Share

Bab 6

Author: Liz
Telinga Rania berdenging keras.

Di dalam situ ada dua miliar, uang yang mereka tabung bersama-sama.

Dia ingat betul hari saat mereka membuka buku tabungan itu, Arga menggenggam erat tangannya.

"Rania, ini buat masa depan rumah tangga kita. Mulai sekarang, semuanya aku serahin ke kamu ya."

Kini, tanpa permisi sedikit pun, dia langsung kasih ke Clara.

Ya memang. Mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Buku tabungan ini juga sudah tidak ada artinya.

Namun, di dalamnya masih ada uang milik Rania.

"Arga, kamu mau kasih uangmu ke siapa, aku nggak peduli. Tapi, kembalikan 800 juta yang jadi hakku."

Arga berjalan ke dispenser, menuang segelas air, lalu meminumnya perlahan.

"Aku udah minjamin semua uang dua miliar di buku tabungan itu ke dia."

Rania langsung menerjang, merampas gelas dari tangan Arga.

Gelas itu jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai. Matanya memerah, suaranya melengking penuh keputusasaan.

"Itu uangku! Uang buat nyelamatin nyawa ibuku! Telepon dia sekarang, suruh dia balikin uangnya!"

"Hari ini juga, mau kamu jual rumah sekali pun, uang itu harus kamu balikin ke aku. Kalau nggak, kita selesaikan di pengadilan!"

Arga mengerutkan kening, merasa terganggu dengan sikap histeris Rania.

Dulu, Rania tidak pernah begini.

"Rumah dan mobil udah aku agunkan ke bank."

"Digabung sama uang di buku tabungan, totalnya jadi 10 miliar. Aku kasih semuanya ke dia."

Rania terpaku, seolah baru saja disambar petir.

Dia menatap tak percaya pada pria yang telah enam tahun menjadi kekasihnya.

"Kamu agunkan rumah kita juga?"

"Clara tahu ibuku lagi kritis di rumah sakit! Dia pasti sengaja ngelakuin ini!"

Raut wajah Arga seketika menggelap.

"Rania, jaga omonganmu. Proyek Clara itu sangat penting buat dia. Kalau nggak ada dana ini, proyeknya bakal gagal dan usaha dia bertahun-tahun jadi sia-sia."

"Dia cuma seorang perempuan yang berjuang sendirian, nggak gampang. Kamu bisa nggak sih jangan egois begini?"

"Aku ngerti ibumu lagi sakit, tapi kamu bisa coba pinjam dulu ke saudara atau teman. Atau jual aja rumah tua tempat tinggal ibumu. Pasti ada jalan keluarnya."

"Nanti kalau arus kas Clara udah lancar, dia pasti balikin."

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arga.

"Arga, kamu masih punya hati nurani nggak sih?"

Rania menunjuk lurus ke arah pintu.

"Kamu ke rumah sakit sekarang. Pakai jabatanmu sebagai direktur, jamin biaya operasi ibuku lewat jalur khusus."

"Kalau nggak, aku sekalian gugat Clara!"

Arga mengangkat tangan, mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya.

"Nggak mungkin."

"Rumah sakit punya aturan baku. Nggak bisa memberikan keringanan pembayaran dalam jumlah besar secara khusus kepada siapa pun. Kalau aku buka celah ini buat kamu, aturan itu jadi nggak ada artinya."

"Tapi, aku bisa bantu kamu ajukan bantuan dana sosial. Kalau ikut prosedur, butuh waktu lima belas sampai tiga puluh hari kerja sampai dananya cair."

Rania mengatupkan rahang erat-erat, sampai-sampai dia bisa mengecap rasa amis darah di dalam mulutnya.

Tiga puluh hari kerja?

Operasi ibunya harus dilakukan dalam waktu tujuh hari!

Ini sama saja dengan merenggut nyawa ibunya!

Dada Rania naik turun drastis. Rasa pening yang luar biasa menyerangnya, pandangannya menghitam, dan dia pun pingsan.

Saat membuka mata, dia mendapati dirinya tengah berbaring di kursi penumpang.

Arga sedang menyetir dengan satu tangan.

"Kamu demam tinggi, pasti karena semalam kehujanan. Aku bawa kamu ke rumah sakit dulu."

