Share

Bab 2

Author: Liz
Rania berjalan tanpa tujuan di jalanan.

Entah berapa lama dia berjalan, suara klakson terdengar dari samping, dan sebuah mobil berhenti tepat di depannya.

Arga turun dari mobil. "Kenapa ponselmu nggak bisa dihubungi?"

Rania melirik ponselnya. "Baterainya habis."

Arga tak bertanya lagi. Dia membukakan pintu penumpang depan, menuntun Rania masuk, dan memastikan gadis itu duduk dengan nyaman.

"Nunggu lama?"

"Hari ini emang ada urusan yang nggak bisa ditinggal. Besok pagi aku nggak ada jadwal operasi, aku temenin kamu urus buku nikah."

Rania menatap pemandangan jalanan yang bergerak mundur di luar jendela. "Nggak usah."

Arga seolah teringat sesuatu. "Oh iya, besok Sabtu ya. Lain kali aja deh, lagian pernikahannya juga masih lama."

"Kamu tadi ke taman hiburan?" Rania tetap melontarkan pertanyaan itu, rasa tidak rela masih tersirat dalam nadanya.

"Kamu lihat postingan Clara?"

"Kamu harusnya ngerti lah. Clara 'kan baru balik ke sini, ngurus Kenzy sendirian pasti repot banget."

Saat menyebut nama Clara, raut wajahnya memancarkan sikap memanjakan yang belum pernah Rania lihat sebelumnya.

"Waktu Clara balik kemarin, kamu 'kan udah ketemu? Dia itu cewek yang manis, baik hati, terus agak ceroboh dikit. Kalau kamu kenal dia lebih dekat, kamu pasti suka kok."

Rania hanya merasa hal itu sangat ironis.

Clara jelas dua tahun lebih tua darinya, bahkan anaknya pun sudah berusia empat tahun, tetapi di mata Arga, perempuan itu selamanya adalah gadis kecil yang tak pernah beranjak dewasa.

Arga tenggelam dalam kenangannya sendiri. "Jadi ingat waktu kuliah dulu. Aku sama Clara nemu anjing jalanan yang terluka. Dia langsung nangis karena kasihan, bahkan rela ngasih cokelat kesukaannya, padahal buat dimakan sendiri aja dia eman-eman."

"Cewek konyol itu, nggak tahu aja kalau anjing nggak boleh makan cokelat."

"Terus kita adopsi bareng anjing itu. Tapi nggak sampai setahun, anjingnya mati. Dia nangis kejer banget, bilang nggak mau pelihara anjing lagi. Nggak nyangka sekarang dia malah bisa ngurus anak sebaik ini."

Mendengar Arga menceritakan segala hal tentang perempuan lain dengan begitu antusias, seolah setiap detail tentangnya masih begitu jelas dalam ingatannya, kuku Rania menancap dalam ke telapak tangannya.

"Aku nggak mau denger," potong Rania. "Dan aku nggak suka."

Arga menoleh menatapnya dengan sedikit terkejut. "Kamu marah?"

"Iya. Batalin aja pernikahannya."

Setelah beberapa saat, Arga mengangguk. "Boleh juga, aku juga sebenernya nggak terlalu suka formalitas macam gitu."

"Gimana kalau kita nikah sambil liburan? Ke Praha misalnya. Clara pernah bilang, di sana kayak dunia dongeng."

Lagi-lagi Clara.

Hati Rania seketika membeku. "Arga, kita putus aja. Aku mengalah, aku lepasin kamu buat Clara."

"Rania." Raut wajah Arga berubah serius. "Jangan asal nuduh Clara yang nggak-nggak. Aku cuma anggap dia adik, masa kamu nggak bisa ngerti sih betapa susahnya dia ngurus anak sendirian?"

"Kamu tahu 'kan prinsipku. Kalau tanggal nikah udah ditetapkan, pengantin wanitanya cuma bisa kamu. Kamu harusnya udah lebih dewasa."

"Lagi pula," Dia melirik Rania. "kita udah bareng enam tahun. Kamu yakin bisa lepas dari aku?"

Dada Rania terasa nyeri.

Karena pernah menyaksikan ibunya histeris setelah dikhianati ayahnya, Rania sebenarnya punya trauma terhadap hubungan. Namun, dia justru jatuh cinta pada Arga yang sangat berpegang teguh pada prinsip.

Dia takut mengulangi nasib ibunya, tetapi nyatanya dia justru rela mengorbankan segalanya demi orang yang dicintai, persis seperti sang ibu.

Demi Arga, dia belajar memasak, mengurus kebutuhan sehari-harinya, mengambil alih segala urusan rumah tangga, bahkan mengorbankan karier dan masa depannya sendiri.

