukiko terpaksa berbalik lagi sambil melempar tatapan marah.
“Aku gak akan ke mana-mana, Nek,” potong Jonathan tenang. “Aku datang ke sini untuk menegaskan status hubunganku dengan pacarku, supaya Nenek berhenti menjodoh-jodohkanku. Aku sudah punya wanita yang aku cintai.”
Tanpa ragu, satu tangan Jonathan melingkar di pinggang Mili, merangkulnya dengan begitu posesif.
Mili sempat meliuk geli akibat sentuhan mendadak itu, meski akhirnya ia paksakan tubuhnya tetap sesantai mungkin.
“Wanita yang kamu cintai? Maksudnya gadis mengerikan ini?” Mata Yukiko beralih membelalak pada Mili.
“Mengerikan? Tidak ada yang mengerikan dari Mili. Dia sangat manis. Aku mencintainya, dan dia mencintaiku. Tolong jangan menyebutnya seperti itu, Nek.”
“JONATHAN!” teriakan Yukiko akhirnya meledak. “Kenapa kamu bawa perempuan model begini ke rumaaah!”
“Nek, sudah kubilang, aku mau mengenalkannya pada Nenek dan keluarga besar. Sekaligus ... mengumumkan kalau aku ingin menikahinya,” jawab Jonathan kalem.
“Jangan main-main kamu, Jo! Kamu sengaja membawa perempuan aneh ini biar perjodohanmu gagal, hah?” Yukiko kembali berseru.
Jonathan menggeleng perlahan, lalu menoleh pada Mili. “Tidak, Nek. Aku serius,” ucapnya. Jemarinya terulur, membelai lembut pipi Mili yang merah merona akibat tebalnya blush-on.
“Aku tahu Nenek pasti gak akan suka Mili. Tapi aku sangat mencintainya. Aku gak bisa terus menerus memenuhi tuntutan keluarga untuk ikut perjodohan yang sesuai kriteria keluarga dan hanya menyakiti kekasihku.” Jonathan bertutur penuh penghayatan.
“Dan sekarang aku yakin kalau aku hanya akan menikah jika dia wanitanya. Bukan dengan yang lain,” sambungnya.
Lalu, tanpa peringatan sedikit pun, Jonathan menunduk dan mengecup bibir Mili dengan begitu mesra.
***
Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!
“Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o
Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.
Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat
Seluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan. "I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini." "Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!""Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum
Pria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti."Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili."O–oke."Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.Mili, kamu pa







