Masuk
“Ada acara apa ya, Pak Agung? Kenapa di depan rumah banyak mobil?” tanyaku pada sopir pribadiku.
Jam satu siang, aku baru pulang kuliah dan langsung melihat banyak mobil terparkir di depan rumah. Termasuk mobil milik kekasihku. Aku benar-benar tidak tahu ada acara apa di dalam, karena kedua orang tuaku maupun kakakku tidak memberi tahu apa pun.
“Bapak juga nggak tahu, Neng… Tapi sebelum berangkat jemput, Bapak melihat Mas Daren datang bersama keluarganya.”
Senyumku langsung merekah mendengar ucapan Pak Agung. Apa Daren datang untuk melamarku? Tapi kenapa cepat sekali? Bukannya dia bilang akan datang setelah aku lulus?
Daren pernah bilang bahwa ia akan datang ke rumah bersama orang tuanya setelah aku lulus kuliah. Sementara sekarang aku masih dalam tahap menyusun skripsi, bahkan belum tahu kapan aku akan lulus. Jadi kenapa Daren tiba-tiba muncul tanpa memberi kabar apa pun?
Apa ini sebuah kejutan darinya? Hatiku langsung meletup membayangkannya. Dengan cepat aku keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
“Aku pulang…!” sapaku riang dengan suara melengking.
Namun begitu masuk, semua perhatian langsung tertuju padaku. Langkahku terhenti, dan aku hanya bisa tersenyum canggung ketika melihat tatapan tajam dari Ibu. Mataku kemudian mencari sosok Daren, dan ketika menemukannya, senyumku muncul begitu saja.
Aku berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya.
“Alina, ngapain kamu duduk di situ? Sini!” tegur Ibu sambil menepuk tempat di sampingnya, menyuruhku pindah.
Mau tak mau, aku segera bangkit dan pindah duduk. Kedua orang tuaku memang belum tahu bahwa aku berpacaran dengan Daren. Aku belum pernah mengajaknya ke rumah atau memperkenalkannya secara resmi. Daren sendiri pernah bilang bahwa ia belum siap bertemu keluargaku.
Satu-satunya yang tahu tentang hubungan kami hanyalah kakakku, karena beberapa kali ia tak sengaja memergoki kami saat sedang berkencan di mal.Karena itulah, Ibu mungkin mengira aku tidak sopan duduk di samping seseorang yang belum kukenal.
“Ini anak bungsumu, ya, Jeng?” tanya seorang wanita pada Ibu. Dari wajahnya, aku bisa menebak bahwa beliau adalah ibu dari Mas Daren—keduanya punya kemiripan yang tak bisa disangkal. Dan pria yang duduk di sampingnya pasti ayahnya.
Ayah Daren adalah seorang pengusaha sukses yang bisnisnya tersebar di mana-mana. Tak heran banyak wanita mengagumi dan menyukai Daren; ia adalah pewaris tunggal dari keluarga yang begitu mentereng itu. Dan aku… aku selalu merasa sangat beruntung bisa memilikinya.
“Iya, Jeng…” jawab Ibu sambil tersenyum.
“Cantik sekali.”
Mendengar pujian itu, pipiku langsung panas. Aku memang sering dipuji cantik, tapi mendengarnya langsung dari orang tua Daren… rasanya jauh berbeda. Seolah ada sesuatu yang menggelitik hatiku, antara malu, bangga, dan gugup campur jadi satu.
“Terima kasih, Tante…” ucapku tersenyum manis ke arahnya
“Ah…nggak juga, Jeng…lebih cantik anak sulungku.”
Aku langsung diam saat ibuku mengatakan itu, ku tatap dirinya yang sedang merangkul kakakku yang sedang tersipu malu sama seperti aku tadi. Aku tersenyum kecil walau sedikit pedih, ini bukan pertama kalinya ibu memuji kakak dan mempermalukanku.
Sudah berulang kali ibu melakukannya, setiap kali mereka datang ke pesta kolega. Ibunya pasti akan selalu menyanjung kakaknya dan tak mempedulikannya. Kadang aku merasa bukan anggota keluarga ini.
Andai ayah tak perhatian padaku. Mungkin aku sudah memanggap diriku adalah anak pungut. Tapi setiap kali ibu berkata jahat akan ada ayah yang selalu membelaku dan kini aku melihat senyuman tulus ayah padaku, seolah memberi penenang untukku
“Karena semua anggota keluarga sudah di sini. Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan tadi.” Ayah Daren tiba-tiba berbicara, aku tak tau pembicaraan apa yang sebelumnya mereka bicarakan. Apa mereka membicarakan tentang lamaranku?
Aku buru-buru menatap Daren, mencari jawaban dari sepasang mata yang selalu membuatku tenang. Tapi Daren justru menunduk, menghindari tatapanku. Dadaku langsung terasa sesak. Ada apa sebenarnya? Kenapa hanya aku yang tidak tahu apa pun?
Lalu aku kembali menyapu ruangan dengan pandangan dan aku baru sadar pakaian mereka semua tampak rapi dan mewah, termasuk kakakku. Dan hanya aku yang datang dengan pakaian seadanya.
