MasukKudengar ketukan pelan dari luar pintu kamarku. Dengan cepat kuhapus air mata yang masih menempel di pipi, lalu menoleh ke arah pintu.
“Siapa?” tanyaku, suaraku terdengar parau setelah terlalu lama menangis.
“Ini, Kakak…”
Begitu mendengar suaranya, aku segera bangun dari tempat tidur. Tatapanku datar mengarah ke pintu. “Kenapa ke sini?” tanyaku dingin.
“Kakak boleh masuk? Kakak mau bicara sebentar,” ucapnya lembut.
Sebenarnya, aku tak pernah memiliki masalah dengannya. Kakak tidak pernah memarahiku seperti Ibu. Dia tipe yang pendiam, kami hanya akan bertegur sapa jika kebetulan bertemu di luar.
Di rumah pun, kami jarang berbicara. Sepulang kerja, kakak akan langsung masuk ke kamarnya, begitu juga aku. Kami biasanya hanya bertemu di meja makan, itupun dalam diam, tak ada yang berani memulai pembicaraan.
Aku selalu takut Ibu marah jika melihatku bicara dengan kakak. Ibu melarangku untuk terlalu dekat dengannya. Itu sebabnya kami tidak pernah benar-benar akrab. Dan baru kali ini kakak datang ke kamarku.
Mungkin ia ingin menjelaskan alasan sebenarnya kenapa ia menerima pernikahan itu. Aku memang menunggu penjelasan darinya.
“Iya,” jawabku singkat.
Kakak membuka pintu perlahan, seolah takut membuatku terkejut. Ia melangkah masuk dengan hati-hati, lalu menutup pintu di belakangnya. Untuk sesaat, ia hanya berdiri di sana, seperti sedang mencari keberanian untuk mulai bicara.
“Aku… sebenarnya bingung mau mulai dari mana,” katanya akhirnya, suaranya terdengar ragu.
Aku hanya menunduk tanpa menjawab. Aku tidak ingin terlihat terlalu berharap, tapi jujur aku ingin tahu segalanya.
Kakak menarik napas pelan. “Maaf… kalau keputusan kakak hari ini buat kamu terluka.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak. Aku menggigit bibir, berusaha menahan emosi yang kembali naik.
“Kakak nggak pernah bermaksud nyakitin kamu,” lanjutnya. “Kakak cuma… terjebak.”
Aku mengangkat wajah perlahan, menatapnya. “Terjebak gimana?”
Ia menunduk, kedua tangannya saling menggenggam gelisah. “Kakak menerima lamaran itu bukan karena mau… tapi karena Kakak nggak punya pilihan lain.”
Hatiku mencelos. “Nggak punya pilihan? Kenapa? Siapa yang maksa?”
Kakak menghembuskan napas panjang, lalu menatapku dengan mata yang tampak lelah, lebih lelah dari yang pernah kulihat.
“Ibu,” jawabnya lirih. “Kakak disuruh… dan Kakak nggak bisa nolak.”
Aku tertekeh miris, dan perlahan air mataku kembali jatuh. Sudah kuduga, semua ini pasti ulah Ibu. Kakak yang sejak dulu selalu menuruti kemauannya tentu tidak punya pilihan selain mengikuti rencana itu.
Aku pun sama. Aku tidak pernah benar-benar bisa memberontak. Aku sadar diri… aku memang tidak diinginkan di rumah ini.
Andai aku mengatakan bahwa Mas Daren adalah kekasihku, lalu memohon pada Ibu untuk membatalkan perjodohan itu, Ibu pasti tetap menolak. Bahkan mungkin ia akan mempercepat pernikahan mereka, hanya untuk memastikan aku lebih terluka.
Seperti itulah kebencian Ibu terhadapku, seakan ia tidak ingin melihatku merasakan sedikit pun kebahagiaan.“Kakak minta maaf…!”
Aku merasakan elusan halus di punggungku. Saat kudongakkan kepala, kakak sudah duduk di sampingku. Tangisku justru semakin pecah. Aku menepis tangannya dan menatapnya tajam.
“Kakak egois! Kakak nggak ngerti perasaan aku!” teriakku tepat di depan wajahnya. “Seharusnya kakak menolak perjodohan itu! Kakak tahu Mas Daren itu pacarku. Tapi kakak cuma pasrah. Harusnya kakak bisa bujuk Ibu buat batalin semuanya! Selama ini Ibu selalu nurutin kemauan kakak. Bukan nggak mungkin Ibu bakal nyerah kalau kakak bilang nggak mau. Kecuali… memang kakak yang menginginkan pernikahan ini.”
