Share

Bab 3

Author: Rosemary
Sore itu, aku setir mobil sendiri menuju lokasi pernikahan. Gladi resik akan dilangsungkan di sebuah gereja pribadi yang berada nggak jauh dari kediaman Keluarga Darmawan.

Begitu melangkah masuk, orang pertama yang aku lihat bukanlah orang yang atur acara pernikahan ataupun perangkai bunga, melainkan Nina.

Dia kenakan gaun satin putih. Gaun pengantinku. Gaun yang aku pilih sendiri dan aku buat khusus setelah habiskan waktu sebulan penuh. Dia berdiri di samping Hendri.

Pengatur acara pernikahan sedang bimbing mereka jalani simulasi prosesi masuk. Sementara itu, tangan Hendri bertumpu ringan di pinggang Nina. Keduanya berdiri tepat di tengah gereja, layaknya pengantin pria dan wanita yang sesungguhnya.

Aku berhenti di ambang pintu. Nggak seorang pun sadar dengan kedatanganku. Hingga akhirnya pengatur acara pernikahan mendongak. Ekspresinya langsung berubah canggung.

"Nona Julia, kamu sudah datang."

Nina noleh, lalu tersenyum manis.

"Wah, pas sekali. Aku lagi coba prosesi pernikahan untuk Kakak. Tadi siang Kakak nggak balas pesan, jadi pengatur acara pernikahan khawatir jadwalnya terlambat. Karena itu aku gantikan Kakak untuk latihan dulu. Lagian ukuran tubuh kita hampir sama."

Tatapanku jatuh pada gaun yang dikenakannya.

"Kenapa kamu pakai gaun pengantinku?"

Nina menunduk sebentar lihat gaun itu. Nada bicaranya tetap santai.

"Bukannya ukuran tubuh kita sama? Aku cuma mau lihat gimana hasilnya kalau dipakai."

Hendri nggak lepaskan tangannya dari pinggang Nina. Dia hanya berkata datar, "Ini cuma latihan. Nggak usah terlalu dipikirkan."

Ibuku yang berdiri nggak jauh dari sana ikut angkat bicara dengan suara lembut, "Biarkan Nina coba lebih dulu. Dia lebih terbiasa hadiri acara seperti ini. Dengan gitu besok kamu nggak akan lakukan kesalahan karena gugup."

Aku pandang Ibuku, lalu alihkan pandangan ke tangan Hendri yang masih tetap ada di pinggang Nina.

"Aku sudah datang."

Suaraku terdengar tenang. Gereja mendadak sunyi, namun nggak seorang pun minta Nina turun dari posisi itu.

Pengatur acara pernikahan serahkan lembar susunan acara ke aku. Aku buka itu. Tiga hal telah diubah. Musik prosesi yang aku pilih diganti jadi alunan jazz. Janji pernikahan yang aku tulis sendiri dihapus dan diganti jadi kalimat-kalimat umum. Bahkan, nama Nina tercantum lebih dulu daripada namaku.

"Siapa yang ubah semua ini?"

Nina jawab dengan lembut, "Aku. Musik yang Kakak pilih terlalu resmi. Besok sebagian besar tamunya berasal dari Keluarga Darmawan dan para tetua keluarga. Menurutku suasana yang lebih santai akan lebih cocok."

Ibu mengangguk setuju.

"Nina benar. Kamu memang nggak terbiasa atur acara seperti ini. Dia lebih ngerti."

Sekilas Hendri bolak-balik lembar susunan acara itu.

"Perubahannya nggak masalah kok. Besok kita pakai yang ini saja."

"Kamu bahkan nggak tanya pendapatku."

Aku menatapnya lurus.

"Nina cuma mau bantu kamu, Julia," jawabnya tenang. "Hal-hal seperti ini memang bukan keahlianmu."

"Kembalikan musiknya seperti dulu." Aku bicara tanpa ragu. "Gunakan janji pernikahanku. Lalu, Nina nggak akan jalan lebih duluan dibanding aku."

Suasana di dalam gereja kembali membeku. Mata Nina perlahan jadi merah.

"Aku cuma mau bantu ...."

"Aku tahu."

Tatapanku tetap tenang.

"Tapi aku nggak butuh orang lain nikah gantikan aku."

