Share

Bab 4

Author: Liz
Kemarin, ibu Rania sebenarnya ingin menanyakan apakah kali ini putrinya berhasil mendapatkan buku nikah.

Namun, dia menelepon putrinya berkali-kali, tetapi ponselnya tidak aktif, sementara Arga juga tak kunjung mengangkat telepon.

Dia khawatir semalaman, sehingga pagi-pagi sekali dia langsung bergegas ke sana.

Tak disangka, baru saja tiba di depan pintu, dia mendengar putrinya mengatakan bahwa pernikahan ini dibatalkan.

Tatapannya menyapu seisi ruangan.

Dia melihat putrinya yang basah kuyup dengan wajah penuh bekas air mata.

Melihat perempuan yang mengenakan piyama pengantin yang dia jahit sendiri untuk putrinya.

Melihat Arga yang melindungi perempuan dan anak itu, sambil menatap marah ke arah putrinya.

Alasan mengapa Arga berkali-kali membatalkan janji untuk mengurus buku nikah.

Kini, semuanya sudah jelas.

Wajah Ibu Rania seketika pucat pasi.

Dia memegangi dadanya, tubuhnya terhuyung, lalu ambruk ke lantai.

"Ibu!"

Rania langsung berlari menghampiri ibunya yang tergeletak di lantai.

"Ibu, jangan bikin aku takut!"

Ibunya memejamkan mata, wajahnya pucat pasi, napasnya memburu, dan tangannya mencengkeram erat pakaian di bagian dada.

Melihat hal itu, Arga buru-buru mendekat dan berjongkok untuk memeriksa.

"Cepat panggil ambulans."

Tak lama kemudian, ambulans tiba, dan Ibu Rania langsung dilarikan ke ruang IGD.

Selang beberapa saat, dokter yang menangani berjalan cepat keluar sambil membawa rekam medis.

"Pasien ini dulu pernah operasi bypass jantung. Sekarang kondisinya kambuh dan kritis, harus segera dioperasi buka dada lagi."

Dokter itu kemudian menatap Arga yang berdiri di samping Rania.

"Tapi area perlengketan di rongga dadanya sangat luas. Risiko operasinya sangat tinggi. Nggak ada dokter di rumah sakit kita yang berani mengambil risiko ini. Saat ini, satu-satunya yang bisa menangani operasi ini di dalam negeri hanyalah Profesor Lukman."

"Masalahnya, jadwal praktik Profesor Lukman sudah penuh sampai tiga bulan ke depan. Kondisi pasien nggak mungkin bisa menunggu selama itu."

Tepat saat Rania merasa putus asa, dokter itu tiba-tiba menoleh pada Arga dan berkata.

"Oh ya, Pak Arga. Aku ingat kamu 'kan murid kesayangan Profesor Lukman. Kalau kamu yang minta, beliau pasti mau meluangkan waktu pribadi dan terbang ke sini buat langsung turun tangan memimpin operasi."

Rania langsung menoleh menatap Arga.

"Arga, aku mohon ... tolong hubungi Profesor Lukman dan selamatkan ibuku, ya?"

Arga menundukkan pandangannya. "Itu melanggar aturan."

Rania menatapnya dengan tatapan tak percaya.

"Yang terbaring di dalam itu ibuku!"

Arga menghela napas. "Rania, rumah sakit punya aturannya sendiri dan Profesor Lukman juga punya jadwal praktik yang ketat. Kalau hari ini aku bikin pengecualian buat kamu, terus gimana nasib pasien lain yang udah antre duluan? Itu nggak adil."

Rania berbicara dengan suara tercekat menahan tangis. "Kamu ngomongin keadilan sama aku? Kalau bukan karena kamu dan Clara, mana mungkin penyakit jantung ibuku kambuh?"

Arga mengerutkan kening, nadanya bertambah tegas. "Apa hubungannya ini sama Clara? Kamu bisa nggak sih jangan cari gara-gara terus?"

"Lagi pula, itu beda urusan. Sebagai direktur rumah sakit, aku nggak bisa jadi contoh buat ngelanggar prinsip medis."

"Kamu dewasa dikit dong. Jangan selalu terbawa perasaan."

Mata Rania memerah, menatap tajam wajah di depannya.

"Jadi, mau gimana pun, kamu tetep nggak mau bantu, 'kan?"

"Iya, itu prinsipku."

Rania tertawa getir karena terlalu marah. "Bagus. Nggak usah repot, aku cari jalan sendiri."

