Share

Bab 3

Author: Liz
Setelah berkata demikian, Clara seolah baru sadar dengan ucapannya. Dia buru-buru menutup mulutnya, lalu menatap Rania dengan wajah panik.

"Aduh, Rania, maaf ya. Aku nggak bermaksud bilang kamu itu barang kotor ...."

"Aku cuma lihat baju kamu basah kuyup ...."

Dengan cemas, dia menoleh pada Arga. "Kak Arga, tolong jelasin dong. Aku beneran nggak bermaksud gitu. Jangan sampai Rania salah paham terus marah sama aku."

Arga tersenyum sambil mengelus rambutnya, suaranya terdengar begitu lembut dan memanjakan. "Aku ngerti kok maksud kamu. Mana mungkin Rania marah sama kamu, dia 'kan bukan orang yang gampang tersinggung."

Dia lalu menoleh, menatap Rania.

"Kenzy 'kan baru ganti baju. Kamu basah kuyup gini, nanti bajunya malah ikut kotor."

"Kamu nggak tahu deh dia nakal banget. Kemarin aku baru beliin dia sepuluh setel baju, eh baru sebentar udah delapan setel dibikin kotor."

Seorang pria, seorang wanita, dan seorang anak laki-laki.

Mereka berdiri berdekatan, persis seperti sebuah keluarga yang bahagia.

Rania tak menoleh pada Arga. Tatapannya terkunci pada Clara saat dia bersuara dingin.

"Lepas piyamaku yang kamu pakai sekarang."

Piyama itu terbuat dari sutra, dihiasi sulaman sepasang burung yang dibuat sendiri oleh ibunya, jahitan demi jahitan.

Piyama itu disiapkan khusus untuk malam pertamanya.

Namun kini, piyama itu justru melekat di tubuh Clara.

Udara di sekitar seketika membeku.

Clara seolah terintimidasi oleh tatapan tajam itu. Dia sedikit tersentak, lalu menggigit bibir bawahnya dengan raut wajah tersinggung.

"Rania, maaf, aku ... aku lepasin sekarang."

Dia menatap Arga dengan tatapan memohon, kelopak matanya memerah.

"Tapi ... bajuku semalam kena noda. Kak Arga udah bantu nyuciin, terus belum kering ...."

Arga menatap Rania dengan raut tidak suka. "Cuma satu baju doang kok. Kenapa sih sikap kamu gitu?"

Rasa sakit hati dan amarah yang dipendam Rania sepanjang malam seketika meledak.

"Semalam, kamu ninggalin aku di tempat yang bahkan susah cari taksi, cuma buat nemenin adik tingkat kesayanganmu di bar!"

"HP aku mati. Aku jalan kaki nembus hujan deras semalaman baru sampai rumah!"

"Sampai rumah, apa yang aku lihat? Tunanganku semalaman bersama perempuan lain, dan dia malah pakai piyama yang dibuat ibuku khusus untuk kupakai buat malam pertamaku!"

"Arga, coba kamu jawab. Dalam keadaan kayak gini, kamu mau aku bersikap baik gimana?"

Clara menatap Rania dengan mata berkaca-kaca. "Rania, kamu jangan salah paham ya!"

"Aku semalam cuma kebanyakan minum. Kak Arga khawatir, makanya dia antar aku pulang."

"Kita nggak ngapa-ngapain kok, tidurnya juga terpisah!"

Sambil menangis, dia menoleh pada Arga dan bertanya dengan nada tak berdaya, "Kak Arga, aku harus jelasin gimana biar Rania nggak salah paham sama kita?"

Kenzy tiba-tiba melemparkan action figure di tangannya tepat ke arah kepala Rania.

Benda itu menggores pipi Rania, meninggalkan bekas berdarah.

"Kamu nindas ibuku! Mati aja kamu, perempuan jahat!"

Raut wajah Arga yang tadinya sedikit merasa bersalah, seketika berubah dingin.

"Rania, jangan pakai pikiran kotormu dan nganggep semua orang sejorok kamu!"

"Lagi pula, kamu udah dewasa. Masa urusan sepele aja nggak bisa diurus dengan baik? Pulang-pulang malah melampiaskan kekesalanmu ke Clara yang enggak tahu apa-apa. Kamu pikir tindakanmu ini benar, hah?"

Rania tertawa getir. "Jadi, persahabatan kalian ini suci dan murni banget, ya?"

"Udah, jangan ribut lagi." Clara mengusap air matanya. "Ini semua salahku. Aku lepasin sekarang piyamanya dan aku balikin ke kamu!"