Wajah Nina langsung jadi pucat. Ibu segera hampiri dan rangkul bahunya. Dia menghela napas pelan.

"Julia, niat Nina itu baik. Dia itu rapuh. Selama seminggu ini dia sudah ke sana sini bantu kamu urus pernikahan. Kenapa kamu harus buat dia merasa bersalah seperti ini?"

Ayah ikut bicara. Nada suaranya nggak keras, tetapi tegas.

"Dia nggak sekuat kamu. Apa kamu nggak bisa maklumi dia sedikit saja?"

Hendri datang mendekat. Suaranya sengaja direndahkan.

"Ini cuma gladi resik. Banyak anggota Keluarga Darmawan yang sedang lihat. Apa pun yang kamu mau bilang, bicarakan nanti saja."

"Jadi, hanya karena aku mau ambil alih kembali pernikahanku sendiri, kamu merasa malu?"

Hendri nggak jawab. Dia cuma berkata singkat, "Kita selesaikan latihan ini dulu."

Saat itulah Nina mundur beberapa langkah, seolah gugup karena suasana yang memanas. Nggak sengaja tubuhnya tabrak sebuah penyangga rangkaian bunga. Penyangga itu bergoyang hebat. Refleks aku ulurkan tangan untuk tahan itu. Namun tiba-tiba Nina putar tubuhnya, dan tarik aku sampai aku hilang keseimbangan.

Bruk!

Penyangga bunga itu roboh tepat ke arahku. Rangka besinya hantam tulang rusukku dengan keras. Rasa sakit yang tajam langsung menjalar ke seluruh sisi tubuhku. Begitu sakit sampai aku sulit bernapas. Tubuhku terjatuh keras ke lantai. Nina ikut jatuh di sampingku.

Telapak tangannya bergesekan dengan karpet. Kulitnya tergores. Setitik darah perlahan muncul dari luka kecil itu. Dalam sekejap semua orang lari hampiri Nina. Hendri langsung berlutut di sampingnya. Dia periksa telapak tangan Nina dengan wajah cemas.

"Kamu berdarah."

Ibu segera genggam pergelangan tangan Nina.

"Apa ada bagian lain yang sakit?"

Ayah langsung panggil dokter keluarga. Para pengawal bergerak cepat kosongkan area. Nggak seorang pun noleh ke aku. Aku coba bangkit, namun rasa nyeri di tulang rusukku buat aku hampir nggak bisa gerak. Napas yang keluar hanya berupa embusan-embusan pendek dan berat.

Baru setelah beberapa saat Hendri akhirnya noleh. Dia lihat aku masih terduduk di lantai. Wajahku pucat, lenganku gemetar saat berusaha topang tubuhku sendiri.

Sesaat, ada sesuatu yang berkelebat di matanya. Rasa khawatir. Hanya sesaat.

"Julia ...."

Dia baru saja hendak panggil namaku, namun Nina tiba-tiba meringkuk semakin dekat ke pelukannya. Suaranya bergetar.

"Hendri, sakit. Kakak tadi tarik aku. Aku beneran nggak sengaja jatuh."

Tatapan Hendri kembali beralih ke dia. Hendri angkat tubuh Nina dengan hati-hati. Lalu kembali periksa luka kecil di telapak tangannya.

Ibu menghela napas.

"Selama seminggu ini Nina sudah kerja keras urus pernikahan. Dia pasti kecapekan. Sekarang dia malah terluka."

Ibu melirikku. Nada suaranya dipenuhi rasa kecewa.

"Julia, dia cuma mau bantu kamu. Kenapa kamu selalu buat semuanya jadi rumit?"

Ayah kembali tambahkan, "Nina itu rapuh. Apa kamu nggak bisa lebih pikirkan dia sedikit saja?"

Aku paksa diriku berdiri. Setiap gerakan buat tulang rusukku rasanya seperti diremukkan. Namun, nggak seorang pun sadar. Hendri gendong Nina ke dalam pelukannya.

"Aku akan bawa dia ke rumah sakit."

Sesaat kemudian dia menatapku. Nada suaranya sedikit lunak.

"Kamu pulang saja dan istirahat dulu. Nanti kita bicara lagi."