Kakak langsung menunduk. Ia diam, tak membela diri sedikit pun. Dan itu membuat hatiku semakin jatuh.
Berarti benar… Kakak juga menginginkan pernikahan itu. Kakak menyukai Mas Daren.
“Kakak suka, ya… sama Mas Daren?” tanyaku lirih namun penuh tekanan, ingin memastikan semuanya.
“Maaf…”
Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Satu kata yang membuatku kembali tertegun dan tertawa miris di antara air mata.
Tentu saja. Pantas setiap kali mereka bertemu, kakak selalu tersenyum malu-malu. Ternyata ia memang punya perasaan pada pacar adiknya sendiri. Dan aku… selama ini dibodohi.
“Keluar! Keluar dari kamarku!” teriakku sambil menunjuk pintu. “Cepat keluar!”
Yang tak kusangka, kakak justru jatuh berlutut di hadapanku dan memegang kakiku erat-erat. “Maaf… maafkan Kakak…”
Aku terkejut, mundur sedikit karena tak percaya melihatnya seperti itu.
“Apa-apaan sih, Kak?!”“Kakak nggak ada niat merebut Mas Daren dari kamu… Kakak cuma—”
“Kak, lepas…!” teriakku berusaha menarik kakiku dan mencoba bangkit.
Namun sebelum aku sempat berdiri, pintu kamarku tiba-tiba terbuka dengan keras. Ibu dan Ayah masuk, dan langsung menyaksikan seluruh kejadian itu.
Raut wajah Ibu langsung berubah murka. Tubuhku refleks menegang, tak sempat bergerak atau bicara. Ia berjalan cepat ke arahku dan
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Kelopak mataku bergetar menahan sakit, sekaligus terkejut karena Ibu melakukannya tanpa ragu sedikit pun.
Tamparan itu membuat kepalaku terhempas ke samping. Pipiku panas, rasanya berdenyut seperti terbakar. Untuk beberapa detik aku hanya bisa terpaku, tidak mampu bernapas dengan benar.
“Kamu itu nggak tau diri!” bentak Ibu, suaranya bergema memenuhi kamar. “Berani-beraninya kamu membentak kakakmu seperti itu?!”
Aku masih memegang pipiku, menunduk, berusaha menahan getaran di tubuhku. Kakak yang masih berlutut di lantai menatapku dengan mata membesar, jelas terkejut dengan tindakan Ibu.
“A-aku cuma—”
“Diam!” Ibu memotong kata-kataku dengan nada tajam yang membuatku otomatis menggigit bibir.Ayah maju beberapa langkah, wajahnya cemas namun tetap menahan diri. “Bu, sudah… jangan pakai tangan.”
Ayah mencoba menyentuh lengan Ibu, tapi Ibu menepisnya dengan kasar.“Jangan ikut campur! Ini anak kurang ajar perlu diajarin sopan santun!”
Ibu kembali menatapku tajam. “Kamu menuduh kakakmu macam-macam, bilang dia merebut pacarmu?! Dasar pembuat masalah!”“Aku nggak bohong…” suaraku hampir tak terdengar, tapi Ibu langsung mendelik.
“Kamu pikir lelaki itu mau sama kamu?!” katanya, tawa sinisnya menusuk telingaku. “Kamu itu cuma anak nggak tahu diri yang selalu jadi beban keluarga ini!”
Aku mengerjap cepat menahan air mata yang sudah menggenang lagi. Kata-kata itu menghujam lebih dalam dari tamparannya.
“Kakakmu jauh lebih pantas daripada kamu! Dan kamu malah berani menyuruh dia keluar dari kamar? Dari kamar yang bahkan kamu tempati cuma karena belas kasihan?!”
Kakak segera bangkit berdiri, memegang lengan Ibu. “Bu… jangan gitu. Ini salah Kakak. Kakak yang harusnya jelasin semuanya, jangan marahin adek…”
“Diam kamu!” Ibu membentak kakak pula. “Semua ini gara-gara dia! Gara-gara anak ini!”
Ayah tampak semakin gelisah. “Bu, tolong… dengarkan dulu penjelasan Alina”
Ibu sama sekali tak menghiraukan ucapan ayah. Ia tetap bergerak ke arahku lagi, wajahnya memerah karena emosi.