Sambil berkata begitu, dia langsung menarik piyama yang dikenakannya dengan kedua tangan.

"Srekk!"

Piyama itu terkoyak lebar tepat di bagian bahunya.

Matanya seketika berkaca-kaca, wajahnya tampak semakin panik.

"Maaf ya, Rania, aku ...."

Arga buru-buru melepas jaketnya, lalu menyampirkannya ke tubuh Clara sambil menenangkan dengan suara lembut.

"Nggak apa-apa, kamu 'kan nggak sengaja."

Menatap piyama yang sudah robek itu, sekujur tubuh Rania gemetar.

Clara pasti sengaja!

Dia menerjang maju, mengangkat tangan hendak menampar wajah Clara, tetapi pergelangan tangannya langsung dicengkeram erat oleh Arga.

"Rania, kamu kenapa ngamuk sih?"

"Cuma piyama doang 'kan? Nanti aku gantiin satu setel yang baru."

Rania begitu marah hingga suaranya bergetar.

"Ini piyama buatan ibuku. Kamu mau ganti pakai apa?"

Ibunya dulu adalah pengrajin sulaman yang tersohor.

Pengkhianatan ayahnya membuatnya memendam duka hingga jatuh sakit dan merusak jantungnya, membuatnya tak pernah lagi bisa memegang jarum sulam dengan stabil.

Namun, sang ibu tetap mengabaikan kesehatannya, mencurahkan segenap hati dan tenaganya, diam-diam menyulam piyama ini untuknya menjelang hari pernikahan.

Kini, piyama itu justru dirusak oleh Clara.

"Ya kalau gitu malah gampang, tinggal minta ibu kamu buatin satu lagi."

Arga melepaskan cengkeramannya pada tangan Rania. "Sebentar lagi kita mau nikah, aku nggak mau ribut sama kamu. Kamu tenangin diri dulu deh."

Rania menatapnya, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol sedunia.

"Demi dia, kamu udah ingkar janji delapan kali pas kita mau urus buku nikah."

"Demi dia, kamu ninggalin aku sendirian di tengah hujan deras. Kamu juga biarin dia pakai piyama pengantin buatan ibuku, terus tidur di ranjang pengantin kita."

"Arga, kamu pikir aku masih mau nerusin pernikahan ini?"

"Pernikahan ini, batal!"

Tepat saat itu, pintu rumah tiba-tiba terbuka.

Ibunya Rania berdiri di ambang pintu dengan raut wajah terpukul.

"Rania, apa maksudmu pernikahan ini batal?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 23

    Tiga tahun kemudian.Nama Rania kini telah menjadi sosok yang sangat dikenal di lingkup arsitektur dan desain.Dia berhasil memadukan teknik sulam tradisional dengan apik ke dalam struktur cahaya dan bayangan arsitektur modern, menjadikan setiap karyanya mahakarya yang luar biasa.Dan pada akhirnya, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia berhasil membeli kembali rumah lama peninggalan ibunya.Pada hari dia menerima sertifikat tanah itu, dia duduk sendirian di dalam rumah, dari siang hingga malam.Dion tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan tenang di luar pintu, hingga Rania membukanya, barulah dia melangkah maju."Ayo pulang."Dia menggenggam tangan Rania, gerakannya terasa begitu alami.Selama tiga tahun ini, hubungan mereka pun berkembang secara alami hingga akhirnya mereka bersama. Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis hingga menyakitkan.Pria itu akan menyiapkan makanan ringan dan selimut hangat saat Rania begadang mengerjakan desain.Sebaliknya, Rania

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 22

    Tak lama kemudian, hari persidangan pun tiba.Arga kini mengenakan setelan jas yang tak lagi pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan janggut hitam kebiruan tumbuh di dagunya. Sementara itu, Clara, yang dikawal oleh petugas pengadilan dengan kedua tangan terborgol, tak lagi menampilkan raut memelas dan rapuh seperti biasanya.Suara hakim bergema di ruang pengadilan yang khidmat dan penuh wibawa."Terkait kasus malpraktik medis, setelah melalui persidangan, terdakwa Arga terbukti melakukan kelalaian berat dalam proses diagnosis dan perawatan, sehingga menunda waktu penanganan terbaik bagi pasien, dan bertanggung jawab utama atas kematian pasien tersebut.""Putusan pengadilan adalah sebagai berikut. Terdakwa Arga diwajibkan untuk meminta maaf secara terbuka kepada pihak penggugat, Rania, melalui media tingkat kota, serta bersama-sama mengganti rugi berbagai kerugian yang diderita oleh penggugat Rania dengan total sebesar 3,6 miliar.""Izin praktik medis Arga dicabut dan

