Share

Bab 4

Author: Auraz
Begitu kalimat itu dilontarkan, seluruh aula menjadi sunyi senyap.

Hanya Samara yang tertawa. Dia berbalik menghadap Asher, lalu berkata dengan nada panjang dan penuh makna.

"Asher, sepertinya pacarmu sangat berharap kamu bisa mewujudkan keinginannya tahun ini. Kamu harus cepat. Jangan lupa undang aku ke pesta pernikahanmu."

Wajah Asher yang semula tertegun perlahan berubah menjadi muram karena kalimat itu. Kathleen tahu dia marah. Dia hendak menjelaskan, tetapi Asher sudah memotongnya.

"Samara! Kamu merasa ini menyenangkan? Apa kamu harus membuatku hancur baru puas? Kamu jelas tahu ...."

Teguran penuh amarah itu bukan ditujukan pada Kathleen, melainkan pada Samara yang baru saja menggoda tadi.

Melihat ekspresinya yang penuh kemarahan tetapi seolah-olah menahan kata-kata, semua orang sebenarnya tahu apa yang membuatnya marah. Dia marah karena Samara berpura-pura tidak tahu, sekali lagi menginjak-injak perasaannya.

Suasana di tempat itu menjadi sangat dingin. Asher menendang kursi di sampingnya hingga terbalik, mengambil kunci mobilnya, lalu langsung membanting pintu dan pergi.

Pesta ulang tahun yang awalnya baik-baik saja pun berakhir dengan tidak menyenangkan. Melihat orang-orang di sekitar mulai berkata bahwa acara sudah bubar, Kathleen menunduk, mengambil tasnya, lalu pergi ke kamar kecil.

Ketika dia keluar lagi, para tamu sudah pergi. Dari koridor terdengar suara pertengkaran yang sengit.

"Samara, kamu benar-benar keterlaluan hari ini! Kamu tahu nggak, berapa lama Asher menyiapkan acara ulang tahun ini? Kenapa kamu harus merusak niat baiknya dan mengatakan hal seperti itu di depan semua orang sampai membuatnya marah?"

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Pacarnya saja bilang ingin menikah. Kalau bukan dengan Asher, memangnya dengan siapa lagi?"

"Sial! Apa gunanya kamu mengatakan hal-hal seperti itu? Asher selalu menyukaimu. Dulu kamu menolaknya dengan satu kalimat dan melukainya sampai dia menjadi playboy yang menjalani hidup sembarangan."

"Terus ketika kamu memanggilnya lagi, dia kembali padamu. Tapi kamu bilang dia nggak setia, jadi dia menuruti perkataanmu dan menjalin hubungan dengan wanita itu. Apa lagi yang kamu inginkan? Ketulusannya bukan untuk kamu injak-injak seperti ini!"

"Aku nggak menginginkan apa-apa. Aku hanya belum pernah lihat dia begitu setia pada seseorang, jadi aku ingin lihat sampai sejauh apa dia bisa melakukannya untukku. Lagi pula, dia juga melakukannya dengan sukarela. Kenapa kamu yang malah repot memikirkannya ...."

Itu adalah Samara yang sedang bertengkar dengan sahabat masa kecil Asher.

Kathleen sebenarnya tidak berniat menguping obrolan pribadi mereka. Namun, dia tetap tidak bisa menahan diri untuk berpikir, jika Asher mendengar kata-kata ini, seperti apa ekspresinya nanti?

Apakah dia akan merasa sakit hati? Apakah dia akan merasakan sakit yang sama seperti dirinya ketika mengetahui kebenaran?

Di antara dirinya dan Asher, Asher selalu berada di posisi yang mengendalikan segalanya. Selama dia menunjukkan sedikit saja perhatian, emosi Kathleen akan langsung naik turun karenanya.

Namun, di antara Asher dan Samara, justru Asher yang berada di posisi pasif. Selama Samara dengan santai berkata bahwa dia tidak peduli, Asher akan langsung runtuh.

Ya. Orang yang menyia-nyiakan ketulusan harus menelan sepuluh ribu jarum.

Kathleen berbalik, lalu turun melalui tangga darurat di sisi lain. Setelah pulang ke rumah, dia mengambil kue yang diletakkan di dekat pintu dan merayakan ulang tahunnya sendiri sekali lagi.

Kue berukuran enam inci itu hanya dimakannya setengah, lalu dia pergi beristirahat.