Arga malah mengangguk. "Kamu temui Profesor Lukman boleh, tapi jangan pakai namaku."

"Oh iya, ibumu 'kan lagi sakit, kayaknya nggak bisa hadir di pernikahan kita. Tapi tanggal nikahnya nggak bisa diubah, soalnya jadwalku udah diatur, nggak bisa digeser-geser."

Rania gemetar hebat menahan amarah.

Ibunya kini sedang kritis karena ulahnya, tetapi alih-alih menyelamatkan nyawa sang ibu, laki-laki ini malah lebih peduli soal jadwalnya yang tidak boleh terganggu?

Sebenarnya, apa artinya dia dan ibunya di mata laki-laki ini?

Melihat situasi ini, dokter yang menangani buru-buru bersuara, "Ehm, langkah daruratnya sekarang adalah memasang IABP untuk menstabilkan kondisi dan mengulur waktu."

"Pak Arga, tekanan darah pasien terus menurun. Nggak ada yang lebih mampu memasang IABP ini selain Anda. Jadi, bagaimana?"

Rania membenci betapa dinginnya Arga.

Namun di saat seperti ini, demi nyawa ibunya, dia terpaksa menelan semua amarahnya. "Arga, tolong selamatkan ibuku."

Arga mengangguk. "Baiklah. Persiapkan semuanya."

...

Di dalam ICU, Arga menerima sarung tangan steril dari asistennya.

Tepat saat itu, nada dering ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Arga telah menetapkan aturan mutlak. Selama operasi, semua staf medis wajib mematikan ponsel.

Wajah Arga seketika berubah dingin. Dia menoleh ke arah para staf medis di sekitarnya.

"Ponsel siapa yang belum dimatikan?"

Sang asisten meraba saku, lalu dengan canggung menunjuk ke arah pinggang Arga.

"Pak Arga, sepertinya itu ponsel Bapak."

Gerakan Arga terhenti.

Karena lembur mendadak dan buru-buru ganti baju, dia sampai lupa mengubah ponselnya ke mode senyap.

Dia mengerutkan kening, lalu merogoh saku hendak menolak panggilan itu.

Namun, saat pandangannya menyapu layar, jari-jarinya membeku.

Arga, yang bahkan dulu tak pernah menghentikan penanganan pasien meski mendapat panggilan darurat dari atasannya, kali ini justru membawa ponselnya, berbalik, dan berjalan keluar dari pintu ICU.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 23

    Tiga tahun kemudian.Nama Rania kini telah menjadi sosok yang sangat dikenal di lingkup arsitektur dan desain.Dia berhasil memadukan teknik sulam tradisional dengan apik ke dalam struktur cahaya dan bayangan arsitektur modern, menjadikan setiap karyanya mahakarya yang luar biasa.Dan pada akhirnya, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia berhasil membeli kembali rumah lama peninggalan ibunya.Pada hari dia menerima sertifikat tanah itu, dia duduk sendirian di dalam rumah, dari siang hingga malam.Dion tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan tenang di luar pintu, hingga Rania membukanya, barulah dia melangkah maju."Ayo pulang."Dia menggenggam tangan Rania, gerakannya terasa begitu alami.Selama tiga tahun ini, hubungan mereka pun berkembang secara alami hingga akhirnya mereka bersama. Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis hingga menyakitkan.Pria itu akan menyiapkan makanan ringan dan selimut hangat saat Rania begadang mengerjakan desain.Sebaliknya, Rania

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 22

    Tak lama kemudian, hari persidangan pun tiba.Arga kini mengenakan setelan jas yang tak lagi pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan janggut hitam kebiruan tumbuh di dagunya. Sementara itu, Clara, yang dikawal oleh petugas pengadilan dengan kedua tangan terborgol, tak lagi menampilkan raut memelas dan rapuh seperti biasanya.Suara hakim bergema di ruang pengadilan yang khidmat dan penuh wibawa."Terkait kasus malpraktik medis, setelah melalui persidangan, terdakwa Arga terbukti melakukan kelalaian berat dalam proses diagnosis dan perawatan, sehingga menunda waktu penanganan terbaik bagi pasien, dan bertanggung jawab utama atas kematian pasien tersebut.""Putusan pengadilan adalah sebagai berikut. Terdakwa Arga diwajibkan untuk meminta maaf secara terbuka kepada pihak penggugat, Rania, melalui media tingkat kota, serta bersama-sama mengganti rugi berbagai kerugian yang diderita oleh penggugat Rania dengan total sebesar 3,6 miliar.""Izin praktik medis Arga dicabut dan