“Saya capek sama kamu! Selalu bikin rusuh! Selalu jadi penyebab pertengkaran di rumah ini!”Aku mundur selangkah, punggungku menempel pada dinding. Aku tidak bisa kabur, tidak bisa bergerak. Tubuhku gemetar hebat.
Kakak menahan Ibu, kedua tangannya menggenggam lengan Ibu agar tidak mendekatiku. “Bu, berhenti! Please… Kakak yang salah. Jangan salahin adek…”
Namun Ibu meronta, tetap berusaha mendekat. Tatapannya menusukku seperti belati.
“Seharusnya kamu tidak pernah ada di rumah ini. Seharusnya kamu menyusul ib—”Belum sempat Ibu menyelesaikan ucapannya, suara Ayah menggema, jauh lebih keras dari sebelumnya, memotong kalimat itu dengan tegas.
“Cukup!!!”
Kamar langsung hening. Ibu menoleh dengan napas memburu, Kak Alda terdiam di tempat, dan aku ikut terpaku.
Ayah berdiri di tengah kamar, wajahnya tampak jauh lebih tegas dari biasanya.“Kita bicarakan ini baik-baik. Sekarang.”
Ibu mendengus kesal, ia menatap tajam pada ayah
“Nggak ada yang perlu dibicarain baik-baik! Urus anak kamu itu. Aku nggak mau dia sampai mengacaukan pernikahan Alda dan Daren.”Tanpa menunggu jawaban, Ibu langsung pergi, menarik tangan Kak Alda keluar dari kamarku.
Kini hanya aku dan Ayah yang tersisa di kamar itu. Aku menatapnya sambil terisak, air mata masih mengalir dan menggenang di pipiku.“Ayah…”
Akhirnya aku sampai di depan rumah orang tuaku.Saat ini aku masih duduk di dalam taksi, bersama Rafa yang tertidur pulas di pangkuanku. Kepalanya bersandar nyaman, napasnya teratur seolah perjalanan panjang ini sama sekali tidak melelahkannya.Aku menatap lurus ke depan. Rumah itu, masih berdiri kokoh di sana. Tidak ada yang berubah. Bentuknya masih sama seperti empat tahun lalu, sebelum aku pergi meninggalkan tempat ini dengan hati yang hancur.Dadaku tiba-tiba terasa sesak.Apakah semuanya benar-benar masih sama? Atau bukan hanya rumahnya saja yang tidak berubah, tapi orang-orang di dalamnya masih sama seperti dulu, terutama ibu.Apa sikapnya masih sama seperti dulu? Masih penuh amarah dan kebencian saat melihatku?“Mbak, ini benar rumahnya?” tanya sopir taksi dari kursi depan.Aku tersentak dari lamunanku, lalu segera mengangguk kecil.“Iya, Pak. Benar.”Aku menunduk menatap Rafa yang masih tertidur lelap, kepalanya bertumpu di pangkuanku. Wajahnya terlihat begitu tenang hingga ak
“Kamu yakin ingin pulang sekarang?”Aku mengangguk mantap. “Sudah empat tahun aku di sini. Sudah waktunya aku pulang. Kasihan Ayah, dia sudah terlalu lama menunggu kepulanganku.”“Tapi Nenek khawatir. Bagaimana kalau ibumu murka saat mengetahui kebenarannya? Nenek takut kamu kembali diusir olehnya.”Sorot mata Nenek begitu jelas menyiratkan kecemasan. Ia benar-benar takut kehilanganku lagi. Namun aku tak bisa terus merepotkannya. Selama ini ia sudah sangat banyak membantuku—merawat putraku dengan penuh kasih saat aku bekerja, memberiku tempat berlindung ketika ibuku sendiri menolakku dan membuangku ke siniSudah cukup aku bergantung padanya.Kini aku ingin hidup mandiri. Aku ingin membangun keluargaku sendiri, hanya aku dan putraku. Lagi pula, aku juga punya tujuan lain. Luka itu masih ada. Dendam itu belum padam. Aku tak akan pernah benar-benar memaafkan mereka yang telah menyakitiku sampai mereka merasakan balasan yang setimpal atau bahkan lebih dari yang kuterima.“Nenek tenang saj
