Share

Bab 5

Author: Liz
Rania yang menunggu di luar ruang ICU bergegas menghampiri saat melihat Arga keluar.

"Kenapa kamu keluar? Ibuku mana?"

"Ada telepon darurat, tunggu sebentar."

Dia menekan tombol jawab dan suara isak tangis Clara terdengar dari seberang sana.

Raut wajahnya seketika berubah. "Clara, jangan nangis. Aku segera ke sana!"

Tanpa basa-basi lagi, dia menutup telepon, balik badan, dan langsung melangkah pergi.

Rania buru-buru mencengkeram lengannya. "Kamu mau ke mana?"

"Clara lagi ada masalah mendadak, aku harus segera ke sana."

"Terus ibuku gimana kalau kamu pergi?"

Arga membuka paksa jari-jari Rania satu per satu dari lengannya.

"Ibumu dijaga sama seluruh tim medis kok. Tanpa aku pun nggak bakal kenapa-napa."

"Biar dokter penanggung jawab yang gantiin dulu. Aku cuma mau lihat sebentar, nanti langsung balik lagi."

Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan melangkah cepat masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.

Rania mengejarnya, tetapi pintu lift keburu tertutup tepat di depan wajahnya.

"Arga! Kembali ke sini!"

Pintu ICU kembali terbuka. Dokter utama keluar dan menoleh ke segala arah, mencari-cari.

"Pak Arga mana? Selang IABP-nya belum dipasang!"

Rania bergumam lirih, "Dia ... pergi."

Dokter itu membelalak tak percaya.

"Pergi? Pasien bisa henti jantung kapan saja, masa dia malah pergi sekarang?"

"Ini nggak masuk akal, 'kan? Dia 'kan biasanya paling berpegang teguh sama prinsip. Hari ini kenapa sih?"

"Baru kali ini aku lihat dia ninggalin pasien di meja operasi gitu aja."

Rania mendongak, air matanya akhirnya tumpah, tak bisa dibendung lagi.

"Katanya ... dia serahkan semuanya ke Dokter. Tolong ... selamatkan ibuku ...."

Dokter itu menggertakkan gigi, lalu berkata tegas, "Aku akan lakukan yang terbaik."

Setelah dokter itu masuk ke dalam, Rania merosot perlahan menyusuri dinding koridor hingga terduduk lemas di lantai.

Dua jam berlalu. Dokter itu akhirnya membuka pintu dan keluar.

"Pemasangan IABP nya berhasil. Kondisi pasien untuk sementara stabil. Tapi, beliau harus segera dioperasi oleh Profesor Lukman dalam waktu seminggu."

Mata Rania memerah.

"Aku mengerti. Aku pasti akan cari cara buat menghubungi Profesor Lukman."

Dokter itu menggelengkan kepala. "Pak Arga ini benar-benar ... Cuma soal satu telepon kok sampai melanggar prinsip? Lagian kalian 'kan sebentar lagi nikah, kok dia bisa ...."

Hati Rania terasa pahit. "Kami nggak jadi nikah, Dok."

Dokter itu menghela napas. "Kalau begitu, kamu urus administrasi rawat inapnya dulu ya."

"Biaya operasi ditambah perawatan intensif selanjutnya, kira-kira kamu harus siapin satu miliar."

"Tolong segera bayar uangnya, supaya rumah sakit bisa mengatur pengobatan dan perawatan selanjutnya."

Satu miliar.

Rania meremas erat kertas rincian biaya di tangannya.

Untungnya, dia dan Arga punya buku tabungan bersama.

Dia langsung memesan taksi dan pulang untuk mengambil buku tabungan itu.

Namun, saat dia membuka kotak tempat menyimpannya, buku tabungan itu sudah tidak ada.

Dia yakin betul tadi menaruhnya di sini, masa bisa hilang begitu saja?

Dia sudah mengacak-acak setiap sudut yang mungkin jadi tempat buku tabungan itu, tetapi tetap saja nihil.

Tepat saat itu, terdengar suara kunci diputar di pintu depan.

Arga masuk sambil mengganti sepatu dengan sandal rumah. "Lagi nyari apa?"

Rania menoleh, wajahnya pucat pasi.

"Buku tabungan kita mana?"

Arga melonggarkan dasinya. "Clara lagi ada proyek di sini, tapi dananya lagi seret. Aku ambil buat bantu dia ngeberesin masalah dulu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 23

    Tiga tahun kemudian.Nama Rania kini telah menjadi sosok yang sangat dikenal di lingkup arsitektur dan desain.Dia berhasil memadukan teknik sulam tradisional dengan apik ke dalam struktur cahaya dan bayangan arsitektur modern, menjadikan setiap karyanya mahakarya yang luar biasa.Dan pada akhirnya, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia berhasil membeli kembali rumah lama peninggalan ibunya.Pada hari dia menerima sertifikat tanah itu, dia duduk sendirian di dalam rumah, dari siang hingga malam.Dion tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan tenang di luar pintu, hingga Rania membukanya, barulah dia melangkah maju."Ayo pulang."Dia menggenggam tangan Rania, gerakannya terasa begitu alami.Selama tiga tahun ini, hubungan mereka pun berkembang secara alami hingga akhirnya mereka bersama. Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis hingga menyakitkan.Pria itu akan menyiapkan makanan ringan dan selimut hangat saat Rania begadang mengerjakan desain.Sebaliknya, Rania