Benar-benar seperti orang luar di rumah sendiri.“Pembicaraan apa, ayah?” tanyaku menatap Ayah meminta penjelasan.
Ayah tersenyum padaku. “Hari ini kakakmu di lamar sama Nak Daren, mereka akan melangsungkan pernihakan dua bulan lagi.”
Duniaku runtuh seketika mendengar ucapan Ayah. Kenapa kakakku? Kenapa bukan aku? Padahal yang berpacaran dengan Daren di sini adalah aku. Kakak tahu itu—ia tahu semuanya.
Lalu kenapa dia menerima lamaran Daren? Apa selama ini mereka punya hubungan di belakangku? Apa mereka berselingkuh? Pertanyaan-pertanyaan itu tak henti-hentinya muncul, memenuhi kepalaku hingga terasa mau pecah.“Kamu senang kan, kakakmu mau menikah?” tanya Ibu. Aku menoleh dan memaksakan senyum tipis, menutup luka yang semakin dalam di hatiku.
Pandangan mataku kemudian jatuh pada kakak. Ia menunduk, seolah tak berani bertemu tataku. Entah itu karena malu, merasa bersalah… atau hanya berpura-pura. Namun aku bisa merasakan sesuatu yang lain—seakan ada kegembiraan tersembunyi karena sekali lagi, ia berhasil merebut apa yang menjadi milikku.
Selama ini aku selalu mengalah untuknya. Kasih sayang Ibu? Dia yang mendapatkannya. Setiap barang yang aku punya dan ia inginkan, Ibu selalu berpihak padanya—membiarkan aku menangis dan memberikan semuanya kepada kakak. Dan sekarang… bahkan kekasihku pun ia rebut.
“Selamat ya, Kak…” ucapku dengan suara yang bergetar, penuh luka yang berusaha kutahan. “Sekarang kakak menang—lagi.”
Tanpa menunggu reaksi siapa pun, aku langsung bangkit dan melangkah pergi. Suara Ayah memanggilku terdengar samar, memintaku kembali. Ibu bahkan sempat meneriaki, menyebutku tidak sopan.
Tapi aku tidak peduli.
Biarlah.
Untuk sekarang, aku hanya butuh menjauh. Butuh ruang untuk bernapas, untuk menenangkan diri dari rasa sakit yang begitu dalam hingga membuat kakiku hampir tak sanggup melangkah.Sesampai di kamar, aku menutup pintu pelan dan bersandar di belakangnya. Sayup-sayup, suara mereka masih terdengar dari ruang tamu, membahas kebahagiaan yang tidak seharusnya menjadi milik kakakku.
Aku menekan dadaku dengan kuat. Rasanya sesak. Sakit. Mendengarkan orang yang kita cintai akan menikah dengan orang lain itu sudah menyiksa…tapi jika orang itu adalah kakak kita sendiri?
Rasanya jauh lebih hancur.
Akhirnya aku sampai di depan rumah orang tuaku.Saat ini aku masih duduk di dalam taksi, bersama Rafa yang tertidur pulas di pangkuanku. Kepalanya bersandar nyaman, napasnya teratur seolah perjalanan panjang ini sama sekali tidak melelahkannya.Aku menatap lurus ke depan. Rumah itu, masih berdiri kokoh di sana. Tidak ada yang berubah. Bentuknya masih sama seperti empat tahun lalu, sebelum aku pergi meninggalkan tempat ini dengan hati yang hancur.Dadaku tiba-tiba terasa sesak.Apakah semuanya benar-benar masih sama? Atau bukan hanya rumahnya saja yang tidak berubah, tapi orang-orang di dalamnya masih sama seperti dulu, terutama ibu.Apa sikapnya masih sama seperti dulu? Masih penuh amarah dan kebencian saat melihatku?“Mbak, ini benar rumahnya?” tanya sopir taksi dari kursi depan.Aku tersentak dari lamunanku, lalu segera mengangguk kecil.“Iya, Pak. Benar.”Aku menunduk menatap Rafa yang masih tertidur lelap, kepalanya bertumpu di pangkuanku. Wajahnya terlihat begitu tenang hingga ak
“Kamu yakin ingin pulang sekarang?”Aku mengangguk mantap. “Sudah empat tahun aku di sini. Sudah waktunya aku pulang. Kasihan Ayah, dia sudah terlalu lama menunggu kepulanganku.”“Tapi Nenek khawatir. Bagaimana kalau ibumu murka saat mengetahui kebenarannya? Nenek takut kamu kembali diusir olehnya.”Sorot mata Nenek begitu jelas menyiratkan kecemasan. Ia benar-benar takut kehilanganku lagi. Namun aku tak bisa terus merepotkannya. Selama ini ia sudah sangat banyak membantuku—merawat putraku dengan penuh kasih saat aku bekerja, memberiku tempat berlindung ketika ibuku sendiri menolakku dan membuangku ke siniSudah cukup aku bergantung padanya.Kini aku ingin hidup mandiri. Aku ingin membangun keluargaku sendiri, hanya aku dan putraku. Lagi pula, aku juga punya tujuan lain. Luka itu masih ada. Dendam itu belum padam. Aku tak akan pernah benar-benar memaafkan mereka yang telah menyakitiku sampai mereka merasakan balasan yang setimpal atau bahkan lebih dari yang kuterima.“Nenek tenang saj