"Soal biaya operasi, jangan panik dulu. Selama nggak melanggar prinsipku, nanti aku cari jalan keluarnya."

Demam tinggi membuat sekujur tubuh Rania ngilu dan lemas tak bertenaga.

Dia memalingkan wajah, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara membasahi jok mobil.

"Arga ... Kenapa kamu tega banget sama aku?"

"Kamu tahu 'kan aku cuma punya ibu ...."

Arga menghela napas, mengulurkan tangan hendak meraba dahinya, tetapi Rania menoleh menghindar.

"Maaf. Tapi Clara nangis seputus asa itu di telepon. Aku beneran nggak bisa lepas tangan."

Rania memejamkan mata, tenggelam dalam keputusasaan.

Dadanya serasa dilubangi sebuah lubang besar, membuat angin dingin berembus masuk dengan kencang.

Bagi Arga, Clara akan selalu jadi nomor satu.

Rania bahkan sudah tak punya sisa tenaga untuk bertengkar.

Dalam keadaan setengah sadar, dia kembali terlelap.

Entah berapa lama waktu berlalu, Rania terbangun karena udara di dalam mobil yang begitu pengap dan panas.

Kursi pengemudi kini kosong, Arga sudah pergi.

Udara di dalam mobil terasa sangat gerah. Dia terengah-engah, lalu dengan susah payah menopang tubuhnya untuk membuka pintu.

Namun, pintu sudah terkunci.

Dia terjebak di dalam mobil.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 23

    Tiga tahun kemudian.Nama Rania kini telah menjadi sosok yang sangat dikenal di lingkup arsitektur dan desain.Dia berhasil memadukan teknik sulam tradisional dengan apik ke dalam struktur cahaya dan bayangan arsitektur modern, menjadikan setiap karyanya mahakarya yang luar biasa.Dan pada akhirnya, dengan uang hasil jerih payahnya sendiri, dia berhasil membeli kembali rumah lama peninggalan ibunya.Pada hari dia menerima sertifikat tanah itu, dia duduk sendirian di dalam rumah, dari siang hingga malam.Dion tidak mendesaknya. Dia hanya menunggu dengan tenang di luar pintu, hingga Rania membukanya, barulah dia melangkah maju."Ayo pulang."Dia menggenggam tangan Rania, gerakannya terasa begitu alami.Selama tiga tahun ini, hubungan mereka pun berkembang secara alami hingga akhirnya mereka bersama. Cinta mereka tidak meledak-ledak, tidak pula dramatis hingga menyakitkan.Pria itu akan menyiapkan makanan ringan dan selimut hangat saat Rania begadang mengerjakan desain.Sebaliknya, Rania

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 22

    Tak lama kemudian, hari persidangan pun tiba.Arga kini mengenakan setelan jas yang tak lagi pas di tubuhnya. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan janggut hitam kebiruan tumbuh di dagunya. Sementara itu, Clara, yang dikawal oleh petugas pengadilan dengan kedua tangan terborgol, tak lagi menampilkan raut memelas dan rapuh seperti biasanya.Suara hakim bergema di ruang pengadilan yang khidmat dan penuh wibawa."Terkait kasus malpraktik medis, setelah melalui persidangan, terdakwa Arga terbukti melakukan kelalaian berat dalam proses diagnosis dan perawatan, sehingga menunda waktu penanganan terbaik bagi pasien, dan bertanggung jawab utama atas kematian pasien tersebut.""Putusan pengadilan adalah sebagai berikut. Terdakwa Arga diwajibkan untuk meminta maaf secara terbuka kepada pihak penggugat, Rania, melalui media tingkat kota, serta bersama-sama mengganti rugi berbagai kerugian yang diderita oleh penggugat Rania dengan total sebesar 3,6 miliar.""Izin praktik medis Arga dicabut dan