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 22

    Tak lama kemudian, hari persidangan pun tiba.Arga kini mengenakan setelan jas yang tak lagi pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan janggut hitam kebiruan tumbuh di dagunya. Sementara itu, Clara, yang dikawal oleh petugas pengadilan dengan kedua tangan terborgol, tak lagi menampilkan raut memelas dan rapuh seperti biasanya.Suara hakim bergema di ruang pengadilan yang khidmat dan penuh wibawa."Terkait kasus malpraktik medis, setelah melalui persidangan, terdakwa Arga terbukti melakukan kelalaian berat dalam proses diagnosis dan perawatan, sehingga menunda waktu penanganan terbaik bagi pasien, dan bertanggung jawab utama atas kematian pasien tersebut.""Putusan pengadilan adalah sebagai berikut. Terdakwa Arga diwajibkan untuk meminta maaf secara terbuka kepada pihak penggugat, Rania, melalui media tingkat kota, serta bersama-sama mengganti rugi berbagai kerugian yang diderita oleh penggugat Rania dengan total sebesar 3,6 miliar.""Izin praktik medis Arga dicabut dan

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 21

    Arga tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar sewanya.Dia meraih ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama kontak Rania.Setelah cukup lama, dia mulai mengirimkan pesan untuk Rania.[Kita perlu bicara.]Pesan terkirim, tapi langsung muncul notifikasi gagal terkirim.Dia menatap layar ponsel, membiarkan waktu berlalu menit demi menit, lalu dengan keras kepala mengirimkan satu pesan lagi.[Rania, kita ketemu, ya.]Tetap gagal terkirim.Air mata menetes membasahi layar ponsel, tetapi dia terus-menerus mengirimkan pesan yang tak akan pernah sampai kepada Rania.[Rania, aku salah. Maafin aku, ya?][Aku mohon .…][Rania, maafin aku.][Rania, aku cinta kamu .…]…Sementara itu, Rania sedang duduk di depan komputer, sibuk bekerja.Gelar juara dalam kompetisi desain tersebut telah mendatangkan tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan besar.Demi proyek ini, dia bekerja hingga larut malam setiap hari. Meski tubuhnya lelah, batinnya merasakan kepuasan yang belum pernah dia rasakan sebel

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 20

    Arga tidak membela diri sedikit pun. Karena memang tidak ada yang bisa dia bantah. Pada akhirnya, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pemberitahuan penonaktifan sementara untuk menjalani investigasi. Tepat pada sore hari saat dia dinonaktifkan dari jabatannya, Rania, selaku keluarga korban, menerima wawancara eksklusif dari media.Di hadapan kamera, dia memaparkan dengan jelas dan runtut seluruh rangkaian peristiwa, mulai dari saat ibunya jatuh sakit hingga mengembuskan napas terakhir.Dia membentangkan fakta tersebut di hadapan publik, bagaikan pisau bedah yang tajam, dengan presisi mengoyak selubung prinsip palsu yang selama ini dikenakan Arga. "Seorang dokter yang demi seorang 'adik tingkat' semata, rela mengabaikan peraturan rumah sakit, menelantarkan pasien, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka."Rania menatap lurus ke arah kamera, mengucapkan setiap kata dengan tegas, "Dia nggak pantas mengenakan jas putih itu."Di rumahnya, Arga menatap layar televisi. C

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 19

    Kepala Arga berdengung hebat, pikirannya seketika menjadi kosong.Waktu itu, Clara menyodorkan setumpuk dokumen untuk ditandatangani, katanya itu surat jaminan proyek.Dia tak pernah menyangka bahwa 'adik tingkat' yang dia anggap baik dan polos itu akan menipunya, sehingga dia sama sekali tidak membacanya dengan teliti.Tanpa dia sadari, sejak saat itu, Clara sudah menyiapkan jebakan untuk menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Arga mendongak. Tatapannya yang dulu tenang dan terkendali, kini dipenuhi amarah yang menggelegak dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia merasa dirinya bagaikan lelucon yang sangat konyol.Demi perempuan ini, dia telah melanggar semua prinsipnya, berulang kali menyakiti Rania, dan secara tidak langsung menyebabkan kematian ibu Rania.Demi perempuan ini, dia telah kehilangan segala hal paling berharga dalam hidupnya. Namun, yang dia dapatkan ternyata hanyalah akhir tragis di tangan perempuan berhati kejam ini. "Keluar."Senyum di wajah Clara sempat kaku, te

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 18

    Teriakan Clara membuat kepala Arga makin sakit.Dia mengangkat tangan, memijat pelipisnya, dan bertanya dengan suara parau. "Ada apa sebenarnya?""Aku juga nggak tahu ...." Clara menangis, emosinya nyaris runtuh. "Sekarang dananya macet, proyeknya berhenti total, dan mereka minta aku ganti rugi! Kak Arga, aku butuh banyak banget uang buat ngebuka pembekuan aset. Kalau nggak, aku bakal tamat dan bisa masuk penjara! Kak Arga, tolong bantu aku, ya?"Mendengar isak tangis gadis itu, rasa lelah dan muak yang tak terlukiskan perlahan menyelimuti hati Arga."Clara, aku sudah nggak punya uang lagi.""Semua uangku sudah aku berikan padamu. Rumah dan mobil juga sudah diagunkan. Aku nggak punya sisa sepeser pun."Bahkan untuk mengembalikan uang Rania, dia harus menurunkan gengsinya dan meminjam dari teman-temannya. Mana mungkin dia masih memiliki uang.Tangis Clara terhenti. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menatap Arga dengan mata terbelalak.Tak lama kemudian, seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status