Share

Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda
Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda
Author: Liz

Bab 1

Author: Liz
Tak lama kemudian, Clara membalas dengan komentar panjang di bawahnya.

[Kak Arga memang yang terbaik! Kita janjian jam tujuh, tapi aku ketiduran, dia rela nunggu di bawah selama tiga jam kayak orang bodoh.]

[Takut kami kelaparan pas bangun, dia juga udah beli bubur hangat dari awal, terus ngajak kami makan hot pot seafood kuah kelapa khas Tairana.]

[Udah bertahun-tahun, Kak Arga tetap jadi sosok kating yang paling penyayang.]

Sontak ada yang menyahut.

[Ini masih Arga Setiawan yang sama, yang dulu pernah mencabut hak magang seorang anak magang cuma karena telat lima menit pas hujan deras?]

[Yang bisa bikin dia ngelepasin semua prinsipnya cuma Clara seorang. Yang lain mah jangan harap.]

Tak lama, sahabat masa kecilnya ikut bertanya: [Bro, hari ini 'kan kamu harusnya urus buku nikah sama Rania? Kamu udah nggak tepatin janji sama dia tujuh kali. Jangan bilang kali ini kamu nggak tepatin janji lagi?]

Clara membalas dengan stiker wajah kaget: [Aduh! Aku lupa hari ini Kak Arga harus urus buku nikah!]

[Tapi Kenzy masih mau naik bianglala. Kak Arga juga maksa mau nemenin, biar aku yang suruh dia pulang sekarang.]

Di bawah balasan itu, Arga langsung memberikan balasan.

[Urus buku nikah kapan saja sama saja. Itu cuma formalitas, nggak masalah.]

Ada yang bercanda: [Menurutku, sekalian, ganti aja pengantin wanitanya jadi Clara.]

Arga langsung membalas komentar itu dalam sekejap.

[Jangan bercanda gitu, nanti malah bikin Clara kena gosip yang nggak-nggak.]

Lalu ada yang bertanya lagi: [Eh ... Rania nggak bakal lihat komentar-komentar ini, 'kan?]

Arga membalas, [Nggak apa-apa. Clara ngurus anak sendirian 'kan nggak gampang, aku bantu-bantu juga udah seharusnya. Rania juga selalu ngertiin keadaan, dia pasti paham.]

Menatap komentar-komentar di layar, ujung-ujung jari Rania yang mencengkeram ponselnya perlahan memutih.

Selama enam tahun berpacaran, meski Arga kaku, membosankan, dan tidak romantis, tetapi dia selalu ingat semua kesukaan Rania. Dia selalu siapkan air jahe hangat saat Rania datang bulan, dan selalu menyiapkan sepatu yang nyaman sebelum mereka jalan-jalan.

Dulu, pria itu pernah bilang, "Aku memang nggak jago ngomong manis, tapi aku bakal nepati setiap janji yang udah aku kasih ke kamu."

Dia mengira, itulah seluruh cinta yang Arga miliki untuknya.

Namun, baru setengah bulan sejak Clara kembali, Arga sudah delapan kali mengingkari janji untuk mengurus buku nikah mereka demi perempuan itu.

Dibandingkan dengan Clara, cinta yang selama ini dia percaya ternyata begitu murahan hingga terasa konyol.

Saat Rania duduk menunggu Arga datang untuk mengurus buku nikah, laki-laki itu malah berada di bawah apartemen Clara, menunggu Clara bangun sendiri.

Saat Rania duduk melamun dengan perut keroncongan, Arga justru menemani Clara menyantap hot pot seafood kuah kelapa khas Tairana yang sudah lama Rania ingin coba, tetapi dulu Arga malah menganggap pergi ke sana hanya buang-buang waktu.

Lalu saat Rania harus menanggung tatapan dan bisik-bisik para petugas di loket, Arga malah asyik mengajak Clara dan Kenzy bermain di taman hiburan.

Di detik ini, dia tiba-tiba merasa semua ini sangat sia-sia.

Kaca loket di depannya kembali diketuk.

"Nona, kami sudah tutup. Ini udah kedelapan kalinya kamu datang. Lain kali pastiin dulu jadwalnya sama pacarmu, ya. Jangan nunggu sendirian kayak gini lagi."

Rania menatap ke atas dan tersenyum tipis. "Nggak akan nunggu lagi."

Rania melangkah keluar dari Kantor Catatan Sipil, mengeluarkan sekotak permen pernikahan yang sudah disiapkan dari rumah, lalu membuangnya begitu saja ke tempat sampah.

Toh, buku nikah hanyalah sekadar formalitas.

Kalau begitu, pernikahan ini tidak usah dilangsungkan juga tidak apa-apa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 23

    Tiga tahun kemudian.Nama Rania kini telah menjadi sosok yang sangat dikenal di lingkup arsitektur dan desain.Dia berhasil memadukan teknik sulam tradisional dengan apik ke dalam struktur cahaya dan bayangan arsitektur modern, menjadikan setiap karyanya mahakarya yang luar biasa.Dan pada akhirnya, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia berhasil membeli kembali rumah lama peninggalan ibunya.Pada hari dia menerima sertifikat tanah itu, dia duduk sendirian di dalam rumah, dari siang hingga malam.Dion tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan tenang di luar pintu, hingga Rania membukanya, barulah dia melangkah maju."Ayo pulang."Dia menggenggam tangan Rania, gerakannya terasa begitu alami.Selama tiga tahun ini, hubungan mereka pun berkembang secara alami hingga akhirnya mereka bersama. Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis hingga menyakitkan.Pria itu akan menyiapkan makanan ringan dan selimut hangat saat Rania begadang mengerjakan desain.Sebaliknya, Rania