Pov Daren“Mas...!” panggil Alda. Wanita yang kini resmi menyandang status sebagai istriku itu berdiri di sampingku, menyambut para tamu yang datang ke pernikahan kami.Sejak pagi, aku sama sekali tak menghiraukannya. Aku kesal padanya, dan lebih lagi pada diriku sendiri yang tak mampu menolak pernikahan ini. Tidak ada sedikit pun kebahagiaan di hatiku. Kalau saja bukan karena memikirkan keselamatan Ibu, mungkin aku sudah kabur, mengejar wanita yang benar-benar kucintai.Alina.Pikiranku hanya dipenuhi olehnya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia benar-benar ingin melupakanku, sampai memilih pergi tanpa penjelasan? Tanpa sadar, air mataku jatuh. Cepat-cepat kuseka sebelum ada tamu yang melihat.“Mas, kamu nangis?” tanya Alda pelan.Aku tak menjawab.“Kamu pasti terharu ya, karena akhirnya kita menikah?”Aku menoleh padanya dengan mata yang memerah. “Lihat wajahku. Apa aku terlihat bahagia?”Senyumnya langsung memudar. Tangannya yang semula melingkar di lenganku perlahan terlepas. Nam
Wajah Nenek langsung berubah. Ia tampak benar-benar terkejut, bahkan seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Aku jadi takut menatapnya. Berbagai pikiran buruk langsung bermunculan di kepalaku. Bagaimana kalau Nenek menyuruhku menggugurkannya? Aku takut… sangat takut.Walaupun, di sisi lain, aku sendiri belum siap menerima kenyataan ini. Aku bahkan tak menginginkan anak ini hadir di situasi seperti ini. Tapi tetap saja… menghilangkannya terasa seperti dosa besar. Bayi ini tidak punya salah apa-apa. Yang salah adalah kami-aku dan Mas Daren. Itu kesalahan kami berdua.“Apa Daren yang kamu maksud… suami kakakmu?” tanya Nenek pelan, suaranya terdengar berat.Aku hanya bisa mengangguk pelan, tanpa berani mengangkat wajah.Ruangan itu mendadak terasa makin sunyi. Hanya suara detak alat monitor yang terdengar pelan.Nenek menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Tangannya yang tadi menggenggam tanganku kini terasa lebih dingin.“Sejak kapan?” tanyanya lirih.Aku
“Alina!” teriak Nenek dari luar, lalu ia membuka pintu kamar mandi dengan paksa. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?” Aku hanya tersenyum tipis. Rasanya tak ada tenaga untuk bicara, apalagi menjawab semua pertanyaannya. Pandanganku mulai kabur, pelan-pelan semuanya berubah gelap. Namun sebelum benar-benar hilang, aku masih bisa mendengar suara Nenek yang terus memanggil namaku. Hal pertama yang kulihat saat bangun adalah cahaya lampu yang terang langsung menyilaukan mataku. Aku berkedip pelan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya itu. Setelah pandanganku mulai jelas, kulihat Nenek sedang berbicara dengan dokter. Saat itulah aku sadar… aku berada di rumah sakit. Pasti Nenek membawaku ke sini karena panik. Aku heran dengan tubuhku sendiri. Sudah beberapa hari ini aku gampang sekali lelah dan mengantuk. Padahal dulu, waktu masih tinggal di Indonesia, aku sering melakukan aktivitas berat dan baik-baik saja. Tidak pernah sampai seperti ini. Apa mungkin aku punya penyakit seri
"Alina... bangun, Nak!"Suara Nenek terdengar dari balik pintu, memecah keheningan kamarku. Aku mengerjap, perlahan membuka mata yang masih terasa berat. Aku bertumpu pada sisi kasur, lalu duduk diam sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Begitu tanganku meraih ponsel, layarnya menunjukkan sudah jam delapan pagi."Alina, kamu sudah bangun, kan?" panggil Nenek lagi, memastikan.Aku menoleh ke arah pintu. "Sudah, Nek..." sahutku dengan suara agak serak khas orang baru bangun tidur."Ya sudah, ayo sarapan. Nenek sudah masak di bawah.""Iya, Nek. Aku mandi dulu sebentar, Nenek duluan saja," ucapku sambil beranjak dari kasur dan mengambil handuk bersih di lemari."Nenek tunggu di bawah, ya."Kudengar langkah kaki Nenek menjauh dan menuruni tangga. Aku pun segera masuk ke kamar mandi. Tak terasa, sudah dua minggu aku tinggal di rumah Nenek. Suasana tenang di sini perlahan membantuku mulai melupakan sedikit demi sedikit masalah yang terjadi di rumah.Namun, saat aku bercermin, pikiranku mendadak