Keesokan siangnya, dia terbangun karena suara ketukan pintu. Dia mengucek matanya dan bangun untuk membuka pintu.

Itu adalah Asher. Setelah semalam tidak bertemu, tampaknya amarahnya belum sepenuhnya hilang. Wajahnya terlihat tidak terlalu baik.

Namun, ketika bertemu dengan tatapan Kathleen, dia segera memaksakan senyuman yang agak kaku, lalu mengeluarkan sebuah gelang berlian dari sakunya.

"Selamat ulang tahun. Ini hadiah ulang tahunmu. Kemarin aku minum terlalu banyak, jadi lupa kasih."

Kathleen hanya melihatnya sekilas, lalu langsung mengenali bahwa gelang itu satu set dengan kalung yang dipakai Samara tadi malam.

Asher tidak menyukainya, jadi hanya memberikannya gelang itu. Dengan begitu, dia tidak perlu repot-repot memilih hadiah. Kira-kira maksudnya begitu, 'kan?

Melihat Kathleen tetap diam, Asher mengira dia tidak menyukainya, lalu cepat-cepat menambahkan beberapa kata, "Kamu tidak suka? Kalau begitu, beli saja sendiri apa yang kamu mau. Pakai kartuku."

Kathleen menggeleng, lalu mengulurkan tangan untuk menerimanya dan meletakkannya begitu saja di meja dekat pintu. "Aku suka. Nggak perlu repot-repot."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 25

    Pernikahan Kathleen dan Arthur dipilih pada akhir musim gugur. Katanya itu hari baik yang sangat membawa keberuntungan untuk segala hal.Sehari sebelumnya, Asher sudah terbang ke Kota Jayapa dan duduk sendirian di hotel sepanjang malam.Keesokan harinya pukul 10 pagi, dia mengenakan setelan jas dan pergi sendirian ke lokasi pernikahan.Orang yang menerima hadiah berasal dari pihak keluarga Kathleen dan tidak mengenalnya, lalu menanyakan namanya.Asher tidak menyebutkan namanya, hanya mengatakan bahwa itu adalah hadiah bersama dari teman sekelas dan cukup ditulis sebagai teman sekelas SMA.Setelah melihat kata-kata itu dituliskan, Asher mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya. Di tengah tatapan heran orang-orang, dia berkata dengan tenang, "Kata sandinya Kathleen tahu. Tolong sampaikan padanya agar dia benar-benar menerimanya. Ini sedikit niat baik dari teman lama kami. Semoga dia bahagia."Pernikahan diadakan di hotel di lereng gunung. Aula dipenuhi lautan mawar merah muda. Di mana-mana

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 24

    Asher tidak mau mendengarkan nasihat dan bersikeras berdiri kehujanan di bawah gedung, menunggu Kathleen berubah pikiran.Namun, baru lewat pukul 12 malam, dia sudah tidak sanggup lagi bertahan dan pingsan.Bobby segera membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter mengatakan lukanya sudah terinfeksi dan menyuruh mereka segera memindahkannya ke rumah sakit di ibu kota.Dia begitu ketakutan sampai hampir ikut pingsan. Dengan tangan gemetar, dia menelepon keluarga Asher dan menjelaskan situasinya.Pukul 3 dini hari, Asher yang demam tingginya tak kunjung turun pun dibawa naik pesawat kembali ke ibu kota.Keesokan harinya sebelum fajar, dia sudah masuk ruang operasi. Namun, baru satu jam setelah operasi dimulai, dokter sudah bergegas keluar dan membawa kabar buruk yang mengejutkan."Infeksi lukanya sangat parah. Dengan tingkat medis di dalam negeri saat ini, kalau ingin menyelamatkan nyawanya, satu-satunya cara adalah memotong tangan kanannya. Kalau memungkinkan, seg