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 21

    Arga tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar sewanya.Dia meraih ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama kontak Rania.Setelah cukup lama, dia mulai mengirimkan pesan untuk Rania.[Kita perlu bicara.]Pesan terkirim, tapi langsung muncul notifikasi gagal terkirim.Dia menatap layar ponsel, membiarkan waktu berlalu menit demi menit, lalu dengan keras kepala mengirimkan satu pesan lagi.[Rania, kita ketemu, ya.]Tetap gagal terkirim.Air mata menetes membasahi layar ponsel, tetapi dia terus-menerus mengirimkan pesan yang tak akan pernah sampai kepada Rania.[Rania, aku salah. Maafin aku, ya?][Aku mohon .…][Rania, maafin aku.][Rania, aku cinta kamu .…]…Sementara itu, Rania sedang duduk di depan komputer, sibuk bekerja.Gelar juara dalam kompetisi desain tersebut telah mendatangkan tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan besar.Demi proyek ini, dia bekerja hingga larut malam setiap hari. Meski tubuhnya lelah, batinnya merasakan kepuasan yang belum pernah dia rasakan sebel

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 20

    Arga tidak membela diri sedikit pun. Karena memang tidak ada yang bisa dia bantah. Pada akhirnya, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pemberitahuan penonaktifan sementara untuk menjalani investigasi. Tepat pada sore hari saat dia dinonaktifkan dari jabatannya, Rania, selaku keluarga korban, menerima wawancara eksklusif dari media.Di hadapan kamera, dia memaparkan dengan jelas dan runtut seluruh rangkaian peristiwa, mulai dari saat ibunya jatuh sakit hingga mengembuskan napas terakhir.Dia membentangkan fakta tersebut di hadapan publik, bagaikan pisau bedah yang tajam, dengan presisi mengoyak selubung prinsip palsu yang selama ini dikenakan Arga. "Seorang dokter yang demi seorang 'adik tingkat' semata, rela mengabaikan peraturan rumah sakit, menelantarkan pasien, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka."Rania menatap lurus ke arah kamera, mengucapkan setiap kata dengan tegas, "Dia nggak pantas mengenakan jas putih itu."Di rumahnya, Arga menatap layar televisi. C

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 19

    Kepala Arga berdengung hebat, pikirannya seketika menjadi kosong.Waktu itu, Clara menyodorkan setumpuk dokumen untuk ditandatangani, katanya itu surat jaminan proyek.Dia tak pernah menyangka bahwa 'adik tingkat' yang dia anggap baik dan polos itu akan menipunya, sehingga dia sama sekali tidak membacanya dengan teliti.Tanpa dia sadari, sejak saat itu, Clara sudah menyiapkan jebakan untuk menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Arga mendongak. Tatapannya yang dulu tenang dan terkendali, kini dipenuhi amarah yang menggelegak dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia merasa dirinya bagaikan lelucon yang sangat konyol.Demi perempuan ini, dia telah melanggar semua prinsipnya, berulang kali menyakiti Rania, dan secara tidak langsung menyebabkan kematian ibu Rania.Demi perempuan ini, dia telah kehilangan segala hal paling berharga dalam hidupnya. Namun, yang dia dapatkan ternyata hanyalah akhir tragis di tangan perempuan berhati kejam ini. "Keluar."Senyum di wajah Clara sempat kaku, te

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 18

    Teriakan Clara membuat kepala Arga makin sakit.Dia mengangkat tangan, memijat pelipisnya, dan bertanya dengan suara parau. "Ada apa sebenarnya?""Aku juga nggak tahu ...." Clara menangis, emosinya nyaris runtuh. "Sekarang dananya macet, proyeknya berhenti total, dan mereka minta aku ganti rugi! Kak Arga, aku butuh banyak banget uang buat ngebuka pembekuan aset. Kalau nggak, aku bakal tamat dan bisa masuk penjara! Kak Arga, tolong bantu aku, ya?"Mendengar isak tangis gadis itu, rasa lelah dan muak yang tak terlukiskan perlahan menyelimuti hati Arga."Clara, aku sudah nggak punya uang lagi.""Semua uangku sudah aku berikan padamu. Rumah dan mobil juga sudah diagunkan. Aku nggak punya sisa sepeser pun."Bahkan untuk mengembalikan uang Rania, dia harus menurunkan gengsinya dan meminjam dari teman-temannya. Mana mungkin dia masih memiliki uang.Tangis Clara terhenti. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menatap Arga dengan mata terbelalak.Tak lama kemudian, seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status