LOGINSebulan kemudian, aku masih sering kerja sampai larut malam. Malam bulan Oktober di Malawa terasa begitu dingin menusuk tulang. Setelah kunci kantor, aku turun tangga.Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir. Hendri berdiri di sampingnya kenakan jaket panjang, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di jemarinya.Dia datang mendekat."Aku datang ke Malawa untuk cari kamu. Sudah tiga tahun aku cari kamu. Sejak tiba di sini, setiap malam aku berdiri di tempat ini, tunggu kalau-kalau kamu keluar dari gedung itu."Langkahku terhenti."Lama juga kamu tunggunya."Hendri tersenyum getir."Aku sudah tunggu lebih lama dari itu." Tatapannya tembus mataku. "Aku tunggu tiga tahun agar kamu kembali. Aku periksa bandara, stasiun kereta, semua kota yang aku pikir mungkin akan kamu datangi. Aku suruh banyak orang cari kamu, tapi nggak seorang pun temukan jejakmu. Aku benar-benar kira kamu sudah menghilang selamanya.""Seharusnya kamu berhenti cari aku.""Aku nggak bisa."Suaranya terdeng
Tiga tahun kemudian, aku kembali.Suatu sore, aku kembali ke Malawa dan langsung menuju kantorku yang ada di lantai dua sebuah bangunan tua di pusat kota. Dari jendelanya terlihat sebuah alun-alun kecil yang tenang. Aku tutup laptop, rapikan berkas-berkas di meja, lalu kenakan jaket sebelum bersiap pulang.Tiga tahun lalu, saat tinggalkan semuanya, aku hanya bawa sebuah koper. Aku pergi ke Malawa dan daftar kembali ke fakultas hukum. Pada semester pertama, aku tinggal di apartemen tua tanpa lift, dengan sistem pemanas yang sering rusak setiap musim dingin. Aku bungkus tubuhku dengan selimut tebal dan belajar hingga jam tiga dini hari.Waktu masuki semester kedua, aku mulai terima pekerjaan sambilan, terjemahkan dokumen, tinjau kontrak, apa pun yang bisa hasilkan uang. Lalu pada semester ketiga, ada orang yang baca memorandum hukum yang aku tulis dan tawari aku kesempatan untuk terjun ke bidang pengelolaan kekayaan pribadi.Aku terima tawaran itu. Aku peroleh lisensi profesiku. Aku berg
Hendri nggak langsung nyalakan mobil. Kedua tangannya tetap genggam setir kemudi selama beberapa detik, sementara tatapannya kosong tembus kaca depan."Kita akan cari dia," ucapnya perlahan. "Dan saat kita temukan Julia, kamu harus minta maaf."Nina berkedip nggak percaya."Apa? Aku yang urus semuanya. Aku yang rencanakan semuanya. Dia yang hilang. Kenapa justru aku yang harus minta maaf?"Hendri noleh menatapnya."Kamu bilang kamu urus semuanya dengan baik. Tapi kamu nggak tahu dia tinggal di mana. Gaun pengantinnya kamu simpan di rumahmu. Kamu nggak atur periasnya. Kamu bahkan nggak pastikan apa dia akan datang atau nggak. Coba kasih tahu aku, Nina, sebenarnya apa yang sudah kamu urus?"Suara Nina jadi lemah."Periasnya memang dijadwalkan ketemu Julia di lokasi acara. Tapi mereka bilang nggak ada pengantin wanita di sana."Hendri menatapnya lama. Baru saat itu, satu demi satu kenangan bermunculan di benaknya. Setiap kali Julia punya pendapat, Nina selalu datang bawa pendapat yang dia
Hari pernikahan telah ditetapkan pada hari Senin, tiga hari setelah gladi resik itu. Namun selama tiga hari itu nggak ada seorang pun yang hubungi Julia. Nggak ada seorang pun datang jenguk dia. Nggak ada seorang pun yang sadar kalau dia telah berhenti balas semua pesan.Hingga pagi di hari pernikahan akhirnya tiba. Pagi itu, Hendri melirik Nina yang duduk di kursi penumpang."Kakakmu tahu alamat lokasi acaranya, kan?""Tentu saja."Nina rapikan lipatan gaunnya sambil tersenyum."Memang Kakak belum pernah konfirmasi, tapi dia pasti tahu lokasinya."Hendri mengangguk pelan."Kamu memang selalu bisa urus semuanya dengan baik."Mobil mereka melaju masuki kediaman Keluarga Darmawan. Lewati para penjaga di gerbang, serta deretan mobil hitam yang penuhi jalan masuk menuju rumah utama.Hendri jalan paling depan. Nina ikuti satu langkah di belakangnya. Seorang staf segera hampiri."Tuan Hendri, apa pengantin wanita sudah tiba?"Hendri mengernyit."Seharusnya sudah."Dia segera hubungi nomor Ju
Sore itu, aku setir mobil sendiri menuju lokasi pernikahan. Gladi resik akan dilangsungkan di sebuah gereja pribadi yang berada nggak jauh dari kediaman Keluarga Darmawan.Begitu melangkah masuk, orang pertama yang aku lihat bukanlah orang yang atur acara pernikahan ataupun perangkai bunga, melainkan Nina.Dia kenakan gaun satin putih. Gaun pengantinku. Gaun yang aku pilih sendiri dan aku buat khusus setelah habiskan waktu sebulan penuh. Dia berdiri di samping Hendri.Pengatur acara pernikahan sedang bimbing mereka jalani simulasi prosesi masuk. Sementara itu, tangan Hendri bertumpu ringan di pinggang Nina. Keduanya berdiri tepat di tengah gereja, layaknya pengantin pria dan wanita yang sesungguhnya.Aku berhenti di ambang pintu. Nggak seorang pun sadar dengan kedatanganku. Hingga akhirnya pengatur acara pernikahan mendongak. Ekspresinya langsung berubah canggung."Nona Julia, kamu sudah datang."Nina noleh, lalu tersenyum manis."Wah, pas sekali. Aku lagi coba prosesi pernikahan untuk
Aku telepon bagian pengelola properti keluarga dan kasih tahu mereka kalau aku akan kosongkan apartemen itu."Kamu yakin?" tanya petugas di seberang telepon. "Kamu sudah tinggal di sana lebih dari empat tahun."Empat tahun. Saat pertama kali jalin hubungan dengan Hendri, dia mau aku langsung pindah ke kediaman Keluarga Darmawan. Namun Nina bilang nggak pantas bagi seorang wanita Keluarga Basuki tinggal serumah dengan seorang pria sebelum nikah.Aku pikir ucapannya ada benarnya juga. Aku juga mau ruang gerakku sendiri. Karena itu, aku sewa apartemen ini, nggak jauh dari tempat Keluarga Darmawan.Hendri bisa datang kapan saja kalau mau. Dan memang, sesekali dia datang. Kadang dia nginap semalam. Apartemen ini simpan begitu banyak bukti kalau kita pernah saling cinta. Namun tempat ini juga dipenuhi kenangan tentang dirinya yang berkali-kali angkat telepon, lalu pergi terburu-buru, tinggalkan aku sendiri.Petugas itu menghela napas pelan, lalu minta aku tinggalkan kunci di dalam kotak sura