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 23

    Asher mengerti. Namun, dia hanya ingin berpura-pura tidak mengerti.Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kathleen sudah melepaskan segalanya. Dia terus menggeleng dengan putus asa, wajahnya dipenuhi rasa sakit."Aku nggak ngerti. Kath, tolong jangan mengatakan hal seperti itu, boleh?"Untuk kedua kalinya, Kathleen melihat ekspresi rapuh dan tak berdaya seperti itu di wajahnya. Dia ingat terakhir kali adalah pada hari ketika dia mengetahui kebenaran. Saat itu, dia dengan setengah sadar menopang Asher yang mabuk dan membawanya pulang.Asher memeluknya sambil memanggil nama Samara sepanjang malam. Saat fajar tiba, Asher tertidur dan hati Kathleen juga benar-benar mati saat itu.Jelas baru lebih dari sebulan yang lalu, tetapi sekarang ketika dia mengingatnya kembali, semuanya terasa begitu jauh, seolah-olah itu terjadi di kehidupan sebelumnya.Waktu memang obat terbaik untuk menyembuhkan luka. Menghadapi permohonannya yang seperti merajuk tanpa alasan, hati Kathleen tetap tidak bergejol

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 22

    Kathleen tidak ingin terus-menerus diganggu oleh Asher. Perlahan, muncul niat di hatinya untuk berbicara dengan jelas dengannya.Dia mencari alasan agar orang tuanya pulang lebih dulu, lalu di bawah tatapan panas itu, dia berjalan ke hadapan Asher dan berbicara lebih dulu."Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan sekarang dengan jelas. Aku kasih waktu sepuluh menit. Setelah selesai, kamu pulanglah. Mulai sekarang jangan muncul lagi di depanku."Saat mendengar kalimat pertama, Asher mengira dirinya telah menangkap secercah harapan. Hanya saja, setelah mendengar kalimat berikutnya, barulah dia tahu bahwa yang dia tangkap bukanlah harapan, melainkan sehelai jerami yang setipis benang.Namun, entah apa pun itu, sekarang dia hanya ingin menggenggamnya erat-erat dan tidak akan melepaskannya lagi. Karena itu, dia tidak menyia-nyiakan satu detik pun dan mengatakan semua yang telah lama dia pikirkan."Kath, pada hari ulang tahunmu itu, bukannya kamu bilang ingin nikah? Aku tahu kamu mengatak

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 21

    Pukul 8 malam, langit dipenuhi awan gelap. Di udara tercium bau debu yang pengap, seolah-olah hujan akan segera turun.Dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata, Bobby melihat ramalan cuaca, lalu berkata dengan lemas."Asher, tadi siang dokter sudah bilang kamu perlu istirahat. Malam ini juga akan hujan. Ikut aku kembali ke hotel saja, besok baru datang lagi menemui Kathleen, gimana?"Mata Asher terus menatap pintu masuk. Dengan suara serak, dia menjawab, "Kalau kamu capek, pergi saja istirahat. Nggak perlu mengurusku. Aku tahu batas."Ini masih disebut tahu batas? Bobby mengeluh dalam hati. Dia tahu dirinya tidak akan bisa membujuk, jadi hanya bisa pasrah pergi ke toko di samping untuk membeli makanan dan perlengkapan hujan.Baru saja dia masuk, Asher melihat mobil yang familier muncul dalam pandangannya.Mengingat pria yang dilihatnya hari itu, sarafnya langsung menegang, seluruh tubuhnya memancarkan aura agresif yang kuat.Benar saja, tidak lama kemudian Kathleen turun dari mobil.

  • Merelakan Cinta Pertama, Menerima Perjodohan yang Ditetapkan   Bab 20

    Setelah wawancara kedua selesai, Kathleen tidak melihat dua orang itu di bawah gedung. Dia pun menghela napas lega.Dia memandang matahari terbenam di barat, ragu-ragu apakah akan makan di luar atau pulang untuk makan. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi.[ Wawancaranya sudah selesai? Gimana? ]Itu dari Arthur.Mengingat proses percakapan yang cukup menyenangkan tadi, Kathleen merasa hasilnya seharusnya hampir pasti. Dia pun mengirim stiker anjing kecil yang memberi tanda "OK" dengan sangat lucu.Tak lama kemudian, pesan balasan datang.[ Kalau begitu lancar, ayo kita rayakan. Aku traktir kamu makan malam. ]Secara refleks, Kathleen ingin menolak. Namun, ketika teringat bahwa wawancara kedua itu adalah rekomendasi internal dari Arthur, dia merasa tidak enak. Kalimat "terlalu merepotkan" yang sudah dia ketik dihapus, diganti dengan "seharusnya aku yang traktir", lalu dikirim.[ Kalau begitu, aku nggak akan nolak. Kamu di mana? Biar aku jemput. Kirim alamatmu. Sambil nunggu, bantu pikirkan kit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status