Karena itu, Arga begitu yakin Rania adalah perempuan yang dewasa dan pengertian. Dia juga yakin, pengorbanan Rania selama enam tahun ini telah membuatnya begitu bergantung padanya hingga tak mungkin bisa meninggalkannya.

Rania juga mengira Arga adalah sosok yang bertolak belakang dengan ayahnya, seseorang yang tak mungkin mengkhianatinya.

Namun Rania lupa, perselingkuhan itu bukan hanya fisik, melainkan juga emosional.

...

Tepat saat itu, ponsel Arga berdering.

Dia mengangkat telepon dan suaranya seketika melembut. "Clara, kenapa?"

"Kak Arga, aku lagi di bar. Mau mampir nggak?"

Arga sejatinya sangat membenci tempat-tempat bising seperti bar.

Namun, tanpa ragu dia langsung menyanggupi. "Oke, aku segera ke sana."

Setelah menutup telepon, dia membanting setir, membuat mobil menepi di pinggir jalan.

"Rania, kamu pulang dulu naik taksi ya. Clara lagi di bar. Aku nggak tenang ninggalin dia."

Rania turun dari mobil, belum sempat mengucapkan sepatah kata pun, mobil itu sudah melesat pergi.

Dia tidak tenang meninggalkan Clara.

Namun dia lupa, ponsel Rania kehabisan baterai.

Dia juga lupa bahwa Rania takut gelap.

"Duarrr!"

Petir menggelegar hebat. Hujan dingin seketika menyiram tubuhnya, membuatnya tak bisa lagi membedakan mana air hujan dan mana air mata.

Begitulah, dia berjalan menembus hujan deras sepanjang malam.

Hatinya pun ikut membeku sepanjang malam.

Menjelang pagi, dia menyeret tubuhnya yang basah kuyup pulang ke rumah.

Begitu membuka pintu, dia melihat Arga yang tak pernah sekali pun turun ke dapur, kini sedang sibuk di sana dengan mengenakan celemek.

Melihat penampilan Rania yang berantakan, dia tampak sedikit terkejut. "Kok bisa basah kuyup begini? Semalaman nggak pulang, telepon juga nggak."

Belum selesai dia berbicara, seorang anak laki-laki berlari keluar dari kamar utama sambil memegang action figure edisi terbatas milik Rania, lalu menabrak tubuh gadis itu dengan keras.

"Kenzy!"

Clara menyusul keluar dari kamar utama.

"Kenapa sih kamu deket-deket sama yang kotor begitu?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 23

    Tiga tahun kemudian.Nama Rania kini telah menjadi sosok yang sangat dikenal di lingkup arsitektur dan desain.Dia berhasil memadukan teknik sulam tradisional dengan apik ke dalam struktur cahaya dan bayangan arsitektur modern, menjadikan setiap karyanya mahakarya yang luar biasa.Dan pada akhirnya, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia berhasil membeli kembali rumah lama peninggalan ibunya.Pada hari dia menerima sertifikat tanah itu, dia duduk sendirian di dalam rumah, dari siang hingga malam.Dion tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan tenang di luar pintu, hingga Rania membukanya, barulah dia melangkah maju."Ayo pulang."Dia menggenggam tangan Rania, gerakannya terasa begitu alami.Selama tiga tahun ini, hubungan mereka pun berkembang secara alami hingga akhirnya mereka bersama. Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis hingga menyakitkan.Pria itu akan menyiapkan makanan ringan dan selimut hangat saat Rania begadang mengerjakan desain.Sebaliknya, Rania

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 22

    Tak lama kemudian, hari persidangan pun tiba.Arga kini mengenakan setelan jas yang tak lagi pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan janggut hitam kebiruan tumbuh di dagunya. Sementara itu, Clara, yang dikawal oleh petugas pengadilan dengan kedua tangan terborgol, tak lagi menampilkan raut memelas dan rapuh seperti biasanya.Suara hakim bergema di ruang pengadilan yang khidmat dan penuh wibawa."Terkait kasus malpraktik medis, setelah melalui persidangan, terdakwa Arga terbukti melakukan kelalaian berat dalam proses diagnosis dan perawatan, sehingga menunda waktu penanganan terbaik bagi pasien, dan bertanggung jawab utama atas kematian pasien tersebut.""Putusan pengadilan adalah sebagai berikut. Terdakwa Arga diwajibkan untuk meminta maaf secara terbuka kepada pihak penggugat, Rania, melalui media tingkat kota, serta bersama-sama mengganti rugi berbagai kerugian yang diderita oleh penggugat Rania dengan total sebesar 3,6 miliar.""Izin praktik medis Arga dicabut dan