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 22

    Tak lama kemudian, hari persidangan pun tiba.Arga kini mengenakan setelan jas yang tak lagi pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan janggut hitam kebiruan tumbuh di dagunya. Sementara itu, Clara, yang dikawal oleh petugas pengadilan dengan kedua tangan terborgol, tak lagi menampilkan raut memelas dan rapuh seperti biasanya.Suara hakim bergema di ruang pengadilan yang khidmat dan penuh wibawa."Terkait kasus malpraktik medis, setelah melalui persidangan, terdakwa Arga terbukti melakukan kelalaian berat dalam proses diagnosis dan perawatan, sehingga menunda waktu penanganan terbaik bagi pasien, dan bertanggung jawab utama atas kematian pasien tersebut.""Putusan pengadilan adalah sebagai berikut. Terdakwa Arga diwajibkan untuk meminta maaf secara terbuka kepada pihak penggugat, Rania, melalui media tingkat kota, serta bersama-sama mengganti rugi berbagai kerugian yang diderita oleh penggugat Rania dengan total sebesar 3,6 miliar.""Izin praktik medis Arga dicabut dan

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 21

    Arga tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar sewanya.Dia meraih ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama kontak Rania.Setelah cukup lama, dia mulai mengirimkan pesan untuk Rania.[Kita perlu bicara.]Pesan terkirim, tapi langsung muncul notifikasi gagal terkirim.Dia menatap layar ponsel, membiarkan waktu berlalu menit demi menit, lalu dengan keras kepala mengirimkan satu pesan lagi.[Rania, kita ketemu, ya.]Tetap gagal terkirim.Air mata menetes membasahi layar ponsel, tetapi dia terus-menerus mengirimkan pesan yang tak akan pernah sampai kepada Rania.[Rania, aku salah. Maafin aku, ya?][Aku mohon .…][Rania, maafin aku.][Rania, aku cinta kamu .…]…Sementara itu, Rania sedang duduk di depan komputer, sibuk bekerja.Gelar juara dalam kompetisi desain tersebut telah mendatangkan tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan besar.Demi proyek ini, dia bekerja hingga larut malam setiap hari. Meski tubuhnya lelah, batinnya merasakan kepuasan yang belum pernah dia rasakan sebel

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 20

    Arga tidak membela diri sedikit pun. Karena memang tidak ada yang bisa dia bantah. Pada akhirnya, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pemberitahuan penonaktifan sementara untuk menjalani investigasi. Tepat pada sore hari saat dia dinonaktifkan dari jabatannya, Rania, selaku keluarga korban, menerima wawancara eksklusif dari media.Di hadapan kamera, dia memaparkan dengan jelas dan runtut seluruh rangkaian peristiwa, mulai dari saat ibunya jatuh sakit hingga mengembuskan napas terakhir.Dia membentangkan fakta tersebut di hadapan publik, bagaikan pisau bedah yang tajam, dengan presisi mengoyak selubung prinsip palsu yang selama ini dikenakan Arga. "Seorang dokter yang demi seorang 'adik tingkat' semata, rela mengabaikan peraturan rumah sakit, menelantarkan pasien, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka."Rania menatap lurus ke arah kamera, mengucapkan setiap kata dengan tegas, "Dia nggak pantas mengenakan jas putih itu."Di rumahnya, Arga menatap layar televisi. C

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 19

    Kepala Arga berdengung hebat, pikirannya seketika menjadi kosong.Waktu itu, Clara menyodorkan setumpuk dokumen untuk ditandatangani, katanya itu surat jaminan proyek.Dia tak pernah menyangka bahwa 'adik tingkat' yang dia anggap baik dan polos itu akan menipunya, sehingga dia sama sekali tidak membacanya dengan teliti.Tanpa dia sadari, sejak saat itu, Clara sudah menyiapkan jebakan untuk menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Arga mendongak. Tatapannya yang dulu tenang dan terkendali, kini dipenuhi amarah yang menggelegak dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia merasa dirinya bagaikan lelucon yang sangat konyol.Demi perempuan ini, dia telah melanggar semua prinsipnya, berulang kali menyakiti Rania, dan secara tidak langsung menyebabkan kematian ibu Rania.Demi perempuan ini, dia telah kehilangan segala hal paling berharga dalam hidupnya. Namun, yang dia dapatkan ternyata hanyalah akhir tragis di tangan perempuan berhati kejam ini. "Keluar."Senyum di wajah Clara sempat kaku, te

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 18

    Teriakan Clara membuat kepala Arga makin sakit.Dia mengangkat tangan, memijat pelipisnya, dan bertanya dengan suara parau. "Ada apa sebenarnya?""Aku juga nggak tahu ...." Clara menangis, emosinya nyaris runtuh. "Sekarang dananya macet, proyeknya berhenti total, dan mereka minta aku ganti rugi! Kak Arga, aku butuh banyak banget uang buat ngebuka pembekuan aset. Kalau nggak, aku bakal tamat dan bisa masuk penjara! Kak Arga, tolong bantu aku, ya?"Mendengar isak tangis gadis itu, rasa lelah dan muak yang tak terlukiskan perlahan menyelimuti hati Arga."Clara, aku sudah nggak punya uang lagi.""Semua uangku sudah aku berikan padamu. Rumah dan mobil juga sudah diagunkan. Aku nggak punya sisa sepeser pun."Bahkan untuk mengembalikan uang Rania, dia harus menurunkan gengsinya dan meminjam dari teman-temannya. Mana mungkin dia masih memiliki uang.Tangis Clara terhenti. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menatap Arga dengan mata terbelalak.Tak lama kemudian, seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status