共有

Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin
Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin
作者: Rosemary

Bab 1

作者: Rosemary
Aku raih tasku dari bangku, lalu dorong pintu hingga terbuka. Bel sensor berdenting pelan, tapi nggak ada seorang pun yang panggil aku.

Aku noleh ke belakang. Nina masih berputar di depan cermin. Gaun pengantin putih yang dia pakai berkilau diterpa cahaya. Hendri berdiri di belakangnya, dengan telaten benarkan tali gaun di punggungnya.

Fotografer angkat kameranya.

"Ya, bagus. Pertahankan pose itu."

Suara kamera bunyi berkali-kali, seolah nggak ingin lewatkan satu momen pun. Aku palingkan wajah dan melangkah keluar. Begitu masuk ke dalam mobil, HP-ku bergetar.

Sebuah pesan dari Hendri muncul di layar.

[Kamu ke mana? Sebentar lagi kita mau pilih bunga. Nanti aku susul cari kamu."

Aku menatap pesan itu cukup lama. Dia memang tanya aku pergi ke mana. Namun bahkan sebelum dapatkan jawabanku, pikirannya sudah sibuk dengan urusan berikutnya.

Aku ketik singkat.

[Apa pun yang Nina pilih nggak masalah.]

Nggak lama kemudian balasannya datang.

[Oke. Biar dia saja yang putuskan.]

Aku letakkan HP di sampingku. Mobil itu begitu sunyi. Sunyi hingga suara napasku sendiri terdengar jelas. Tarikan napas demi tarikan napas. Sambil hitung sudah berapa kali aku dilupakan, berapa kali aku disingkirkan. Belum sempat benar-benar letakkan HP, notifikasi kembali berdatangan. Fotografer mulai unggah hasil pemotretan ke grup keluarga yang dibuat khusus untuk persiapan pernikahan. Aku buka salah satunya. Di dalam foto itu, cahaya jatuh begitu sempurna pada Nina dan Hendri. Mereka tampak seperti pasangan yang baru keluar dari sampul majalah pengantin.

Saat masih kecil, ketika main pura-pura nikah bersama teman-teman, aku selalu iri ke gadis yang dapat peran jadi pengantin wanita. Ketika ketemu Hendri, aku sempat berpikir akhirnya, aku akan jadi pengantin itu. Aku curahkan seluruh hati dan tenagaku untuk persiapkan pernikahan ini. Aku perhatikan setiap detail sekecil apa pun.

Seolah hanya dengan cara itu aku bisa buktikan kalau aku juga pantas jadi pusat perhatian, walau hanya sekali dalam hidup. Namun, aku nggak pernah nyangka pada akhirnya aku tetap jadi orang yang ada di luar bingkai foto.

Aku ajak Nina datang karena dia adalah orang yang paling dekat dengan aku. Lagian, sesi coba gaun pengantin adalah momen yang penting. Di dalam foto hanya boleh ada satu pengantin wanita, dan orang itu adalah aku.

Seharusnya nggak ada yang bisa salah. Namun kenyataannya semua justru berjalan di luar dugaan. Layar HP-ku terus nyala lalu redup. Nyala lagi, lalu redup kembali. Pesan demi pesan penuhi grup, aku nggak balas satu pun. Dan nggak seorang pun sadar dengan keheninganku.

Aku setir mobil pulang menuju apartemen. Di pintu kulkas masih tertempel secarik memo kecil.

[7 hari lagi menuju hari pernikahan.]

Aku lepaskan itu perlahan, remas itu hingga kusut, lalu buang ke tempat sampah.

...

Keesokan paginya, begitu buka HP, grup persiapan pernikahan telah dipenuhi lebih dari sembilan puluh sembilan pesan.

Nina kirim sebuah pesan suara. Aku tekan itu.

"Kak, aku sudah ganti lokasi pernikahanmu. Tempat yang lama terlalu jauh. Para tetua keluarga pasti akan kesulitan untuk datang. Aku sudah temukan tempat yang lebih bagus, tepat di sebelah kediaman Keluarga Darmawan. Keluarga Darmawan sangat hargai kemudahan. Kita nggak boleh buat mereka anggap Keluarga Basuki nggak tahu gimana caranya urus acara."