Ibu langsung ikuti langkahnya keluar. Ayah sudah lebih dulu telepon dokter keluarga. Gereja itu perlahan jadi kosong. Lampu-lampunya masih tetap menyala terang. Aku berdiri sendirian di tengah ruangan.

Satu tangan tekan tulang rusukku yang terasa nyeri. Aku bernapas perlahan tahan sakit. Tatapanku jatuh pada lembaran susunan acara yang masih aku genggam. Sekarang di atas kertas itu terdapat bercak-bercak darah.

Selama bertahun-tahun, aku diajarkan untuk selalu ngalah. Ngalah demi Nina. Ngalah biar kedua orang tuaku nggak kecewa. Ngalah demi bayangan Hendri tentang seperti apa seharusnya seorang Nyonya Keluarga Darmawan.

Tetapi, nggak lagi. Sekarang aku nggak akan noleh ke belakang. Aku nggak mau pernikahan ini lagi. Aku nggak mau marga Keluarga Darmawan lagi. Aku nggak mau keluarga yang hanya ingat keberadaanku waktu mereka butuh seseorang untuk disalahkan. Dan aku juga nggak mau Hendri Darmawan lagi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 7

    Sebulan kemudian, aku masih sering kerja sampai larut malam. Malam bulan Oktober di Malawa terasa begitu dingin menusuk tulang. Setelah kunci kantor, aku turun tangga.Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir. Hendri berdiri di sampingnya kenakan jaket panjang, sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di jemarinya.Dia datang mendekat."Aku datang ke Malawa untuk cari kamu. Sudah tiga tahun aku cari kamu. Sejak tiba di sini, setiap malam aku berdiri di tempat ini, tunggu kalau-kalau kamu keluar dari gedung itu."Langkahku terhenti."Lama juga kamu tunggunya."Hendri tersenyum getir."Aku sudah tunggu lebih lama dari itu." Tatapannya tembus mataku. "Aku tunggu tiga tahun agar kamu kembali. Aku periksa bandara, stasiun kereta, semua kota yang aku pikir mungkin akan kamu datangi. Aku suruh banyak orang cari kamu, tapi nggak seorang pun temukan jejakmu. Aku benar-benar kira kamu sudah menghilang selamanya.""Seharusnya kamu berhenti cari aku.""Aku nggak bisa."Suaranya terdeng

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 6

    Tiga tahun kemudian, aku kembali.Suatu sore, aku kembali ke Malawa dan langsung menuju kantorku yang ada di lantai dua sebuah bangunan tua di pusat kota. Dari jendelanya terlihat sebuah alun-alun kecil yang tenang. Aku tutup laptop, rapikan berkas-berkas di meja, lalu kenakan jaket sebelum bersiap pulang.Tiga tahun lalu, saat tinggalkan semuanya, aku hanya bawa sebuah koper. Aku pergi ke Malawa dan daftar kembali ke fakultas hukum. Pada semester pertama, aku tinggal di apartemen tua tanpa lift, dengan sistem pemanas yang sering rusak setiap musim dingin. Aku bungkus tubuhku dengan selimut tebal dan belajar hingga jam tiga dini hari.Waktu masuki semester kedua, aku mulai terima pekerjaan sambilan, terjemahkan dokumen, tinjau kontrak, apa pun yang bisa hasilkan uang. Lalu pada semester ketiga, ada orang yang baca memorandum hukum yang aku tulis dan tawari aku kesempatan untuk terjun ke bidang pengelolaan kekayaan pribadi.Aku terima tawaran itu. Aku peroleh lisensi profesiku. Aku berg

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 5

    Hendri nggak langsung nyalakan mobil. Kedua tangannya tetap genggam setir kemudi selama beberapa detik, sementara tatapannya kosong tembus kaca depan."Kita akan cari dia," ucapnya perlahan. "Dan saat kita temukan Julia, kamu harus minta maaf."Nina berkedip nggak percaya."Apa? Aku yang urus semuanya. Aku yang rencanakan semuanya. Dia yang hilang. Kenapa justru aku yang harus minta maaf?"Hendri noleh menatapnya."Kamu bilang kamu urus semuanya dengan baik. Tapi kamu nggak tahu dia tinggal di mana. Gaun pengantinnya kamu simpan di rumahmu. Kamu nggak atur periasnya. Kamu bahkan nggak pastikan apa dia akan datang atau nggak. Coba kasih tahu aku, Nina, sebenarnya apa yang sudah kamu urus?"Suara Nina jadi lemah."Periasnya memang dijadwalkan ketemu Julia di lokasi acara. Tapi mereka bilang nggak ada pengantin wanita di sana."Hendri menatapnya lama. Baru saat itu, satu demi satu kenangan bermunculan di benaknya. Setiap kali Julia punya pendapat, Nina selalu datang bawa pendapat yang dia