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 21

    Arga tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar sewanya.Dia meraih ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama kontak Rania.Setelah cukup lama, dia mulai mengirimkan pesan untuk Rania.[Kita perlu bicara.]Pesan terkirim, tapi langsung muncul notifikasi gagal terkirim.Dia menatap layar ponsel, membiarkan waktu berlalu menit demi menit, lalu dengan keras kepala mengirimkan satu pesan lagi.[Rania, kita ketemu, ya.]Tetap gagal terkirim.Air mata menetes membasahi layar ponsel, tetapi dia terus-menerus mengirimkan pesan yang tak akan pernah sampai kepada Rania.[Rania, aku salah. Maafin aku, ya?][Aku mohon .…][Rania, maafin aku.][Rania, aku cinta kamu .…]…Sementara itu, Rania sedang duduk di depan komputer, sibuk bekerja.Gelar juara dalam kompetisi desain tersebut telah mendatangkan tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan besar.Demi proyek ini, dia bekerja hingga larut malam setiap hari. Meski tubuhnya lelah, batinnya merasakan kepuasan yang belum pernah dia rasakan sebel

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 20

    Arga tidak membela diri sedikit pun. Karena memang tidak ada yang bisa dia bantah. Pada akhirnya, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pemberitahuan penonaktifan sementara untuk menjalani investigasi. Tepat pada sore hari saat dia dinonaktifkan dari jabatannya, Rania, selaku keluarga korban, menerima wawancara eksklusif dari media.Di hadapan kamera, dia memaparkan dengan jelas dan runtut seluruh rangkaian peristiwa, mulai dari saat ibunya jatuh sakit hingga mengembuskan napas terakhir.Dia membentangkan fakta tersebut di hadapan publik, bagaikan pisau bedah yang tajam, dengan presisi mengoyak selubung prinsip palsu yang selama ini dikenakan Arga. "Seorang dokter yang demi seorang 'adik tingkat' semata, rela mengabaikan peraturan rumah sakit, menelantarkan pasien, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka."Rania menatap lurus ke arah kamera, mengucapkan setiap kata dengan tegas, "Dia nggak pantas mengenakan jas putih itu."Di rumahnya, Arga menatap layar televisi. C

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 19

    Kepala Arga berdengung hebat, pikirannya seketika menjadi kosong.Waktu itu, Clara menyodorkan setumpuk dokumen untuk ditandatangani, katanya itu surat jaminan proyek.Dia tak pernah menyangka bahwa 'adik tingkat' yang dia anggap baik dan polos itu akan menipunya, sehingga dia sama sekali tidak membacanya dengan teliti.Tanpa dia sadari, sejak saat itu, Clara sudah menyiapkan jebakan untuk menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Arga mendongak. Tatapannya yang dulu tenang dan terkendali, kini dipenuhi amarah yang menggelegak dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia merasa dirinya bagaikan lelucon yang sangat konyol.Demi perempuan ini, dia telah melanggar semua prinsipnya, berulang kali menyakiti Rania, dan secara tidak langsung menyebabkan kematian ibu Rania.Demi perempuan ini, dia telah kehilangan segala hal paling berharga dalam hidupnya. Namun, yang dia dapatkan ternyata hanyalah akhir tragis di tangan perempuan berhati kejam ini. "Keluar."Senyum di wajah Clara sempat kaku, te

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 18

    Teriakan Clara membuat kepala Arga makin sakit.Dia mengangkat tangan, memijat pelipisnya, dan bertanya dengan suara parau. "Ada apa sebenarnya?""Aku juga nggak tahu ...." Clara menangis, emosinya nyaris runtuh. "Sekarang dananya macet, proyeknya berhenti total, dan mereka minta aku ganti rugi! Kak Arga, aku butuh banyak banget uang buat ngebuka pembekuan aset. Kalau nggak, aku bakal tamat dan bisa masuk penjara! Kak Arga, tolong bantu aku, ya?"Mendengar isak tangis gadis itu, rasa lelah dan muak yang tak terlukiskan perlahan menyelimuti hati Arga."Clara, aku sudah nggak punya uang lagi.""Semua uangku sudah aku berikan padamu. Rumah dan mobil juga sudah diagunkan. Aku nggak punya sisa sepeser pun."Bahkan untuk mengembalikan uang Rania, dia harus menurunkan gengsinya dan meminjam dari teman-temannya. Mana mungkin dia masih memiliki uang.Tangis Clara terhenti. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menatap Arga dengan mata terbelalak.Tak lama kemudian, seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status