Hendri balas singkat.

[Tempat yang lama memang kurang praktis.]

Tempat lama itu adalah lokasi yang aku pilih sendiri setelah habiskan waktu dua bulan penuh. Hendri tahu, Nina juga tahu, namun mereka tetap putuskan kalau tempat itu terlalu jauh.

Nina kembali ketik.

[Kakakku memang nggak terlalu pintar urus hal-hal seperti ini. Biar aku dan Hendri saja yang urus semuanya.]

Hendri hanya balas dengan satu kata.

[Iya.]

Aku menatap satu kata itu tanpa gerak. Sementara pesan-pesan lain terus berdatangan. Nggak seorang pun sadar kalau aku belum bilang apa-apa. Barulah aku ngerti pernikahan ini memang nggak pernah sediakan ruang bagi suaraku.

Aku buka ruang obrolan pribadiku dengan Hendri. Pesan terakhir kita berasal dari hari saat coba gaun pengantin. Saat itu aku bilang kalau aku gugup.

Dia balas: [Kamu pakai apa pun pasti cantik.]

Cuma itu. Dia nggak pernah tanya kenapa aku pulang lebih dulu. Nggak pernah kirim satu pesan pun untuk pastikan apa aku baik-baik saja. Di grup semalam, dia hanya sempat tanya: [Kenapa kamu pulang duluan? Gugup?]

Nggak ada yang jawab. Lalu topik itu berlalu begitu saja. Nggak lama kemudian, Nina unggah sebuah foto. Keterangan fotonya berbunyi: [Fitting gaun selesai. Lokasi pernikahan sudah dipastikan.]

Setelah itu, pembicaraan langsung beralih ke menu hidangan, susunan tempat duduk, hingga pengaturan keamanan.

Saat itulah aku benar-benar sadar. Aku bukan hanya nggak dibutuhkan, karena seseorang yang nggak dibutuhkan setidaknya pernah dianggap ada. Sedangkan aku rasanya sejak awal sudah nggak dianggap ada.

Saat sedang bereskan barang-barang, Nina lakukan panggilan video. Aku angkat panggilan itu. Di layar, seseorang sedang rias wajahnya.

"Kak, kemarin Kakak belum sempat pilih perias. Jadi aku sudah sewa satu tim khusus untuk kamu. Sekarang mereka sedang coba hasil riasannya ke aku lebih dulu."

Aku pandang Nina melalui layar HP. Ada begitu banyak kata yang ingin aku ucapkan. Aku mau kasih tahu dia kalau aku sudah minta seorang teman untuk rias wajahku. Aku juga mau tanya apa pernah satu saja keputusan yang mereka ambil atas namaku benar-benar ditanyakan ke aku lebih dahulu? Namun, rasanya semua sia-sia. Aku pernah tanya. Aku pernah sampaikan keberatanku, aku pernah tolak. Tetapi nggak ada satu pun yang ubah keadaan. Mereka selalu bilang kalimat yang sama.

"Kamu kan kakak. Kamu harus ngalah. Seorang wanita Keluarga Basuki nggak boleh berpikiran sempit."

Saat pertama kali kejar aku, Hendri bilang dia suka sifatku yang pendiam. Saat itu aku benar-benar percaya dia cinta aku apa adanya. Namun setelah Nina kembali, dia berubah. Dia mulai bilang kalau seorang wanita seharusnya lebih terbuka, lebih tegas, lebih mampu jaga martabat keluarga.

Suatu hari, akhirnya aku nggak sanggup tahan semuanya lagi.

Aku tanya, "Bisa nggak kamu jangan terlalu dekat dengan Nina?"

Selama ini aku selalu sayang dengan adikku. Hendri seharusnya tahu aku bukan sedang cari-cari masalah. Namun dia hanya tersenyum. Tangannya usap pelan rambutku.