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 21

    Arga tak tahu bagaimana dia bisa kembali ke kamar sewanya.Dia meraih ponselnya, jari-jarinya melayang di atas nama kontak Rania.Setelah cukup lama, dia mulai mengirimkan pesan untuk Rania.[Kita perlu bicara.]Pesan terkirim, tapi langsung muncul notifikasi gagal terkirim.Dia menatap layar ponsel, membiarkan waktu berlalu menit demi menit, lalu dengan keras kepala mengirimkan satu pesan lagi.[Rania, kita ketemu, ya.]Tetap gagal terkirim.Air mata menetes membasahi layar ponsel, tetapi dia terus-menerus mengirimkan pesan yang tak akan pernah sampai kepada Rania.[Rania, aku salah. Maafin aku, ya?][Aku mohon .…][Rania, maafin aku.][Rania, aku cinta kamu .…]…Sementara itu, Rania sedang duduk di depan komputer, sibuk bekerja.Gelar juara dalam kompetisi desain tersebut telah mendatangkan tawaran kerja sama dari sebuah perusahaan besar.Demi proyek ini, dia bekerja hingga larut malam setiap hari. Meski tubuhnya lelah, batinnya merasakan kepuasan yang belum pernah dia rasakan sebel

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 20

    Arga tidak membela diri sedikit pun. Karena memang tidak ada yang bisa dia bantah. Pada akhirnya, dia meraih pena dan membubuhkan tanda tangannya pada surat pemberitahuan penonaktifan sementara untuk menjalani investigasi. Tepat pada sore hari saat dia dinonaktifkan dari jabatannya, Rania, selaku keluarga korban, menerima wawancara eksklusif dari media.Di hadapan kamera, dia memaparkan dengan jelas dan runtut seluruh rangkaian peristiwa, mulai dari saat ibunya jatuh sakit hingga mengembuskan napas terakhir.Dia membentangkan fakta tersebut di hadapan publik, bagaikan pisau bedah yang tajam, dengan presisi mengoyak selubung prinsip palsu yang selama ini dikenakan Arga. "Seorang dokter yang demi seorang 'adik tingkat' semata, rela mengabaikan peraturan rumah sakit, menelantarkan pasien, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka."Rania menatap lurus ke arah kamera, mengucapkan setiap kata dengan tegas, "Dia nggak pantas mengenakan jas putih itu."Di rumahnya, Arga menatap layar televisi. C

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 19

    Kepala Arga berdengung hebat, pikirannya seketika menjadi kosong.Waktu itu, Clara menyodorkan setumpuk dokumen untuk ditandatangani, katanya itu surat jaminan proyek.Dia tak pernah menyangka bahwa 'adik tingkat' yang dia anggap baik dan polos itu akan menipunya, sehingga dia sama sekali tidak membacanya dengan teliti.Tanpa dia sadari, sejak saat itu, Clara sudah menyiapkan jebakan untuk menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Arga mendongak. Tatapannya yang dulu tenang dan terkendali, kini dipenuhi amarah yang menggelegak dan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia merasa dirinya bagaikan lelucon yang sangat konyol.Demi perempuan ini, dia telah melanggar semua prinsipnya, berulang kali menyakiti Rania, dan secara tidak langsung menyebabkan kematian ibu Rania.Demi perempuan ini, dia telah kehilangan segala hal paling berharga dalam hidupnya. Namun, yang dia dapatkan ternyata hanyalah akhir tragis di tangan perempuan berhati kejam ini. "Keluar."Senyum di wajah Clara sempat kaku, te

  • Merengkuh Musim Panas, Menghargai Masa Muda   Bab 18

    Teriakan Clara membuat kepala Arga makin sakit.Dia mengangkat tangan, memijat pelipisnya, dan bertanya dengan suara parau. "Ada apa sebenarnya?""Aku juga nggak tahu ...." Clara menangis, emosinya nyaris runtuh. "Sekarang dananya macet, proyeknya berhenti total, dan mereka minta aku ganti rugi! Kak Arga, aku butuh banyak banget uang buat ngebuka pembekuan aset. Kalau nggak, aku bakal tamat dan bisa masuk penjara! Kak Arga, tolong bantu aku, ya?"Mendengar isak tangis gadis itu, rasa lelah dan muak yang tak terlukiskan perlahan menyelimuti hati Arga."Clara, aku sudah nggak punya uang lagi.""Semua uangku sudah aku berikan padamu. Rumah dan mobil juga sudah diagunkan. Aku nggak punya sisa sepeser pun."Bahkan untuk mengembalikan uang Rania, dia harus menurunkan gengsinya dan meminjam dari teman-temannya. Mana mungkin dia masih memiliki uang.Tangis Clara terhenti. Seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menatap Arga dengan mata terbelalak.Tak lama kemudian, seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status