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 21

    Arga tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar sewanya.Dia meraih ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama kontak Rania.Setelah cukup lama, dia mulai mengirimkan pesan untuk Rania.[Kita perlu bicara.]Pesan terkirim, tapi langsung muncul notifikasi gagal terkirim.Dia menatap layar ponsel, membiarkan waktu berlalu menit demi menit, lalu dengan keras kepala mengirimkan satu pesan lagi.[Rania, kita ketemu, ya.]Tetap gagal terkirim.Air mata menetes membasahi layar ponsel, tetapi dia terus-menerus mengirimkan pesan yang tak akan pernah sampai kepada Rania.[Rania, aku salah. Maafin aku, ya?][Aku mohon .…][Rania, maafin aku.][Rania, aku cinta kamu .…]…Sementara itu, Rania sedang duduk di depan komputer, sibuk bekerja.Gelar juara dalam kompetisi desain tersebut telah mendatangkan tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan besar.Demi proyek ini, dia bekerja hingga larut malam setiap hari. Meski tubuhnya lelah, batinnya merasakan kepuasan yang belum pernah dia rasakan sebel

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 20

    Arga tidak membela diri sedikit pun. Karena memang tidak ada yang bisa dia bantah. Pada akhirnya, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pemberitahuan penonaktifan sementara untuk menjalani investigasi. Tepat pada sore hari saat dia dinonaktifkan dari jabatannya, Rania, selaku keluarga korban, menerima wawancara eksklusif dari media.Di hadapan kamera, dia memaparkan dengan jelas dan runtut seluruh rangkaian peristiwa, mulai dari saat ibunya jatuh sakit hingga mengembuskan napas terakhir.Dia membentangkan fakta tersebut di hadapan publik, bagaikan pisau bedah yang tajam, dengan presisi mengoyak selubung prinsip palsu yang selama ini dikenakan Arga. "Seorang dokter yang demi seorang 'adik tingkat' semata, rela mengabaikan peraturan rumah sakit, menelantarkan pasien, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka."Rania menatap lurus ke arah kamera, mengucapkan setiap kata dengan tegas, "Dia nggak pantas mengenakan jas putih itu."Di rumahnya, Arga menatap layar televisi. C

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 19

    Kepala Arga berdengung hebat, pikirannya seketika menjadi kosong.Waktu itu, Clara menyodorkan setumpuk dokumen untuk ditandatangani, katanya itu surat jaminan proyek.Dia tak pernah menyangka bahwa 'adik tingkat' yang dia anggap baik dan polos itu akan menipunya, sehingga dia sama sekali tidak membacanya dengan teliti.Tanpa dia sadari, sejak saat itu, Clara sudah menyiapkan jebakan untuk menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Arga mendongak. Tatapannya yang dulu tenang dan terkendali, kini dipenuhi amarah yang menggelegak dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia merasa dirinya bagaikan lelucon yang sangat konyol.Demi perempuan ini, dia telah melanggar semua prinsipnya, berulang kali menyakiti Rania, dan secara tidak langsung menyebabkan kematian ibu Rania.Demi perempuan ini, dia telah kehilangan segala hal paling berharga dalam hidupnya. Namun, yang dia dapatkan ternyata hanyalah akhir tragis di tangan perempuan berhati kejam ini. "Keluar."Senyum di wajah Clara sempat kaku, te

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 18

    Teriakan Clara membuat kepala Arga makin sakit.Dia mengangkat tangan, memijat pelipisnya, dan bertanya dengan suara parau. "Ada apa sebenarnya?""Aku juga nggak tahu ...." Clara menangis, emosinya nyaris runtuh. "Sekarang dananya macet, proyeknya berhenti total, dan mereka minta aku ganti rugi! Kak Arga, aku butuh banyak banget uang buat ngebuka pembekuan aset. Kalau nggak, aku bakal tamat dan bisa masuk penjara! Kak Arga, tolong bantu aku, ya?"Mendengar isak tangis gadis itu, rasa lelah dan muak yang tak terlukiskan perlahan menyelimuti hati Arga."Clara, aku sudah nggak punya uang lagi.""Semua uangku sudah aku berikan padamu. Rumah dan mobil juga sudah diagunkan. Aku nggak punya sisa sepeser pun."Bahkan untuk mengembalikan uang Rania, dia harus menurunkan gengsinya dan meminjam dari teman-temannya. Mana mungkin dia masih memiliki uang.Tangis Clara terhenti. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menatap Arga dengan mata terbelalak.Tak lama kemudian, seolah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status