"Dia itu adikmu. Setelah nikah dengan aku, kamu akan jadi Nyonya Keluarga Darmawan. Seorang Nyonya Keluarga Darmawan harus punya kebesaran hati. Jangan sampai orang-orang bilang putri Keluarga Basuki nggak bisa toleransi sama adiknya sendiri."

Seorang Nyonya Keluarga Darmawan harus punya kebesaran hati. Kalimat itu rasanya seperti sebongkah batu yang menindih dadaku. Mereka lupa kalau aku cuma dua tahun lebih tua dibanding Nina. Aku juga bisa capek. Aku juga ingin ada orang yang tanya apa yang aku sukai, atau sekadar tanya apa kamu capek?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 7

    Sebulan kemudian, aku masih sering kerja sampai larut malam. Malam bulan Oktober di Malawa terasa begitu dingin menusuk tulang. Setelah kunci kantor, aku turun tangga.Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir. Hendri berdiri di sampingnya kenakan jaket panjang, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di jemarinya.Dia datang mendekat."Aku datang ke Malawa untuk cari kamu. Sudah tiga tahun aku cari kamu. Sejak tiba di sini, setiap malam aku berdiri di tempat ini, tunggu kalau-kalau kamu keluar dari gedung itu."Langkahku terhenti."Lama juga kamu tunggunya."Hendri tersenyum getir."Aku sudah tunggu lebih lama dari itu." Tatapannya tembus mataku. "Aku tunggu tiga tahun agar kamu kembali. Aku periksa bandara, stasiun kereta, semua kota yang aku pikir mungkin akan kamu datangi. Aku suruh banyak orang cari kamu, tapi nggak seorang pun temukan jejakmu. Aku benar-benar kira kamu sudah menghilang selamanya.""Seharusnya kamu berhenti cari aku.""Aku nggak bisa."Suaranya terdeng

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 6

    Tiga tahun kemudian, aku kembali.Suatu sore, aku kembali ke Malawa dan langsung menuju kantorku yang ada di lantai dua sebuah bangunan tua di pusat kota. Dari jendelanya terlihat sebuah alun-alun kecil yang tenang. Aku tutup laptop, rapikan berkas-berkas di meja, lalu kenakan jaket sebelum bersiap pulang.Tiga tahun lalu, saat tinggalkan semuanya, aku hanya bawa sebuah koper. Aku pergi ke Malawa dan daftar kembali ke fakultas hukum. Pada semester pertama, aku tinggal di apartemen tua tanpa lift, dengan sistem pemanas yang sering rusak setiap musim dingin. Aku bungkus tubuhku dengan selimut tebal dan belajar hingga jam tiga dini hari.Waktu masuki semester kedua, aku mulai terima pekerjaan sambilan, terjemahkan dokumen, tinjau kontrak, apa pun yang bisa hasilkan uang. Lalu pada semester ketiga, ada orang yang baca memorandum hukum yang aku tulis dan tawari aku kesempatan untuk terjun ke bidang pengelolaan kekayaan pribadi.Aku terima tawaran itu. Aku peroleh lisensi profesiku. Aku berg

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 5

    Hendri nggak langsung nyalakan mobil. Kedua tangannya tetap genggam setir kemudi selama beberapa detik, sementara tatapannya kosong tembus kaca depan."Kita akan cari dia," ucapnya perlahan. "Dan saat kita temukan Julia, kamu harus minta maaf."Nina berkedip nggak percaya."Apa? Aku yang urus semuanya. Aku yang rencanakan semuanya. Dia yang hilang. Kenapa justru aku yang harus minta maaf?"Hendri noleh menatapnya."Kamu bilang kamu urus semuanya dengan baik. Tapi kamu nggak tahu dia tinggal di mana. Gaun pengantinnya kamu simpan di rumahmu. Kamu nggak atur periasnya. Kamu bahkan nggak pastikan apa dia akan datang atau nggak. Coba kasih tahu aku, Nina, sebenarnya apa yang sudah kamu urus?"Suara Nina jadi lemah."Periasnya memang dijadwalkan ketemu Julia di lokasi acara. Tapi mereka bilang nggak ada pengantin wanita di sana."Hendri menatapnya lama. Baru saat itu, satu demi satu kenangan bermunculan di benaknya. Setiap kali Julia punya pendapat, Nina selalu datang bawa pendapat yang dia