Pov Daren“Mas...!” panggil Alda. Wanita yang kini resmi menyandang status sebagai istriku itu berdiri di sampingku, menyambut para tamu yang datang ke pernikahan kami.Sejak pagi, aku sama sekali tak menghiraukannya. Aku kesal padanya, dan lebih lagi pada diriku sendiri yang tak mampu menolak pernikahan ini. Tidak ada sedikit pun kebahagiaan di hatiku. Kalau saja bukan karena memikirkan keselamatan Ibu, mungkin aku sudah kabur, mengejar wanita yang benar-benar kucintai.Alina.Pikiranku hanya dipenuhi olehnya. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia benar-benar ingin melupakanku, sampai memilih pergi tanpa penjelasan? Tanpa sadar, air mataku jatuh. Cepat-cepat kuseka sebelum ada tamu yang melihat.“Mas, kamu nangis?” tanya Alda pelan.Aku tak menjawab.“Kamu pasti terharu ya, karena akhirnya kita menikah?”Aku menoleh padanya dengan mata yang memerah. “Lihat wajahku. Apa aku terlihat bahagia?”Senyumnya langsung memudar. Tangannya yang semula melingkar di lenganku perlahan terlepas. Nam
Wajah Nenek langsung berubah. Ia tampak benar-benar terkejut, bahkan seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Aku jadi takut menatapnya. Berbagai pikiran buruk langsung bermunculan di kepalaku. Bagaimana kalau Nenek menyuruhku menggugurkannya? Aku takut… sangat takut.Walaupun, di sisi lain, aku sendiri belum siap menerima kenyataan ini. Aku bahkan tak menginginkan anak ini hadir di situasi seperti ini. Tapi tetap saja… menghilangkannya terasa seperti dosa besar. Bayi ini tidak punya salah apa-apa. Yang salah adalah kami-aku dan Mas Daren. Itu kesalahan kami berdua.“Apa Daren yang kamu maksud… suami kakakmu?” tanya Nenek pelan, suaranya terdengar berat.Aku hanya bisa mengangguk pelan, tanpa berani mengangkat wajah.Ruangan itu mendadak terasa makin sunyi. Hanya suara detak alat monitor yang terdengar pelan.Nenek menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. Tangannya yang tadi menggenggam tanganku kini terasa lebih dingin.“Sejak kapan?” tanyanya lirih.Aku
“Alina!” teriak Nenek dari luar, lalu ia membuka pintu kamar mandi dengan paksa. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu seperti ini?” Aku hanya tersenyum tipis. Rasanya tak ada tenaga untuk bicara, apalagi menjawab semua pertanyaannya. Pandanganku mulai kabur, pelan-pelan semuanya berubah gelap. Namun sebelum benar-benar hilang, aku masih bisa mendengar suara Nenek yang terus memanggil namaku. Hal pertama yang kulihat saat bangun adalah cahaya lampu yang terang langsung menyilaukan mataku. Aku berkedip pelan, mencoba membiasakan diri dengan cahaya itu. Setelah pandanganku mulai jelas, kulihat Nenek sedang berbicara dengan dokter. Saat itulah aku sadar… aku berada di rumah sakit. Pasti Nenek membawaku ke sini karena panik. Aku heran dengan tubuhku sendiri. Sudah beberapa hari ini aku gampang sekali lelah dan mengantuk. Padahal dulu, waktu masih tinggal di Indonesia, aku sering melakukan aktivitas berat dan baik-baik saja. Tidak pernah sampai seperti ini. Apa mungkin aku punya penyakit seri
"Alina... bangun, Nak!"Suara Nenek terdengar dari balik pintu, memecah keheningan kamarku. Aku mengerjap, perlahan membuka mata yang masih terasa berat. Aku bertumpu pada sisi kasur, lalu duduk diam sebentar untuk mengumpulkan nyawa. Begitu tanganku meraih ponsel, layarnya menunjukkan sudah jam delapan pagi."Alina, kamu sudah bangun, kan?" panggil Nenek lagi, memastikan.Aku menoleh ke arah pintu. "Sudah, Nek..." sahutku dengan suara agak serak khas orang baru bangun tidur."Ya sudah, ayo sarapan. Nenek sudah masak di bawah.""Iya, Nek. Aku mandi dulu sebentar, Nenek duluan saja," ucapku sambil beranjak dari kasur dan mengambil handuk bersih di lemari."Nenek tunggu di bawah, ya."Kudengar langkah kaki Nenek menjauh dan menuruni tangga. Aku pun segera masuk ke kamar mandi. Tak terasa, sudah dua minggu aku tinggal di rumah Nenek. Suasana tenang di sini perlahan membantuku mulai melupakan sedikit demi sedikit masalah yang terjadi di rumah.Namun, saat aku bercermin, pikiranku mendadak







