LOGINPria tua itu tersenyum merekah. Ia tak salah mengenali karena penampilan Mili yang eksentrik bukanlah sesuatu yang mudah dilupakan.“Kamu sedang apa di sini?” tanyanya ramah. “Aaahh! Apa kamu diundang Yukiko untuk mengisi acara?” tebaknya.“Tapi, perasaan kemarin bilangnya mau undang penyanyi Jazz bukan penyanyi dangdut,” sambungnya sambil memandangi penampilan Mili.“Hah? S-saya bukan penyanyi dangdut, Kek.” Mili buru-buru meluruskan.“Oh, begitu? Apa kamu kerabat Lukito?” tanya si Kakek.Dan belum sempat Mili menjawab, pria tua itu kembali bicara. “Tapi omong-omong, kenapa sepi? Perasaan aku sudah telat banget datang kesini. Masak acaranya belum dimulai? Atau udah selesai? Tapi masak mereka gak menungguku datang? Aneh!”Pria tua itu celingukan menatap sekitar yang kosong melompong dan hanya menyisakan jejak-jejak keramaian.Mili menelan ludah. Berusaha mencerna kehadiran si kakek.“Maaf, Kek. Tapi, kalau boleh tahu, Kakek ini siapa, ya?” tanya Mili hati-hati. Ia penasaran karena pri
Ruangan kaca itu mendadak sunyi senyap. Semua orang terkesiap, menahan napas melihat aksi yang dilakukan Jonathan.Tak terkecuali Mili. Gadis itu terkejut setengah mati. Matanya membeliak dengan sekujur tubuh terasa dingin melayang. Otaknya seketika macet. Sulit mencerna apa yang tengah terjadi padanya.Satu hal yang ia tahu adalah bahwa bibirnya terasa basah. Bau mint asing turut menyertai seiring sentuhan yang menempel lembut di bibirnya.“A-apa i-ini …?” Mili menjerit panik dalam hati. “B-b-bibir Jonathan? Hah! Bibir Jonathaaaaan!”Gadis itu refleks berontak saat akhirnya menyadari seratus persen jika bibir mereka bersentuhan. Ia dan Jonathan berciuman!“Mmmmpphh!” Mili ingin teriak!“Kenapa tiba-tiba ada adegan ciuman? Gak mau! Gak sudi!” batin Mili berteriak-teriak.Alih-alih melepaskan, Jonathan malah memperdalam ciumannya. Bibirnya perlahan membuka dan melumat bibir Mili yang terkatup rapat. Sementara kedua tangannya begitu sibuk. Satu merengkuh erat pinggang, satu lagi ke ten
Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!
“Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o
Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.
Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat