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 4

    Hari pernikahan telah ditetapkan pada hari Senin, tiga hari setelah gladi resik itu. Namun selama tiga hari itu nggak ada seorang pun yang hubungi Julia. Nggak ada seorang pun datang jenguk dia. Nggak ada seorang pun yang sadar kalau dia telah berhenti balas semua pesan.Hingga pagi di hari pernikahan akhirnya tiba. Pagi itu, Hendri melirik Nina yang duduk di kursi penumpang."Kakakmu tahu alamat lokasi acaranya, kan?""Tentu saja."Nina rapikan lipatan gaunnya sambil tersenyum."Memang Kakak belum pernah konfirmasi, tapi dia pasti tahu lokasinya."Hendri mengangguk pelan."Kamu memang selalu bisa urus semuanya dengan baik."Mobil mereka melaju masuki kediaman Keluarga Darmawan. Lewati para penjaga di gerbang, serta deretan mobil hitam yang penuhi jalan masuk menuju rumah utama.Hendri jalan paling depan. Nina ikuti satu langkah di belakangnya. Seorang staf segera hampiri."Tuan Hendri, apa pengantin wanita sudah tiba?"Hendri mengernyit."Seharusnya sudah."Dia segera hubungi nomor Ju

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 3

    Sore itu, aku setir mobil sendiri menuju lokasi pernikahan. Gladi resik akan dilangsungkan di sebuah gereja pribadi yang berada nggak jauh dari kediaman Keluarga Darmawan.Begitu melangkah masuk, orang pertama yang aku lihat bukanlah orang yang atur acara pernikahan ataupun perangkai bunga, melainkan Nina.Dia kenakan gaun satin putih. Gaun pengantinku. Gaun yang aku pilih sendiri dan aku buat khusus setelah habiskan waktu sebulan penuh. Dia berdiri di samping Hendri.Pengatur acara pernikahan sedang bimbing mereka jalani simulasi prosesi masuk. Sementara itu, tangan Hendri bertumpu ringan di pinggang Nina. Keduanya berdiri tepat di tengah gereja, layaknya pengantin pria dan wanita yang sesungguhnya.Aku berhenti di ambang pintu. Nggak seorang pun sadar dengan kedatanganku. Hingga akhirnya pengatur acara pernikahan mendongak. Ekspresinya langsung berubah canggung."Nona Julia, kamu sudah datang."Nina noleh, lalu tersenyum manis."Wah, pas sekali. Aku lagi coba prosesi pernikahan untuk

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 2

    Aku telepon bagian pengelola properti keluarga dan kasih tahu mereka kalau aku akan kosongkan apartemen itu."Kamu yakin?" tanya petugas di seberang telepon. "Kamu sudah tinggal di sana lebih dari empat tahun."Empat tahun. Saat pertama kali jalin hubungan dengan Hendri, dia mau aku langsung pindah ke kediaman Keluarga Darmawan. Namun Nina bilang nggak pantas bagi seorang wanita Keluarga Basuki tinggal serumah dengan seorang pria sebelum nikah.Aku pikir ucapannya ada benarnya juga. Aku juga mau ruang gerakku sendiri. Karena itu, aku sewa apartemen ini, nggak jauh dari tempat Keluarga Darmawan.Hendri bisa datang kapan saja kalau mau. Dan memang, sesekali dia datang. Kadang dia nginap semalam. Apartemen ini simpan begitu banyak bukti kalau kita pernah saling cinta. Namun tempat ini juga dipenuhi kenangan tentang dirinya yang berkali-kali angkat telepon, lalu pergi terburu-buru, tinggalkan aku sendiri.Petugas itu menghela napas pelan, lalu minta aku tinggalkan kunci di dalam kotak sura

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status