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 4

    Hari pernikahan telah ditetapkan pada hari Senin, tiga hari setelah gladi resik itu. Namun selama tiga hari itu nggak ada seorang pun yang hubungi Julia. Nggak ada seorang pun datang jenguk dia. Nggak ada seorang pun yang sadar kalau dia telah berhenti balas semua pesan.Hingga pagi di hari pernikahan akhirnya tiba. Pagi itu, Hendri melirik Nina yang duduk di kursi penumpang."Kakakmu tahu alamat lokasi acaranya, kan?""Tentu saja."Nina rapikan lipatan gaunnya sambil tersenyum."Memang Kakak belum pernah konfirmasi, tapi dia pasti tahu lokasinya."Hendri mengangguk pelan."Kamu memang selalu bisa urus semuanya dengan baik."Mobil mereka melaju masuki kediaman Keluarga Darmawan. Lewati para penjaga di gerbang, serta deretan mobil hitam yang penuhi jalan masuk menuju rumah utama.Hendri jalan paling depan. Nina ikuti satu langkah di belakangnya. Seorang staf segera hampiri."Tuan Hendri, apa pengantin wanita sudah tiba?"Hendri mengernyit."Seharusnya sudah."Dia segera hubungi nomor Ju

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 3

    Sore itu, aku setir mobil sendiri menuju lokasi pernikahan. Gladi resik akan dilangsungkan di sebuah gereja pribadi yang berada nggak jauh dari kediaman Keluarga Darmawan.Begitu melangkah masuk, orang pertama yang aku lihat bukanlah orang yang atur acara pernikahan ataupun perangkai bunga, melainkan Nina.Dia kenakan gaun satin putih. Gaun pengantinku. Gaun yang aku pilih sendiri dan aku buat khusus setelah habiskan waktu sebulan penuh. Dia berdiri di samping Hendri.Pengatur acara pernikahan sedang bimbing mereka jalani simulasi prosesi masuk. Sementara itu, tangan Hendri bertumpu ringan di pinggang Nina. Keduanya berdiri tepat di tengah gereja, layaknya pengantin pria dan wanita yang sesungguhnya.Aku berhenti di ambang pintu. Nggak seorang pun sadar dengan kedatanganku. Hingga akhirnya pengatur acara pernikahan mendongak. Ekspresinya langsung berubah canggung."Nona Julia, kamu sudah datang."Nina noleh, lalu tersenyum manis."Wah, pas sekali. Aku lagi coba prosesi pernikahan untuk

  • Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin   Bab 2

    Aku telepon bagian pengelola properti keluarga dan kasih tahu mereka kalau aku akan kosongkan apartemen itu."Kamu yakin?" tanya petugas di seberang telepon. "Kamu sudah tinggal di sana lebih dari empat tahun."Empat tahun. Saat pertama kali jalin hubungan dengan Hendri, dia mau aku langsung pindah ke kediaman Keluarga Darmawan. Namun Nina bilang nggak pantas bagi seorang wanita Keluarga Basuki tinggal serumah dengan seorang pria sebelum nikah.Aku pikir ucapannya ada benarnya juga. Aku juga mau ruang gerakku sendiri. Karena itu, aku sewa apartemen ini, nggak jauh dari tempat Keluarga Darmawan.Hendri bisa datang kapan saja kalau mau. Dan memang, sesekali dia datang. Kadang dia nginap semalam. Apartemen ini simpan begitu banyak bukti kalau kita pernah saling cinta. Namun tempat ini juga dipenuhi kenangan tentang dirinya yang berkali-kali angkat telepon, lalu pergi terburu-buru, tinggalkan aku sendiri.Petugas itu menghela napas pelan, lalu minta aku tinggalkan kunci di dalam kotak sura

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status